Life is not a paragraph and death is no parenthesis. - E.E. Cummings
Membaca sudah jadi kegiatan favorit saya sejak SD. Tetapi melihat beberapa tahun ke belakang, ternyata tidak banyak buku yang saya baca. Hehee.. Mungkin karena sibuk dengan hobi-hobi lainnya? Entahlah..

Di tahun 2015 ini, saya mencoba membaca lebih banyak, dan buku-buku yang saya baca tahun ini benar-benar membuat saya ketagihan!

Salah satunya adalah The Girl on the Train, novel karya Paula Hawkins. Buku ini sengaja saya baca karena telah masuk ke dalam daftar The New York Bestseller Fiction 2015, selama 13 minggu! Padahal buku bergenre thriller ini adalah karya pertama Paula Hawkins. Sebelumnya, dia berprofesi sebagai jurnalis belasan tahun.

Paula Hawkins (sumber gambar: www.express.co.uk)

The Girl on the Train bercerita tentang perempuan bernama Rachel Watson yang sama dengan jutaan orang lainnya di kota metropolitan, naik kereta setiap hari. Saat berkomuter, Rachel sangat senang memperhatikan orang-orang, kemudian membuat cerita sendiri di kepalanya. Ia terobsesi dengan suami istri yang tinggal di dekat jalur pemberhentian kereta, yang ia sebut dengan nama Jess dan Jason. Suatu hari, ia melihat berita tentang menghilangnya Jess, yang ternyata bernama Megan. Ia merasa perlu terlibat dalam investigasi pencarian Megan, menghubungi Jason, serta menemukan kenyataan-kenyataan yang tak terduga!

Novel yang terjual 2 juta kopi di Amerika hanya dalam waktu 4 bulan ini, diceritakan dengan gaya orang pertama, dari sudut pandang ketiga tokoh utama wanita. Rachel, seorang alkoholik, tidak memiliki pekerjaan, tidak stabil, kesepian, berjuang untuk move on dari mantan suaminya, si tokoh utama yang menjadi kunci dari cerita dan penasaran dengan cerita-cerita yang ia bangun sendiri di otaknya. Megan alias 'Jess', seorang mantan pekerja seni, istri dari Scott ('Jason'), memiliki masa lalu yang kompleks, tidak puas dengan suaminya yang posesif, dan belakangan ia berjuang mengatasi insomnianya dengan berobat ke psikiater. Anna, istri dari mantan suami Rachel, mencintai suami dan anaknya Evie dengan sepenuh hati, sangat bangga dengan kehidupan keluarga kecilnya yang bahagia, dan selalu cemburu juga terancam dengan keberadaan Rachel.

Awalnya saya merasa heran kenapa buku ini bisa masuk bestseller, karena sekitar 100 halaman pertama, ceritanya biasa-biasa saja. Gaya bahasa penulis juga termasuk sederhana dan mudah dibaca, tidak serumit Gone Girl yang dari awal ceritanya sudah menegangkan. Tetapi begitu masuk ke 100 halaman berikutnya, ceritanya benar-benar membuat saya penasaran, sulit untuk melepaskan buku ini! Dan yang paling seru adalah 100 halaman terakhir, karena konflik semakin kompleks dan membingungkan, juga akhir ceritanya tidak tertebak!

Buat saya, ada beberapa hal penting dalam cerita yang sangat menarik:

Tanggal
Terkadang saya harus kembali melihat, cerita di tanggal berapa kali ini? Karena ada dua keterangan waktu yang berbeda, Megan menceritakan kejadian beberapa bulan sebelum cerita dari sudut pandang Rachel dan Anna.

Tokoh alkoholik
Selain itu, bagian yang juga menarik adalah bagaimana penulis menggambarkan tokoh alkoholik, Rachel. Gara-gara menjadi alkoholok, ia ditinggal oleh suaminya (yang juga selingkuh) dan dipecat dari kantornya. Saya baru tau ternyata orang yang mabuk, bisa mengalami memory black out atau tidak ingat kejadian apapun yang terjadi saat ia mabuk.
It's less acceptable to drink on the train on Monday, unless you're drinking with company, which I am not. - Rachel
Kekerasan psikis dalam rumah tangga
Megan digambarkan memiliki suami yang sangat posesif, seringkali memeriksa komputer dan handphone istrinya, cemburu buta, dan sebagainya. Meskipun demikian, Megan tidak merasa perilaku suaminya itu sebagai bentuk kekerasan psikis lho.. Sepertinya banyak hubungan suami-istri yang seperti ini dan sang korban tidak merasa menjadi korban.
I am not a model wife. I can't be. No matter how much I love him, it won't be enough. - Megan
Keibuan dan kehadiran anak
Paula sempat menyinggung tentang bagaimana masyarakat yang masih menilai perempuan berdasarkan perannya sebagai ibu. Bagi masyarakat, kehadiran seorang anak ternyata sangat penting dalam hubungan pernikahan. Dari mulai Rachel yang sulit punya anak sampai stress dan akhirnya cerai, Anna yang digambarkan lebih bahagia karena memiliki anak dan suami, juga Megan yang ternyata sedang hamil padahal sebelumnya dia belum mau punya anak.
Let's be honest: women are still only really valued for two things - their looks and their role as mother. - Rachel
Menurut saya sebuah karya sastra sangat penting peka terhadap hal-hal yang benar terjadi di masyarakat, dan novel ini sangat banyak menangkap hal tersebut.

Perselingkuhan
Ini juga isu yang sangat sering terjadi di masyarakat dan menjadi pusat persoalan yang terjadi di novel ini. hehehe

Bali!
Saat Anna sedang diajak jalan-jalan oleh Tom, Tom menyebutkan Bali! Keren! Hahaa.. Yah minimal ada secuil dari Indonesia yang ikutan terkenal di novel itu yaa.. hihihi

Oiya, banyak orang bilang The Girl on the Train, adalah the next Gone Girl. Emang banyak ternyata persamaannya!
  1. Genre thriller
  2. Cerita tentang istri yang hilang
  3. Sang suami dicurigai menjadi pelaku
  4. Sang istri yang hilang, ternyata hamil
  5. Perempuan yang rada stress atau aneh
  6. Melibatkan 2 detektif, perempuan dan laki-laki
  7. Kejadian kehilangan ini banyak diliput oleh majalah, walau dengan intensitas berbeda
  8. Dibuat filmnya! Lisensi untuk membuat film The Girl on the Train sudah dipegang oleh Dreamworks, tapi ngga tau sih kapan akan keluar filmnya.
***

Oke dehh, demikian ulasan novel yang cukup panjang kali inii.. Semoga bermanfaat yaa
Bagaimana rasanya membeli sepaket buku yang kita tidak tau isinya buku apa saja dan siapa yang menulisnya? Barangkali rasanya sama seperti kencan buta. Hanya tau sedikit tentang si dia, belum pernah berjumpa, tapi kita setuju menemuinya. Seperti itulah LitBox.

LitBox adalah sebuah start-up di bidang literasi yang mengusung konsep kencan buta dengan buku. Bentuk bisnis literasi yang pertama kali di Indonesia.

Setiap dua bulan sekali, sang pemilik LitBox yang juga adalah penulis buku terkenal, Ika Natassa, akan mengkurasi 4-5 buku fiksi lalu menawarkan beberapa paket buku tersebut kepada calon pembeli. Apa judul buku yang ia pilih, tentunya tidak ia beri tahukan kepada calon pembeli (namanya juga kencan buta hehe). Ia hanya akan memberikan beberapa petunjuk kecil tentang isi buku dan penulisnya, lalu membiarkan para calon pembeli menebak-nebak apa judulnya.

Paket LitBox yang dibungkus dengan apik

Ada tiga macam paket buku LitBox, yang pertama Brewed, terdiri dari beberapa buku bahasa Indonesia, kemudian Blended, buku berbahasa Indonesia dan Inggris, dan terakhir paket campuran Brewed dan Blended.

Saya sudah berlangganan website LitBox semenjak paket LitBox pertama dijual. Tapi saya belum berani membelinya, karena dalam banyak hal, saya hanya bisa suka sama sesuatu yang sudah saya kenali dengan baik. Kencan buta dengan buku? hmm.. berani ngga ya..

Sampai akhirnya, petunjuk kali ini benar-benar bikin penasaran..

Blended LitBox: 1 fiction in English written by a foreign author and 1 fiction in Bahasa Indonesia written by an Indonesian author. The imported book in this LitBox is definitely the best fiction I've read in the last decade, written by a now-famous female writer. I bought the first edition hardcover a while back and I gotta tell you, I just couldn't put it down from the moment I opened the first page, I literally spent a whole day reading it cover-to-cover and cursing 'fuck' half a dozen times every time I came across a truly shocking scene. Telling you the synopsis will reveal the title, so take my word for it, it is THE BEST fiction you'll ever read this year. Here's a little hint: the Academy Award nominated movie is definitely as good as the book, and it is also the best adaptation I've seen in a while. The Indonesian fiction in this edition of Blended LitBox is the great comeback of one of the most prolific male writer in this era, a story about a young woman's journey to discover love. What I particularly love about this book is how the writer himself has evolved a lot from his last works, this book is written so beautifully that you just cannot skip a sentence without having it lingers in your mind for a while.

Saya terpincut. Mari kita coba kencan buta ini!

paket Blended LitBox edisi ketujuh

Paket buku saya datang sekitar dua bulan kemudian. Lama? Ya! Karena saya beli paket Blended. Salah satu bukunya buku impor dan pengirimannya sedikit terlambat. Menurut saya sih, buat teman-teman yang kurang suka menunggu, perlu pertimbangan lebih banyak untuk beli paket Blended.

Oiya, menurut saya, ini beberapa keuntungan membeli LitBox..

Ngga pakai bingung memilih buku
Kadang kita sering ke toko buku, kemudian bingung mau pilih yang mana, saking banyak yang mau beli. Nah dengan membeli LitBox, kita bisa menyerahkan sepenuhnya kepada kurator untuk memilihkan kita buku yang bagus. Tentunya, kita perlu lihat-lihat juga, apakah sang kurator seleranya sama dengan kita.

Lebih mudah dan murah
Ngga pakai kena macet ke toko buku atau malah belanja di luar budget saat ke toko buku. Beli via online, tinggal tunggu di rumah deh! Dan katanya harganya biasanya lebih murah daripada beli langsung di toko buku. Mungkin karena LitBox bekerja sama dengan penerbit juga.

Dapat tanda tangan penulis
Untuk buku Bahasa Indonesia, LitBox akan mengusahakan agar kita bisa dapat tanda tangan penulis. Horray! Jarang-jarang kan bisa dapat tanda tangan penulis. Oiya, ini artinya, buku kita dibuka duluan sama LitBox, untuk ditempelkan stiker berisi tanda tangan penulis. Tapi setelah ditempel dengan stiker, plastiknya akan dipasang lagi kok.

tanda tangan Andrei Aksana di buku Angin Bersayap

Mencoba hal baru!
Kadang juga kita meremehkan buku dari penulis yang belum kita kenal karyanya. Atau kalau cover dan sinopsis di belakang bukunya kurang menarik. Padahal ternyata ada banyak buku bagus di luar sana. Membeli LitBox bisa menjadi salah satu cara untuk mencoba melirik penulis-penulis yang barangkali belum pernah kita baca karyanya

Menguntungkan semua pihak
Selain pembaca, LitBox juga menawarkan pilihan menarik bagi penulis dan penerbit. LitBox menawarkan para penulis untuk mengikut sertakan dalam kurasi buku edisi LitBox berikutnya. Tentunya, ada proses filtrasi yang akan dilakukan oleh kurator, jadi hanya buku yang dinilai terbaik saja yang akan dimasukkan ke LitBox. Selain itu, juga ada untuk penerbit yang ingin karya yang mereka terbitkan dibantu promosi oleh LitBox. Menarik banget kan..

Percobaan kencan pertama saya cukup sukses, saya suka buku-buku yang ada di dalamnya dan tidak menyesal membeli LitBox! Mau coba juga? Silakan berlangganan website mereka di sini, LitBox akan memberikan setiap ada informasi paket buku terbaru!




Kamu pernah juga kah kencan buta dengan buku? Tertarik? Mau coba juga? Ceritain doong di kolom komentar :D

Cheers,
Diny