Belajar tentang Kebakaran di Karyawisata Pertamaku!

, , No Comments
Halo halo,

Beberapa minggu lalu saya diajak karyawisata sama dosen pembimbing. Katanya dia mau kasih lihat vegetasi di sini seperti apa dan penelitian-penelitian yang dilakukan di sini tuh kayak apa aja. Kami bertiga: saya, Pak Guru, dan Kat (rekan seperjuangan), pergi ke hutan pinus ponderosa bekas kebakaran. Lokasinya ngga jauh dari kampus, mungkin hanya sekitar 20 menit perjalanan.

Kebakaran memang sudah menjadi hal rutin yang dialami hutan di daerah Barat Daya (Southwest) Amerika . Dulu setiap 5 tahun sekali bisa terjadi kebakaran. Sampai akhirnya tahun 1910-an pemerintah membuat kebijakan untuk menekan laju kebakaran hutan. Ditambah lagi, mulai banyak pemukiman penduduk yang masuk ke kawasan hutan, sehingga kebakaran-kebakaran kecil berhasil dikurangi.

Ternyata eh ternyata, kebakaran yang dulu biasa terjadi selama 5-10 tahun sekali tuh punya dampak besar bagi ekosistem. Kebakaran bisa membersihkan tumbuhan tingkat bawah dan mencegah akumulasi bahan kebakaran di masa mendatang. Frekuensi kebakaran yang berhasil diturunkan oleh pemerintah, ternyata malah membuat kebakaran semakin parah. Karena ngga ada kebakaran kecil lagi, tumbuhan tingkat bawah bisa tumbuh subur dan menjadi bahan bakar yang sangat banyak buat kebakaran di masa mendatang. Jadilah kebakaran yang terjadi jauh lebih besar dan lebih parah dari kebakaran rutin yang dulu terjadi. 


Ini contoh bekas kebakaran yang saya kunjungi. Kebakaran besar terjadi di tahun 2015 dan membuat banyak pohon-pohon mati tak berbekas. Kini sudah kelihatan tumbuhan pionir seperti rerumputan, semak, dan tunas pohon pinus baru. Kalau kebakarannya besar dan sampai menghabiskan kanopi pohon biasanya disebut crown fire. Biasanya kebakaran crown fire tuh bisa bikin hutan tak bersisa. 





















Hutan di sini memang rentan sekali terjadi kebakaran, terutama di musim panas. Curah hujan yang rendah membuat udara, vegetasi, dan tanah menjadi kering dan mudah terbakar. Foto di atas terlihat ada tiga pohon besar yang terbakar puluhan tahun yang lalu. Pada saat itu, angin berhembus kencang sekali dari arah kiri ke kanan. Akhirnya semua pohon jatuhnya ke sisi kanan. Pohon yang sebesar itu pun akhirnya bisa diluluhkan juga oleh api dan angin. Beberapa puluh tahun kemudian, regenerasi pohon pinus yang lebih muda terlihat mulai bermunculan dan mendominasi kawasan.

Nah, gimana sih cara peneliti tau dulu bisa terjadi kebakaran 5-10 tahun sekali? Mereka pakai ilmu kehutanan yang namanya dendrokronologi. Dendrokronologi itu ilmu yang mempelajari lingkar tahun pada pohon dan digunakan untuk melihat kejadian historis di masa lampau. Dari potongan pohon yang sudah mati, kita bisa melihat luka karena kebakaran (fire scar). Terus si luka itu dihitung terjadinya tahun berapa. Seru banget ya ternyata dari lingkar tahun kita bisa melihat sejarah. Saya baru tau tentang beginian!

Kebetulan pembimbing saya, namanya Peter Fule dipanggilnya Pete, ahli di bidang ini. Jadi dia kalau lagi cerita tuh seru banget. Mana ternyata ilmu tentang lingkar tahun ini pertama kali ditemukan di Arizona. Bener-bener pas banget saya berada di pusatnya. Hahaha. Seru!! 


Pohon pinus yang selamat dari kebakaran, melanjutkan hidupnya sampai beratus-ratus tahun kemudian. Saya juga baru tau ternyata pohon pinus di sini walaupun ukurannya ngga terlalu besar tapi umurnya bisa sampai ratusan tahun. Pohon di atas ini misalnya, diameter sekitar 60 cm, kemungkinan umurnya 500 tahunan. Ciri-ciri pinus Ponderosa yang sudah tua bisa dilihat dari kulit kayunya yang berwarna kejinggaan, hanya sedikit warna cokelat-cokelatnya. Wangi kulit kayunya juga khas, seperti wangi vanila. Kita juga bisa lihat dahan bagian bawah banyak yang patah, akibat kebakaran yang pernah dia alami. Untung dia masih bisa melanjutkan hidup dan tumbuh besar ya.

Selain berkunjung ke hutan bekas kebakaran, saya juga berkunjung ke plot permanen tempat eksperimen managemen hutan. Kampus ku, Northern Arizona University (NAU) bekerja sama dengan USDA Forest Services untuk bikin plot permanen ini. Di lokasi yang saya kunjungi, mereka melakukan penelitian dinamika hutan terutama untuk mengurangi kebakaran hutan besar. Ada tiga plot di sini, pertama plot kontrol, kedua plot vegetasi yang sengaja dibikin kebakaran kecil (prescribed fire), dan plot ketiga yaitu tempat mereka melakukan pemangkasan pohon. 

Sebentar, gimana sih kok mencegah kebakaran tapi malah sengaja ngebakar?? Bingung saya! Ternyata mereka tuh sengaja bikin kebakaran permukaan (surface fire), supaya tumbuhan tingkat bawah (si bahan bakar kebakaran) bisa mati. Biar kalaupun ada kebakaran, ngga terlalu heboh atau besar banget gitu lho. Mereka juga melakukan pemangkasan pohon supaya pohon nya ngga terlalu padat. Ternyata kalau pohonnya terlalu padat juga bikin hutannya rentan kena kebakaran.


Kompleks banget masalah kebakaran di sini. Saya jadi inget di Indonesia, kan juga sering kebakaran ya.. Apa ada kebakaran yang emang bagus buat ekosistem di sana ya? Saya ngga tau. Sebelumnya saya belum pernah belajar tentang kebakaran di Indonesia, jadi belum tau banyak. Sejauh ini yang saya tau, kebanyakan kebakaran besar terjadi di hutan gambut karena apinya ada di bawah permukaan. Tapi kan ada juga masyarakat lokal yang melakukan prescribe fire pada ladang berpindah. Apakah ekosistemnya diuntungkan juga ya sama kebakaran itu? Saya ngga tau euuy. Semoga bisa belajar tentang ini ya tahun depan pas balik ke Indonesia.

Saya seneng banget diajak karyawisata privat sama Pak Guru. Bisa belajar langsung dari ahlinya dan dia nyempetin waktu gitu lho buat ngajarin mahasiswa bimbingannya. Kadang-kadang suka lucu, dia suka ngetes saya tau apa ngga dasar-dasar pengetahuan lapangan atau ekologi, atau apapun. Terus kalau saya ngga tau, ya seperti biasa, saya cengar cengir aja hahahaa. Duh maap Pak, saya ngga pinter-pinter amat hehe. Untungnya dia baik ya, bakal jelasin sejelas-jelasnya kalau saya ada yang ngga ngerti. Lain kali kalau mau diajak karyawisata, saya belajar dulu deh biar ngga malu-maluin hahaha.


Ini dia Pak Guru dan rekan seperjuangan. Semoga bisa belajar lebih banyak lagi di sini.

Salam hangat dari Flagstaff!

0 comments:

Post a Comment