Hiking ke Air Terjun Cibereum

Hiking ke Air Terjun Cibereum

April 18, 2021

Mari kita cerita-cerita tentang salah satu jalan-jalan singkat yang saya suka. Sekitar 1,5 tahun lalu di bulan Agustus 2019, saya pergi ke Air Terjun Cibereum bersama seorang teman yang datang dari Amerika.

Kami berdua sama-sama kuliah jurusan kehutanan. Bedanya, saya di Northern Arizona, dia di Yale. Saya pertama kali ketemu dia waktu ikut konferensi di New Mexico, Amerika Serikat. Itu kali pertama saya datang ke konferensi di luar negeri. Saya masih kikuk berjejaring ke para peneliti di sana. Waktu itu, sebagai sesama mahasiswa, kami berkenalan. Ada beberapa orang dari Yale dan kami sempat saling menonton presentasi masing-masing. Seingat saya, kami tidak terlalu banyak ngobol saat itu. Tetapi setahun kemudian, saya pergi ke konferensi di Yale dan sempat ketemu lagi dengan dia dan beberapa teman dari Yale di sana.

Waktu dia mau datang ke Indonesia, dia kontak saya dan teman-teman Indonesia lainnya. Langsung saja saya ajak dia jalan-jalan di sekitaran Jakarta, seperti ke museum atau tempat lainnya. Lalu dia bilang ingin lihat hutan hujan tropis dan kalau bisa jalan-jalan outdoor. Langsung lah saya kasih ide untuk pergi ke Air Terjun Cibereum.

Saya dan teman janjian di Stasiun Tebet jam 6 pagi. Dari situ kami pergi bareng ke Stasiun Bogor. Perjalanan dari Stasiun Tebet ke Stasiun Bogor mungkin sekitar 1,5 jam. Dari Stasiun Bogor, kami naik angkot menuju tempat pangkalan mobil omprengan. Sampai di tempat mobil omprengan, kami menunggu 30 menit sampai akhirnya mobil omprengan jalan jam 9an. Mobil omprengan ini sistemnya memang menunggu sampai penumpang penuh dahulu, baru berangkat.

Macet di pintu tol. Untung teman saya ngga banyak mengeluh, jadi perjalanan ini tetap terasa menyenangkan.

Perjalanan dari Bogor ke Cibereum memakan waktu sekitar 2 jam. Kami sempat ngobrol, tidur, liat kanan kiri, lalu tidur lagi, bangun lagi, belum sampai juga. Perjalanan kali itu memang agak ramai dan macet. Tapi saya pikir, sepertinya perjalanan ke puncak selalu ramai dan macet. Jadi sudahlah dinikmati saja.

Air terjun Cibereum berada di jalur pendakian utama di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kawasan ini adalah salah satu kawasan terpenting yang mewakili ekosistem pegunungan Jawa. Lokasinya bersebelahan dengan Kebun Raya Cibodas. Keduanya merupakan kawasan hutan yang paling banyak diteliti di Indonesia, sejak jaman Belanda. Kawasan klasik untuk para biolog belajar, terutama untuk belajar tumbuh-tumbuhan. Banyak peneliti tumbuhan terkemuka melakukan penelitian di sini, seperti Blume, Reinwardt, van Steenis, dan lain sebagainya.

Sebelum kami memulai pendakian, kami lapor diri ke petugas, bayar uang masuk, dan menunjukkan tanda pengenal. Perjalanan kali itu perjalanan santai. Saya dan teman sering berhenti untuk melihat pohon dan hewan-hewan di sekitar. Jalur pendakian pun tergolong mudah untuk didaki oleh siapapun.

Harga tiket masuk wisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di bulan Desember 2019.

Ketika kami mendaki, kami mengobrol banyak hal tentang tanaman dan hutan. Di awal jalur pendakian, jalur ini dikelilingi banyak pohon rasamala. Pohon rasamala adalah pohon yang penting bagi ekosistem hutan ini. Pohon rasamala tumbuh sangat tinggi, menempati lapisan yang paling tinggi di hutan ini, atau istilahnya umbrella species. Sebagai spesies payung, pohon rasamala memberikan naungan bagi pohon-pohon lainnya di lapisan bawah hutan dan juga bagi tumbuhan-tumbuhan yang menempel di batangnya.  Di jalur pendakian ini, pohon induk rasamala sudah dipetakan, agar peneliti lebih mudah mengamati pohon tersebut. Pohon yang menyediakan keteduhan bagi pohon-pohon lainnya. Indahnya :)

Kami sempat berhenti berkali-kali. Kami cukup takjub menikmati keindahan hutan hujan tropis ini. Ini adalah salah satu mimpi teman saya, untuk bisa berjalan-jalan dan melihat hutan hujan tropis langsung. Saya tentunya ikut senang menemani perjalanan teman saya ini untuk menikmati salah satu hutan terbaik di Pegunungan Jawa.

Talaga Biru dan vegetasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Kami juga sempat berhenti untuk melihat owa jawa (javan gibbon) yang main di pohon sekitar jalur pendakian. Owa jawa adalah hewan primata endemik atau cuma bisa dilihat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kami sangat beruntung bisa ketemu dan melihat langsung owa jawa siang itu. Owa pertama yang kami lihat ada 1 owa dewasa yang sedang menggendong anaknya. Ngga lama kemudian, ada satu owa dewasa lagi yang main di sekitar. Owa itu ikut memperhatikan kami sambil makan daun-daun muda di pohon. Ah, such a blissful afternoon. Kami berhenti sekitar 10 menit, lalu melanjutkan perjalanan.

Kami berhenti lagi karena kami melihat sekawanan kelompok owa jawa yang berloncat-loncatan di pepohonan. Mungkin ada sekitar 10-15 owa di kelompok itu. Mereka berloncatan, makan, mencari kutu satu sama lain, dan main bersama. Wah, saya senang sekali dapat melihat pemandangan ini. Kami mengambil banyak foto dan video. Kamera saya tidak bisa ambil foto jarak jauh, jadi gambar owa hanya selintasan saja. Tidak masalah, toh kami sangat menikmati momen itu.

Setelah selesai melihat owa, kami melanjutkan perjalanan. Kami berhenti sejenak di Telaga Biru. Di sana ada penjual makanan, tempat istirahat, dan tempat berkemah. Saya dan teman foto-foto sebentar, cuci muka dengan air sungai yang sejuk itu, lalu melanjutkan perjalanan.

Bunga Terompet adalah salah satu pohon invasif yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Sayangnya jalur pendakian sudah banyak yang rusak.

Kami sampai di Air Terjun Cibereum sekitar jam 12an. Di sana ada 3 air terjun. Sebelum main air, kami memutuskan untuk makan siang dahulu. Di saat-saat seperti itu, tentu saja kami makan pop mie dan minum kopi. Enak!

Makan siang pakai Pop Mie. Nyamnyam.

Teman saya bawa baju ganti dan memang sudah niat mau mandi di air terjun. Saya cuma ingin main air di pinggirannya saja. Seru sekali main di air terjun! Waktu itu, Air Terjun Cibereum juga ngga terlalu ramai jadi kita bisa santai-santai dengan nyaman.
 
Main air di Air Terjun Cibereum

Kami main air sekitar 1,5 jam lalu memutuskan untuk kembali pulang. Sampai di gerbang luar sekitar jam 3. Kami kembali lapor diri, istirahat sebentar, ke kamar mandi, baru turun ke tempat angkot.

Perjalanan pulang relatif panjang karena macet terus-terusan, ngga tau karena apa. I think Puncak just being the Puncak dengan segala kemacetannya. Kami sampai Jakarta sekitar jam 6 lalu langsung menuju Stasiun Tebet. Sampai di Jakarta, kami makan masakan padang di Rumah Makan Merdeka. Kami makan macam-macam jenis makanan, tapi dia paling suka rendang dan perkedel. Ini kali pertama teman saya makan masakan padang dan dia suka sekali! Yay! 

Selesai makan, kami saling pamit. Seru sekali main bersama teman di tempat-tempat outdoor. Sampai berjumpa lagi kawan!

Diny

Hiking santai di Prescott

Hiking santai di Prescott

April 09, 2021

Halo halo, 

Berawal dari ngobrol-ngobrol bareng Niken, teman saya yang juga seorang Blogger, saya jadi ingin belajar menulis cerita perjalanan deh. Kali ini saya mau cerita waktu saya jalan-jalan sekitar bulan Maret 2019. Waktu itu saya lagi liburan musim semi (spring break) yang cuma satu minggu dan saya habiskan semuanya untuk jalan-jalan bareng teman-teman.

Saat liburan musim semi waktu itu, saya dan seorang teman sekampus memutuskan untuk jalan-jalan hiking dan camping bareng. Teman saya ini orang Amerika dan sudah lebih lama tinggal di Flagstaff dibanding saya. Dia mengusulkan untuk pergi hiking dan camping ke Prescott. Jujur kalau diajakin camping begini, saya jarang googling sendiri. Langsung aja ayo berangkat! hahaha

Pagi itu sangat spesial. Saya bangun pagi, sarapan roti bakar, lalu duduk-duduk santai di meja makan. Ngga lama kemudian, ada sekawanan rusa yang mampir ke belakang rumah. Kira-kira ada sekitar 8-10 rusa. Rusa-rusa itu minum dan makan di belakang rumah sekitar 30 menit-an. Pemandangan yang cantik sekali.

Kelihatan ngga rusanya? Di belakang pagar. Foto ini saya ambil dari depan pintu belakang rumah.

Teman saya jemput sekitar jam 9, lalu kami siap-siap dan berangkat dari rumah saya sekitar jam 10. Perjalanan dari Flagstaff ke Prescott sekitar 1 jam. Teman saya ini bawa mobil, jadi lebih gampang untuk menuju ke sana. Sepanjang perjalanan kami ngobrol banyak. Kami mendengarkan albumnya Red Hot Chili Peppers dan nyanyi-nyanyi bareng.

Perjalanan dari Flagstaff ke Prescott sangat menyenangkan. Pemandangan di kanan kiri jalan yang tadinya dipenuhi oleh pinus, perlahan berganti menjadi pohon cemara (Juniper sp.) dan oak (Quercus sp.). Flagstaff berada di ketinggian sekitar 2.100 mdpl, sedangkan Prescott agak turun di ketinggian 1.600 mdpl. Perbedaan ketinggian ini lah yang membuat vegetasi di sekitar juga berubah.

Prescott pertama kali 'ditemukan' sekitar tahun 1864. Waktu itu Prescott adalah ibukota provinsi Arizona, sampai akhirnya 1889 ibukota Prescott dipindahkan ke Phoenix. Kalau dilihat dari pusat kota (downtown), Prescott terlihat seperti kota tua klasik Amerika yang biasa dilihat di film-film.

Sayang banget saya ngga banyak foto di downtown, tapi kira-kira begini bentuk kotanya.

Sampai di Prescott, sekitar jam 11, kami makan siang di taman di kawasan Yapavai County Courthouse atau gedung pengadilan daerah. Kami makan sandwich, yang kami siapkan dari Flagstaff, di bangku yang ada di taman itu. Taman di tengah kota Prescott nyaman sekali. Banyak orang tua, kakek nenek yang sedang jalan-jalan sama keluarga sambil jalan-jalan bersama anjingnya. Rumputnya juga empuk buat didudukin. 

Gedung Pengadilan

Habis makan siang, kami keliling downtown yang relatif kecil itu. Kami masuk ke toko-toko lucu. Ada satu bangunan yang terdiri dari beberapa toko dan semuanya sangat menarik. Di dalamnya ada toko bumbu yang punya segala macam bumbu dari segala penjuru dunia, namanya Spice Traveller. Toko ini jual bumbu campuran, berbagai acar, saus, dan selai yang dibuat homemade. Teman saya akhirnya beli satu bumbu cajun.

Di dalam gedung itu juga ada juga toko yang jual berbagai jenis minyak zaitun dan cuka, namanya Olive U Naturally. Saya baru tau kalau minyak zaitun bisa punya berbagai rasa dan sungguh enak dimakan pakai roti tawar. Roti tawar, dicocol ke minyak zaitun berbagai rasa. Ya begitu kira-kira. Ini pengalaman baru yang sangat unik buat saya. Si teman saya juga akhirnya jajan satu botol kecil minyak zaitun untuk salad.

Masih di toko yang sama, ada yang jual pernak-pernik suvenir, toko cokelat fudge, toko kopi dan gelato, juga ada toko seni di lantai atas. Gelato dan kopinya enak. Toko seninya juga seru dan bagus-bagus.

Selesai dari gedung itu, kami sempat keliling lalu akhirnya mampir ke toko buku. Saya beli mug souvenir untuk dosen pembimbing saya dan beli buku diary. Buku diary ini buku favorit saya karena cover dan kertasnya bagus sekali. Saya juga beli tattoo tempelan yang lucu. Hahaha.

Tato-tatoan yang saya dan teman serumah saya pakai.

Baru setelah selesai eksplorasi downtown, kami pergi ke jalur hiking.

Nama jalur hikingnya adalah Constellation Trail. Teman saya bilang, dia suka tempat hiking ini karena lanskapnya mirip dengan lanskap Joshua Tree National Park. Waktu itu saya belum pernah ke sana dan ngga kebayang bentuknya sepertinya apa. Sebelum berangkat pun saya ngga cari tau dulu. Jadi benar-benar ngga kebayang.

Kami mulai hiking sekitar jam 4. Ternyata tempat hiking ini unik, seperti out of space. Tempatnya banyak batu-batu besar. Jalur hiking-nya sudah ditandai, kita tinggal mengikuti jalur yang sudah ada saja.  

Jalur masuk Constellation Trail yang saya foto dari tempat parkir.



Bebatuan di Constellation Trails

Saya suka dengan jalur hiking ini, karena pemandangan batu nan lucu ini baru pertama kali saya lihat. Di sana ada beberapa tempat wall climbing juga kelihatannya sulit. Kami hiking sekitar satu dua jam. Lalu memutuskan untuk cari tempat camping di sekitar tempat hiking itu. Saya sih ngga tau ya di sana sebenarnya boleh camping atau ngga, karena kelihatannya ngga ada orang lain yang camping di situ. Cuma, saya mengikuti saran warlok (warga lokal - teman saya itu) aja hahaha yaudah ngga ambil pusing.

Oiya! Setelah hiking beberapa lama, saya baru sadar ternyata Constellation Trail adalah memorial sebuah kecelakaan pesawat. Dulu sekitar tahun 1959 ada sebuah pesawat terbang yang jatuh tepat di lokasi ini. Semua penumpang meninggal. Lalu, keluarga para korban membuat tempat hiking dan tempat memorial di kawasan ini. Ada pecahan-pecahan pesawat yang sengaja ditaruh di situ sebagai tempat untuk mengingat kejadian.

Jujur, sebagai warga Indonesia yang terbiasa mendengar cerita seram. Saya yakin banget kalau tempat ini pasti banyak hantunya kalau di Indonesia. Jelas-jelas ini tempat bekas kecelakaan, ya kan? Sudah pasti banyak hantunya. Tapi saya kan ngga tau ya konsep cerita hantu di Amerika gimana dan teman saya pun tenang-tenang aja. Gimana dong? Jadi saya sok berani aja. Haahhhh.

Habis hiking sampai sekitar jam 5an, kami balik ke mobil untuk ambil tenda, sleeping bags, dan gitar. Kami cari tempat buat camping di antara bebatuan yang relatif agak ke dalam dan ngga terlalu dekat dengan jalur hiking. Tempat camping-nya enak karena datar, tanahnya kayak batu-batu yang halus banget. Rasanya kayak tidur di atas karpet.

Setelah selesai buat tenda, kami naik ke atas batu besar untuk menikmati senja. Ini salah satu senja terbaik yang pernah saya lihat. Warnanya jingga dan merah muda. Rasanya.. Saya bisa istirahat dari pikiran saya yang sedang kelabu dan pusing tujuh keliling. Waktu itu juga minggu pertama saya memutuskan untuk ngga pakai jilbab lagi. 

Sambil menikmati senja, saya berpikir tentang betapa besar priviledge-nya hidup saya sehingga saya bisa mengambil keputusan itu. Bahwa saya sekarang bisa mengambil keputusan besar untuk diri sendiri. I was on my own but was never alone. Bahwa sesulit apapun hidup, ternyata kita masih bisa menemukan momen-momen sederhana yang indah dan menenangkan. Momen itu mengingatkan saya bahwa hidup bukan hitam putih, bukan biner, tetapi penuh warna yang kadang ngga pernah bisa diduga.

Senja dari Prescott

Setelah malam datang, saya kebanyakan di dalam tenda aja. Tentunya, sudah was wes wos mikirin di sini hantunya kayak gimana. Teman saya, yang bule itu, malah nyanyi-nyanyi kencang pakai gitar. Saya cuma bisa mikirin, ini para hantu kalau keberisikan gimana ya? Haaaahh monangis.

Saya sempatin keluar tenda untuk foto bintang, yang tentunya gagal karena saya ngga tau cara foto bintang. Saya juga foto tenda kami, yang tentunya juga blur kemana-kemana. Yaudah lah ya yang penting ada fotonya.

Tenda

Langitnya bagus sekali banyak bintangnya, sayang saya belum bisa foto bintang

Malam itu, walau saya kepikiran hantu terus, untungnya saya bisa tidur dengan pulas sampai pagi. Fiuh. Cuaca juga ngga terlalu dingin. Sleeping bag yang kami pakai relatif cukup tebal untuk membuat tidur kami nyaman.

Paginya, kami loncat-loncatan di batu. Well, bukan saya yang loncat-loncat, karena saya penakut. Teman saya loncat-loncatan di antara batu. Saya nonton saja. Setelah sarapan dan beres-beres, kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.

Kami pergi ke tempat hiking berikutnya yaitu Granite Garden Parks. Tempat ini ngga jauh dari tempat hiking pertama. Granite Garden Parks kayaknya relatif kecil, tapi jalur hiking nya dibuat mutar-mutar biar pengunjung bisa keliling lokasi. Jalurnya juga menarik banget, ditandai dengan spot-spot di batuan. Rasanya seperti di Blues Clues yang cari jejak. Hahaha. 

Granite Garden Park
Jalur hiking

Di tempat hiking ke dua, ada beberapa jalur manjat wall climbing, tempat duduk, dan bangunan bekas tambang yang sudah tidak terpakai. Hari itu panas banget sih. Untung kami bawa banyak banget air minum, jadi ngga kehausan. Oiya, saya juga ngga mandi itu dua hari, saking Prescott udaranya kering, saya ngga merasa keringetan.

Bangunan bekas tambang.

Habis dari tempat hiking kedua, kami main ke Watson Lake yang juga dekat. Watson Lake indah sekali!

Watson Lake, Prescott

Baru deh kami pulang. Seru juga perjalanan hiking dan camping singkat di Prescott. Cuma satu jam dari Flagstaff, gratis, dan nyaman pula. Senangnya!

A new decade

A new decade

April 06, 2021
Oh, hello new decade!

Hello readers,

It is my birthday today. This time is a bit different than other year. I am 30 years old now. I am entering a new decade.

I've been thinking, what kind of a person I want to become in the next 10 years. I think it is important to have it in mind, so I don't waste my life without any plan. I am not sure this plan will stick for the next 10 years, at least I am trying. I am not even sure I will still live for a long long time. The possibility of dying and living is always the same. 

Life is very uncertain and full of possibilities. Things can change in a very short time, but also can not change for a long long time. These uncertainties, makes me want to live my current life fully, but also makes me want to have a general plan for the future. I remember one saying that the only certain in life is uncertainties. 

So, here it is..

I want to be able to fully forgive my self.

I made a couple of terrible decisions. I made unfavourable decisions usually when I was mad or angry but couldn't express my anger in a healthy way. Sometimes it still bites when I remember those decisions. I hate that I made some decisions based on my wounds.

I can see why I made those decisions and I can understand the reasons behind all decisions. It most likely was the best I can do at that time. 

If I live for longer time, I want to fully forgive my self. Forgiving all the imperfections and decisions I made in the past. This journey of forgiving my self have started around last year. I believe what I can do now is to remember and make sure I will not making the same mistakes in the future. I don't want to make any decisions when I am mad. I want to run my life based on love, not based on trauma or pain. 

I want to savour joy

I am an easy go lucky person. I can be happy for small things. I am happy seeing blue skies or random flowers in a park. I can be happy with my garden, my tiny library, and my blue house. Paradoxically, sometimes I feel bad for being happy. Sometimes I feel like I don't deserve to be happy. It's weird.

I know joy will not come all the time. Like any other feelings, joy is temporary. That is why I want to savour all the temporary joy that I have in the present time. I want to practice picturing memory, so I can remember it when I am in the dark place. 

Savouring each moment I am happy around plants and flowers.

I want to take my writing time more intentionally and consistently.

Writing has been very important for my healing and growing. I want to take more time to this special practice. I write in many places. In my diary, blogs, social media, phone, and random papers. I really like that part of me. I want to continue practicing writing and have a better writing habits.

I think it will be cool to try learning other kind of writings. Writing for media, opinions, travel blogs, or popular science articles. I want to explore that and see what will happen.

I want to be more open, honest, and brave

I read a great book called Daring Greatly by Brené Brown. I really like the whole premises in that book. Being vulnerable is very important. I cannot be honest to my self if I am not brave enough to be vulnerable. I think, it makes me more Diny. 

I showed up in difficult times in my past life. I want to do that as well in the future. Showing up has been helpful for my present time.

I also think, by being open and honest, I respect my self better. People can see me as a person, a human, that is not always perfect. Really, perfection is boring. 

"Perfectionism is exhausting because hustling is exhausting. It’s a never-ending performance." - Brené Brown
I learned it mainly from my dear friend. He is really good at it and I really like that part him. It inspires me to be more honest at least with my self. I want that in me. 

I want to keep connecting with people

I like this part of me. I enjoy being connected to people. I like sharing my life with people I met along the way and people who cares about me. I think people has pretty cool stories and by connecting with each other, we can create a better world.

Human is never supposed to be alone. When we lived in a cave back then, we are not supposed to be alone. We are part of community. Back then, alone means dying, still the same with right now.

I believe, connecting with people makes my life more enjoyable.

I want to be healthy physically, mentally, emotionally, and financially

Obviously, anyone can do anything in this world if they can be healthy physically, mentally, emotionally, and financially. It all requires hard work and self discipline. I want that. 

I want to have a better self awareness and mindfulness. I want to have a comfortable life where I have enough savings for emergency fund and pension fund. I want to have a place of my own. It doesn't have to be big. I want a small blue house. I want to be able to travel the world. I don't know how, but I will find a way.

I want to have a better ability to identify, embrace, and address emotions and needs. I want to have that as my super powers.

It is hard to build a healthy habits.

I want to nurture my relationships with my close circles

I really value my personal relationship with my close circles. I hope I can nurture it intentionally. I want to show up in their difficult times. I want to love them better. I want to listen to their stories. I want them to know that I love and care about them. I care abut their stories, their struggles and happy times, and all.

I know I can only show up to an extent of my limitations. I know I won't be able to always be there. Sometimes, I probably hate what they do. Other times, I may not able to be around them or I may not know what to do that it makes them hate me. There will be those moments. But if they still want me to be part of their life, I want to be there for them. That's the only thing I can do to respect their love for me.

I want to respect my boundaries and other people's boundaries

People need boundaries. I need boundaries. I may not always know right away my boundaries, but I will learn it as I go. If I already know my boundaries, I hope I can respect my self enough to hold on those boundaries.

I want to respect other people who says no to me. Sometimes, it is hard because we want what we want. But I want to try to respect it more intentionally.

I want to learn to deep listening

I like talking. I like talking about my self. I often find it hard to listen because I tend to speak more. So, I want to learn to listen more. I want to learn to listen with an open mind and heart. I don't have to speak all the time or tell everyone about my self. I don't have to always explain about my self, not everyone need to hear my random stories. It is really hard for me to listen. I hope I can gradually master this skill.

***

I think that is all I can think of right now. It may change gradually or maybe not. It is just an overall goals.


Have a fulfilling life a head, Diny! and happy birthday!


with love,

Diny

Things I learned about my self during COVID pandemic

Things I learned about my self during COVID pandemic

April 06, 2021
A pretty sunset from my home.

It has been more than a year in pandemic. I would say I learned a lot about my self during these long tiring hard times. I believe a lot of people feel the same thing. We are pushed into a weird time of our lives that give us time to sit with ourself.

I listed down some things I learned about my self on the first three months of pandemic and I wrote another list a year after pandemic. I thought I will share my a-year-after-pandemic list, so, here it is..

  1. I love life! <3 
  2. I am capable of rebuilding my life even during pandemic.
  3. Building a healthy sleeping pattern is super hard.
  4. I enjoy learning and relearning.
  5. Gardening still makes me happy, so does exercising.
  6. When I am physically and mentally healthy, I feel like I can do anything.
  7. Everyone is more stressful and lonelier during pandemic. I am not alone.
  8. I truly value social connection. I want to build a deeper and meaningful relationship with my inner circles.
  9. Joy can be find in little things in life.
  10. Even though it is hard, I am capable of slowly forgive my self and others who have hurt me in the past. It can take a long time to process it but it is doable. 
  11. When I got COVID early this year, I thought about death quite often. I think I've been enjoying my life, and people that I love knows that I love them. I think it is okay if I die, but I really want to live.
  12. I dislike online grocery shopping.
  13. I wonder if I have take time to properly grief that the world before pandemic may not come back. It is and will be a new world out there.
  14. Sometimes I feel lonely. I feel lonely more often during pandemic, but who doesn't?? 
  15. Pandemic is hard for everyone but we are all sailing with different boats.
  16. I am very grateful for my family's and friends' health.
  17. I am attached to my phone. I might be addicted to my phone in a non-healthy way. Phone and social media have become the main distractions of my regular life during pandemic.
  18. I am tired of these whole pandemic protocols. I still follow the rules, but it doesn't mean I like it.
  19. I like testing my boundaries.
  20. When I am comfortable of being vulnerable, I tend to be more open, honest, and respect my self and others. I want to put more intention on those things.

    That is all for now.

    Wish you all have a healthy and happy life.


    hugs,
    Diny

    A Working Project

    A Working Project

    March 20, 2021

    I saw this picture last week and felt triggered. It is so true that I make my self as a never ending project. For the last year, I have been focusing on healing and improving my self. I wanna be a better person and all those stuff. 

    Whenever I feel triggered, I spent some time to reflect why I feel triggered? Where is that come from? And think on how to heal it? 

    But then, it feels like it is never ends. There are always personal condition that I need to work on. There are scars that I need to heal. I am so sick of healing, can I just healed, soon? Is that even a thing?

    Or maybe it is called healing because it is a continuous activity. There is no healed, there is only healing. Because it is always a process? Is there any finish line? The finish line probably is when we dead, yea? So, as long as we live, we can live?

    If I always wanna improve things, is that means I am not accepting my self? Is that means I don't feel enough?

    I talked to a friend about it, she also had similar condition. She told me that healing and improving will take a lot of energy. Where do you get those energies from? Don't you feel tired at all?

    But, maybe life is a never ending project? Maybe we will work on it as long as we live?

    And it is okay to take a break sometimes. I mean, it is good if you wanna keep improving, but also it is okay to take a break? I mean, for real, right? It is a never ending project but we can take a break whenever we want or when we feel tired. And then start again whenever we want, right?

    Maybe, it is also okay to wanna make improvement all the time? Maybe that is just me being me? And that should be fine?

    If I am just me, will it be enough?

    Maybe because we are human, then it means we are not a project? We are not a never ending project, because we are not a project in the first place. Then, it is okay to just be, without levelling up?

    Am I a project or a human?

    I am most likely more to a human than a project. So it means, it is fine to just be the current version of me without have an urge to be a better human? Maybe that is okay?

    Who is the one who has the right to answer those questions? Probably just me, right? Because it is my life..(?)

    So, if I say..
    It is okay to just be
    It is okay to not improving
    It is okay to be just me
    just a Diny.

    That is probably more than enough, right?

    Oh dear, I need to sleep.

    Processing My Feelings During COVID19

    Processing My Feelings During COVID19

    February 21, 2021

    A morning view from my room at the Emergency COVID Hospital in Jakarta

    I was sick for weeks. I had COVID19.

    I don't really know where I caught it, because obviously contact tracing of COVID in Indonesia was so bad. I might caught it in public transport. I still use train and MRT for work or use Gojek to go to some places. Of course, I mostly maintained health protocols. But I wasn't always 100% careful. Sometimes I was reckless and in denial. I eat at some restaurants, I saw some of my friends and family, and I went grocery shopping.

    For the past years, I rarely sick. So, when I had a fever, I thought about COVID right away. I had fever for 3 days. My body felt sore and dizzy. I took paracetamol to reduce the fever. I drink plenty of water to help my body hydrated. It works, the fever was gone on the 4th day.

    I sleep a lot on the first days of COVID. I slept for at least an hour after I took medicine during the day. I woke up couple times at night. My body sweaty all the time. I remember one night I was shivering because my clothes were all wet due to my sweat.

    The test

    I took a PCR test on the 4th day, got the result the next day. It said I tested positive for COVID. Right away, I texted my coworkers, family, friends, told my neighbours, and updated the news through my social media. I was panic, confused, and sad. I called my VVIPs. I want them to stay calm even though it was hard to stay calm, but we were all trying.

    People started sending me foods, medicine, and comforting words. I was a bit overwhelmed. It was interesting that a big part of my healing was learning to receive help without fear of being seen as a burden. Like hey it's okay people just wanna help, feel the love. Once again, I learned to ask for help and receive help.

    A picture I sent to my family during COVID quarantined.

    The grief

    Of course there was a grief when I knew I had COVID. At some point in the last 2 weeks, I didn't take care of my self. That is probably why I caught COVID. I had sleeping and eating problems in the last month. I didn't exercise much for the last 3-4 months. It was sad that I didn't take care of myself even though I'm in the middle of pandemic.

    I also felt terrible and upset that I was sick. I was sick and I made my close circles worried about me. I don't like feeling like a burden. But then, I realised, they were worry and check on me because they care and they love me, not because I am a burden. I tried my best to do my part. I let them know what I know, keep them updated as much as I can. I also learned to let them do their part of taking care of me.

    I felt angry. I kept asking, why me? Why I got COVID? I was mostly at home. I didn't go out of town. I've stoped doing almost all my sources of happiness. I didn't go to gym. I stoped swimming this year. I didn't go to the mall. I love meeting people but I've stopped meeting people. There are a lot of people out there didn't care about COVID, but they are still healthy. They didn't have COVID, so why me? I tried to sit to those feelings. I knew it was a phase of grieving and I need to feel those to overcome the phase.

    I probably angry for 2 days. Then, the feelings changed into sadness and scared. I thought about scary stories of COVID. There are a lot of people who were fine and healthy, then died in a blink. What if I died? What if I make my family sad because I died, which is obviously they will be sad. Have I do what I wanted to do in life? Have I told people how much I love and care about them? Do I owe people something? You know, all of those thoughts. But then, I realised for the last year I've tried to be mindful to all of my relationships. I thought, even if I died, I will be rest in peace because I know, people that I love, knew that I love them. I have nothing to lose.

    After sadness, I felt lonely. It was so weird. A lot of friends and family reached me out, sent gifts, and sent warm words. I surrounded by nurses and fellow COVID patients. But still, it was a lonely experience. And I never like loneliness. I never used to it. I think loneliness is like a deep hole. If I fell, it will be hard to go out of the hole. This one particular feeling, I didn't want to feel it.

    I tried to find distractions. I called friends everyday and talked to everyone I met in the hospital. Until one day, a new friend, fellow COVID patient, told me he felt very lonely as well. And then I realised this loneliness is quite common for COVID patient. I suddenly feel like I am not alone in this. It might feels like I am alone at the hospital, but that wasn't true. My family and friends were still out there thinking about me. I gathered new friends at the hospital to fight COVID together, share stories, and support each other. I tried to believe, just like any other feelings, I can survive this, I can bear with it, and it will eventually pass.

    Rainy days.

    Coming back stronger

    I started feeling hopeful and energised when my body feels better. Probably on day-8 or 9. My chest pain, short breath, and nausea were gone. I felt healthier. I started enjoying my stay at the hospital. I talked to almost everyone I met in the elevator. I joined aerobics group. I did a karaoke night. I maintained connection with roommates. I tried whatever things I can think of to feel better, physically and mentally.

    A quote, 'one day at a time', works for me. I am glad I am back feeling happy and healthy. My family is healthy as well. I know this is a huge bless. I can't thankful enough for their health and constant love.

    COVID pandemic is still going on and may last for I don't know how long. There are a lot of things I cannot control out there and it is sucks. Life is very short. It can change drastically. Thus, I want to enjoy and savour what I have right now because everything is temporary. This health, body, family, friends, money, and all are temporary. I can lose it all in a second. But in the same time, those temporary things are also the beauty of life.

    I wish you all for your happiness and health.

    Love,
    Diny

    Belajar Tentang Belajar

    Belajar Tentang Belajar

    December 31, 2020
    Pertengahan tahun ini belajar berenang dan akhirnya bisa berenang sekitar bulan Oktober.

    Wow, sudah akhir tahun saja nih. Waktunya membuat ulasan kehidupan setahun terakhir. Tahun 2020, memang luar biasa ya. Ada pandemi yang memengaruhi kehidupan di seluruh dunia. Untuk pertama kalinya dalam kehidupan kita, semua orang sedunia memiliki masalah bersama. Barangkali masa-masa ini akan jadi hal paling menarik dari sejarah kehidupan yang pernah dijalani. Bisa jadi fase ini akan menjadi cerita 'perang' yang akan diceritakan ke anak cucu berkali-kali nantinya, kalau kita bisa selamat dan melalui pandemi.

    Kalau bisa dilihat setahun terakhir, hal utama yang saya pelajari sepertinya adalah soal belajar. Bahwa kita bisa mempelajari apapun yang kita inginkan kalau kita mau dan bisa memberikan energi untuk mempelajari hal tersebut. Bahwa ada proses-proses yang harus dilalui supaya bisa menjadi bisa. Kalau kata dokter saya, ini namanya belajar metakognisi. Tentunya, saya masih jauh dari paham maknanya metakognisi itu apa ya haaha.

    Tetapi untuk mempelajari suatu hal baru, perlu ada semacam syarat yang harus dipenuhi. Kalau sedang dalam kondisi mental yang stabil dan relatif sehat, belajar apapun akan lebih mudah dijalani prosesnya. Kalau sedang berada dalam kondisi finansial yang stabil, pikiran juga bisa digunakan untuk pengembangan diri. Harus ada modal dasar yang kalau bisa terpenuhi, proses belajar akan bisa lebih berenergi atau mungkin lebih mudah. Dan yang paling penting adalah apakah ada kemauan dan keikhlasan untuk menjalani proses belajar atau tidak.

    Setahun terakhir saya mencoba banyak hal baru yang hampir semuanya memiliki pelatih tersendiri. Saya sempat latihan rutin climbing, menari, dan olahraga di gym, serta latihan mengelola emosi dan perasaan di terapi. Pelatih akan sangat membantu dalam mempelajari suatu hal baru. Mereka bisa memberi tau teknik-teknik yang tepat, memberi tahu ketika kita masih salah, dan juga memberikan ekstra energi agar kita bisa belajar lebih cepat. Walau sebenarnya bisa saja sih belajar sendiri, terutama kalau kita sudah memiliki kedisiplinan tinggi terhadap diri sendiri. Namun, biasanya proses belajar sendiri akan lebih panjang dibandingkan kalau memiliki pelatih.

    Ketika belajar hal baru, ada fase dimana saya merasa sangat tidak bisa dan ternyata saya kurang nyaman dengan perasaan tidak bisa tersebut. Maunya sekali belajar, langsung bisa gitu lho. Tapi kan ngga mungkin ya, hahaha. 

    Nah akhirnya saya mencoba untuk belajar melewati asumsi 'saya tidak bisa' ini. Belajar tidak memberikan penilaian terhadap diri sendiri, karena tidak bisa sesuatu hal. Belajar mempercayai proses diri sendiri, yang tentunya akan berbeda dengan proses orang lain. Belajar melihat pola pembelajaran dan pada akhirnya belajar tentang belajar.

    Belajar menari tradisional. Begitu sudah mulai hapal gerakannya, eh pandemi mulai. Sedih sekali.


    Dalam prosesnya, kita bisa memilih apakah akan belajar sampai 'bisa' atau mau sampai 'jago'. Saya rasa sih kita ngga perlu jago dalam semua hal. Ada banyak hal yang belajar sampai 'bisa' sudah memuaskan hati dan itu cukup. Apalagi kalau keahlian tersebut tidak terlalu relevan dengan kehidupan sehari-hari ataupun tidak terlalu kita sukai. Misalnya, ketika tahun ini saya belajar pakai make up. Saya berhenti sampai kata 'bisa' saja, karena ternyata saya kurang menikmati proses memakai make up. Sehari-hari saya tidak terlalu sering menggunakan atau merasa perlu menggunakannya. Jadi ya sudah. 

    Ada teknik-teknik tertentu yang bisa digunakan untuk mempelajari kebiasaan baru. Dalam buku the Atomic Habit, misalnya, cukup membantu memberikan cara praktikal untuk belajar membiasakan hal baru. Latihan juga sangat penting untuk mempelajari hal baru. Misalnya, kalau mau bisa menulis, ya harus mau latihan rutin menulis. Semuanya perlu latihan. Kalau mau bisa hidup rapi, ya harus belajar langsung rapi-rapi begitu melihat situasi yang berantakan.

    Banyak hal bisa dipelajari, kalau mau. Kalau tidak mau pun, tidak masalah. Bisa jadi kemauan belajar itu baru muncul tahun depan atau bulan depan. Ngga ada yang pernah tau sejauh mana seseorang akan belajar suatu hal. Makanya itu, saya ingin sekali lebih bebas dari pikiran menilai suatu hal, diri sendiri, atau orang lain. Kita ngga pernah tau ya apa yang akan terjadi di masa depan. 

    Belajar menjahit. Ternyata senang sekali bisa menjahit!

    Jadi tahun ini saya belajar apa saja ya.. climbing, menari tradisional, olahraga sendiri di rumah, mengelola dan menjaga kesehatan mental, bekerja dari rumah, mengelola dan merapikan bahan makanan, makan sayur dan buah secara rutin, meditasi, menjahit, berenang, dan banyak hal tentang diri sendiri. Saya juga lumayan memberikan perhatian ke hubungan-hubungan yang saya miliki, baik personal maupun profesional. Saya bangga sekali bisa melewati tahun ini dengan lebih tenang dan mau meluangkan waktu untuk fokus ke diri sendiri. Tahun yang berat, namun buat saya, relatif jauh lebih mudah dibandingkan tahun lalu.

    Di akhir tahun ini, saya berdoa sekali supaya saya bisa selalu menjadi pribadi yang senang belajar. Mau melihat suatu hal dari berbagai sisi. Mau menjalani proses yang berat agar bisa menjadi sesuatu untuk masa kini atau masa depan. Semoga tahun depan bisa lebih baik, tapi kalau tidak lebih baik, semoga saya bisa belajar dari segala prosesnya.


    xoxo,

    Diny

    Buah Tangan dari Sesi Terapi

    Buah Tangan dari Sesi Terapi

    December 26, 2020

    Menyambung cerita sebelumnya tentang perjalanan kesehatan kejiwaan yang saya lalui, kali ini saya akan berbagi tentang beberapa alat atau cara yang cukup berguna buat saya. 

    Saya pernah berbagi soal ini, misalnya di post yang berjudul Things that Keeps Me Sane. Kalau dilihat-lihat dengan kacamata sekarang, beberapa hal dalam daftar tersebut cenderung saya gunakan untuk melarikan diri dari kenyataan. Waktu itu saya membuat daftarnya sendiri, tanpa bimbingan dokter jadi yaa.. gitu deh. 

    Saya ngga tau apakah cara-cara ini bisa berguna atau ngga buat orang lain. Saya diajarkan teknik ini oleh dokter secara bertahap dan sesuai dengan kemajuan saya pada saat sesi terapi. Saya juga bukan dokter, konsuler, atau terapis. Cara yang saya tuliskan di bawah ini adalah cara-cara yang berguna buat saya, berdasarkan intepretasi saya dari sesi terapi dan dari berbagai sumber lainnya seperti buku, podcast, diskusi, dan lain-lain. Bisa saja saya salah mengintrepretasikan cara ini, jadi keep in mind that it may not scientifically proven

    Saya yakin sekali kalau yang kayak gini-gini itu memang ngga bisa belajar dalam waktu singkat. Harus terus-menerus dilatih. Mungkin ngga akan pernah masuk ke kata 'jago'. Penting untuk menjadi proses belajar seumur hidup. Apapun masalahnya, kita bisa menggunakan cara ini sebagai tools untuk menghadapinya, or maybe not but we can at least give it a try.

    Cara-cara ini juga sudah saya gunakan setahun terakhir. Namun, baru di bulan November, sesi terakhir dengan dokter, akhirnya saya mengerti apa maksud dokternya. Sesi itu bisa jadi adalah "aha! moment" saya. Yaitu saat dimana semua yang selama ini dipelajari di sesi terapi bersatu dan terkoneksi menjadi pengetahuan komprehensif. Entah kenapa saya jadi langsung merasa berdaya, kayak "OH MAKSUDNYA GINI TOH" (mesti di capslock).

    Me trying to figure out adult life.

    Poin-poin ini dibuat bukan berdasarkan urutan tertentu. Semua bisa dilakukan perlahan-lahan atau berbarengan.

    1. Menulis sebagai alat meditasi

    Saya sudah menggunakan cara menulis untuk menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupan saya, barang kali sejak SMP. Biasanya saya menggunakan teknik menulis sebagai tempat sampah. Dulu, saya terbiasa menulis apa yang terjadi dalam kehidupan A-Z dan penilaian saya terhadap situasi tersebut. Menulis bisa membantu saya memindahkan apa yang ada di pikiran, sehingga kepala saya terasa lebih ringan.

    Namun, kalau mau naik tingkat, kalau mau mendaur ulang 'sampah-sampah' itu menjadi sesuatu yang bermakna, menulis bisa dijadikan terapi. Caranya adalah dengan melakukan assessment terhadap emosi yang saya punya. Misalnya dengan memakai kata 'saya merasa..', 'saya percaya..', 'saya yakin..' dan lainnya yang berawal dengan kata 'saya'. How do I feel about things that happened in my life?

    Teknik ini bisa melatih diri kita untuk fokus sama diri sendiri sehingga tidak menyalahkan, tidak memberi penilaian buruk/baik, dan tidak fokus pada hal-hal yang di luar kontrol, seperti orang lain atau keadaan. Teknik ini juga dipelajari di buku Nonviolent Communication yang jadi panduan saya untuk belajar teknik-teknik tersebut. Dengan metode ini, kita bisa belajar menjadi subjek dalam kehidupan yang kita jalani. Bukan hanya sebagai penonton atau korban.

    Menulis adalah salah satu cara saya mengenal diri sendiri.


    2. Mengubah familiarity/kebiasaan

    Pengalaman yang kita miliki telah mengajarkan kita berulang kali dan terus-menerus. Dampaknya adalah kita sudah membangun refleks tertentu ketika menghadapi pengalaman tertentu. Something that is familiar to us. Sayangnya, dalam perjalanan kehidupan, berbagai hal bisa berubah. Respon yang kita miliki terhadap situasi yang sama, juga mesti ikut berubah. Atau bisa jadi, respon yang kita miliki selama ini bukan respon yang relatif sehat dan kita mau mengubahnya.

    Gimana caranya supaya bisa membiasakan diri dengan kebiasaan yang baru?

    • Sadar. Sadar dengan apa yang terjadi.
    • Komitmen. Apakah kita rela dengan perubahan yang mau dibuat? Kalau belum rela, ya sudah ngga papa, nanti lanjut ke tahap berikutnya kalau sudah siap. Kalau sudah rela..
    • Kenali. Kenali situasi, perasaan, kenyataan, dan pilihan-pilihan yang muncul. 
    • Buat keputusan. Dari berbagai opsi respon yang bisa kita ambil, pilih salah satu. 
    • Memposisikan diri. Lihat apakah kita bisa memposisikan diri menuju versi baru sebagai respon dari suatu kondisi yang familiar.
    Teman saya bilang, ini mirip dengan Practice the Pause. Kalau menurut saya, kita bisa melakukan ini kalau sudah terbiasa dengan belajar self-awareness. Pause tanpa self awareness juga ngga akan jadi apa-apa.

    3. Latihan

    Latihan, latihan, latihan. Karena ini adalah sesuatu yang ngga familiar. Kita ngga terbiasa dengan kondisi tersebut. Kita mungkin belum tau reaksi seperti apa yang pas dan relatif sehat. Oleh karena itu, penting untuk bisa sadar dengan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan pilihan yang akan kita ambil. Penting untuk bisa sadar dan hadir untuk diri kita sendiri.

    4. Menggunakan realisasi

    Sering kali saya punya pertanyaan-pertanyaan yang saya ngga tau jawabannya apa. Misalnya, kok A melakukan B ya?. Dalam mengatasi hal tersebut, biasanya, saya sering mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Mencoba membuat semuanya menjadi rasional. Oh, mungkin si A melakukan B karena dia merasa C. Inilah yang namanya realisasi.

    Realisasi berarti berusaha membuat semuanya rasional, riil, dan punya jawaban. Realisasi ini bisa kelihatan seperti bentuk mengatasi masalah yang sehat, padahal belum tentu. Memang realisasi ini sudah naik tingkat dari level menyalahkan/blaming. Tapi, kalau mau naik tingkat lagi.. We can take a look at this in more detail.

    Kita belum tentu akan punya jawaban yang benar. Belum tentu kita akan mendapatkan closure yang kita harapkan. Kalaupun kita tanyakan ke orang yang bersangkutan (kasus si A), belum tentu A juga tau alasannya, atau kalaupun dia tau, belum tentu dia mau menjelaskan ke kita. Kalau pun A mau menjelaskan ke kita, belum tentu kita mengerti. Semuanya serba tidak pasti. Bagi orang yang suka mempertanyakan sesuatu dan suka mencari jawaban, seperti saya, ini hal yang berat. I tend to want to know the answer.

    Ketika terjebak dalam realisasi, kita sebagai manusia sering juga terjebak dalam confirmation bias. Confirmation bias artinya mengintrepretasikan sesuatu berdasarkan hal yang kita yakini, yang tentu saja belum tentu benar. Sering kali kita memilih salah satu jawaban yang kita yakini kebenarannya walau dengan informasi yang tidak penuh. Padahal jawaban tersebut hanya mentok di kata 'mungkin', hanyalah sebuah kemungkinan. Bisa benar bisa juga tidak. Makanya kita mesti lebih hati-hati dalam hal ini.

    Untungnya, kita bisa menggunakan realisasi ke tingkat yang lebih sehat. Kita bisa menggunakan realisasi untuk membuat berbagai opsi jawaban. Contohnya, bisa saja A melakukan B karena C, D, E, atau F. Lalu, kita bisa membiarkannya begitu saja. Kita tidak perlu memilih apakah yang benar adalah C, D, E, atau F. Kita bisa meyakini bahwa ada berbagai opsi jawaban dan it is okay to not have an answer.

    Ingat, ngga ada orang yang bisa kita kontrol selain diri kita sendiri.

    Life is a series of open ended questions.


    5. Mengobservasi tanpa memberikan penilaian

    Mengobservasi yang bebas interpretasi, tanpa nilai, tanpa kata "seharusnya". Jujur, ini saya masih ngga terlalu mengerti gimana caranya. Walau pembahasan ini ada juga di buku Nonviolent Communication, tapi saya masih belum paham benar gimana cara praktikal di kehidupan nyata. 

    Intinya sih kita bisa melatih diri kita untuk melihat sesuatu tanpa interprestasi menggunakan nilai yang kita miliki. Kita punya latar belakang yang berbeda, luka masa lalu yang berbeda, mungkin budaya, agama, atau apapun yang buat kita penting, belum tentu itu penting buat orang lain. We don’t have to judge them for being different than us. Easier said than done. Yup!

    Melihat perbedaan nilai ini kayaknya mesti dibarengi dengan (balik lagi) self awareness dan mungkin juga boundaries. Yang orang lain lakukan, tidak berarti akan mendefinisikan diri kita. Saya dan orang lain adalah dua individu yang berbeda. It is okay to agree to disagree. Apalagi kalau terkait nilai penting yang kita anut ya. 

    Tapi ini susah banget dilakukan ke orang-orang terdekat kita. Barangkali kita secara tidak sadar sudah menanamkan harapan atau asumsi tertentu ke orang terdekat, sehingga ketika mereka ternyata memiliki nilai dasar yang berbeda dengan kita atau memberi respon yang tidak diharapkan, tentunya kita bisa merasa kecewa. Ketika kekecewaan ini tidak diolah lebih lanjut dan ditambah dengan penilaian-penilaian yang kita berikan ke orang tersebut maka kekecewaan ini bisa berubah menjadi sakit hati atau resentment

    6. Mengelola preoccupied mind 

    Preoccupied mind mungkin bisa dijelaskan sebagai pikiran yang terisi dengan suatu hal atau seseorang yang dianggap penting. Preoccupied mind saya selalu tentang sesuatu yang saya anggap sebagai segalanya. Ketika saya kehilangan hal yang saya anggap sebagai 'segalanya', lalu siapakah saya di luar dari itu semua?

    Oleh karena preoccupied mind ini, saya jadi semacam terobsesi, barangkali. Terobsesi dengan pikiran-pikiran ini. Pikiran tentang masa lalu. Padahal, pikiran ini mungkin tidak memberikan dampak besar lagi terhadap kehidupan yang saya punya sekarang. 

    Untuk keluar dari preoccupied mind, kita bisa menghitung berapa persen hal yang kita pikirkan akan berdampak pada kehidupan masa kini. Lagi-lagi harus balik ke self-awareness. Kadang kita perlu lihat bagaimana cara kita menghabiskan energi yang kita miliki? Apakah energi tersebut kita habiskan untuk sesuatu yang punya dampak terhadap kehidupan saat ini dan masa depan?

    Nah, setelah evaluasi hal tersebut, kita bisa memindahkan penggunaan energi, untuk hal-hal yang masih relevan dengan kehidupan kita sekarang.

    Saya rasa, meditasi juga akan membantu untuk keluar dari preoccupied mind. Meditasi bisa melatih diri kita untuk hadir dalam situasi saat ini. Untungnya sekarang sudah banyak ya latihan meditasi secara online, jadi bisa latihan di rumah saja.

    __

    Saya rasa 6 poin itu adalah poin-poin besar yang bisa saya rangkum dari sesi terakhir terapi yang saya jalani. Ada satu poin lain yang akan saya ceritakan dalam cerita berikutnya. Juga ada beberapa poin yang terlalu personal untuk dibagikan. Kelihatannya seperti banyak teori ya. Banyak istilah. Entah kenapa, ketika sesuatu itu punya nama, rasanya saya jadi punya kuasa akan hal tersebut.

    Misalnya setelah saya tau tentang realisasi dan sadar bahwa saya sering menggunakannya, saya jadi semacam punya kendali atas diri. Seperti bisa bicara dengan diri sendiri, "Hey, kamu lagi realisasi nih. Ayo coba bikin realisasi ini keluar sebagai bentuk yang lebih sehat".

    Melalui terapi, saya juga jadi lebih sadar tentang kejadian di masa lalu yang memengaruhi cara saya bereaksi atas suatu hal atau cara saya mengambil keputusan. Saya ingin sekali bisa menjadi orang yang bereaksi terhadap suatu hal atas dasar cinta, bukan atas dasar luka.

    Ini meskipun sudah tau sedikit tentang ini semua dan sudah menjalani terapi, saya yakin masih banyak yang saya belum paham. Poin-poin di atas aja saya belum handal menggunakannya. Bahkan bisa dibilang proses ini baru saja dimulai. 

    Kalau ada kesempatan seperti punya waktu, uang, dan energi untuk bisa terapi, saya sangat merekomendasikan terapi sebagai salah satu investasi yang bisa kita berikan ke diri sendiri dan juga ke orang-orang terdekat kita. Kalau kesempatan itu belum ada, ngga papa, kita ngga pernah sendirian kok. Pasti ada jalan untuk belajar ini dan pasti ada orang yang sungguh peduli dengan diri kita. We have to find them and be that person for people we love.

    Lagi-lagi, mohon maaf tulisannya campur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pikiran saya masih belum bisa full Bahasa Indonesia atau full Bahasa Inggris. Hehe. Semoga bermanfaat.


    Salam sayang,

    Diny

    Menyerah dan Kembali Bernapas

    Menyerah dan Kembali Bernapas

    December 25, 2020

    Saya sudah menjalani psikoterapi on/off sekitar satu setengah tahun terakhir. On/off artinya saya datang kalau butuh saja, tidak ada jadwal rutin. Saya belajar banyak sekali dari proses ini, yang mungkin bisa bermanfaat buat pembaca sekalian.

    Trigger warning: tulisan ini dapat memicu emosi pembaca karena mengandung tulisan eksplisit, depresif, suicidal, dan penyakit kejiwaan. 

    Barangkali seperti ini rasanya waktu itu. Ngga jelas jalan di depan tetapi saya yakin kalau ada jalannya.

    Pertemuan pertama dengan konsuler

    Jujur, waktu pertama kali cari bantuan profesional, rasanya saya malu sekali. Waktu itu, saya selalu merasa masalah yang saya alami tidak terlalu besar. Saya juga merasa masih cukup kuat untuk menghadapinya. Saya malu karena merasa butuh bantuan profesional. Kok seperti lemah sekali ya? Kok ngga bisa mengatasi sendiri? Kok cerita dengan orang-orang terpercaya tetap terasa kurang? Banyak pikiran-pikiran sejenis itu yang lewat di kepala saya waktu itu.

    Namun, saat itu orang-orang terdekat saya, memberikan dukungan yang sangat berarti. Mereka bantu memeriksa apakah saya beneran sudah daftar atau buat janji ke terapis, atau saya akhirnya mundur lagi. Langkah awal yang cukup berat. Saya tidak punya contoh teman atau orang terdekat yang sedang rutin pergi ke terapis. Ditambah lagi, pergi ke bantuan profesional terasa seperti memvalidasi bahwa masalah saya sudah di ujung tanduk dan saya tidak suka dengan kenyataan itu.

    Setelah maju mundur, akhirnya saya tetap lanjut daftar, buat janji dengan konsuler, dan datang ke sesinya. Pertemuan pertama dan kedua rasanya ngga ada pengaruh apa-apa. Sesi satu jam isinya cuma cerita sambil menangis. Mana ceritanya pakai bahasa inggris lagi kan, rada ribet. Waktu itu masih kuliah di luar negeri soalnya, konselornya orang US semua (ya iyalah haha). 

    Karena waktu itu cuma cerita sambil nangis jadinya ngga menyelesaikan apa-apa dan ngga ada kemajuan yang berarti. Ditambah lagi, selama masa perkuliahan, target utama saya adalah bisa lulus. Oleh karena itu, saya sebisa mungkin menghindari memproses permasalahan mental yang saya yakin akan membutuhkan banyak energi. Saya tidak punya kapasitas itu pada saat itu. Akhirnya saya selalu menghindar dari masalah atau emosi yang saya rasakan.

    Keinginan mengakhiri kehidupan

    Habis pulang ke Indonesia, saya beberapa kali kembali mengalami anxiety attack, terutama saat ada trigger-trigger besar. Anxiety attack itu bentuknya seperti napas cepat, keringetan, jantung berdebar sangat cepat, pusing, badan gemetar, sulit napas, dan lama-lama kesemutan atau keram.

    Trigger-trigger kecil rasanya juga luar biasa. Eh, ngga tau ya, kayaknya seluruh Jakarta adalah trigger besar deh. Hahaha pusing deh. Lihat kereta, lihat perpustakaan, kemeja, boneka, hewan tertentu, sudut tertentu di tempat tertentu, berbagai jenis makanan, bau tertentu, sampai lihat hot chocolate, semuanya jadi pemicu. Ada beberapa kata tertentu yang kalau terdengar di momen apapun, rasanya punya efek yang besar sekali.

    Ketika melihat, merasakan, atau mengalami pemicu tersebut, rasanya jantung saya berdebar-debar, napas lebih cepat, badan dari ujung kaki hingga kepala rasanya panas. Bisa dibilang overwhelm atau distress, tapi ngga selalu berakhir dengan anxiety attack. Dan ini frekuensinya cukup sering karena seluruh sudut Jakarta adalah trigger. Hahaha. Kasihan sih kalau ingat Diny di masa-masa itu.

    Saya akhirnya benar-benar niat mau ke psikolog atau psikiater. Terutama setelah saya sudah suicidal atau berpikir, mempertimbangkan dan merencanakan kematian. Sebelumnya sudah sering sih mikir begitu, tapi sebelumnya belum pernah benar-benar memikirkan cara mengakhiri kehidupan. Sampai pada suatu hari, ada trigger besar dan saya langsung mikir 'This is it, I cannot handle this. It is too painful'. Waktu saya sudah mikir mau pegang pisau untuk bunuh diri. Setelah mengalami itu, saya benar-benar yakin kalau saya butuh bantuan profesional.

    Waktu itu rasanya gimana ya.. Saya ngga punya lagi alasan untuk hidup atau bangun tidur setiap harinya. Seluruh badan rasanya sakit dan sepertinya lebih mudah mengakhiri kehidupan daripada menjalaninya. Satu-satunya yang membuat saya belum bunuh diri adalah pikiran soal keluarga. Mereka pasti akan sedih, depresi, atau merasa bersalah dengan keputusan pribadi saya itu.

    Jakarta dan segala pemicu di dalamnya.
    Menyerah

    Di masa-masa itu, saya menyerah lalu memutuskan untuk mencari bantuan profesional. Saya daftar ke 6 lembaga bantuan psikiater atau psikolog. Akhirnya ada 2 yang saya datangi yaitu dua lembaga yang kebetulan punya jadwal terdekat. Satu psikolog dan satu psikiater. Dalam perjalannya, ternyata saya lebih cocok dengan psikiater yang saya kunjungi daripada dengan psikolog. Ini persoalan selera atau kecocokan saja, sepertinya.

    Sesi bersama psikiater sangat membantu saya memproses apa yang saya alami dan rasakan. I was clueless and didn't understand what was just happened in my life. Pada sesi-sesi awal ini, fokus dari terapi bukan untuk mengobati tapi lebih ke membantu memahami apa yang sedang terjadi.

    Ternyata pikiran suicidal itu relatif umum karena banyak orang yang mengalaminya. Tentu saja kondisi ini harus segera ditangani agar tidak berlarut-larut. Lalu, meskipun rasanya dunia sudah runtuh dan saya sudah yakin kalau saya ini sedang depresi, ternyata saya tidak depresi. Waktu itu dokter mengatakan, kalau dalam bahasa inggris ada depressed dan depression. Nah, saya lebih ke depressed dibandingkan depression. Ini benar-benar membuat saya yakin kalau kita ngga bisa tuh mendiagnosa diri sendiri. Meski kalau pun saya mengidap depression, saya yakin saya berada dalam jalur yang tepat dengan membantu diri sendiri melalui bantuan profesional.

    Bernapas

    Proses terapi yang saya jalani pada akhirnya menjadi semacam life changing process, yang sangat saya syukuri. Saya beberapa kali berbagi cerita dengan teman-teman maupun di media sosial. Buat saya, pergi terapi adalah investasi yang sangat berharga. Saya belajar tentang diri saya sendiri, tentang masa lalu, tentang teknik-teknik praktikal yang bisa digunakan sehari-hari. 

    Cerita ini bukan bermaksud untuk glorifying atau memuliakan kejadian di masa lalu atau penyakit kejiwaan yang saya alami. Tulisan ini saya tujukan buat teman-teman yang mungkin sedang mengalami masa-masa sulit saat ini. Kamu tidak sendirian. Everybody is just as lost and scared as you are. There's always a way to find the light, you just have to keep swimming. Keep believe in yourself that it all bearable and this too shall pass.

    Saya bisa menuliskan ini, tentunya karena saya sudah tidak berada pada situasi yang berbahaya secara kejiwaan. Tulisan ini juga bukan bermaksud untuk menyudutkan atau menyalahkan pihak tertentu, karena memang ngga ada yang salah. Ini bagian dari proses kehidupan saya, yang mau ngga mau harus dilewatin. Situasi mental yang berat seperti ini juga bisa dialami oleh siapapun dan disebabkan oleh berbagai kondisi, tapi saya selalu berharap hal ini ngga terjadi di kehidupan kamu. Semoga belajar dari kehidupan orang lain bisa menjadi ruang tumbuh agar kita semua bisa menjadi manusia yang lebih baik.  

    Pada blog post berikutnya, saya akan cerita beberapa tools atau pelajaran yang saya pelajari dari proses psikoterapi yang saya jalani. 

    Terima kasih sudah mampir. Semoga bermanfaat dan tetap semangat!


    with love,

    Diny

    Search This Blog

    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *