Salah satu tempat yang paling saya suka adalah kampus ITB.  Saya suka sekali jalan-jalan di sana sendirian maupun ditemenin.  Kampus ITB jauh lebih kecil dibandingkan dengan Kampus UI Depok maka nya jalan-jalan ngiterin kampus ITB ngga terlalu capek.  Jalan santai bolak balik dari pintu belakang ke pintu depan aja cuma menghabiskan waktu 15 menit.  Salah satu hal yang bikin saya sangat suka jalan-jalan di ITB adalah..
Banyak bunga yang cantik
Kampus ITB banyak banget bunga-bunga cantiknya.. Naaah.. ini beberapa contoh bunga cantiknya..

Bougainvillea sp. (Bunga Kertas /  Kembang Kertas).  Bunga kertas terletak di gerbang depan ITB.  Kalo ngga salah ada dua warna dominan bunga kertas di Kampus ITB, yaitu ungu dan merah muda.  Kabarnya sih bunga yang warna ungu berbunga pas pertengahan semester, sedangkan bunga warna merah muda berbunga pas akhir semester.  Tapi kayaknya tiap saya kesana pasti berbunga deh tuh bunga kertas nya. Bunga kertas emang sering dijadikan tumbuhan hias karena bunga berwarna menarik, bunga nya rimbun, dan pohonnya mudah ditumbuhkan.  Pohon yang berasal dari Amerika Selatan dan anggota famili Nyctaginaceae ini, punya daun pelindung/spata/seludang bunga yang sering disangka bunga.  Padahal bunga asli nya ada di dalam seludang bunga tersebut dan berbentuk tabung.

    (sumber gambar: http://www.towardsoneworld.eu/toowGrnEssE6.php)
    http://www.kartuz.com/pc/10312/1GES02/Aeschynanthus+pulcher.html
http://fukuoka-edu.ac.jp/~fukuhara/keitai/kumatsudzuraka.html

Tabebula chrysantha (Tapak Kepyar). Dari Tugu Soekarno sampai depan gedung perpustakaan & gedung PAU ada bunga yang cantik banget apalagi kalau bunga nya lagi banyak.  Bunga nya berkumpul, warna nya kuning.  Bentuk bunga nya agak mirip bunga alamanda tapi kalo ini pinggir mahkota bunga nya bergelombang.  Bunga cantik dari famili Bignoniaceae ini merupakan tamanan asli Amerika Selatan dan dijadikan pohon nasional negara Venezuela.


sumber gambar: http://radio-weblogs.com/0101365/2004/04/12.html


Erythrina crista-galli (Bunga dadap merah). Bunga dadap merah banyak nih di tepi jalan di pinggir Partitur Indonesia Raya sampai Tugu Sukarno.  Bunga nya bunga majemuk, warna mahkota bunga nya merah darah.  Cantik.  Bunga dadap merah pas banget ditanam di pinggir jalan, karena selain bikin pemandangan indah dan jalanan jadi adem, bunga dadap merah juga bisa menarik perhatian burung untuk hinggap di pohon itu.  Jadi, akan banyak burung yang berada di sekitarnya.  Bunga dadap merah termasuk anggota dari famili Fabaceae.  Bunga ini berasal dari Argentina, Brazil, Paraguay, dan Uruguay.  Bahkan negara Argentina dan Uruguay menjadikannya sebagai pohon nasional.



Aeschynanthus pulcher (Bunga Lipstik).Bunga lipstik banyak ditemukan terjuntai di pinggir gedung-gedung di ITB, di samping-samping gedung teknik sipil juga ada tuh..  Bunga ini gampang kita kenali karena bentuk mahkota bunga yang bersatu atau gamopetalus, mirip lipstik.  Warna bunga nya merah kejinggaan, makin mirip lipstik deh.  Nah, si Aeschynanthus pulcher atau si bunga lipstik ini adalah salah satu dari anggota famili Gesneriaceae.  Bunga ini bunga asli Asia Selatan dan Asia Tenggara lho..
Congea velutina. Nah ini bunga yang paling saya suka di ITB.  Bunga ini banyak kita temukan di gerbang depan ITB, deketan sama bunga kertas.  Bunga nya majemuk, bentuk bunga tunggal nya unik sekali..  Ada daun pelindung bunga (brachtea) yang berwarna merah muda, kalau dilihat sepintas pasti orang mengira ini mahkota bunga.  Padahal mahkota bunga nya kecil, warna merah muda juga.  Daunnya berbulu, berhadapan, dan ada daun penumpunya. Batangnya juga berbulu..  Bunga cantik ini masuk ke dalam famili Verbenaceae dan berasal dari Thailand dan Malaysia bagian utara.


Bunga merak / Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima).  Kembang merak di ITB warnanya jingga dan kuning, tumbuh berdampingan di depan gedung apa ngga tau hehe..  Perdu ini termasuk ke dalam famili Caesalpiniaceae karena daunnya majemuk menyirip, buah nya polong-polongan, bunga nya majemuk, ada lima helai mahkota, benang sari nya panjang.  Bunga ini berasal dari daerah tropis dan subtropis Amerika.

 
    Bunga-bunga di ITB bisa tumbuh dengan cantik dan sering banget berbunga karena udaranya sejuk dan lembab, belum terkena polusi juga..

    Aah pengen sekali kesana lagiiii…

    Rusa timor (Cervus timorensis) merupakan satwa dilindungi di Indonesia dan tersebar mulai dari Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Kepulauan Nusa Tenggara  Timur (Basunim ? : 12).  Meskipun satwa dilindungi, rusa timor dapat ditangkarkan sebagai upaya pemanfaatan berkelanjutan (berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 dan PP No 8 tahun 1999).  Upaya pemanfaatan tersebut pun dilakukan Universitas Indonesia (UI).  Sejak tahun 2009, Kampus UI Depok memiliki penangkaran rusa timor.
    Berdasarkan catatan Pengelola Lingkungan Kampus UI, pada saat awal rusa di penangkaran berjumlah 10 ekor, sedangkan kini rusa tersebut telah berkembang biak sebanyak 30.  Ruang penangkaran seluas 10.000 m2 pun terlihat terlalu sepit bagi jumlah populasi rusa yang ada.  Sehingga muncul kekhawatiran penangkaran rusa di Kampus UI Depok tidak lagi memiliki daya dukung lingkungan yang cukup untuk pertumbuhan rusa.
    Daya dukung lingkungan adalah jumlah maksimum populasi yang dapat didukung oleh ekosistem dalam kondisi yang berkelanjutan.  Faktor yang membatasi daya dukung lingkungan antara lain makanan, air, habitat, predator, dan lain-lain.  Bila jumlah populasi dibawah jumlah daya dukung lingkungan, maka jumlah reproduktif populasi organisme tersebut akan meningkat (Wright & Nebel 2002: 293).  Hal tersebut terjadi pada penangkaran rusa di Kampus UI Depok.  Populasi rusa terus mengalami peningkatan.  Namun, bila peningkatan populasi terus dibiarkan, maka setiap individu akan saling berkompetisi dan tidak lagi dapat diakomodasi oleh daya dukung lingkungan yang ada (Wright & Nebel 2002: 293).
    Solusi untuk mengatasi kekhawatiran tersebut dapat diawali oleh penelitian awal.  Penelitian tersebut dapat menghasilkan data kuantitatif mengenai seberapa banyak jumlah populasi rusa yang dapat ditampung kandang secara optimal.  Beberapa komponen yang perlu diperhatikan antara lain komponen biotik dan abiotik.  Komponen abiotik kawasan melingkupi kondisi iklim, curah hujan, suhu, kelembaban, topografi, sumber air, jenis tanah dan elevasi, sedangkan komponen biotik melingkupi vegetasi dan daya dukung lingkungan (Sumanto 2007: 2).
    Jumlah populasi yang dapat ditampung menjadi sangat penting mengingat laju reproduksi rusa relatif cepat.  Rusa timor mulai berbiak pada umur 15 -- 18 bulan.  Lama umur kehamilan kurang lebih 9 bulan (Basunim ? : 12 -- 13), lama penyusuan selama 4 – 7 bulan, dan akan memasuki masa kelahiran berikutnya paling cepat 12 -- 15 bulan kemudian (Semiadi 1998: 24).  Dengan kata lain, sejak umur 15 -- 18 bulan, rusa dapat berbiak selama satu hingga satu setengah tahun sekali menghasilkan 1 atau 2 ekor anak.  Bila saat ini terdapat 10 pasang rusa produktif berumur 1,5 -- 2 tahun, maka pada tahun 2015 populasi rusa yang terdapat di penangkaran kampus UI mencapai ± 60 rusa (belum memertimbangkan laju kematian).
    Cepatnya laju reproduksi rusa didukung dengan sistem  farming (seluruh kebutuhan pakan dan air disediakan atau disuplai dari luar) (Sumanto 2007: 1) yang dilakukan di penangkaran rusa Kampus UI Depok.  Sistem tersebut memungkinkan jumlah pakan dapat mencukupi atau melebihi kebutuhan pakan rusa.  Pakan yang melimpah dan musim hujan akan meningkatkan kualitas dan kuantitas birahi pada betina (Samsudewa dkk 2006: 22) sehingga dapat meningkatkan laju reproduksi.
    Oleh karena itu, setelah dilakukan penelitian awal, perlu dibentuk suatu tim khusus yang bertugas memonitor laju pertumbuhan rusa.  Bila rusa yang berada di kandang sudah terlalu banyak dan tidak mampu lagi didukung oleh sumber daya yang ada, maka perlu dilakukan perampingan jumlah populasi.  Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk merampingkan populasi antara lain rusa dapat disumbangkan ke penangkaran lain atau dapat pula dibunuh untuk dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan.  Rusa yang dibunuh dapat dimanfaatkan daging, kulit, dan tanduknya (Widateti 2009: 7).  Selain itu, dengan bobot badan berkisar 40 – 120 kg, daging rusa juga memiliki cita rasa dan kandungan gizi tinggi (Samsudewa dkk 2006: 19).  Daging tersebut dapat digunakan sebagai santapan saat ada kunjungan tamu penting di UI atau pun disumbangkan ke karyawan UI dan warga sekitar.  Namun, perampingan jumlah populasi dengan cara tersebut hanya dapat dilakukan bila jumlah populasi sudah terlalu banyak dan perlu dimonitor/dikontrol oleh tim khusus.
    Beberapa taman nasional di negara-negara lain (misalnya argentina) bahkan melakukan pekan olahraga berburu rusa untuk mengendalikan populasi rusa (Veblen dkk. 1992: 74).  Ledakan populasi rusa dapat menghambat regenerasi (laju pertumbuhan perkecambahan, tunas, dan anakan) tumbuhan hutan hujan (Veblen dkk. 1992: 82; Russel dkk. 2001: 18).  Hal tersebut disebabkan preferensi pakan rusa, yang berupa pucuk-pucuk daun, kecambah, dan buah.  Selain menghambat regenerasi tumbuhan, ledakan populasi rusa juga dapat menyebabkan efek negatif tidak langsung terhadap berkurangnya populasi burung hutan (Allombert dkk 2005: 11).
    Ide mengenai pelepasan rusa yang terdapat kandang penangkaran ke hutan UI sebaiknya tidak dipilih.  Bila rusa dilepaskan ke hutan UI dan dibiarkan tumbuh bebas, maka rusa tersebut akan menjadi hewan introduksi baru yang dapat hidup bebas tanpa predator.  Tidak adanya predator akan membuat populasi rusa tidak terkontrol (Cote 2004: 116) sehingga dapat menjadi salah satu penyebab kepunahan spesies (dalam hal ini merupakan banyak spesies tumbuhan di Hutan UI) (Raven, 2002: 633).  Efek tersebut bukan lah efek jangka pendek yang dapat langsung terasa, tapi jangka panjang (Cote 2004: 136).


    Referensi:
    Allombert, S., Gaston, A.J., Martin, J.L. 2005. A natural experiment on the impact of overabundant deer on songbird populations. Biological Conservation, 126: 1 -- 13.
    Basunim, S. ?. Manajemen perkembangbiakan dalam usaha penangkaran rusa ditinjau dari aspek perilakunya. Media Konsevasi, 1(4): 11  -- 16.
    Cote, S.D. dkk. 2004. Ecological impacts of deer overabundance. Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics, 35: 113 -- 147.
    Raven & Johnson. 2002. Biology sixth edition. McGrawHill, New York: 1239 hlm.
    Russell, F.L., Zippin, D.B., & Fowler, N.L. 2001. Effects of white-tailed deer (Odocoileus virginianus) on plants, plant populations and communities: a review. American Midland Naturalist, 146(1): 1 -- 26.
    Samsudewa, D., & Susanti, S. 2006. Studi tingkah laku reproduksi rusa timor (Cervus timorensis) sebagai upaya penangkaran di Kepulauan Karimunjawa. Agromedia, 26(2): 19 -- 24.
    Semiadi, G. 1998. Pola kelahiran Rusa timorensis di Nus'a Tenggara Timur. Hayati, 5(1): 22 -- 24.
    Sumanto, Masyu’d, B., & Thohari, A.M. 2007. Disain penangkaran rusa timor (cervus timorensis de blainville berdasarkan sistem deer farming di  kampus ipb darmaga bogor. 7 hlm.
    Veblen, T.T., dkk. 1992. Ecological impacts of introduced animals in Nahuel Huapi National Park, Argentina. Conservation Biology 6(1): 71 -- 83.
    Wirdateti, dkk. 2009. Karakteristik morfometrik rusa sambar (Rusa unicolor) sebagai dasar kriteria seleksi sifat pertumbuhan. Jurnal Veteriner, 10(1): 7 -- 11.
    Wright, R.T. & Nebel, B. 2002. Environmental science: toward a sustainable future. Pearson Education, New Jersey: xxi + 681 hlm.
    Era perdagangan karbon (carbon trading) telah dimulai.  Sejak tahun 1960-an perdagangan karbon telah dicanangkan oleh ahli ekonomi Amerika.  Sekitar duapuluh tahun kemudian, berbagai percobaan mengenai mekanisme kebijakan perdagangan karbon terus dilakukan.  Hingga akhirnya Bill Clinton pada tahun 1997 berhasil menekan Protokol Kyoto untuk dijadikan landasan instrumentasi perdagangan karbon (Lohman 2009: 2).
    Setiap negara yang berpartisipasi dalam Protokol Kyoto sepakat unutk menurunkan emisi karbon dibawah level tertentu.  Indonesia misalnya, berkomitmen menurunkan emisi karbon hingga 26% hingga tahun 2020 (Luttrell dkk. 2011: 1).  Upaya yang ditawarkan untuk menurunkan emisi karbon antara lain Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+).  Pemikiran utama REDD+ adalah menciptakan suatu sistem pembayaran multitingkat (global-nasional-lokal) untuk jasa lingkungan yang dapat mengurangi emisi karbon dan meningkatkan cadangan karbon hutan (Angelsen dkk. 2011: 3).  Dengan kata lain, perdagangan karbon menjadi hal dasar yang akan diatur sedemikian mungkin agar dapat tercapai melalui berbagai mekanisme dalam REDD+.  Konsep perdagangan karbon antara lain negara dapat membeli kredit karbon dari negara lain yang tidak memiliki taget pengurangan emisi (misalnya negara berkembang) atau negara yang menghasilkan emisi karbon lebih rendah dari emisi maksimal yang dapat dikeluarkan (Laurance 2008: 286).
    Bagi Indonesia, pemahaman dan persiapan mengenai perdagangan karbon perlu segera dilakukan.  Hal tersebut disebabkan oleh, Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia.  Hutan tersebut merupakan sumber modal unutk mendapatkan keuntungan melalui REDD+ atau perdagangan karbon.  Dewasa ini, hampir seluruh lapisan masyarakat dunia seperti bankir, ekonom, aktivis lingkungan, pemerintah negara-negara, dan lain-lain semakin berkonsentrasi pada isu perdagangan karbon.  Oleh karena itu, Indonesia selaku pemiliki hutan harus mampu menjadi tuan rumah yang baik dan tegas.
    Bagi Indonesia, REDD+ bukan hal yang sangat baru.  Konsep ini telah mulai di jalankan di beberapa daerah.  Salah satu contoh aplikasi REDD+ atau perdagangan karbon di Indonesia telah mulai dilakukan oleh Dharsono Hartono, seorang pelaku bisnis Indonesia.  Beliau, melalui perusahaannya PT RMU, berusaha melestarikan dan melakukan penanaman kembali lahan gambut dan rawa seluas tiga kali luas wilayah Singapura (Fogarty 2010: 2).  Proyek yang dilakukan di Kantingan, Kalimantan tersebut, diperkirakan dapat menghasilkan 100 juta kredit karbon selama 30 tahun.  Besar investasi yang telah masuk adalah 2 juta dolar dan akan meningkat 4,5 juta dolar bila lisensi khusus dari pemerintah telah dikeluarkan (Fogarty 2010: 4).  Program REDD+ memang sangat menjanjikan, bahkan PBB memerkirakan besar jumlah pasar karbon dapat mencapai 30 miliar dolar per tahun bila Indonesia telah siap menjalankan REDD+ secara keseluruhan dengan mekanisme yang jelas.
    Sayangnya, hingga saat ini belum ada mekanisme yang jelas mengenai REDD+ di tingkat global, antar negara, maupun nasional, dan lokal.  Hanya Eropa dan New Zealand yang telah memiliki skema atau mekanisme REDD+.  Namun, mekanisme yang dijalankan di kedua wilayah tersebut juga masih banyak kekurangan dan belum jelas.  Oleh karena itu, tidak ada salahnya Indonesia menjadi salah satu pemimpin dari proses persiapan era perdagangan karbon (atau REDD+) dunia.
    Pemerintah Indonesia pun telah diberi dukungan oleh semua pihak di dunia (baik dari akademisi, aktivis, bankir, negara, dll) untuk sesegera mungkin memersiapkan REDD+.  Misalnya saja dengan pemerintah Norwegia.  Pemerintah Norwegia telah bersepakat dengan Indonesia untuk menggelontorkan uang sejumlah 1 miliar dolar dalam 5 -- 6 tahun.  Dana tersebut digunakan unruk memerbaiki birokrasi Indonesia yang buruk, agar dapat menunjang tercapainya mekanisme REDD+ yang efektif dan efisien.  Dalam upaya persiapan era perdagangan karbon, pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya untuk persiapan perdagangan karbon, antara lain melalui Keputusan Presiden No 25 tahun 2011.
    Keputusan Presiden No. 25 tahun 2011 mengatur tentang pembentukan Satgas Kelembagaan REDD+ yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Tugas Satgas Kelembagaan REDD+ adalah menyiapkan pembentukan kelembagaan REDD+, mengkoordinasikan penyusunan strategi nasional REDD+, menyiapkan instrumen dan mekanisme pendanan REDD+, menyiapkan pembentukan lembaga REDD+ yang independen dan terpercaya, melaksanakan kegiatan REDD+ di provinsi  percontohan pertaman, menyusun kriteria pemilihan provinsi percontohan kedua, dan melaksanakan pemantauan Inpres No 10 tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan alam Primer dan Lahan Gambut.
    Hingga saat ini, belum ada laporan kepada masyarakat mengenai hasil kerja Satgas Kelembagaan REDD+.  Namun, langkah pemerintah perlu kita apresiasi.  Masih banyak yang harus dilakukan pemerintah untuk memiliki mekanisme REDD+ yang jelas, seperti sertifikasi lahan masyarakat adat, pembuatan pusat data yang akurat, pembentukan lembaga-lembaga yang kompeten, dan lain-lain.  Bila Indonesia berhasil melaksanakan REDD+ dengan memerhatikan kepentingan masyarakat, tentu akan banyak keuntungan yang didapat Indonesia

    Referensi:

    Laurance, W. 2008.Can carbon trading save vanishing forests?. BioScience 58(4): 286 -- 287 hlm.
    Lohmann, L. 2009. Neoliberalism and the calculable world: the rise of carbon trading.  Zed Books, London: 12 hlm.
    Luttrell, C., dkk. 2011. Lessons for REDD+ from measures to control illegal logging in Indonesia. United Nation Office on Drugs and Crime and Centre for International Forestry Research, Bogor: 12 hlm.
    Fogarty, D. 2010. Making forest pay in a warming world. Reuters Special Report, Desember: 9 hlm.
    Angelsen, A., dkk. 2011. Mewujudkan REDD+: strategi nasional dan berbagai pilihan kebijakan. Center for International Forestry Research, Bogor: xxiv + 366 hlm.

                Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah hewan endemik Sumatera.  Harimau Sumatera merupakan harimau terkecil dari seluruh jenis haimau yang hidup di dunia hingga pada saat ini.  Ukuran tubuh harimau sumatera jantan dapat mencapai 2,4 meter, sedangkan betina memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil.  Bobot tumbuh haimau sumatera dapat mencapai 170 kg (Harapan Rain Forest, 2011).


    Harimau Sumatera diperkirakan kini hanya tinggal 400-500 individu dan tersebar di wilayah-wilayah Sumatera (IUCN, 2011).  Kawasan yang masih terdapat Harimau Sumatera antara lain di hutan rawa Taman Nasional Berbak, hutan bekas tebangan di Taman Nasional Way Kambas, dan hutan hujan tropis Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Kerinci Seblat.  Harimau dapat menjelajah hingga 15 km setiap harinya, oleh karena itu setiap individu membutuhkan minimal wilayah seluas 100 km2 untuk hidup dan mencari mangsa.  Dalam penjelajahan tersebut, harimau mencari makan (rusa, babi hutan, tapir, kancil, dan lain-lain) sekitar 3-6 hari sekali (WCS, ?).
                Sejak tahun 1996, Harimau Sumatera ditetapkan sebagai hewan Critically Endangered.  Hal tersebut disebabkan antara lain oleh kerusakan habitat, kekurangan pakan, dan perburuan liar (IUCN, 2011).  Kerusakan habitat Harimau Sumatera disebabkan oleh deforestasi, penebangan hutan ilegal, kebakaran hutan, dan kesalahan tata guna lahan (Supriatna, 2008).  Kerusakan habitat bukan hanya memengaruhi Harimau Sumatera, namun juga hewan-hewan lain yang hidup di habitat tersebut.  Bila hewan-hewan lain seperti rusa, babi hutan, tapir, kancil, dan lain-lain semakin sedikit jumlahnya maka akan semakin sedikit pula ketersediaan pakan untuk Harimau Sumatera (WCS, ?).
    Data IUCN pada tahun 1998 -- 2002 sedikitnya terdapat 56 harimau per tahun yang dibunuh untuk perdagangan (76%) dan akibat konflik dengan manusia (15%).  Warga sekitar cukup sering melakukan perburuan liar untuk mendapatkan makanan (yang merupakan pakan harimau).  Hal tersebut menyebabkan harimau kekurangan pakan di hutan dan mencari mangsa di daerah perbatasan (dimana terdapat peternakan warga).  Warga yang hewan ternak nya dimakan oleh harimau kemudian marah dan membunuh harimau tersebut.
    Beberapa alasan tersebut menyebabkan keberadaan Harimau Sumatera semakin sedikit dan mengkhawatirkan.  Oleh karena itu perlu dilakukan upaya konservasi yang berkelanjutan.  Langkah pertama untuk melakukan upaya konservasi adalah perlu dilakukan analisis prioritas kawasan yang dilindungi (Farid, 2008).  Hal tersebut perlu dilakukan agar upaya konservasi yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien.  Kawasan yang menjadi prioritas konservasi ditentukan dengan cara mengumpulkan data mengenai daerah tersebut sebanyak-banyak nya.
    Data yang diperlukan antara lain jumlah individu, persebaran populasi, kondisi habitat, dan ketersediaan pakan.  Ukuran populasi Harimau Sumatera dapat ditentukan dengan menggunakan metode langsung, metode perhitungan jejak, metode perkiraan, perhitungan dengan petak contoh dan metode tangkap dan tandai (camera trap).  Namun, metode yang paling sering digunakan adalah metode camera trap berdasarkan photographic capture harimau.  Harimau merupakan salah satu hewan melanistic, yaitu hewan yang dapat dibedakan secara individu berdasarkan pola loreng, ukuran badan, dan jenis kelamin.  Biasanya kamera diletakkan di lokasi satwa melakukan aktivitas, lokasi yang sering dikunjungi (misalnya sumber air, sumber pakan, dan sumber air garam) (Hutajulung, 2007).  Foto yang didapat dari metode tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan ukuran populasi harimau tersebut.
    Bila data telah terkumpul, prioritas dapat ditentukan berdasarkan jumlah daya dukung lingkungan (keberadaan mangsa dan kondisi habitat), jumlah betina yang fertil, dan banyak nya gangguan manusia.  Daerah yang telah diprioritaskan sebagai daerah konservasi kemudian dijaga dan dirawat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

    Daftar pustaka:

    Farid, M. 2008. . Majalah Tropika Indonesia, Juli – September 12(3).
    Harapan Rain Forest. 2011. Harimau Sumatera.  www.harapanrainforest.org/id/harimau-sumatera, 14 September 2011, pkl. 07.40 WIB.
    Hutajulung, M. B. 2007. Studi karakteristik ekologi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) berdasarkan camera trap di lansekap Tesso Nilo-Bukit Tiga Puluh, Riau. Tesis Program Paska Sarjana Biologi FMIPA UI, Depok: xxi + 107 hlm.
    IUCN. 2011. Panthera tigris ssp. Sumatrae, 5 hlm. www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/15966/0, 14 September 2011, pkl. 07.40 WIB.
    Supriatna, J. 2008. Melestarikan alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: xx+481.
    WCS. ?. Apa itu harimau?. Wildlife Conservation Society, Bogor.

     Seringkali saya protes ke mirza, kenapa dia ngga inget semua cerita-serita yang pernah saya ceritain ke dia, kenapa dia terlihat ngga perhatian sama saya, dan jutaan hal sepele yang harusnya ngga dibikin pusing.  Tapi belakangan ini saya baru sadar, ternyata saya jauh lebih parah daripada dia.  Saya terlalu egois nuntut ini itu ke dia, padahal saya aja ngga bener-bener kenal (misalnya, saya bahkan ngga tau hal-hal yang dia sukai) atau ga bener-bener peduli sama perasaan dia (misal, saya tetap menuntut dia balas sms walaupun dia lagi sibuk).  Betapa jahatnya saya.  Padahal selama ini dia ngga pernah nuntut macem-macem ke saya.  Sama sekali ngga pernah.  Saya pun sering mengaku sayang sama dia.  Tapi.. apa pantas saya bilang sayang, kalau hal-hal sederhana tentang dia aja saya ngga tau.
    Setahun terakhir, saya ngerasa ngga pede dengan diri saya sendiri.  Mirza itu pinter nya setengah mati, dia tau segala.  Sementara saya, seujung kuku nya aja ngga.  Mirza pun udah sering bilang ke saya, ngga boleh merasa rendah diri, harus sombong sama kemampuan kita (minimal sombong ke diri sendiri).  Tujuan nya supaya bisa PD sama  kemampuan diri sendiri.  Tapi tetep aja.. pasti ngerasa saya bener-bener ngga pantes buat dia.  Mirza terlalu sempurna.
    Kepintaran mirza yang sangat jauh melampaui saya bikin saya sering ngga ngerti hal-hal yang dia omongin.  Oleh karena itu saya menduga, mirza sengaja ngga ngomongin hal-hal sederhana yang dia suka tapi bagi saya itu terlalu berat (mirza emang sangat baik hati).  Dia melakukan itu karena dia sayang sama saya dan ngga mau saya merasa minder (yang ini kepedean aja sih).
    Hal-hal sederhana dan sehari-hari ini baru saya tau lewat twit nya dia, misal:
    Komik kesukaan: saya kira dia cuma suka komik Naruto.. (Naruto aja saya ngga tau ceritanya kayak apa..) tapi ternyata dia juga suka South Park dan Futurama.  Apaan tuh? Saya kira South Park itu judul film atau novel, sedangkan Futurama itu nama sebuah kota di Jepang (mirip Fukushima kan?).  akhirnya saya googling.. ternyata South Park dan Futurama itu serial kartun komedi di TV Amerika.  Futurama itu ciptaan nya Matt Groening yang pernah bikin The Simpson.  Mirza suka baca itu, tapi saya baru tau sekarang.  Saya bahkan belum pernah baca atau nonton tiga-tiga nya, jadi yaa ngga bakal ngerti kalo diajak ngomong ginian.  Sebagai pacar, saya merasa gagal.
    Lagu kesukaan: saya ngga pernah tau secara spesifik, dia suka lagu nya siapa.. yang bisa saya perkirakan cuma Bob Dylan, lagu-lagu jazz, Jimi Hendrix, dan Lady Gaga.  Itu juga karena pernah denger dia dengerin lagu itu, trus beberapa lirik nya pernah dia sms in ke saya.  Sisa nya, saya beneran ngga tau genre musik yang dia suka apa (kecuali jazz).  Kalau pun saya dikasih tau sekarang, pasti saya ngga ngerti itu lagu nya apa dan kayak apa liriknya.  Saya pernah liat mirza chatting sama temennya soal lagu yang dia suka dan si temen nya tau itu lagu apa mirip apa dan semacam apa.  Sejujurnya, mirza ngga pernah ngobrolin hal-hal sederhana macam itu ke saya.  Jangan-jangan karena dia tau, saya juga ngga bakal ngerti yang kayak gitu-gitu.  Sebagai pacar, saya merasa gagal.
    Saya yakin banget pada suatu hari nanti dia akan ketemu seseorang yang jauh lebih pinter dari saya, yang bisa nyambung terus kalo diajak diskusi apapun (ngga plenga plengo kayak saya), soal komik, buku, lagu, science, politik, sosial, dan lain-lainnya.  Dan kalo dia udah ketemu sama orang itu lalu mirza suka sama dia, saya bakal sangat panik.  Ya iya lah.. saya sangat suka dia.  Tapi kalo emang udah ketemu yaa saya harus merelakan mirza pergi (nulisnya sambil nangis).  Ya iya lah, mirza kemungkinan besar akan lebih bahagia sama orang itu.. dia ngga bakal bosen selama hidupnya, karena dia punya temen diskusi yang juga pintar dan tau segala.  Meskipun pasti akan sangat berat bagi saya, tapi saya harus sanggup.  Demi senyum nya yang selalu saya suka.  Apalah artinya cinta, bila tidak dapat merelakan nya lebih bahagia.