Sudah lama banget ngga cerita-cerita di blog ini.. Emang setelah berkeluarga, kehidupan jadi sedikit berubah. Dulu sambil bengong malem-malem bisa menulis apapun. Sekarang kalau bengong enaknya gangguin suami. Hahahaa..

Sedikit cerita tentang keluarga kecil saya. Setelah menikah, alhamdulillah kami sudah ada rumah yang bisa ditempati. Kami tinggal di rumah dinas milik ayahnya suami saya. Rumah ini sudah ditempati suami saya sebelum kami menikah. Rejeki banget bisa sudah ada tempat tinggal untuk ditinggali berdua. Di dalamnya pun sudah ada barang perkakas rumah tangga, jadi kami ngga harus beli barang mengisi rumah dulu. Lokasinya sangat strategis, di tengah kota, dekat dari rumah mertua dan orang tua, saya bisa sering mengundang teman-teman untuk main ke rumah kami. Rejeki banget deh punya mertua baik hati!
Selalu seneng kalau rumah ke datangan tamu
kumpul-kumpul bersama teman
Tapi manusia memang tidak pernah puas yah. Di rumah ini ada yang bikin kami berdua ngga kuat banget. Mungkin temen-temen di Facebook saya udah tau, masalah kucing tetanggaa. Hiks! Tetangga di rumah kami itu kebanyakan pensiunan yang suka pelihara kucing. Ngga tanggung-tanggung, tetangga sebelah kiri pelihara 10 kucing dan tetangga kanan pelihara 5 kucing. Mereka juga ngga ngaku itu peliharaan mereka, karena mereka 'cuma' memberi makan setiap hari. Mereka anggap memelihara itu kalau pelihara di dalam rumah, tidak termasuk yang di luar rumah. Padahal yang di luar rumah jauh lebih banyak dan ganggu tetangga.

Baca juga: Saya Pasca Menikah

Yaa namanya juga kucing liar ya, ngga pernah diajarin toilet training, akhirnya kucing-kucing itu pup di sembarang tempat. Di pinggir jalan, depan rumah, garasi, teras, taman, plafon rumah, genteng, dimana-mana banget. Saya dan suami mesti banget bersihin pup kucing tetangga minimal 3 pup setiap hari. Kalau lagi rejeki ngga ada pup, pasti masih kebagian semriwing bau pipis kucing dari tetangga sebelah. Bayangin aja, pulang kerja capek banget, eh sampe rumah masih harus bersihin pup kucing tetangga. Bangun pagi buka pintu untuk menghirup udara segar, yang kecium bau pipis kucing. Duh, ngga kuat banget deh! Super sedih dan ngga akan ada habisnya bahas masalah perkucingan ini.

Gara-gara masalah kucing ini, saya dan suami jadi ingin sekali punya rumah sendiri yang bebas dari geng kucing. Sambil bersihin pup kucing tetangga, kami setiap hari berdoa yang banyak biar dapat rejeki untuk beli rumah. Nabung yang banyak. Sampai akhirnya setelah kami merayakan anniversary pertama, kami bertekad memberanikan diri cari rumah.

Singkat cerita kami akhirnya random mau survey rumah. Suamiku janjian sama penjual rumah di Bojong Gede, saya janjian sama yang di Citayam. Hari Sabtu kami naik kereta pagi-pagi ke Bojong Gede. Rasanya jauuuh banget Bojong Gede. Ngga sampai-sampai. Dari stasiun masih harus naik angkot dua kali dan sambung dengan ojek untuk masuk ke dalam kompleknya. Kami juga kurang suka sama rumahnya. Sesudah dari Bojong kami ke Citayam. Rumah di Citayam ini rumahnya temen kakak kelas saya di kampus. Saya lihat informasi penjualan rumah dari sharing-an kakak kelas itu.

Pas masuk komplek rumah di Citayam, kami agak deg-deg-an. Kompleknya bagus banget yang model cluster dan ngga pakai pagar rumah. Ya Allah ini mah jauh labih bagus dari bayangan kami berdua. Setelah ngobrol dengan pemilik rumah dan lihat bentuk rumahnya, kami jadi makin jatuh cinta. Tapi yaa gimana yaa.. Kami sama-sama sadar, ini mah too good to be true. Budget kami belum cukup untuk beli rumah itu. Kami galau banget.

Kegalauan ini pun kami ceritakan ke pemilik rumah. Kami beberapa kali ketemu mereka. Ternyata meskipun ada beberapa calon pembeli lainnya, mereka lebih sreg jual rumah ke kami. Mereka ingat perjuangan dulu saat mereka beli rumah pertama. Mereka pun meyakinkan kami agar lebih PD coba apply KPR ke bank. Mereka pun bantu banget prosesnya. Akhirnya kami berdua beraniin nyoba dan ternyata disetujui oleh bank lho!

Kami di rumah baru. Yeaaay

Seneng banget! Saya dan suami menempati rumah baru kami sejak tanggal 4 April 2016. Jadi kado ulang tahun saya yang ke 25. Kado paling nyenengin sedunia!

Alhamdulillah banget saya sangat bersyukur Allah kasih kami berdua kesempatan untuk punya rumah sendiri. Saya juga bersyukur punya suami yang baik dan sabar banget. Emang Allah kalau memberikan rejeki suka ada aja aja jalannya yang ngga terduga. Alhamdulillah.
Saat ini lebih dari 50 persen manusia tinggal di kota dan angka ini akan terus bertambah hingga 60 persen pada tahun 2030. 50 persen populasi manusia itu artinya sekitar 3,7 miliar orang atau tiga kali lipat populasi manusia di India saat ini.

Kota menghadapi berbagai tantangan kronis dan akut. Tekanan akut (shock) maksudnya adalah tekanan yang mendadak, misalnya gempa bumi, banjir, wabah penyakit, serangan teroris, dan lain-lain. Sedangkan tekanan kronis (stress) artinya tekanan yang terjadi dalam jangka panjang, misalnya pengangguran tinggi, polusi udara, kemacetan, dan sebagainya. Tekanan-tekanan ini bisa menyebabkan berbagai masalah, oleh karena itu kota harus memiliki kemampuan bertahan dari tekanan (kota berketahanan - resilient city). Kemampuan sebuah kota untuk bertahan dalam segala bentuk tantangan sangat penting mengingat mayoritas populasi manusia tinggal dan melakukan kegiatan ekonomi di daerah tersebut.

Kota berketahanan adalah kota yang mampu beradaptasi, bertahan, dan tumbuh dalam menghadapi berbagai tantangan. Untuk mendorong kota-kota di seluruh dunia mampu lebih bertahan terhadap tantangan fisik, sosial, dan ekonomi, the Rockefeller Foundation mendirikan 100 Resilient Cities (100 RC). Saat ini hanya 100 kota yang dibantu 100 RC, termasuk kota Jakarta dan Semarang.

Kota-kota yang masuk ke dalam 100 RC akan mendapatkan berbagai bantuan, antara lain:
  • Bantuan finansial dan logistik untuk membentuk posisi baru di pemerintahan yang disebut Chief Resilience Officer (CRO). CRO ini yang akan mendorong ketahanan di setiap kota.
  • Bantuan para ahli untuk membangun strategi ketahanan kota
  • Akses terhadap solusi-solusi, partner, service provider, dan lain-lain
  • Keanggotaan untuk jejaring global di seluruh dunia yang masuk ke dalam 100 RC

Framework Kota Berketahanan
Dua pekan lalu saya berkesempatan mengikuti diskusi kota berketahanan dalam acara Lokakarya Perdana Jakarta Menuju Kota Berketahanan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta dan 100 Resilient Cities. Menarik sekali acara diskusi ini. Saya jadi lebih paham berbagai tantangan yang dialami oleh kota.

Salah satu pembicaranya Bapak Purnomo Dwi Sasongko, CRO Kota Semarang. Semarang memang sudah lebih dulu menjadi bagian dari 100 RC. Di Semarang Pak Purnomo melibatkan pemuda juga lho. Beliau dan tim nya datang dan melakukan kegiatan tentang kota tangguh ke anak-anak TK hingga SMP. Keren banget!

Selain Pak Purnomo ada juga pembicara dari Singapura dan Bangkok yang menceritakan permasalahan di kota mereka. Memang setiap kota memiliki karakteristik, masalah, dan kekuatan masing-masing. Jadi kita tidak bisa menyamakan satu kota dengan kota lainnya. Poin tersebut juga ditekankan oleh Prof. Jo Santoso, sebagai pembahas. Selain itu Prof. Jo juga mengatakan, untuk Jakarta, kita juga perlu melihat gap sosial dalam pembangunan. Jangan sampai pembangunan hanya dapat dinikmati oleh orang yang memiliki banyak uang.

Setelah sesi panelis, kami berdiskusi kelompok memetakan permasalahan kritis dan kronis kota Jakarta dan apa saja kekuatan Jakarta hingga saat ini. Menurut kelompok kami masalah kronis utama Jakarta adalah macet. Kemacetan Jakarta itu merembet ke berbagai masalah lainnya, misalnya polusi udara. Pernah ngga sih sesak napas kalau lagi naik ojeg di tengah kemacetan Jakarta? Saya sih sering sekali. Selain itu juga mempengaruhi ekonomi, tingkat stress bisa meningkat dan kesehatan bisa terganggu. Selain macet masalah kronis lainnya adalah penurunan tanah. Laju penurunan tanah di Jakarta itu mencapai 1 - 11 cm per tahun, lho!

Kami berdiskusi memetakan kekuatan dan kelemahan DKI Jakarta

Diskusi dan lokakarya ini seru banget, peserta dari berbagai pemangku kepentingan: pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan kelompok masyarakat lainnya. Selain itu peserta yang hadir juga beragam dari Professor sampai yang masih mahasiswa. Seru banget deh.

Semoga kota Jakarta mampu menjadi kota berketahanan ya!