Sekarang ini, Ibu jauh lebih sibuk berorganisasi dibandingkan Bapak. Ku lihat, Ibu yang sekarang punya banyak aktivitas baru, teman baru, kesenangan dan kepusingan baru. Bapak yang dulunya lebih sibuk, sekarang lebih banyak di rumah. Sepertinya komunitas bapak-bapak memang lebih jarang daripada komunitas ibu-ibu. Tentu ini menghadirkan dinamika yang berbeda di antara mereka.
Refleksi Tahunan
Sekarang ini, Ibu jauh lebih sibuk berorganisasi dibandingkan Bapak. Ku lihat, Ibu yang sekarang punya banyak aktivitas baru, teman baru, kesenangan dan kepusingan baru. Bapak yang dulunya lebih sibuk, sekarang lebih banyak di rumah. Sepertinya komunitas bapak-bapak memang lebih jarang daripada komunitas ibu-ibu. Tentu ini menghadirkan dinamika yang berbeda di antara mereka.
Proses Menjadi Orang Dewasa
Haloo, gimana kabar hari mu? Semoga hari mu menyenangkan..
Aku tadi habis konsultasi ke psikiater ku. Terus habis sesi, aku merasa legaaaa..
Aku pertama kali ketemu dokterku ini hampir 5 tahun lalu. Sewaktu merasa butuh bantuan untuk kesehatan mental, aku lekas buat beberapa janji dengan psikiater dan psikolog. Waktu itu, aku baru tau kalau ternyata dapat jadwal sesi dari psikolog/psikiater tuh lumayan ngantri panjang. Setidaknya 2 minggu, tapi banyak juga yang 1 bulan atau bahkan ngga menerima pasien baru (saking penuhnya).
Awalnya, aku coba ke psikolog, tetapi aku merasa kurang cocok sama psikolognya. Memang psikolog/psikiater itu perlu cocok-cocokan sama kitanya. Nah, psikolog pertama ku usianya jauh lebih tua. Aku sulit merasa nyaman dengan beliau. Akhirnya aku coba ke psikiater dan alhamdulillah cocok.
Saat aku cocok sama psikiater ku ini, aku lumayan senang cocoknya sama psikiater, dengan harapan siapa tau aku bakal dikasih obat hehehehhehe. Ya gimana ya, aku dulu merasa hidupku pelik sekali. Ku pikir, kalau ada bantuan obat, mungkin aku jalaninnya dengan jauh lebih mudah. Ngga taunya kata dokter, aku belum perlu bantuan obat. Aku juga sempat kira aku tuh pasti banget depresi, ternyata kata dokternya aku ngga tergolong depresi. Ini yang bikin aku jadi yakin, kita memang ngga bisa diagnosa sendiri. Semacam sakit fisik aja, kita perlu bantuan dokter untuk kasih tau perkiraan diagnosisnya.
Pada masa-masa awal terapi, dokterku bilang, aku kesulitan mengelola kedukaan. Kemudian, dokter membantuku mengenali dan memproses perasaan-perasaan yang aku rasakan. Rasanya prosesnya lambat sekali. Aku juga kesulitan merasa sedih (???). Oleh karena itu, di awal, fokusku adalah belajar membiarkan diriku merasa sedih. Baru pelan-pelan belajar mengenali bentuk perasaan lainnya.
Aku pernah beberapa kali sharing tentang apa saja yang ku pelajari dari sesi-sesi bersama dokterku. Kalau mau baca, bisa klik label journal di blog ku ini.
Dulu, kayaknya aku jarang banget bisa nangis di depan keluarga atau di depan teman. Ya kalau curhat palingan sambil senyam senyum aja. Nah, ruang aman ku ya sama dokterku ini. Meski hidup seperti baik-baik aja, begitu duduk di ruang dokter, kok ya bisa mata langsung berkaca-kaca. Heran banget heran. Sampai sekarang, sesi ku bersama dokter juga tetap menjadi ruang aman untuk menjadi diriku sendiri dengan pikiranku sendiri.
Frekuensi pertemuan ku dengan dokter mulai berubah. Dulu aku rutin sebulan sekali ketemu dokter. Dokterku ngga nyuruh dateng lagi sih. Dia cuma bilang, aku bisa dateng kapan pun aku merasa butuh. Sehubungan dengan bayar dokter lumayan mahal yahhhhh, aku sanggupnya cuma sebulan sekali. hehehe
Ketika aku sudah bisa menggunakan metode-metode yang membantuku mengelola perasaan dan pikiranku, aku mulai mengurangi frekuensi ketemu dokter. Jadi tiga bulan sekali, enam bulan sekali, lalu 2 tahun lalu mulai setahun sekali aja untuk 'check up'.
Namuuunnnn.. Sungguh ku tak sangka-sangka, pertengahan tahun lalu aku terpicu oleh suatu kondisi baru. Ku ngga sangka, ternyata aku cukup terdampak oleh kejadian itu. Langsunglah aku konsultasi dengan dokterku. Dan, selesai konsultasi, dokter minta aku datang 3 bulan lagi hehehhehehe. Inilah pertama kali dokterku nyuruh aku datang dengan spesifik kasih jeda waktu, 3 bulan.
Akhirnya hari itu tiba. Aku ketemu dokter lagi, setelah hampir 5 bulan dari pertemuan terakhir. Sempat aku tunda, karena saat 3 bulan jadwal ketemu dokter, aku masih belum selesai berpikir dan menentukan pilihan.
Hari ini aku ketemu dokterku dan aku lega sekali sehabis sesi hari ini selesai. Aku bisa melihat diriku mengalami kemajuan signifikan dibandingkan dengan kondisiku beberapa tahun lalu. Aku sekarang cenderung lebih tenang menghadapi fenomena-fenomena kehidupan. Aku sudah membangun sistem pendukung dari beberapa lini. Juga aku lebih mudah meminta dan menerima pertolongan dari teman-teman atau keluarga.
Permasalahanku sekarang adalah.. aku sering kali ngga percaya dengan pendapatku sendiri. Aku sering merasa perlu kata-kata validasi dari orang. Ya, validasi itu kadang diperlukan, tapi aku sudah bisa berpikir mandiri.
Sungguh, terngiang di kepala ku kata-kata dari dokter:
"emang ngga cukup kalau itu datangnya dari dirimu sendiri, bukan dari orang lain?"
"emang siapa yang menentukan benar atau salah? orang lain?"
duaar!
Ya masih PR, ngga papa. Pelan-pelan aku belajar.
Aku hari ini juga belajar, kadang kondisi gundah gulana itu memang diperlukan. Itu respon tubuh yang memberikan kita waktu untuk mempertanyakan apa yang benar-benar kita inginkan.
Jadi, tenang Din, merasa gundah itu bukan berarti aku ngulang dari 0 jaman dahulu kala lagi kok. Itu respon tubuh yang wajar. Kita bisa melihat sesuatu dengan perspektif berbeda yang lebih luas dan komprehensif. Kita juga bisa tetap baik kepada diri sendiri, ngga dikit-dikit mengadili diri sendiri.
Aku ingin mengatakan kepada diriku sendiri.. Selamat menjadi orang dewasa. Sebagai orang dewasa, kita tau ngga semua yang kita inginkan akan menjadi realita dan itu ngga papa banget. Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk diri kita.
Selamat mengelola diri dengan lebih bijak. Selamat memberikan pertolongan yang kita butuhkan. Semoga masa kini dan masa depan, Tuhan memberikan aku dan kamu ketenangan serta kebijakan dalam menghadapi dunia yang fana ini.
Peluk erat,
Diny
Rambut Panjang Ku
Aku belakangan ini senang deh soalnya rambutku sudah panjang dan kali ini rambutku ngga mudah patah.
Dulu-dulu tuh rambut ku panjang sedikit jadi sering patah atau rontok. Rumahku jadi isinya rambut semua. Rambut patah di mana-mana.
![]() |
| Aku cobain rambut panjang pas masa pandemi. Ternyata aku suka rambut panjang gini. |
Sekarang, rambutku sudah lebih sehat. Memang prosesnya agak panjang juga sih.. Ada beberapa hal yang belakangan ini baru ku ketahui soal merawat rambut.
Kalau pas kerudungan kan rambut kayak gimana pun, tinggal tutup kerudung aja, beres. Ngga perlu ditata rapi banget. Palingan dikuncir atau pakai bandana.
Saat aku baru lepas kerudung, rambutku kelihatan banget tipis dan sedikitnya. Aku pun masih adaptasi mengurus rambut. Aku makin sadar kalau, ternyata punya rambut tuh harus rutin disisir biar rapi. Haha ngga heran rambutku dulu sering banget awut-awutan. Yaa orang aku sering malas menyisir rambut.
Waktu pandemi, aku sempat manjangin rambut. Rambutnya panjang sih panjang, tapi banyak rambut patahnya dimana-mana. Aku mesti lebih rajin sapu lantai jadinya. Riweuh. Meski, di masa-masa ini, aku makin suka punya rambut agak panjang.
![]() |
| Rambut pendek dan berponi gini mungkin lebih mencerminkan karakterku yang aktif dan ceria. |
Salam kibas rambut hahaha,
Diny
Disassociation
I went to a mall with my friends today. I saw a household goods store and suddenly had a realization.
I used to like these things. I used to like grocery shopping, looking for household goods, choosing what's good for my home. And then, somehow I stopped liking those things after a huge heart break a couple years ago. I've been associating household activities with things that shattered my life.
My friend told me, some people like to remain living in the past because we are used to it. We are used to the sorrow and anger, so we remain here. Some other people even deliberately choosing decisions that contribute to their own unhappiness.
And then, here come rising my questions: am I staying in the past? Why am I so angry about some part of my life? Nobody preventing me for being a loving individual self who likes taking care of a household.
I realized I've been so angry about things in the past that don't suit me anymore in the present.
If it's only being with me, is it not a good enough reason to take care of the house? Is it not a good enough reason to trust my own judgement? What am I angry for?
I remember the first time I stopped praying. It was when I felt so angry with god. I assumed, He took something that I thought was my biggest sources of happiness. I used to pray for very reason that it became an automatic thing I couldn't disassociate it with. So, I stopped religiously praying.
Now, I feel like, it is so stupid. I actually and definitely able to make a new association easily. These associations are only on my head. I don't have to stuck with it. I can make a new association with my realities.
How on earth I thought I couldn't disassociate buying household goods and praying to God with things in the past? It sounds so silly. I am a person of my own. I can do it.
idk man. Maybe I've been doing great with all these associations. Maybe it's normal to associate things with other things or with our experiences. Maybe it is all are only data points. What are we going to do with it?
Akhirnya Donor Darah Lagi
Aku hari ini habis donor darah. Trus habis itu aku hampir pingsan wkwkwkwk
Donor darah sebenarnya bukan hal baru buat ku. Aku pertama kali donor darah tahun 2008, waktu itu diajakin guru ku untuk ramai-ramai donor darah di PMI Kramat Jati. Waktu itu, donor darah dijadikan semacam sedekah, lalu kami berdoa bareng supaya lulus ujian masuk universitas.
![]() |
| Aku habis donor darah, masih senyum-senyum aja nih mbak.. |
Di tahun 2008 itu, aku donor darah 2x. Habis itu aku ngga bisa donor darah lagi karena berat badanku selalu di bawah 45 kg. Hehehe aku dulu kurus banget!
Aku baru gemukan lagi setelah pulang sekolah master di tahun 2019. Ngga lama setelah pulang, aku pun mulai donor darah lagi. Waktu itu berat badan relatif aman dan hidup ku lebih sehat, biasanya aman-aman aja habis donor darah sehat-sehat aja.
Pernah aku donor darah di RS Fatmawati pas bulan puasa. Ibunya temanku perlu operasi dan perlu mencari donor pengganti darah. Aku tentu saja daftar, karena kebetulan bisa. Tetapi waktu itu aku terlalu sombong!! huh. Sudah lah puasa, sore-sorenya ikut kelas roller skate 2,5 jam, makan sedikit, langsung ke RS. Di RS langsung donor darah. Habis donor darah, aku pingsan dan muntah hehehehe ujungnya malah ngerepotin temenku buat anterin pulang naik taksi.
Semenjak kejadian itu, aku agak-agak grogi setiap mau donor darah. Biasanya aku pastikan cukup tidur, banyak minum air putih, dan sarapan dulu. Pagi ini pun aku sudah cukup tidur.
Tapiiiii aku lupa minum air putih banyak, serta cuma sarapan sosis dan es cokelat FamilyMart saja. Hehehe bener deh.. pas donor darah aman aja. Ngga lama kemudian aku berasa hampir pingsan. Aku langsung merapat ke tempat tidur, tiduran, mengatur napas, minta tolong petugasnya minta teh manis, hehehhehehehehe untungnya kali ini ngga sampai pingsan dan muntah. Bisa dibilang aman lah.
Oiya, jadi donor darah itu ada beberapa macam. Donor darah yang umum itu whole blood alias semua bagian darah diambil dan apheresis yaitu hanya trombositnya yang diambil. Aku cuma bisa donor darah whole blood, soalnya apheresis itu beratnya minimal 60 kg kalau ngga salah. Padahal donor apheresis ini bagus banget. Banyak penderita kanker yang membutuhkan tranfusi trombosit dan pendonor apheresis relatif lebih sedikit.
Kalau whole blood darah yang diambil juga sedikit kok, hanya 350 ml. Ibaratnya sekantung darah itu ya isinya ya segelas aja.
Tata caranya.. Sebelum donor darah, kita perlu mengisi pendaftaran. Lalu ada pemeriksaan awal, seperti pemeriksaan golongan darah, Hb, dan berat badan. Kalau ketiga itu aman, kita akan diperiksa oleh dokter untuk cek tensi darah dan ditanya-tanya.
Akhirnya dokternya menantang aku untuk memperbaiki pola makan. Harus makan sayur secara rutin. Pencernaan itu adalah dapur dari badan kita. Sumber pengolahan energi. Harus dijaga supaya sehat terus.
Aku tuh terharu juga sama perjumpaan ku dengan dokter pagi ini. Karena aku memang jarang makan sayur terus aku banyak alasan banget! Hehehe. Aku bingung kenapa detak jantung aku pagi-pagi bisa tiba-tiba tinggi dan hari ini dokternya kasih aku kemungkinan jawaban yang masuk akal.
Semoga habis ini aku tobat dan mau konsisten makan yang sehat dan teratur. Supaya aku bisa kuat menjalani aktivitas ku yang segambreng yaa..
Kamu jangan lupa jaga kesehatan, jaga pola makan, pola tidur, dan pola olahraga. Kata coach olahragaku, olahraga adalah bagian paling gampang karena hanya satu jam dalam sehari. Yang susah itu jaga makan dan tidur, jadi jangan lupa urusin bagian itu juga!
Oiya, ayooo donor daraaah! Bisa di PMI terdekat atau rumah sakit yang punya unit tranfusi darah. Kalau takut, bisa minta temani teman supaya saling kasih support.
Salam sehat,
Diny
Blabbering
Hello yellow marshmallow,
Today I don't feel like I want to write something for the 30 Hari Bercerita, but here I am showing up writing.
I spent the day at home doing home stuff. And every time I am just staying home and didn't talk to anyone (other than buy some stuff in warung), at the end of the day, I feel so tired. Just like today.. It is Sunday night and I am feeling tired after no social life for a day.
I was once read a book Quite that pretty much explains about how introverted works. I do think they are really really powerful. They can just stay home doing home stuff and happy. That's a simple thing to feel happy. On the other side, me, need some kind of social interaction, every day. I need talking or being with others like me needing to eat and drink water, I need it to regulate my body and soul. Well.
***
Oh, it is also a new year! The first week of 2024. How exciting! I like January. January always feels slow. We get rain here and there, so the weather is also nice.
I usually have end of the year reflection talks with my folks. Last year I didn't do it with my folks, but I did it my self. Only in my mind. I don't talk about it or write it on a blog post. I wanted to be that way this year, but I don't know I probably will change my mind and proceed to write it down.
2023 was a bit weird. I got many new friends and experiences. I went to cool and far places. I travel quite a lot! I feel steady. A lot of my days are predictable and mostly fun.
***
You know I did a lot of healing in the past years. Of course, me being me, every year evaluate how far this process has been helping me. I mean it has been really helpful, but can you really really sure?
And the easiest way to test that is by being in a close relationship - especially romantic relationship. And then you know which slice of life still triggers you and which part can turns you to a bitter version of your self. It actually a really good way to make a progress, I can heal continuously in a safe environment.
I have been a person who put romantic relationship as a biggest value point in my life. That if I don't have it right as I wanted to, I feel like a failure. I talked to my good friend about it and also to my therapist (ofc!). It's ok if I want to put it as a big value to feel fulfilled, but what if I don't have it? Will I decide to be unhappy about life in general or will I take a different approach?
There are two options, it's either I need find the person I can be in a relationship with, or I can change my focus. Diny, does it really really has to be having a romantic relationship? Maybe not, maybe yes. I kind a want it but also it is just so much work, I don't really want it. So, it is confusing. I feel like I think too much about my self and wishing I can be thinking about anything else, probably thinking about saving the world instead. Like doing real stuff, instead of thinking about my complicated love life.
***
Ah, talking about the session with my shrink, I have been feel like I am all healing shit and then boom! I had a tiny test last year that felt so big and make me confused. I talked to my therapist.
After the session, she asked me to come there more often. Wow that's new. Not annual visit anymore, but probably on the next three months. So that, she can help me navigate these whole situations.
Since the first time I met her, she always said I can go whenever I need it. She never asked me to come. Only if I feel like I need it. And for the past two year, I only did annual talk with her (which she approved - annual check is a good plan).
And then, after the last session last year…… she wanted me to come more often. Am I stepping backwards?? Am I trembling? Did I have been choosing the bad things for my self? ugh.
So apparently the trigger last year wasn't small at all then. I had plenty of related dreams as well. Well, I only had dream if I thought/felt too much about something, so maybe there was something. Ugh.
My therapist said I don't have to be panic, all I had was a new situation. For that, I didn't know what I wanted to do, and that's normal to don't know things. Well, she remind me some methods that was helpful for me. I actually did. And it took a couple months to really really know what I wanted to do with the new situation and what I really wanted.
I mean, if I can wish about something this year is to be able to trust my own thought. I always need my therapist to confirmed or some how verified my steps. My therapist said I don't have to put her as a way of verification, I can trust me. I mean.. can I?? Sometimes I feel like I keep choosing bad stuff for my self, but probably that is not true. I've been good and doing great. I don't know. So maybe, a little more trust my own decision this year?
***
I'm sorry I am just blabbering today. No travel stories and no plants stories. Can you text me and tell me you've read it?
I'll see you around.
Diny
Jodoh
I used to believe that in this whole universe, there is one special person that is meant for us. Someone who we often called as 'the one'. A person whom I can proclaim as something like, "oh I wonder why it won't work with others, because they were not meant for me". A thought that with that particular person, we can do it all easily, effortlessly.
In Bahasa Indonesia, we probably called it 'jodoh'. Jodoh means something that matches so that it become partner/pair. Suitable. Appropriate. Meant to be.
I thought that the concept of the romantic jodoh like a Disney story where you meet a person and it is just works well and easy. A lady with a prince charming that last forever and ever. They will concur all the problems in their world.
Until a couple of years ago, my idea of jodoh has changed.
I think jodoh is not only things that are easy. It has something to do with what we do continuously but also it is beyond our control. It is written in the sky, but also has a day-to-day job with a regular review period.
Is it jodoh if it not last forever? Well, my personal experience was the first thing that helped me learned that jodoh can have an end line. Something can be a jodoh as long as He allowed and gave you a chance to have or experience it. When it ends, the jodoh period also ends.
Cloudy Days
Sometimes I am not feeling like my self. I had cloudy days where everything seems off.
On those days, I was feeling empty, tired, and sad. It was hard to get up from bed. Those days, I cannot genuinely smile as much as I do on better days, which is totally ok but I don't like it.
On better days, it was easier for me to give appreciation and give more love to myself. It was easier to feel calm and peaceful.
But on cloudy days, I do have a monster hijacking my regular personalities. It can last for 2-3 days depending on how fast I can regulate my emotions and feelings.
In the past, I blamed my partner because I don't like cloudy feelings. I didn't know how to regulate it. And it was easier to just blame it to someone else.
Lately, I figured out that even when he isn't around, I still have those cloudy days. Another reminder that we are the one who are responsible with our own feelings.
Even when I have no significant problems, it still comes and goes like a wave.
I guessed the root of problem that caused this is because of I tend to have chronic lack of self worth. I've been working on it for a couple of years. Am I getting better at this? I don't know my friend, I don't know. I want to believe that I am, but sometimes it feels harder than usual.
I believe there must be some ways to make it more bearable. One of which is probably I just need to go through all of those cloudy feelings and then let it go.
Or maybe cloudy days are part of being human. It is totally normal to not feeling sunny all the time. Just like the weather. And based on previous personal references, it will eventually pass and I will be just fine.









