journal

Refleksi Tahunan

Haloo!

Aku habis ulang tahun belum bikin tulisan tahunan. Akhirnya hari ini aku sempat menulis lagi di sini. Aku mau menuliskan beberapa hal penting yang ku pelajari setahun terakhir. 

So here it is..


Relasi dengan orang tua
Setahun terakhir sepertinya aku belajar lebih banyak memahami apa yang dipikirkan dan dialami oleh orang tua ku sehari-hari. Aku melihat, sepertinya memang di setiap fase kehidupan itu kita bisa terus bertumbuh. Setiap fase kehidupan kita belajar hal baru atau hal lama yang perlu kita hadapi.

Ku lihat, dari kedua orang tua ku yang sudah memasuki usia lansia. Banyak hal dan situasi baru yang perlu mereka hadapi. Anak-anak sudah pada besar, sudah punya kehidupan masing-masing. Sebagai suami dan istri, mereka semakin sering bersama dan peran mereka juga terus berkembang.

Sekarang ini, Ibu jauh lebih sibuk berorganisasi dibandingkan Bapak. Ku lihat, Ibu yang sekarang punya banyak aktivitas baru, teman baru, kesenangan dan kepusingan baru. Bapak yang dulunya lebih sibuk, sekarang lebih banyak di rumah. Sepertinya komunitas bapak-bapak memang lebih jarang daripada komunitas ibu-ibu. Tentu ini menghadirkan dinamika yang berbeda di antara mereka.

Aku jadi semakin menyadari, hubungan suami istri itu dinamikanya bisa terus berubah sesuai dengan fase kehidupan. Yang tertinggal apakah suami dan istri masih mau saling memahami dan belajar satu sama lain atau tidak.

Aku juga melihat, menjadi lansia artinya stamina tubuh juga berubah. Makanan yang dimakan dan aktivitas harian menjadi sangat penting untuk menentukan kesehatan tubuh. Selain itu, kesehatan mental juga tidak kalah penting. Kalau ada pikiran-pikiran meresahkan, dampaknya bisa langsung dirasakan bapak dan ibu.

Aku belakangan ingin bisa memberikan waktu berkualitas lebih banyak untuk hadir untuk bapak dan ibuku. Aku juga belajar ini dari Arkhe. Beberapa kali waktu dulu dia main ke rumah, dia sanggup mendengarkan cerita-cerita Bapak sampai 3-4 jam. Bahkan aku ikut mendengar cerita-cerita yang sebelumnya belum pernah ku dengar. Aku jadi terinspirasi. Sepertinya kalau aku lebih sabar dalam mendengarkan, mungkin akan memberi hadiah berharga untuk bapak dan ibu.

Ku rasa, bisa mengobrol dengan anak-anaknya, adalah salah satu sumber kebahagiaan orang tua. Semoga semakin aku beranjak dewasa, aku bisa hadir lebih penuh untuk orang tua dan keluargaku.



Bentuk hubungan yang dinamis
Sebuah hubungan itu, dengan siapapun, memang dinamis. Teman yang dekat sekarang, belum tentu bisa akrab lagi tahun depan. Bisa saja terjadi friksi yang membuat ngga bisa lagi berteman dengan keakraban yang sama. Situasi bisa berubah, bentuk hubungan bisa berubah.

Aku senang sekali sih setahun terakhir aku banyak punya teman-teman baru dan masih cukup dekat dengan teman-teman lama. Aku ingin menikmati dan savouring hubungan-hubungan manis ini. Belum tentu hubungan ini akan selamanya. Namun, selagi ada, kan ku nikmati saja segala perasaan menyenangkan ini.

Kadang aku berharap, teman-temanku bikin blog. Aku bisa tau mereka lagi mikirin apa dan bagaimana kabarnya. Soalnya kadang ketemuan atau teleponan pun masih belum cukup. Tapi ku pikir-pikir lagi, ya vulnerability is a gift sih. Tidak semua orang mau membagikan kabar mereka kepada orang lain.

Aku belajar untuk melepaskan kemelekatan atas hubungan. Kalau hubungan memang tidak ditakdirkan untuk selamanya, ya aku bisa berduka, lalu kehidupan bisa terus berjalan. Di sisi lain, aku bisa merawat hubungan-hubungan yang bisa dan mampu ku rawat.

Hubungan sosial ini sangat penting untuk well beings dan juga sepertinya menjadi salah satu core value aku. Semoga semakin banyak umurku, aku semakin pandai merawat dan menikmati menjalani hubungan-hubungan yang bentuknya beragam.

Selebihnya, aku mau mengingatkan diri untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Semoga ke depan banyak hal-hal menyenangkan dan membahagiakan di hidupku. Aamiin.

(kaku banget nulis tulisan ini, saking sudah lama ngga nulis blog hahaha)

Sampai ketemu di tulisan lain ya!

Diny

Proses Menjadi Orang Dewasa

Haloo, gimana kabar hari mu? Semoga hari mu menyenangkan..

Aku tadi habis konsultasi ke psikiater ku. Terus habis sesi, aku merasa legaaaa..

Aku pertama kali ketemu dokterku ini hampir 5 tahun lalu. Sewaktu merasa butuh bantuan untuk kesehatan mental, aku lekas buat beberapa janji dengan psikiater dan psikolog. Waktu itu, aku baru tau kalau ternyata dapat jadwal sesi dari psikolog/psikiater tuh lumayan ngantri panjang. Setidaknya 2 minggu, tapi banyak juga yang 1 bulan atau bahkan ngga menerima pasien baru (saking penuhnya). 

Awalnya, aku coba ke psikolog, tetapi aku merasa kurang cocok sama psikolognya. Memang psikolog/psikiater itu perlu cocok-cocokan sama kitanya. Nah, psikolog pertama ku usianya jauh lebih tua. Aku sulit merasa nyaman dengan beliau. Akhirnya aku coba ke psikiater dan alhamdulillah cocok. 

Saat aku cocok sama psikiater ku ini, aku lumayan senang cocoknya sama psikiater, dengan harapan siapa tau aku bakal dikasih obat hehehehhehe. Ya gimana ya, aku dulu merasa hidupku pelik sekali. Ku pikir, kalau ada bantuan obat, mungkin aku jalaninnya dengan jauh lebih mudah. Ngga taunya kata dokter, aku belum perlu bantuan obat. Aku juga sempat kira aku tuh pasti banget depresi, ternyata kata dokternya aku ngga tergolong depresi. Ini yang bikin aku jadi yakin, kita memang ngga bisa diagnosa sendiri. Semacam sakit fisik aja, kita perlu bantuan dokter untuk kasih tau perkiraan diagnosisnya.

Pada masa-masa awal terapi, dokterku bilang, aku kesulitan mengelola kedukaan. Kemudian, dokter membantuku mengenali dan memproses perasaan-perasaan yang aku rasakan. Rasanya prosesnya lambat sekali. Aku juga kesulitan merasa sedih (???). Oleh karena itu, di awal, fokusku adalah belajar membiarkan diriku merasa sedih. Baru pelan-pelan belajar mengenali bentuk perasaan lainnya.

Aku pernah beberapa kali sharing tentang apa saja yang ku pelajari dari sesi-sesi bersama dokterku. Kalau mau baca, bisa klik label journal di blog ku ini. 

Dulu, kayaknya aku jarang banget bisa nangis di depan keluarga atau di depan teman. Ya kalau curhat palingan sambil senyam senyum aja. Nah, ruang aman ku ya sama dokterku ini. Meski hidup seperti baik-baik aja, begitu duduk di ruang dokter, kok ya bisa mata langsung berkaca-kaca. Heran banget heran. Sampai sekarang, sesi ku bersama dokter juga tetap menjadi ruang aman untuk menjadi diriku sendiri dengan pikiranku sendiri.

Frekuensi pertemuan ku dengan dokter mulai berubah. Dulu aku rutin sebulan sekali ketemu dokter. Dokterku ngga nyuruh dateng lagi sih. Dia cuma bilang, aku bisa dateng kapan pun aku merasa butuh. Sehubungan dengan bayar dokter lumayan mahal yahhhhh, aku sanggupnya cuma sebulan sekali. hehehe

Ketika aku sudah bisa menggunakan metode-metode yang membantuku mengelola perasaan dan pikiranku, aku mulai mengurangi frekuensi ketemu dokter. Jadi tiga bulan sekali, enam bulan sekali, lalu 2 tahun lalu mulai setahun sekali aja untuk 'check up'.

Namuuunnnn.. Sungguh ku tak sangka-sangka, pertengahan tahun lalu aku terpicu oleh suatu kondisi baru. Ku ngga sangka, ternyata aku cukup terdampak oleh kejadian itu. Langsunglah aku konsultasi dengan dokterku. Dan, selesai konsultasi, dokter minta aku datang 3 bulan lagi hehehhehehe. Inilah pertama kali dokterku nyuruh aku datang dengan spesifik kasih jeda waktu, 3 bulan.

Akhirnya hari itu tiba. Aku ketemu dokter lagi, setelah hampir 5 bulan dari pertemuan terakhir. Sempat aku tunda, karena saat 3 bulan jadwal ketemu dokter, aku masih belum selesai berpikir dan menentukan pilihan.

Hari ini aku ketemu dokterku dan aku lega sekali sehabis sesi hari ini selesai. Aku bisa melihat diriku mengalami kemajuan signifikan dibandingkan dengan kondisiku beberapa tahun lalu. Aku sekarang cenderung lebih tenang menghadapi fenomena-fenomena kehidupan. Aku sudah membangun sistem pendukung dari beberapa lini. Juga aku lebih mudah meminta dan menerima pertolongan dari teman-teman atau keluarga.

Permasalahanku sekarang adalah.. aku sering kali ngga percaya dengan pendapatku sendiri. Aku sering merasa perlu kata-kata validasi dari orang. Ya, validasi itu kadang diperlukan, tapi aku sudah bisa berpikir mandiri. 

Sungguh, terngiang di kepala ku kata-kata dari dokter:

"emang ngga cukup kalau itu datangnya dari dirimu sendiri, bukan dari orang lain?"

"emang siapa yang menentukan benar atau salah? orang lain?"

duaar!

Ya masih PR, ngga papa. Pelan-pelan aku belajar.

Aku hari ini juga belajar, kadang kondisi gundah gulana itu memang diperlukan. Itu respon tubuh yang memberikan kita waktu untuk mempertanyakan apa yang benar-benar kita inginkan.

Jadi, tenang Din, merasa gundah itu bukan berarti aku ngulang dari 0 jaman dahulu kala lagi kok. Itu respon tubuh yang wajar. Kita bisa melihat sesuatu dengan perspektif berbeda yang lebih luas dan komprehensif. Kita juga bisa tetap baik kepada diri sendiri, ngga dikit-dikit mengadili diri sendiri. 

Aku ingin mengatakan kepada diriku sendiri.. Selamat menjadi orang dewasa. Sebagai orang dewasa, kita tau ngga semua yang kita inginkan akan menjadi realita dan itu ngga papa banget. Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk diri kita.

Selamat mengelola diri dengan lebih bijak. Selamat memberikan pertolongan yang kita butuhkan. Semoga masa kini dan masa depan, Tuhan memberikan aku dan kamu ketenangan serta kebijakan dalam menghadapi dunia yang fana ini.


Peluk erat,

Diny

Rambut Panjang Ku

Aku belakangan ini senang deh soalnya rambutku sudah panjang dan kali ini rambutku ngga mudah patah.

Dulu-dulu tuh rambut ku panjang sedikit jadi sering patah atau rontok. Rumahku jadi isinya rambut semua. Rambut patah di mana-mana.

Aku cobain rambut panjang pas masa pandemi. Ternyata aku suka rambut panjang gini.
Aku kan pernah rutin pakai kerudung. Waktu pakai kerudung itu aku kesulitan sekali jaga rambut. Sering rambutku masih lembab, terus sudah aku tutup. Rambutku juga hampir selalu dikuncir kencang. Aku pun jarang perawatan rambut. Akibatnya, rambutku cenderung sedikit dan mudah patah.

Sekarang, rambutku sudah lebih sehat. Memang prosesnya agak panjang juga sih.. Ada beberapa hal yang belakangan ini baru ku ketahui soal merawat rambut.

Kalau pas kerudungan kan rambut kayak gimana pun, tinggal tutup kerudung aja, beres. Ngga perlu ditata rapi banget. Palingan dikuncir atau pakai bandana.

Saat aku baru lepas kerudung, rambutku kelihatan banget tipis dan sedikitnya. Aku pun masih adaptasi mengurus rambut. Aku makin sadar kalau, ternyata punya rambut tuh harus rutin disisir biar rapi. Haha ngga heran rambutku dulu sering banget awut-awutan. Yaa orang aku sering malas menyisir rambut.

Waktu pandemi, aku sempat manjangin rambut. Rambutnya panjang sih panjang, tapi banyak rambut patahnya dimana-mana. Aku mesti lebih rajin sapu lantai jadinya. Riweuh. Meski, di masa-masa ini, aku makin suka punya rambut agak panjang.

Rambut pendek dan berponi gini mungkin lebih mencerminkan karakterku yang aktif dan ceria.
Sejak rambut agak panjang ini, aku dapat kesadaran baru. Rambut panjang itu potong rambutnya ngga bisa asal. Perlu potong rambut yang rapi dan cocok dengan bentuk muka, serta membuat kita nyaman. Well, bisa aja sih kalau mau modelnya gitu aja dan potong sendiri. Tapi ternyata, buat aku, kalau potongan rambut ku bagus, aku merasa muka ku jadi lebih cantik.

Aku awalnya agak kesulitan cari penata rambut yang cocok. Sampai akhirnya aku random ke salon, random potong rambut, eeh ternyata bagus cocok di aku. Semenjak itu sampai sekarang, aku selalu potong di sana dan dengan penata rambut yang sama.

Aku suka ngobrol sama penata rambutku ini. Kata dia, kalau mau cepat tumbuh panjang, rambutnya perlu 'rajin' di trim. Asupan makanan bergizi juga penting supaya rambutnya sehat. Seru juga sih punya langganan penata rambut gini.

Oiya, awal tahun 2023 lalu, aku ngobrol dengan temanku yang orang Bali. Rambut dia hitam, panjang, tebal, terlihat mudah diatur. Ternyata dia rutin pakai minyak rambut sejak kecil. Sepertinya ini cukup umum untuk para perempuan Bali ya. Dia biasanya pakai minyak rambut buatan ibunya sendiri. Aku akhirnya minta tolong dia supaya bisa beli sebotol pas Ibunya lagi bikinin minyak rambut.

Mulailah tahun lalu aku lumayan rutin pakai minyak rambut. Kadang seminggu sekali, kadang seminggu dua kali. Minyak rambut ala Bali ini isinya minyak kemiri, minyak kelapa, dan berbagai rempah lain (aku ngga tau). Mungkin ini yang dinamakan minyak cemceman.. Wanginya memang kuat dan khas. Kalau habis pakai minyak rambut, aku harus keramas fokus di akar rambut sampai dua kali (double cleansing), supaya bersih dan tidak berketombe.

Selain minyak Bali ini, aku beli minyak kemiri kemasan di toko. Ternyata enak wanginya. Aku ngga tau seampuh apa minyak ini. Ku tetap usaha saja.

Kata penata rambutku, minyak rambut tradisional biasanya ampuh untuk jangka panjang. Artinya, kalau aku mulai rutin dari sekarang, mungkin baru kelihatan saat aku umur 40an, rambutku masih hitam, minim uban, dan lebat. Tapi ya itu.. mesti rajin dan rutin.

Kadang kalau malas pakai minyak rambut, aku pakai masker rambut (hair mask) Makarizo. Aku suka wanginya yang wangi kiwi. Dulu tuh aku suka hair mask di salon, pakai Makarizo wangi cokelat. Sayangnya, yang wangi cokelat itu tidak ada di swalayan.

Oiya, aku sekarang ngga keramas setiap hari. Aku keramas dua hari sekali. Awalnya, rambut ku lepek sekali kalau ngga keramas setiap hari. Sekarang, sepertinya rambutku sudah beradaptasi dengan frekuensi keramasku. Malah hari kedua kadang lebih bagus jatuhnya. Meski kadang aku catok sedikit agar rambutku terlihat lebih rapi.

Selain itu, aku mengurangi pemakaian kuncir rambut. Aku lebih suka pakai jepit rambut saja. Katanya sih, kunciran kadang terlalu kencang dan membuat kulit kepala ketarik terus. Selain itu, keseringan dikuncir kencang bisa membuat rambut mudah patah. Aku coba nurut saja, siapa tau rambutku jadi lurus rapi meski ngga ku catok.

Sekarang ini, aku cukup senang dengan kemajuan rambutku. Rambutku panjang, helaian rambutnya banyak, dan tidak mudah patah. Aku ngga tau pasti, upaya mana yang memberi dampak paling besar. Ku rasa mesti kombinasi semua deh.

Selanjutnya, mungkin aku akan coba pakai minyak rambut yang spray untuk mengurangi frizzy hair. Tapi untuk sementara, aku mau menikmati perawatan rutin yang ku pakai sekarang saja dulu deh. 

Semoga rambut ku dan rambutmu semakin sehat. Helaiannya kuat, mudah diatur sesuka kita, dan membuat hati kita senang.


Salam kibas rambut hahaha,

Diny

Disassociation

I went to a mall with my friends today. I saw a household goods store and suddenly had a realization. 

I used to like these things. I used to like grocery shopping, looking for household goods, choosing what's good for my home. And then, somehow I stopped liking those things after a huge heart break a couple years ago. I've been associating household activities with things that shattered my life.

My friend told me, some people like to remain living in the past because we are used to it. We are used to the sorrow and anger, so we remain here. Some other people even deliberately choosing decisions that contribute to their own unhappiness.

And then, here come rising my questions: am I staying in the past? Why am I so angry about some part of my life? Nobody preventing me for being a loving individual self who likes taking care of a household.

I realized I've been so angry about things in the past that don't suit me anymore in the present. 

If it's only being with me, is it not a good enough reason to take care of the house? Is it not a good enough reason to trust my own judgement? What am I angry for?

I remember the first time I stopped praying. It was when I felt so angry with god. I assumed, He took something that I thought was my biggest sources of happiness. I used to pray for very reason that it became an automatic thing I couldn't disassociate it with. So, I stopped religiously praying. 

Now, I feel like, it is so stupid. I actually and definitely able to make a new association easily. These associations are only on my head. I don't have to stuck with it. I can make a new association with my realities.

How on earth I thought I couldn't disassociate buying household goods and praying to God with things in the past? It sounds so silly. I am a person of my own. I can do it.

idk man. Maybe I've been doing great with all these associations. Maybe it's normal to associate things with other things or with our experiences. Maybe it is all are only data points. What are we going to do with it?

Akhirnya Donor Darah Lagi

Kamu pernah donor darah nggaaa?
Aku hari ini habis donor darah. Trus habis itu aku hampir pingsan wkwkwkwk

Donor darah sebenarnya bukan hal baru buat ku. Aku pertama kali donor darah tahun 2008, waktu itu diajakin guru ku untuk ramai-ramai donor darah di PMI Kramat Jati. Waktu itu, donor darah dijadikan semacam sedekah, lalu kami berdoa bareng supaya lulus ujian masuk universitas.

Aku habis donor darah, masih senyum-senyum aja nih mbak..

Di tahun 2008 itu, aku donor darah 2x. Habis itu aku ngga bisa donor darah lagi karena berat badanku selalu di bawah 45 kg. Hehehe aku dulu kurus banget!

Aku baru gemukan lagi setelah pulang sekolah master di tahun 2019. Ngga lama setelah pulang, aku pun mulai donor darah lagi. Waktu itu berat badan relatif aman dan hidup ku lebih sehat, biasanya aman-aman aja habis donor darah sehat-sehat aja.

Pernah aku donor darah di RS Fatmawati pas bulan puasa. Ibunya temanku perlu operasi dan perlu mencari donor pengganti darah. Aku tentu saja daftar, karena kebetulan bisa. Tetapi waktu itu aku terlalu sombong!! huh. Sudah lah puasa, sore-sorenya ikut kelas roller skate 2,5 jam, makan sedikit, langsung ke RS. Di RS langsung donor darah. Habis donor darah, aku pingsan dan muntah hehehehe ujungnya malah ngerepotin temenku buat anterin pulang naik taksi.

Semenjak kejadian itu, aku agak-agak grogi setiap mau donor darah. Biasanya aku pastikan cukup tidur, banyak minum air putih, dan sarapan dulu. 
Pagi ini pun aku sudah cukup tidur. 

Tapiiiii aku lupa minum air putih banyak, serta cuma sarapan sosis dan es cokelat FamilyMart saja. Hehehe bener deh.. pas donor darah aman aja. Ngga lama kemudian aku berasa hampir pingsan. Aku langsung merapat ke tempat tidur, tiduran, mengatur napas, minta tolong petugasnya minta teh manis, hehehhehehehehe untungnya kali ini ngga sampai pingsan dan muntah. Bisa dibilang aman lah.

Oiya, jadi donor darah itu ada beberapa macam. Donor darah yang umum itu whole blood alias semua bagian darah diambil dan apheresis yaitu hanya trombositnya yang diambil. Aku cuma bisa donor darah whole blood, soalnya apheresis itu beratnya minimal 60 kg kalau ngga salah. Padahal donor apheresis ini bagus banget. Banyak penderita kanker yang membutuhkan tranfusi trombosit dan pendonor apheresis relatif lebih sedikit.

Kalau whole blood darah yang diambil juga sedikit kok, hanya 350 ml. Ibaratnya sekantung darah itu ya isinya ya segelas aja.

Tata caranya.. Sebelum donor darah, kita perlu mengisi pendaftaran. Lalu ada pemeriksaan awal, seperti pemeriksaan golongan darah, Hb, dan berat badan. Kalau ketiga itu aman, kita akan diperiksa oleh dokter untuk cek tensi darah dan ditanya-tanya. 

Untungnya aku hari ini tensinya bagus, soalnya aku sering tensi rendah trus ga bisa donor. 

Habis donor, tangan ditinggiin.
Pas tadi aku lemes hampir pingsan itu, aku disamperin dokter. Terus ditanya-tanya. Ternyata oh ternyata, ada kemungkinan aku ada permasalahan pencernaan. Dokternya bilang, masalah pencernaan itu bukan hanya kalau ada gejala maag atau sakit perut, tapi bisa aja gejala lainnya. 

Nah aku tuh selama pakai jam tangan yang bisa deteksi denyut jantung, aku sadar ternyata kalau pagi-pagi detak jantung aku bisa tinggi banget sekitar 90-120an. Ku pikir ini karena aku cemas (anxious). Kata dokternya, bisa aja ini karena masalah pencernaan apalagi aku ngga pup setiap hari. Bahkan cemas juga bisa menjadi penanda masalah itu.

Akhirnya dokternya menantang aku untuk memperbaiki pola makan. Harus makan sayur secara rutin. Pencernaan itu adalah dapur dari badan kita. Sumber pengolahan energi. Harus dijaga supaya sehat terus.

Aku tuh terharu juga sama perjumpaan ku dengan dokter pagi ini. Karena aku memang jarang makan sayur terus aku banyak alasan banget! Hehehe. Aku bingung kenapa detak jantung aku pagi-pagi bisa tiba-tiba tinggi dan hari ini dokternya kasih aku kemungkinan jawaban yang masuk akal.

Semoga habis ini aku tobat dan mau konsisten makan yang sehat dan teratur. Supaya aku bisa kuat menjalani aktivitas ku yang segambreng yaa..

Kamu jangan lupa jaga kesehatan, jaga pola makan, pola tidur, dan pola olahraga. Kata coach olahragaku, olahraga adalah bagian paling gampang karena hanya satu jam dalam sehari. Yang susah itu jaga makan dan tidur, jadi jangan lupa urusin bagian itu juga!

Oiya, ayooo donor daraaah! Bisa di PMI terdekat atau rumah sakit yang punya unit tranfusi darah. Kalau takut, bisa minta temani teman supaya saling kasih support.


Salam sehat,
Diny

Blabbering

Hello yellow marshmallow,

Today I don't feel like I want to write something for the 30 Hari Bercerita, but here I am showing up writing.

I spent the day at home doing home stuff. And every time I am just staying home and didn't talk to anyone (other than buy some stuff in warung), at the end of the day, I feel so tired. Just like today.. It is Sunday night and I am feeling tired after no social life for a day. 

I was once read a book Quite that pretty much explains about how introverted works. I do think they are really really powerful. They can just stay home doing home stuff and happy. That's a simple thing to feel happy. On the other side, me, need some kind of social interaction, every day. I need talking or being with others like me needing to eat and drink water, I need it to regulate my body and soul. Well.

***

Oh, it is also a new year! The first week of 2024. How exciting! I like January. January always feels slow. We get rain here and there, so the weather is also nice.

I usually have end of the year reflection talks with my folks. Last year I didn't do it with my folks, but I did it my self. Only in my mind. I don't talk about it or write it on a blog post. I wanted to be that way this year, but I don't know I probably will change my mind and proceed to write it down.

2023 was a bit weird. I got many new friends and experiences. I went to cool and far places. I travel quite a lot! I feel steady. A lot of my days are predictable and mostly fun. 

***

You know I did a lot of healing in the past years. Of course, me being me, every year evaluate how far this process has been helping me. I mean it has been really helpful, but can you really really sure?

And the easiest way to test that is by being in a close relationship - especially romantic relationship. And then you know which slice of life still triggers you and which part can turns you to a bitter version of your self. It actually a really good way to make a progress, I can heal continuously in a safe environment. 

I have been a person who put romantic relationship as a biggest value point in my life. That if I don't have it right as I wanted to, I feel like a failure. I talked to my good friend about it and also to my therapist (ofc!). It's ok if I want to put it as a big value to feel fulfilled, but what if I don't have it? Will I decide to be unhappy about life in general or will I take a different approach?

There are two options, it's either I need find the person I can be in a relationship with, or I can change my focus. Diny, does it really really has to be having a romantic relationship? Maybe not, maybe yes. I kind a want it but also it is just so much work, I don't really want it. So, it is confusing. I feel like I think too much about my self and wishing I can be thinking about anything else, probably thinking about saving the world instead. Like doing real stuff, instead of thinking about my complicated love life. 

***

Ah, talking about the session with my shrink, I have been feel like I am all healing shit and then boom! I had a tiny test last year that felt so big and make me confused. I talked to my therapist. 

After the session, she asked me to come there more often. Wow that's new. Not annual visit anymore, but probably on the next three months. So that, she can help me navigate these whole situations. 

Since the first time I met her, she always said I can go whenever I need it. She never asked me to come. Only if I feel like I need it. And for the past two year, I only did annual talk with her (which she approved - annual check is a good plan). 

And then, after the last session last year…… she wanted me to come more often. Am I stepping backwards?? Am I trembling? Did I have been choosing the bad things for my self? ugh.

So apparently the trigger last year wasn't small at all then. I had plenty of related dreams as well. Well, I only had dream if I thought/felt too much about something, so maybe there was something. Ugh.

My therapist said I don't have to be panic, all I had was a new situation. For that, I didn't know what I wanted to do, and that's normal to don't know things. Well, she remind me some methods that was helpful for me. I actually did. And it took a couple months to really really know what I wanted to do with the new situation and what I really wanted. 

I mean, if I can wish about something this year is to be able to trust my own thought. I always need my therapist to confirmed or some how verified my steps. My therapist said I don't have to put her as a way of verification, I can trust me. I mean.. can I?? Sometimes I feel like I keep choosing bad stuff for my self, but probably that is not true. I've been good and doing great. I don't know. So maybe, a little more trust my own decision this year?

***

I'm sorry I am just blabbering today. No travel stories and no plants stories. Can you text me and tell me you've read it?

I'll see you around.


Diny

Jodoh

I used to believe that in this whole universe, there is one special person that is meant for us. Someone who we often called as 'the one'. A person whom I can proclaim as something like, "oh I wonder why it won't work with others, because they were not meant for me". A thought that with that particular person, we can do it all easily, effortlessly.

In Bahasa Indonesia, we probably called it 'jodoh'. Jodoh means something that matches so that it become partner/pair. Suitable. Appropriate. Meant to be.

I thought that the concept of the romantic jodoh like a Disney story where you meet a person and it is just works well and easy. A lady with a prince charming that last forever and ever. They will concur all the problems in their world.

Until a couple of years ago, my idea of jodoh has changed. 

I think jodoh is not only things that are easy. It has something to do with what we do continuously but also it is beyond our control. It is written in the sky, but also has a day-to-day job with a regular review period. 

Is it jodoh if it not last forever? Well, my personal experience was the first thing that helped me learned that jodoh can have an end line. Something can be a jodoh as long as He allowed and gave you a chance to have or experience it. When it ends, the jodoh period also ends.

Everything has an end. And that's what makes things special. We only get things for limited time.

I think this understanding creates a deeper meaning in my life. Things that happened in my life is not gonna be forever. Therefore, I will cherish things and person that I have in my life right now. 

Even when life goes well, there won't be a guaranty the jodoh we love dearly will be with us tomorrow. And now, one of the scariest thing in my life is learning to trust jodoh concept again, even if there is no tomorrow.

Cloudy Days


Sometimes I am not feeling like my self. I had cloudy days where everything seems off. 

On those days, I was feeling empty, tired, and sad. It was hard to get up from bed. Those days, I cannot genuinely smile as much as I do on better days, which is totally ok but I don't like it.

On better days, it was easier for me to give appreciation and give more love to myself. It was easier to feel calm and peaceful.

But on cloudy days, I do have a monster hijacking my regular personalities. It can last for 2-3 days depending on how fast I can regulate my emotions and feelings. 

In the past, I blamed my partner because I don't like cloudy feelings. I didn't know how to regulate it. And it was easier to just blame it to someone else.

Lately, I figured out that even when he isn't around, I still have those cloudy days. Another reminder that we are the one who are responsible with our own feelings. 

Even when I have no significant problems, it still comes and goes like a wave.

I guessed the root of problem that caused this is because of I tend to have chronic lack of self worth. I've been working on it for a couple of years. Am I getting better at this? I don't know my friend, I don't know. I want to believe that I am, but sometimes it feels harder than usual.

I believe there must be some ways to make it more bearable. One of which is probably I just need to go through all of those cloudy feelings and then let it go. 

Or maybe cloudy days are part of being human. It is totally normal to not feeling sunny all the time. Just like the weather. And based on previous personal references, it will eventually pass and I will be just fine.

Older Posts

Search This Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *