Konservasi Harimau Sumatera

, , No Comments

            Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah hewan endemik Sumatera.  Harimau Sumatera merupakan harimau terkecil dari seluruh jenis haimau yang hidup di dunia hingga pada saat ini.  Ukuran tubuh harimau sumatera jantan dapat mencapai 2,4 meter, sedangkan betina memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil.  Bobot tumbuh haimau sumatera dapat mencapai 170 kg (Harapan Rain Forest, 2011).


Harimau Sumatera diperkirakan kini hanya tinggal 400-500 individu dan tersebar di wilayah-wilayah Sumatera (IUCN, 2011).  Kawasan yang masih terdapat Harimau Sumatera antara lain di hutan rawa Taman Nasional Berbak, hutan bekas tebangan di Taman Nasional Way Kambas, dan hutan hujan tropis Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Kerinci Seblat.  Harimau dapat menjelajah hingga 15 km setiap harinya, oleh karena itu setiap individu membutuhkan minimal wilayah seluas 100 km2 untuk hidup dan mencari mangsa.  Dalam penjelajahan tersebut, harimau mencari makan (rusa, babi hutan, tapir, kancil, dan lain-lain) sekitar 3-6 hari sekali (WCS, ?).
            Sejak tahun 1996, Harimau Sumatera ditetapkan sebagai hewan Critically Endangered.  Hal tersebut disebabkan antara lain oleh kerusakan habitat, kekurangan pakan, dan perburuan liar (IUCN, 2011).  Kerusakan habitat Harimau Sumatera disebabkan oleh deforestasi, penebangan hutan ilegal, kebakaran hutan, dan kesalahan tata guna lahan (Supriatna, 2008).  Kerusakan habitat bukan hanya memengaruhi Harimau Sumatera, namun juga hewan-hewan lain yang hidup di habitat tersebut.  Bila hewan-hewan lain seperti rusa, babi hutan, tapir, kancil, dan lain-lain semakin sedikit jumlahnya maka akan semakin sedikit pula ketersediaan pakan untuk Harimau Sumatera (WCS, ?).
Data IUCN pada tahun 1998 -- 2002 sedikitnya terdapat 56 harimau per tahun yang dibunuh untuk perdagangan (76%) dan akibat konflik dengan manusia (15%).  Warga sekitar cukup sering melakukan perburuan liar untuk mendapatkan makanan (yang merupakan pakan harimau).  Hal tersebut menyebabkan harimau kekurangan pakan di hutan dan mencari mangsa di daerah perbatasan (dimana terdapat peternakan warga).  Warga yang hewan ternak nya dimakan oleh harimau kemudian marah dan membunuh harimau tersebut.
Beberapa alasan tersebut menyebabkan keberadaan Harimau Sumatera semakin sedikit dan mengkhawatirkan.  Oleh karena itu perlu dilakukan upaya konservasi yang berkelanjutan.  Langkah pertama untuk melakukan upaya konservasi adalah perlu dilakukan analisis prioritas kawasan yang dilindungi (Farid, 2008).  Hal tersebut perlu dilakukan agar upaya konservasi yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien.  Kawasan yang menjadi prioritas konservasi ditentukan dengan cara mengumpulkan data mengenai daerah tersebut sebanyak-banyak nya.
Data yang diperlukan antara lain jumlah individu, persebaran populasi, kondisi habitat, dan ketersediaan pakan.  Ukuran populasi Harimau Sumatera dapat ditentukan dengan menggunakan metode langsung, metode perhitungan jejak, metode perkiraan, perhitungan dengan petak contoh dan metode tangkap dan tandai (camera trap).  Namun, metode yang paling sering digunakan adalah metode camera trap berdasarkan photographic capture harimau.  Harimau merupakan salah satu hewan melanistic, yaitu hewan yang dapat dibedakan secara individu berdasarkan pola loreng, ukuran badan, dan jenis kelamin.  Biasanya kamera diletakkan di lokasi satwa melakukan aktivitas, lokasi yang sering dikunjungi (misalnya sumber air, sumber pakan, dan sumber air garam) (Hutajulung, 2007).  Foto yang didapat dari metode tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan ukuran populasi harimau tersebut.
Bila data telah terkumpul, prioritas dapat ditentukan berdasarkan jumlah daya dukung lingkungan (keberadaan mangsa dan kondisi habitat), jumlah betina yang fertil, dan banyak nya gangguan manusia.  Daerah yang telah diprioritaskan sebagai daerah konservasi kemudian dijaga dan dirawat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Daftar pustaka:

Farid, M. 2008. . Majalah Tropika Indonesia, Juli – September 12(3).
Harapan Rain Forest. 2011. Harimau Sumatera.  www.harapanrainforest.org/id/harimau-sumatera, 14 September 2011, pkl. 07.40 WIB.
Hutajulung, M. B. 2007. Studi karakteristik ekologi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) berdasarkan camera trap di lansekap Tesso Nilo-Bukit Tiga Puluh, Riau. Tesis Program Paska Sarjana Biologi FMIPA UI, Depok: xxi + 107 hlm.
IUCN. 2011. Panthera tigris ssp. Sumatrae, 5 hlm. www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/15966/0, 14 September 2011, pkl. 07.40 WIB.
Supriatna, J. 2008. Melestarikan alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: xx+481.
WCS. ?. Apa itu harimau?. Wildlife Conservation Society, Bogor.

0 comments:

Post a Comment