Belajar Memanjat

Sabtu, 11 April 2020

Sewaktu manjat di Gunung Parang


Mumpung lagi akhir pekan di tengah-tengah masa karantina, saya mau cerita sedikit tentang hobi baru yang lagi saya gandrungi pas banget beberapa bulan sebelum COVID19 merajalela.

Sejak bulan Januari tahun ini, saya mencoba latihan manjat. Manjat sebenarnya bukan hal baru yang belum pernah saya lakukan. Dulu banget waktu SMA saya pernah latihan manjat, karena waktu itu ikutan grup pecinta alam. Terus, akhir tahun lalu, saya juga sempat manjat via ferrata di Gunung Parang (pernah saya ceritain di Instagram).

Nah, kebetulan ada tempat climbing gym baru yang indoor dan ada pelatihnya. Dekat dan mudah diakses lagi, di daerah Sudirman. Dekat sekali sama tempat saya berolahraga.

Tempat latihan manjat baru ini namanya Indoclimb. Manjat di Indoclimb seru banget! Kita bisa ikutan kelas yang dipandu oleh pelatih-pelatih yang komunikatif dan seru. Mereka akan mengajarkan gimana caranya pegang poin, kaki dan tangan mesti kemana, posisi badan mesti gimana, termasuk mengajarkan cara jatuh.




Walau ngga bisa atau belum pernah sama sekali, nanti akan diajarin sama pelatih-pelatihnya. Saya pun sudah lupa cara manjat, jadi ya mengulang dari awal belajarnya. Senang banget bisa latihan lagi, ketemu teman-teman baru, ketemu teman-teman lama, sambil manjat dan seru-seruan.

Di Indoclimb, saya latihan bouldering, yaitu manjat yang ngga pakai tali. Maksimal ketinggian 3,5 - 4 meter. Walau ngga pakai tali, tapi tetep aman kok karena ada matras di bawahnya. Di Indoclimb, bisa bayar per kedatangan dan bisa sewa alat di sana. Pokoknya bisa tinggal datang aja. Meskipun kadang ramai banget ya, jadi mesti booking slot dulu. Bisa juga ikutan membership kalau mau datang kapan aja dan sebanyak apapun yang kamu mau.

Setelah manjat seminggu sekali selama hampir 2 bulan, saya lumayan agak bisa. Ok, mungkin bukan bisa, tapi lebih nyaman (apaan sih manjat aja pakai nyaman hahaha).

Ada satu hal yang buat saya sangat menarik. Selama manjat ini, saya semakin sadar kalau saya itu takut jatuh. Saya ngga suka jatuh. I don't feel safe and I don't want to fall. Meskipun tentunya saya tau di bawah ada matras, saya sudah tau cara jatuh, dan ada orang-orang di sekitar yang bisa bantuin kalau pun saya cidera. It will be okay, it will be just fine. 

Waktu bisa manjat dan jatuh pada jalur ini.

Tapi.. Ketakutan itu tetap ada di otak saya. Saya tau sih kalau it is totally fine, it is okay to feel afraid. Seperti di kehidupan sehari-hari ya. Kadang kita takut sesuatu, padahal mungkin ketakutan itu bukan hal yang nyata. Mungkin ketakutannya hanya ada di otak kita karena kita ngga terbiasa dengan rasa yang baru. Tetap saja, saya takut. It is what it is.

Sekarang tinggal gimana caranya mengatasi ketakutan yang saya punya. Dalam hal ini, sepertinya rasa ketakutan bisa berkurang kalau saya melakukannya terus menerus. Belajar jatuh terus-terusan. Belajar mengatasi rasa ketakutan dengan cara menghadapinya dengan gagah berani. Mungkin lama-lama saya jadi tau bahwa.. it is okay to fall. I just have to trust my self a little bit more, that I will be okay and I will be safe.

Ya pelan-pelan aja.

Semoga pandemi ini segera berakhir,  saya mau latihan jatuh!


xoxo,

Diny

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *