Namanya Diny Hartiningtias. Banyak orang yang berpikir bahwa aku mengenalnya dengan sangat baik. Tetapi setelah aku bertanya pada seseorang dalam hati, ternyata ia tidak ku kenal dengan sangat baik. Yah, baiklah, aku akan tetap mencoba untuk bercerita tentangnya.

Aku tidak memanggilnya dengan nama Diny, tetapi kusapa dia dengan nama Dindin. Kata ibu, aku sudah bersamanya saat aku berumur enam bulan, ketika ia ada di dalam rahim ibu. Kami sudah berbagi segalanya.

Waktu aku tertawa dan bercanda dengan ibu, itu berarti ia juga ikut tertawa dan bercanda dengan ku. Lalu disaat air mataku menetes dan ibu berusaha membuatku tersenyum, itu berarti ia juga ikut menghiburku. Rasanya tidak ada satu pun yang dapat menggantikan kebahagiaanku.