Pasca-diagnosa Ablasio Retina (bagian II)

, , 2 comments
Sepulang dari dokter mata yang mendiagnosa saya kena Albasio Retina, saya lunglai. Deg-degan. Bingung mau ngapain. Di satu sisi ngga berani googling sendiri, di sisi lain penasaran. Saya ngga berani baca kenyataan yang ada. Akhirnya saya hanya bisa kabari suami. Dan sepertinya suami langsung googling sendiri lalu ikutan degdegan. Dia bilang, 'hmm.. kok serem banget. Kamu cepetan pulang ya.'

Makin deg-degan dong yaa.. Emang segitu seramnya apa?

Baca juga: Dokter bilang saya ablasio retina

Sesampainya di rumah, suami langsung memeluk saya. Saya pun memberanikan diri untuk googling tentang Ablasio Retina. Wah ternyata seram beneran. Ablasio retina itu adalah retinanya copot. Apaa?? Copot banget siss? Langsung saya bayangin retina itu ada di mana dan kenapa bisa copot.

Kira-kira bisa dilihat pada gambar di bawah ini. Retina itu bagian saraf mata yang adanya di bagian belakang mata. Lalu retina bisa copot ke bagian dalam seperti yang kelihatan di gambar di bawah. Kalau saya, retina yang copot ada di bagian pojok kanan mata kiri.
Image result for ablatio retinae
Sumber gambar : Mayo Clinic

Sejujurnya, saya ngga inget banget sih kapan si retina ini copot dan kapan mata saya berasa agak aneh. Jadi kalau ditanya penyebabnya, saya juga ngga yakin. Ada kemungkinan karena kejedot waktu di angkot, tapi saya ngga yakin juga. 

Hasil googling mengatakan bahwa, ablasio retina itu segitu parahnya sampai bisa membuat penderitanya buta permanen. Seram yaa. Saya akhirnya nangis juga. Takut. Gimana coba kalau buta permanen. Ngga bisa jadi peneliti lagi. Ngga bisa baca dongeng buat anak saya nanti. 

Beruntung sekali saat itu ada suami yang menenangkan saya. Kita berdua akhirnya segera cari dokter di RSCM Kirana atau JEC. Kata suami, cari dokter yang kira-kira dari pengalamannya keliatan pinter banget. Hehe. Pilihan dokter mengerucut pada dr. Elvioza. Beliau praktik di RSCM Kirana dan JEC, mengajar di UI dan bertanggung jawab untuk residen oftalmologi, direktur vitreoretina, dan pernah training tentang vitroretina dimana-mana. Dokter yang bisa menangani kasus ablasio retina memang harus dokter sub-spesialis vitreoretina. Kalau baca dari pengalamannya dr. Elviz sih keren banget ya kayaknya.

Besok paginya saya langsung buat janji sama dokter Elvioza di JEC. Hasil dari googling dan dikasih tau dokter di RS Bunda, saya sudah tau kalau jalan satu-satunya adalah operasi dengan biaya sekitar belasan juta. Saya sudah siap-siap mental. Beresin dan delegasikan pekerjaan-pekerjaan yang pasti harus saya tinggal selama 2 minggu. Cek ulang apakah asuransi masih bisa cover biaya operasi.

Saat pertama kali ketemu dengan dr. Elvioza, saya ditemani sama suami. Alhamdulillah Pak dokternya baik dan enak jelasinnya. Saya langsung cocok aja sama beliau. Dokter beri tau saya, karena ablasio retina nya sudah lama, jadi operasi pun tidak bisa memperbaiki 100%. Kemungkinan hanya 70%. Kalau ngga dioperasi, ya memang bisa berakhir dengan kebutaan permanen. Mau ngga mau operasi. Pasca operasi saya harus cuti 2 minggu, karena ada prosedur yang harus dijalankan.

Kami langsung menjadwalkan operasi dua hari kemudian. Kalau ngga salah saya pertama kali ke dr. Elviz hari Jumat, lalu operasi di jadwalkan hari Senin pagi jam 6. Operasi yang akan dijalani termasuk kategori operasi besar, yang melibatkan pembiusan total, bantuan pernapasan, dan prosedur yang kompleks. Saya berusaha stay cool, suami juga demikian. Ngga taunya kita sama-sama keliatan tenang karena merasa satu sama lain tenang. Padahal dua-duanya takut. Hahaha. 

Setelah ketemu dengan dr. Elviz, saya juga sudah bisa mulai persiapan operasi seperti rontgen, periksa darah, booking kamar rawat, dan lain-lain. Sayangnya saya ngga bisa operasi di JEC Menteng, karena waktu itu kamar operasinya masih di renovasi. Bisanya di JEC Kedoya. Yasudahlah. 

***
Bersama dia yang bikin saya berani menghadapi apapun, beberapa bulan setelah operasi pertama.
Pasca-operasi, wajah yang pertama kali saya lihat adalah wajah suami saya. Katanya saya kayak bajak laut, matanya ditutup sebelah. Hehe. Mata saya waktu itu belum berasa apa-apa karena masih dalam pembiusan. Beberapa jam kemudian baru deh berasa perih-perihnya. Ditambah lagi, saya harus ditetes obat 6 kali sehari. Kebayang kalau ada luka di tangan atau kulit terus dikasih obat aja rasanya udah sakit banget. Nah ini di mata. Perih cooy.

Pasca operasi saya harus tidur tengkurap, atau bagaimana pun kondisinya supaya kepala bisa menghadap ke bawah 180 derajat. Mau duduk juga boleh, asal kepala menghadap ke bawah. Itu adalah 2 minggu paling menyedihkan dalam hidup saya. Bayangin aja, 23 jam mesti nunduk ke bawah. Hanya bisa ngga menghadap ke bawah kalau mau sholat, mandi, dan makan. Malam ngga bisa tidur. Siang kebosanan ngga bisa ngapa-ngapain. Suami saya siapin audio book dan satu set perlengkapan menggambar, supaya saya ngga kebosanan. Tapi tetep aja. Pedih.

Seminggu dan dua minggu pasca operasi, kami ke dokter lagi untuk memastikan ngga terjadi infeksi atau komplikasi pasca operasi. Kata dokter, alhamdulillah operasi sukses dan retinanya beneran nempel dengan baik lagi. Memang tengkurap pasca operasi ini sangat esensial. Kalau ngga disiplin, percuma matanya dioperasi. Ngga sia-sia deh perjuangan dua minggu kelabu. 

Life is full of surprises!

2 comments:

  1. Salam kenal mba. Suami saya juga operasi ablasio retina beberapa pekan lalu. Sama seperti mba, dia disuruh tengkurap terus. Mba waktu itu dipasang silikon atau pakai gas? Berapa lama mba sampai dikatakan operasinya berhasil sm dokter? Makasih infonya..

    ReplyDelete
  2. halo mbak . saya mau tanya berapa total biaya operasi sama dr elvioza ? total biaya termasuk biaya kamar , rontgen , cek darah , dll kak ?

    ReplyDelete