ulasan: pentas teater Padusi

, , No Comments
PADUSI adalah sebuah pentas drama musikal yang bercerita tentang tiga legenda dari tanah Minang.  Padusi sendiri berarti perempuan, dalam bahasa minang.  Pun juga dalam pentas ini, tiga legenda yang diceritakan adalah tentang perempuan, yaitu Puti Bungsu, Siti Jamilan, dan Sabai Nan Aluih.

sumber gambar: http://padusi.acara-event.com/gallery/

Kekuatan terbesar dari pentas ini adalah tari.  Sebuah maha karya Tom Ibnur, pencipta dan penata tari Padusi.  Di bawah asuhannya, para penari yang didatangkan langsung dari Minang benar-benar memukau!  Berbagai tarian minang ditarikan dengan penuh energi.  Bahkan, semua tarian yang ditampilkan dalam lakon menjadi bagian dari adegan yang mampu ‘bercerita’ dan penuh daya magis.  Kostum panggung yang elok, memesona, dan beraneka warna juga mendukung adegan tari menjadi semakin kuat.  Selain itu, koreografi tari begitu dinamis, jarang ada pengulangan blocking dalam suatu tarian.  Ditambah lagi, tari tersebut didukung oleh musik yang pas dan tidak berlebihan.

sumber gambar: http://padusi.acara-event.com/gallery/
Selain tari, permainan akting pemain senior sangat menarik dalam pentas ini.  Hampir semua pemain senior berhasil memainkan peran dengan apik.   Misalnya saja Jajang C Noor, ia menjadi aktris favorit saya malam itu.  Hampir setiap kalimat yang dia ucapkan ‘bunyi’ ke penonton, itu membuat karakter Mandeh Rubiah (mertua Puti Bungsu) dan adegan yang dimainkan amat kuat.  Dalam cerita Puti Bungsu, Mandeh Rubiah (Jajang) sekadar menyisir rambut hitam panjangnya sambil duduk melipat kaki.  Ketika adegan itu dilakukan, dialog Puti Bungsu (Ine Febriyanti) bahkan jadi tidak ‘bunyi’.  Jajang mampu menarik perhatian penonton menjadi lebih fokus ke Mandeh Rubiah dibandingkan ke Puti Bungsu yang saat itu menjadi tokoh utama.
Setelah permainan akting Jajang C. Noor, adegan paling apik adalah saat Lareh Simawang (diperankan oleh Riyanno Viranico) merindukan Siti Jamilah, istrinya.  Pada adegan tersebut, Elly Kasim muncul di tepi panggung, duduk dengan anggun dan melantunkan lagu minang (saya lupa judulnya apa).  Elly Kasim menyihir seluruh penonton dengan suara merdu dan didukung pula oleh musik yang rapi dan tidak berlebihan.  Latar belakang panggung saat itu berupa bulan purnama yang indah dan dua penari menarikan sebuah tarian kesedihan.  Tak heran setelah adegan ini selesai, tepuk tangan penonton langsung bergemuruh.
            Menurut saya, hal yang cukup mengganggu adalah kelihatan sekali permainan akting aktor/aktris senior jomplang dengan akting pemain muda.  Para pemain senior tampil dengan santai dan terlihat nyaman dengan perannya., sedangkan pemain muda masih terlihat ‘mikir’ saat membawakan peran.  Selain itu, penguasaan logat minang pun masih kurang, terlihat sekali yang mana yang benar-benar orang minang, mana yang bukan.  Bahkan Ine Febriyanti sebagai tokoh utama pun logatnya kurang pas.  Tapi setelah saya cek, ternyata memang pemain tidak diharuskan berlogat minang oleh sutradara.
Selain itu, Marissa Anita sebagai Padusi kelihatan cantik sekali dan aura nya keluar.. Saya yang duduk di bangku balkon paling atas, masih merasakan aura cantiknya. Tapi sayang, dialog yang dia ucapkan belum ‘menjadi milik’ masih sebatas hafal.
Buat saya, kekurangan akting aktor/aktris muda tersebut harusnya tidak terjadi, mengingat harga tiket yang mahal sekali dan gedung yang amat megah. Ditambah lagi para pemain muda banyak yang menjadi pemeran utama, jadi kalau aktingnya kurang kuat jadi sangat kelihatan.

Lakon ini pantas ditonton, tapi menurut saya, belum bisa dibilang memukau, sehingga belum pantas untuk dijual dengan harga tiket sedemikian mahal.

*

btw, terima kasih kepada Nana yang sudah ngasih tiket nonton gratis ke saya dan Mirza :)

0 comments:

Post a Comment