Jakarta Bersiap Menjadi Kota Berketahanan

, , No Comments
Saat ini lebih dari 50 persen manusia tinggal di kota dan angka ini akan terus bertambah hingga 60 persen pada tahun 2030. 50 persen populasi manusia itu artinya sekitar 3,7 miliar orang atau tiga kali lipat populasi manusia di India saat ini.

Kota menghadapi berbagai tantangan kronis dan akut. Tekanan akut (shock) maksudnya adalah tekanan yang mendadak, misalnya gempa bumi, banjir, wabah penyakit, serangan teroris, dan lain-lain. Sedangkan tekanan kronis (stress) artinya tekanan yang terjadi dalam jangka panjang, misalnya pengangguran tinggi, polusi udara, kemacetan, dan sebagainya. Tekanan-tekanan ini bisa menyebabkan berbagai masalah, oleh karena itu kota harus memiliki kemampuan bertahan dari tekanan (kota berketahanan - resilient city). Kemampuan sebuah kota untuk bertahan dalam segala bentuk tantangan sangat penting mengingat mayoritas populasi manusia tinggal dan melakukan kegiatan ekonomi di daerah tersebut.

Kota berketahanan adalah kota yang mampu beradaptasi, bertahan, dan tumbuh dalam menghadapi berbagai tantangan. Untuk mendorong kota-kota di seluruh dunia mampu lebih bertahan terhadap tantangan fisik, sosial, dan ekonomi, the Rockefeller Foundation mendirikan 100 Resilient Cities (100 RC). Saat ini hanya 100 kota yang dibantu 100 RC, termasuk kota Jakarta dan Semarang.

Kota-kota yang masuk ke dalam 100 RC akan mendapatkan berbagai bantuan, antara lain:
  • Bantuan finansial dan logistik untuk membentuk posisi baru di pemerintahan yang disebut Chief Resilience Officer (CRO). CRO ini yang akan mendorong ketahanan di setiap kota.
  • Bantuan para ahli untuk membangun strategi ketahanan kota
  • Akses terhadap solusi-solusi, partner, service provider, dan lain-lain
  • Keanggotaan untuk jejaring global di seluruh dunia yang masuk ke dalam 100 RC

Framework Kota Berketahanan
Dua pekan lalu saya berkesempatan mengikuti diskusi kota berketahanan dalam acara Lokakarya Perdana Jakarta Menuju Kota Berketahanan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta dan 100 Resilient Cities. Menarik sekali acara diskusi ini. Saya jadi lebih paham berbagai tantangan yang dialami oleh kota.

Salah satu pembicaranya Bapak Purnomo Dwi Sasongko, CRO Kota Semarang. Semarang memang sudah lebih dulu menjadi bagian dari 100 RC. Di Semarang Pak Purnomo melibatkan pemuda juga lho. Beliau dan tim nya datang dan melakukan kegiatan tentang kota tangguh ke anak-anak TK hingga SMP. Keren banget!

Selain Pak Purnomo ada juga pembicara dari Singapura dan Bangkok yang menceritakan permasalahan di kota mereka. Memang setiap kota memiliki karakteristik, masalah, dan kekuatan masing-masing. Jadi kita tidak bisa menyamakan satu kota dengan kota lainnya. Poin tersebut juga ditekankan oleh Prof. Jo Santoso, sebagai pembahas. Selain itu Prof. Jo juga mengatakan, untuk Jakarta, kita juga perlu melihat gap sosial dalam pembangunan. Jangan sampai pembangunan hanya dapat dinikmati oleh orang yang memiliki banyak uang.

Setelah sesi panelis, kami berdiskusi kelompok memetakan permasalahan kritis dan kronis kota Jakarta dan apa saja kekuatan Jakarta hingga saat ini. Menurut kelompok kami masalah kronis utama Jakarta adalah macet. Kemacetan Jakarta itu merembet ke berbagai masalah lainnya, misalnya polusi udara. Pernah ngga sih sesak napas kalau lagi naik ojeg di tengah kemacetan Jakarta? Saya sih sering sekali. Selain itu juga mempengaruhi ekonomi, tingkat stress bisa meningkat dan kesehatan bisa terganggu. Selain macet masalah kronis lainnya adalah penurunan tanah. Laju penurunan tanah di Jakarta itu mencapai 1 - 11 cm per tahun, lho!

Kami berdiskusi memetakan kekuatan dan kelemahan DKI Jakarta

Diskusi dan lokakarya ini seru banget, peserta dari berbagai pemangku kepentingan: pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan kelompok masyarakat lainnya. Selain itu peserta yang hadir juga beragam dari Professor sampai yang masih mahasiswa. Seru banget deh.

Semoga kota Jakarta mampu menjadi kota berketahanan ya!

0 comments:

Post a Comment