Designed by: Freepik
Inget ngga sih dulu waktu masih SD suka ada imunisasi di sekolah? Ganti-gantian disuntik di depan kelas, nangis, atau bahkan kejar-kejaran sama guru gara-gara takut disuntik? Hahaha seru banget ya kali diinget-inget..

Imunisasi atau dikenal juga dengan vaksinasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita. Dulu waktu masih kecil, kemungkinan besar sudah pernah kita dapatkan beberapa vaksin. Terutama vaksin-vaksin yang memang diwajibkan oleh pemerintah seperti polio, DPT, dan lain-lain.

Sekarang sudah besar, ternyata ada beberapa vaksin yang sebaiknya kita dapatkan atau diulang. Jadi meskipun waktu masih kecil sudah pernah, kita bisa vaksin ulang untuk 'memperbarui' kekebalan tubuh kita.

Apalagi kalau mau ke luar negeri, super duper penting untuk vaksin. Kita ngga pernah tau di luar sana orang lain mengidap penyakit menular apa. Vaksin ini tuh ibaratnya bawa payung sebelum hujan. Daripada sakit terus mahal, mendingan investasi vaksin dulu deh.

Nah, karena saya kebetulan mau berangkat ke Amerika, jadi ada tiga vaksin yang mau saya ambil: MMR, DPT, dan meningitis. Saya cek di rumah sakit yang deket-deket rumah, eeh ngga pada punya stok vaksin MMR. Ternyata sekarang stok vaksin MMR se-Indonesia lagi habis dari distributornya.

Saya dapat info, salah satu tempat yang punya vaksin MMR adalah In Harmony Clinic. Yaudah lah ya langsung cus vaksin di sana.

Sebelum datang ke klinik, kita mesti banget bikin janji. Bisa melalui telepon atau pun melalui apps Practo. Mereka punya stok vaksin terbatas, jadi jangan sampai main langsung dateng eeh vaksinnya ngga tersedia. Setelah bikin janji, saya juga diminta mengirimkan bukti Letter of Acceptance dari universitas yang dituju. LoA ini sebagai bukti bahwa saya emang butuh banget vaksin untuk bikin visa-nya. Habis itu, tinggal dateng deh sesuai dengan waktu yang telah disepakati.

Lokasi klinik mudah dicari di google maps. Saya waktu itu naik kereta sampai Cikini, lalu naik gojek sampai klinik. Dari luar kliniknya kurang keliatan jelas. Seingat saya sih ngga ada plang besar deh. Adanya spanduk aja. Setelah masuk ke klinik, tinggal bilang ke orang administrasi, lalu nunggu dipanggil.

Saat ketemu dokter, kita akan dijelasin dahulu tentang seluk beluk vaksin yang akan diinjeksikan ke dalam tubuh kita. Dokternya jelasin pakai power point gitu, jadi enak ada contoh gambar dan jelas banget. Bisa nanya-nanya juga dengan dokternya. Kalau semuanya sudah jelas, baru deh disuntik.

Suntik vaksin ini di lengan bagian atas. Kalau bisa pakai baju yang lengannya longgar, biar ngga repot buka baju. Tinggal gulung lengan baju sampai paling atas banget. Selesai disuntik, kita akan dapat sertifikat vaksin. Pasca suntik, saya sih ngga demam atau pun lemes, cuma berasa agak pegal sedikit aja.

Semoga vaksin ini bener-bener bisa bekerja dengan baik yaa.. Aamiinnn.
Salah satu syarat untuk mengajukan visa ke Kedutaan Amerika Serikat adalah Medical Check Up (MCU). Saya sebagai calon penerima beasiswa diperbolehkan melakukan medical check up hanya di Klinik Medikaloka atau RS Premier Bintaro.

Saya memilih Medikaloka karena lebih dekat dan gampang diakses transportasi umum. Sebelum datang MCU, peserta perlu membuat janji dengan Medikaloka yang bisa dilakukan melalui telepon. Saya buat janji satu hari sebelum pemeriksaan.


Sebelum medical check up, saya diminta puasa sepuluh jam sebelum pemeriksaan. Artinya kalau saya mulai MCU jam delapan pagi, saya hanya boleh makan sampai terakhir jam sepuluh malam. Lumayan ngga terasa puasa karena malamnya kan tidur. Puasa ini diperbolehkan minum air mineral.  

Hari itu saya berangkat pagi-pagi sekali dari Citayam. Saya naik kereta sampai stasiun Tebet lalu lanjut naik Gojek sampai lokasi. Sampai di sana terlalu pagi, jam 7.15. Padahal Medikaloka baru buka pukul 08.00. Untungnya ada bapak satpam baik hati yang mempersilakan saya menunggu di dalam Medikaloka. Ruang tunggu di Medikaloka enak sekali, nyaman, bersih, dan desain interior nya dirancang dengan bagus. Jadi kita sebagai pasien merasa nyaman.

Pukul 08.00, KTP saya diminta oleh petugas administrasi. Setelah itu, saya diminta menunggu lagi di ruang tunggu. Di ruang tunggu dalam juga tersedia air mineral yang bisa dikonsumsi oleh pasien. Ada majalah, tv, dan kafe kecil dimana kita bisa membeli minuman seperti kopi, teh, dan lain-lain. Enak ada fasilitas-fasilitas ini, bikin kita ngga bosan menunggu. Ada juga loker tempat penyimpanan barang, bikin kita ngga repot bawa-bawa perintilan.

Pemeriksaan baru dimulai sekitar pukul 08.30. Pemeriksaan pertama yaitu pengambilan darah. Darah yang diambil sekitar 2 tabung, saya ngga tau dua tabung itu tepatnya berapa mililiter. Mestinya darah ini bisa diambil dari tangan kiri aja. Tapi pembuluh darah vena saya ketipisan dan waktu disuntik jarumnya kurang tepat masuk ke vena. Akhirnya saat tabung kedua, darah saya ngga keluar lagi. Jadi mesti diambil dari lengan kanan. Kata susternya, darah saya pagi itu juga relatif kental, karena kurang minum air mineral pagi-paginya. Ayo lebih sering minum air putih biar darahnya lancar.

Setelah itu, ada pemeriksaan mata, indeks mata tubuh, ukuran-ukuran tubuh, dan tensi. Lalu pemeriksaan urin, urin pertama diminta dikeluarkan dahulu lalu baru masukkan urin selanjutnya ke tabung yang diberikan. Agak repot juga ya. Untungnya kamar mandi yang tersedia cukup bersih, ada tempat cuci tangan, sabun, dan tissu yang telah tersedia. Setelah selesai, tabung urin saya letakkan di tempat yang sudah tersedia tepat di depan kamar mandi.

Lalu saya pemeriksaan EKG. Saat pemeriksaan EKG, saya yang mesti lepas pengait bra dan buka baju sampai dada. Untungnya di ruangan khusus yang bisa dikunci yaa, jadi lebih nyaman. Saran saya, buat perempuan, jangan pakai baju terusan panjang ya saat medical check up. Biar ngga telanjang banget hahaha. Pakai atasan yang mudah dibuka dan bawahan yang nyaman aja. 

Habis EKG, saya rontgen di lantai dua. Foto nya dua kali, satu dari belakang dan satu dari samping. Daan tinggal ketemu sama dokter umumnya deh.

Saya dipersilakan sarapan di ruang tunggu dalam. Saya ngga nyangka dapet sarapan. Pilihannya ada nasi goreng dan omelet, saya pilih nasi goreng. Rasanya kayak nasi goreng hotel, kurang cocok sama lidah warung pinggir jalan kayak saya hehe.

Nasi Goreng Medikaloka
Terakhir, pemeriksaan dengan dokter umum. Pemeriksaan lumayan cepat, diperiksa mulut, telinga, dan badannya. Sudah deh, selesai sekitar pukul 10.00. Ada formulir catatan medis yang harus saya isi. Lalu tinggal bayar deh.

Total pembayaran Rp 924.000 yang bisa dibayar tunai, debit, maupun dengan kartu kredit. Mahal juga yaa.. Untungnya biaya ini akan di reimburse oleh pemberi beasiswa. Hasil MCU selesai sekitar 3-5 hari kerja. Semoga hasilnya bagus semua dan bisa lolos ke tahap berikutnya.