Belajar Pengelolaan Pangan di Desa Boti

Belajar Pengelolaan Pangan di Desa Boti

March 11, 2024

Halo teman-teman,


Lama ngga cerita-cerita di sini nih. Apa kabar?

Aku kali ini mau cerita tentang aktivitias ku bersama teman-teman FINBARGO, anggota dari BEKAL Pemimpin 3.0. Jadi gini ceritanya, aku tahun lalu daftar pelatihan kepemimpinan yang namanya BEKAL Pemimpin. Aku terpilih sebagai salah satu dari 60 orang peserta dari sekitar 600 pendaftar. Pelatihan kepemimpinan ini sebenarnya lebih fokus pada pengenalan diri sendiri sebagai pemimpin yang berkesadaran.

Pelatihan dari BEKAL Pemimpin cukup panjang, sekitar 6 bulan. Sewaktu pelatihan di Bali, kami diajak untuk membentuk kelompok untuk mengimplementasikan pelajaran-pelajaran dari BEKAL. Di sini lah, aku memilih masuk ke dalam kelompok yang membahas tentang pangan lokal. Aku pilih ini karena ingin belajar selain yang aku pelajari di kantor, ingin sesuatu hal yang baru.

Nah, kelompok prototype aku fokus pada kegiatan tentang pangan lokal. Nama kelompoknya adalah FINBARGO yang merupakan singkatan nama-nama para anggota kelompok. Bersama FINBARGO, aku dan teman-teman mulai banyak belajar tentang pangan lokal. BEKAL juga kasih kami kesempatan untuk bisa belajar langsung dari lapangan. Kami mulai dari belajar pengelolaan pangan di Desa Boti, Nusa Tenggara Timur, hingga implementasi kegiatan uji coba bahan ajar tentang pangan yang kami laksanakan di Larantuka, Nusa Tenggara Timur.

FINBARGO tapi kurang 1 anggota yang lagi ngga bisa ikutan.

Perjalanan pertama kali sebagai kelompok FINBARGO adalah ke Desa Boti, Nusa Tenggara Timur. Dalam perjalanan ini, kami mempelajari tentang komunitas Desa Boti yang telah berhasil mengelola lahan untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka memiliki konsep, makan yang ditanam, tanam yang dimakan. Artinya, segala apapun yang kita butuhkan, perlu kita persiapkan. Mereka tidak perlu membeli dari luar, karena bisa menyiapkan bahan pangan sendiri.

Desa Boti ini barangkali salah satu desa terakhir yang masih melakukan pengelolaan lahan secara berkelanjutan. Nilai hidup utama mereka adalah bekerja keras. Mereka menolak bantuan (misalnya bantuan sosial dari pemerintah atau lainnya) karena dengan menerima bantuan tersebut, mereka seperti setuju bahwa mereka miskin. Padahal mereka merasa memiliki berbagai macam kekayaan alam yang mereka butuhkan.



Komunitas Boti memiliki kebun wanalestari yang berisi berbagai jenis tumbuhan sumber pangan. Sang raja mengajak kami, FINBARGO, berkunjung ke kebun wanalestari yang mereka miliki. Kebun wanalestari adalah jenis kebun atau hutan khas Indonesia yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan dari beragam lapisan hutan. Dalam kebun ini, aku melihat tumbuhan pangan seperti singkong, ubi, beras hutan, kemiri, pisang, ketela, kacang, dan lain sebagainya.

Sumber air.

Raja Boti yang saat itu ikut mendampingi kami, tidak hanya tinggal diam. Sebagai raja, pemimpin desa, sang raja pun ikut terjun langsung menggali singkong dan ubi-ubian. Setelah beberapa saat, singkong yang sangat besar pun mulai terlihat. Aku terkesima dan ikut mencoba mengangkat singkong itu.
Dengan pengelolaan lahan yang lestari, Desa Boti mampu mengelola sumber air yang meskipun tetesannya sangat kecil tetapi selalu mengalir. Air yang memberikan penghidupan bagi desa ini. Di luar sana, banyak desa-desa di provinsi Nusa Tenggara Timur yang kekurangan air, tetapi di sini, mereka mampu mengelola air untuk kebutuhan bersama.


Pengelolaan lahan ini juga membuat anak-anak di Desa Boti terpenuhi kebutuhan pangannya. Di dalam komunitas boti, tidak ada anak-anak yang terkena gizi buruk atau stunting. Padahal di desa luar, Desa Boti, termasuk salah satu kawasan yang memiliki jumlah anak bergizi buruk dan stunting tertinggi di Indonesia.

Buat ku, perjalanan kali ini mengingatkan beberapa hal penting dalam kehidupan.

Pertama, kita memang harus bersiap dengan segala kebutuhan yang ada. Bersiap dari jauh-jauh hari, sehingga ketika sesuatu kita butuhkan, kita sudah siap dengan sumber daya yang ada. Di Boti, semua pohon yang ditebang harus memiliki pohon pengganti. Tidak ada pohon yang ditebang tanpa pohon pengganti.
 
Kedua, makan yang ditanam, tanam yang dimakan. Buat ku ini artinya kita perlu sadar dengan apa yang bisa kita usahakan. Menjaga keinginan diri hanya sampai sumber daya yang bisa kita siapkan. Tidak berlebih-lebihan.
 
Ketiga, bekerja keras. Di Boti, seluruh warga memegang nilai utama kerja keras. Kerja keras untuk tidur yang nikmat, makan enak, dan pakaian yang bagus. Kerja keras untuk semua keinginan. Kerja keras hingga kita tidak perlu menanti bantuan. Kalau bisa, kita yang membantu orang lain.

Desa Boti yang rindang.

Aku sendiri masih jauh dari bisa mengimplementasikan ini di kehidupan ku sehari-hari. Sebagai perempuan yang besar di kota, aku terbiasa punya beragam mimpi dan keinginan. Aku berupaya ini dan itu untuk mewujudkan segala keinginanku. Kerja keras ini dan itu memang diperlukan, supaya kita bisa tidur nyenyak, makan enak, dan punya pakaian yang nyaman.

Selain itu, di sini juga pertama kalinya aku makan beberapa makanan lokal. Aku pertama kali makan pisang yang bisa dimakan pakai sambal. Pisang ini digoreng dengan minyak kelapa, sehingga rasa pisangnya seperti pisang butter. Pisang goreng yang gurih dan tidak keras.

Pisang goreng gurih terenak se Indonesia Raya.
 
Aku juga pertama kali makan jagung bose, sebagai pengganti nasi. Aku makan sambal khas dari Boti yang terdiri dari cabai, bawang, serta beberapa daun yang mereka tanam sendiri.

Makan pangan lokal.

Aku tidak punya banyak pengalaman belajar langsung dari warga desa, sehingga pengalaman ini benar-benar menjadi pengalaman yang berharga buat ku.

Pembelajaran dari Desa Boti, kami bagikan untuk teman-teman di BEKAL Pemimpin 3.0 saat acara penutupan kegiatan berlangsung di Jakarta. Aku dan teman-teman FINBARGO mempersiapkan foto-foto dan cerita untuk teman-teman lainnya. Pembelajaran ini juga rencananya akan kami bagikan ke teman-teman lainnya di berbagai daerah.

Kami berharap, pengelolaan pangan lestari bukan hanya bisa diterapkan di Desa Boti, tapi juga diberbagai tempat lainnya. Aku pun mulai belajar makan makanan non-beras.

Proses Menjadi Orang Dewasa

Proses Menjadi Orang Dewasa

January 18, 2024

Haloo, gimana kabar hari mu? Semoga hari mu menyenangkan..

Aku tadi habis konsultasi ke psikiater ku. Terus habis sesi, aku merasa legaaaa..

Aku pertama kali ketemu dokterku ini hampir 5 tahun lalu. Sewaktu merasa butuh bantuan untuk kesehatan mental, aku lekas buat beberapa janji dengan psikiater dan psikolog. Waktu itu, aku baru tau kalau ternyata dapat jadwal sesi dari psikolog/psikiater tuh lumayan ngantri panjang. Setidaknya 2 minggu, tapi banyak juga yang 1 bulan atau bahkan ngga menerima pasien baru (saking penuhnya). 

Awalnya, aku coba ke psikolog, tetapi aku merasa kurang cocok sama psikolognya. Memang psikolog/psikiater itu perlu cocok-cocokan sama kitanya. Nah, psikolog pertama ku usianya jauh lebih tua. Aku sulit merasa nyaman dengan beliau. Akhirnya aku coba ke psikiater dan alhamdulillah cocok. 

Saat aku cocok sama psikiater ku ini, aku lumayan senang cocoknya sama psikiater, dengan harapan siapa tau aku bakal dikasih obat hehehehhehe. Ya gimana ya, aku dulu merasa hidupku pelik sekali. Ku pikir, kalau ada bantuan obat, mungkin aku jalaninnya dengan jauh lebih mudah. Ngga taunya kata dokter, aku belum perlu bantuan obat. Aku juga sempat kira aku tuh pasti banget depresi, ternyata kata dokternya aku ngga tergolong depresi. Ini yang bikin aku jadi yakin, kita memang ngga bisa diagnosa sendiri. Semacam sakit fisik aja, kita perlu bantuan dokter untuk kasih tau perkiraan diagnosisnya.

Pada masa-masa awal terapi, dokterku bilang, aku kesulitan mengelola kedukaan. Kemudian, dokter membantuku mengenali dan memproses perasaan-perasaan yang aku rasakan. Rasanya prosesnya lambat sekali. Aku juga kesulitan merasa sedih (???). Oleh karena itu, di awal, fokusku adalah belajar membiarkan diriku merasa sedih. Baru pelan-pelan belajar mengenali bentuk perasaan lainnya.

Aku pernah beberapa kali sharing tentang apa saja yang ku pelajari dari sesi-sesi bersama dokterku. Kalau mau baca, bisa klik label journal di blog ku ini. 

Dulu, kayaknya aku jarang banget bisa nangis di depan keluarga atau di depan teman. Ya kalau curhat palingan sambil senyam senyum aja. Nah, ruang aman ku ya sama dokterku ini. Meski hidup seperti baik-baik aja, begitu duduk di ruang dokter, kok ya bisa mata langsung berkaca-kaca. Heran banget heran. Sampai sekarang, sesi ku bersama dokter juga tetap menjadi ruang aman untuk menjadi diriku sendiri dengan pikiranku sendiri.

Frekuensi pertemuan ku dengan dokter mulai berubah. Dulu aku rutin sebulan sekali ketemu dokter. Dokterku ngga nyuruh dateng lagi sih. Dia cuma bilang, aku bisa dateng kapan pun aku merasa butuh. Sehubungan dengan bayar dokter lumayan mahal yahhhhh, aku sanggupnya cuma sebulan sekali. hehehe

Ketika aku sudah bisa menggunakan metode-metode yang membantuku mengelola perasaan dan pikiranku, aku mulai mengurangi frekuensi ketemu dokter. Jadi tiga bulan sekali, enam bulan sekali, lalu 2 tahun lalu mulai setahun sekali aja untuk 'check up'.

Namuuunnnn.. Sungguh ku tak sangka-sangka, pertengahan tahun lalu aku terpicu oleh suatu kondisi baru. Ku ngga sangka, ternyata aku cukup terdampak oleh kejadian itu. Langsunglah aku konsultasi dengan dokterku. Dan, selesai konsultasi, dokter minta aku datang 3 bulan lagi hehehhehehe. Inilah pertama kali dokterku nyuruh aku datang dengan spesifik kasih jeda waktu, 3 bulan.

Akhirnya hari itu tiba. Aku ketemu dokter lagi, setelah hampir 5 bulan dari pertemuan terakhir. Sempat aku tunda, karena saat 3 bulan jadwal ketemu dokter, aku masih belum selesai berpikir dan menentukan pilihan.

Hari ini aku ketemu dokterku dan aku lega sekali sehabis sesi hari ini selesai. Aku bisa melihat diriku mengalami kemajuan signifikan dibandingkan dengan kondisiku beberapa tahun lalu. Aku sekarang cenderung lebih tenang menghadapi fenomena-fenomena kehidupan. Aku sudah membangun sistem pendukung dari beberapa lini. Juga aku lebih mudah meminta dan menerima pertolongan dari teman-teman atau keluarga.

Permasalahanku sekarang adalah.. aku sering kali ngga percaya dengan pendapatku sendiri. Aku sering merasa perlu kata-kata validasi dari orang. Ya, validasi itu kadang diperlukan, tapi aku sudah bisa berpikir mandiri. 

Sungguh, terngiang di kepala ku kata-kata dari dokter:

"emang ngga cukup kalau itu datangnya dari dirimu sendiri, bukan dari orang lain?"

"emang siapa yang menentukan benar atau salah? orang lain?"

duaar!

Ya masih PR, ngga papa. Pelan-pelan aku belajar.

Aku hari ini juga belajar, kadang kondisi gundah gulana itu memang diperlukan. Itu respon tubuh yang memberikan kita waktu untuk mempertanyakan apa yang benar-benar kita inginkan.

Jadi, tenang Din, merasa gundah itu bukan berarti aku ngulang dari 0 jaman dahulu kala lagi kok. Itu respon tubuh yang wajar. Kita bisa melihat sesuatu dengan perspektif berbeda yang lebih luas dan komprehensif. Kita juga bisa tetap baik kepada diri sendiri, ngga dikit-dikit mengadili diri sendiri. 

Aku ingin mengatakan kepada diriku sendiri.. Selamat menjadi orang dewasa. Sebagai orang dewasa, kita tau ngga semua yang kita inginkan akan menjadi realita dan itu ngga papa banget. Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk diri kita.

Selamat mengelola diri dengan lebih bijak. Selamat memberikan pertolongan yang kita butuhkan. Semoga masa kini dan masa depan, Tuhan memberikan aku dan kamu ketenangan serta kebijakan dalam menghadapi dunia yang fana ini.


Peluk erat,

Diny

Rambut Panjang Ku

Rambut Panjang Ku

January 17, 2024

Aku belakangan ini senang deh soalnya rambutku sudah panjang dan kali ini rambutku ngga mudah patah.

Dulu-dulu tuh rambut ku panjang sedikit jadi sering patah atau rontok. Rumahku jadi isinya rambut semua. Rambut patah di mana-mana.

Aku cobain rambut panjang pas masa pandemi. Ternyata aku suka rambut panjang gini.
Aku kan pernah rutin pakai kerudung. Waktu pakai kerudung itu aku kesulitan sekali jaga rambut. Sering rambutku masih lembab, terus sudah aku tutup. Rambutku juga hampir selalu dikuncir kencang. Aku pun jarang perawatan rambut. Akibatnya, rambutku cenderung sedikit dan mudah patah.

Sekarang, rambutku sudah lebih sehat. Memang prosesnya agak panjang juga sih.. Ada beberapa hal yang belakangan ini baru ku ketahui soal merawat rambut.

Kalau pas kerudungan kan rambut kayak gimana pun, tinggal tutup kerudung aja, beres. Ngga perlu ditata rapi banget. Palingan dikuncir atau pakai bandana.

Saat aku baru lepas kerudung, rambutku kelihatan banget tipis dan sedikitnya. Aku pun masih adaptasi mengurus rambut. Aku makin sadar kalau, ternyata punya rambut tuh harus rutin disisir biar rapi. Haha ngga heran rambutku dulu sering banget awut-awutan. Yaa orang aku sering malas menyisir rambut.

Waktu pandemi, aku sempat manjangin rambut. Rambutnya panjang sih panjang, tapi banyak rambut patahnya dimana-mana. Aku mesti lebih rajin sapu lantai jadinya. Riweuh. Meski, di masa-masa ini, aku makin suka punya rambut agak panjang.

Rambut pendek dan berponi gini mungkin lebih mencerminkan karakterku yang aktif dan ceria.
Sejak rambut agak panjang ini, aku dapat kesadaran baru. Rambut panjang itu potong rambutnya ngga bisa asal. Perlu potong rambut yang rapi dan cocok dengan bentuk muka, serta membuat kita nyaman. Well, bisa aja sih kalau mau modelnya gitu aja dan potong sendiri. Tapi ternyata, buat aku, kalau potongan rambut ku bagus, aku merasa muka ku jadi lebih cantik.

Aku awalnya agak kesulitan cari penata rambut yang cocok. Sampai akhirnya aku random ke salon, random potong rambut, eeh ternyata bagus cocok di aku. Semenjak itu sampai sekarang, aku selalu potong di sana dan dengan penata rambut yang sama.

Aku suka ngobrol sama penata rambutku ini. Kata dia, kalau mau cepat tumbuh panjang, rambutnya perlu 'rajin' di trim. Asupan makanan bergizi juga penting supaya rambutnya sehat. Seru juga sih punya langganan penata rambut gini.

Oiya, awal tahun 2023 lalu, aku ngobrol dengan temanku yang orang Bali. Rambut dia hitam, panjang, tebal, terlihat mudah diatur. Ternyata dia rutin pakai minyak rambut sejak kecil. Sepertinya ini cukup umum untuk para perempuan Bali ya. Dia biasanya pakai minyak rambut buatan ibunya sendiri. Aku akhirnya minta tolong dia supaya bisa beli sebotol pas Ibunya lagi bikinin minyak rambut.

Mulailah tahun lalu aku lumayan rutin pakai minyak rambut. Kadang seminggu sekali, kadang seminggu dua kali. Minyak rambut ala Bali ini isinya minyak kemiri, minyak kelapa, dan berbagai rempah lain (aku ngga tau). Mungkin ini yang dinamakan minyak cemceman.. Wanginya memang kuat dan khas. Kalau habis pakai minyak rambut, aku harus keramas fokus di akar rambut sampai dua kali (double cleansing), supaya bersih dan tidak berketombe.

Selain minyak Bali ini, aku beli minyak kemiri kemasan di toko. Ternyata enak wanginya. Aku ngga tau seampuh apa minyak ini. Ku tetap usaha saja.

Kata penata rambutku, minyak rambut tradisional biasanya ampuh untuk jangka panjang. Artinya, kalau aku mulai rutin dari sekarang, mungkin baru kelihatan saat aku umur 40an, rambutku masih hitam, minim uban, dan lebat. Tapi ya itu.. mesti rajin dan rutin.

Kadang kalau malas pakai minyak rambut, aku pakai masker rambut (hair mask) Makarizo. Aku suka wanginya yang wangi kiwi. Dulu tuh aku suka hair mask di salon, pakai Makarizo wangi cokelat. Sayangnya, yang wangi cokelat itu tidak ada di swalayan.

Oiya, aku sekarang ngga keramas setiap hari. Aku keramas dua hari sekali. Awalnya, rambut ku lepek sekali kalau ngga keramas setiap hari. Sekarang, sepertinya rambutku sudah beradaptasi dengan frekuensi keramasku. Malah hari kedua kadang lebih bagus jatuhnya. Meski kadang aku catok sedikit agar rambutku terlihat lebih rapi.

Selain itu, aku mengurangi pemakaian kuncir rambut. Aku lebih suka pakai jepit rambut saja. Katanya sih, kunciran kadang terlalu kencang dan membuat kulit kepala ketarik terus. Selain itu, keseringan dikuncir kencang bisa membuat rambut mudah patah. Aku coba nurut saja, siapa tau rambutku jadi lurus rapi meski ngga ku catok.

Sekarang ini, aku cukup senang dengan kemajuan rambutku. Rambutku panjang, helaian rambutnya banyak, dan tidak mudah patah. Aku ngga tau pasti, upaya mana yang memberi dampak paling besar. Ku rasa mesti kombinasi semua deh.

Selanjutnya, mungkin aku akan coba pakai minyak rambut yang spray untuk mengurangi frizzy hair. Tapi untuk sementara, aku mau menikmati perawatan rutin yang ku pakai sekarang saja dulu deh. 

Semoga rambut ku dan rambutmu semakin sehat. Helaiannya kuat, mudah diatur sesuka kita, dan membuat hati kita senang.


Salam kibas rambut hahaha,

Diny

Melihat Mitigasi Erupsi Gunung di Islandia

Melihat Mitigasi Erupsi Gunung di Islandia

January 16, 2024

Semalam aku kesulitan tidur. Aku baca berita tentang gunung meletus di Islandia, kemudian terpana melihat foto-foto dan video yang ada. Hari ini agak sulit tidur juga karena masih penasaran. Ku pikir-pikir, lebih baik sekalian saja ku tuliskan hasil pembelajaranku ini.

Di Islandia, saat ini sedang ada erupsi gunung berapi yang sudah mencapai kawasan pemukiman. Islandia adalah negara kepulauan di sebelah timur Greenland. Pulau Islandia ini berada di tengah-tengah dua lempengan tektonik bumi, lempengan tektonik Amerika Utara dan Eurasia.

Salah satu akun Youtube yang sering live tentang ini adalah Youtube nya Pak Isak 

Dua lempengan bumi yang ada di Islandia ini saling menjauhi satu sama lain. Yang satu ke timur dan satu lagi ke barat. Karena masing-masing saling memisahkan diri, artinya kan ada ruang kosong di antaranya ya? Nah, ruang kosong ini akhirnya terisi oleh magma dan lava. Kalau akhirnya lava ini mengering, ruang kosong yang terisi itulah yang akan menjadi daratan baru.

Sejak Oktober lalu, Kota Grindavik, kota yang terletak di wilayah timur Islandia, mengalami gempa bumi terus menerus. Guncangannya tidak besar, tapi frekuensinya sering sekali. Di akhir tahun 2023 itulah para peneliti dan pengambil kebijakan berkumpul untuk membuat strategi mitigasi dan membahas apa kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Para peneliti giat bahu membahu mengumpulkan data dari aktivitas gempa bumi (seismicity), mengambil data lapangan dengan GPS, gambar citra digital, dan membuat modeling untuk memperkirakan skenario-skenario yang akan terjadi di sana. 

Oleh karena peningkatan aktivitas gunung terus terjadi, pada awal November, pemerintah lokal mulai memperingatkan masyarakat tentang bahaya letusan gunung ini. 

Mulai pertengahan Desember, letusan gunung terjadi. Kalau kita membayangkan gunung meletus, mungkin kita langsung terbayang letusan gunung berapi di Indonesia yang bentuknya seperti emoji yang ada pada layar keyboard ponsel. Gunung berbentuk kerucut, kemudian puncaknya mengeluarkan asap dan lava panas.

Nah, berbeda dengan di Indonesia, di Kota Grindavik, Islandia ini gunungnya ada di bawah tanah. Di atas tanah, letusan membentuk retakan kulit bumi. Pada pertengahan Desember ini, letusan gunung masih berada di sekitar titik letusan saja.

Namun, pada tanggal 14 Januari kemarin, mulailah terjadi keretakan yang cukup signifikan. Ujung retakannya, hanya berjarak kurang dari 1 km dari Kota Grindavik.

Aku takjub melihat banyak foto dan video bagus yang meliput erupsi gunung ini. Ada yang pakai CCTV live bisa kita saksikan di Youtube. Ada rekaman dari helikopter. Ada peneliti yang menerbangkan drone ke daerah berlava, sambil menjelaskan kepada penonton live di Youtube. Beberapa akun X pun ikut meliput kejadian luar biasa ini.

Buat ku, sepertinya ini pertama kali aku lihat liputan erupsi gunung yang komprehensif.

Peta mitigasi bencana erupsi gunung di Grindavik, Islandia. Garis merah menerangkan torehan bumi, garis putus-putus adalah garis anti-lava wall, dan warna ungu memperlihatkan aliran lava terkini. (Sumber peta: Kantor Meterologi Islandia)

Ini pertama kalinya juga aku tau yang namanya anti-lava wall. Anti-lava wall di Grindavik mulai dibangun dengan gigih sejak pertengahan November. Tanggul anti lava tingginya sekitar 4 meter. 

Dari petanya, terlihat anti-lava wall berhasil mengurangi kecepatan lava, membelokkan aliran lava, serta memperlambat laju lava.

Aku juga takjub sama kecepatan Kantor Meterologi Islandia memperbarui informasi terkini. Di websitenya, ada update per kegiatan penting. Kadang sehari bisa dua tiga kali. Peta zonasi bahaya pun tersedia. Masyarakat tau peneliti sedang mengerjakan apa, bagaimana, serta masyarakat juga bisa tau apa saja yang sedang pemerintah lakukan.

Saat tingkat bahaya semakin tinggi, masyarakat Grindavik kembali diperingatkan untuk mengungsi, hari Senin tanggal 15 Januari. Ternyata eh ternyata, ada kerak baru yang sangat dekat dengan kota, cuma berjarak 400 meter. Masyarakat perlu mengungsi satu hari lebih cepat dari rencana pemerintah.

Lava mengarah ke kota, para pekerja kontraktor yang membuat anti-lava wall pun ngebut sekali untuk menyelamatkan diri dan menyelamatkan alat-alat berat yang mereka pakai untuk membuat anti-lava wall.

Lagi-lagi aku terpana lihat foto dan videonya. Menyeramkan tapi juga menakjubkan. Jenis lava di sana memang cenderung kental, jadi pergerakan lavanya relatif lambat.

Aku semalam mantengin live video dan baca berbagai penjelasannya lewat X, makanya aku tidurnya kemalaman nih hehhee.

Hari ini alhamdulillah katanya aktivitas lava mulai berkurang. Sudah ngga meletup-letup lagi. Namunnnn.. bahaya kemungkinan akan ada retakan bumi lagi masih sangat tinggi. Dann, mereka ngga tau itu retakan buminya bakal ada di mana. Sulit untuk bisa diprediksi. Serem.

Baca lebih detail di website Icelandic Meteorological Office 

Kemarin sudah ada 3 rumah yang terbakar kena lava. Hari ini sudah ada fotonya, lava yang membeku dan jalan raya yang koyak kena panas lava. Sungguh benar-benar era informasi begitu cepatnya.

Situasi letusan gunung api di Islandia masih sangat dinamis. Para peneliti masih mengulik dan mengkombinasikan berbagai data untuk memperkirakan skenario di masa depan.

Aku berada di bangku penonton, dari jauh melihat mereka bekerja.

Disassociation

Disassociation

January 14, 2024

I went to a mall with my friends today. I saw a household goods store and suddenly had a realization. 

I used to like these things. I used to like grocery shopping, looking for household goods, choosing what's good for my home. And then, somehow I stopped liking those things after a huge heart break a couple years ago. I've been associating household activities with things that shattered my life.

My friend told me, some people like to remain living in the past because we are used to it. We are used to the sorrow and anger, so we remain here. Some other people even deliberately choosing decisions that contribute to their own unhappiness.

And then, here come rising my questions: am I staying in the past? Why am I so angry about some part of my life? Nobody preventing me for being a loving individual self who likes taking care of a household.

I realized I've been so angry about things in the past that don't suit me anymore in the present. 

If it's only being with me, is it not a good enough reason to take care of the house? Is it not a good enough reason to trust my own judgement? What am I angry for?

I remember the first time I stopped praying. It was when I felt so angry with god. I assumed, He took something that I thought was my biggest sources of happiness. I used to pray for very reason that it became an automatic thing I couldn't disassociate it with. So, I stopped religiously praying. 

Now, I feel like, it is so stupid. I actually and definitely able to make a new association easily. These associations are only on my head. I don't have to stuck with it. I can make a new association with my realities.

How on earth I thought I couldn't disassociate buying household goods and praying to God with things in the past? It sounds so silly. I am a person of my own. I can do it.

idk man. Maybe I've been doing great with all these associations. Maybe it's normal to associate things with other things or with our experiences. Maybe it is all are only data points. What are we going to do with it?

Jalan Pagi di Fort Canning Park

Jalan Pagi di Fort Canning Park

January 12, 2024
Halooooo..

Sebelumnya, terima kasih banyak untuk para pembaca yang suka mampir ke blog aku dan baca cerita-cerita ku. Aku senang sekali dapat pesan dan info kalau tulisanku ada yang baca hehe. Terima kasih sudah mampir dan baca yaa!

Aku mau cerita jalan-jalan lagii.. Kali ini aku cerita perjalanan saat aku main ke Singapura awal tahun 2023. Aku main ke Singapura selama empat hari tiga malam. Tujuan utamanya, aku mau pertama kali nonton nonton konser. Tujuan lainnya, aku ingin jalan-jalan ke taman-taman yang ada di Singapura.


Cerita kali ini adalah cerita dari taman yang paling aku suka yaitu taman Fort Canning. Aku ke sana di hari terakhir perjalanan ke Singapura. Nah.. Aku tau tempatnya sebenarnya dari temanku yang juga main ke sana bareng aku. Tapi akhirnya temanku ngga jadi mau ikut ke taman, dia mau belanja oleh-oleh saja. Ya sudah aku pergi sendiri saja..

Taman Fort Canning terletak di perbukitan yang dulunya adalah tempat pertahanan Singapura. Dari sinilah Kerajaan Melayu dan tentara Inggris memimpin pulau Singapura, mempertahankannya dari serangan penjajah Jepang. Di taman ini, kita bisa melihat banyak artefak dan tempat historis, seperti meriam, gerbang benteng, bunker, gedung barak, dan lain sebagainya. Sekarang, taman seluas 19 hektar ini bisa dinikmati warga lokal dan turis secara gratis, serta menjadi salah satu lokasi historis di Singapura.

Saat aku ke Taman Fort Canning, aku melihat banyak warga lokal memanfaatkan taman untuk olahraga. Ada yang lari, ada orang tua dan lansia yang olahraga dalam grup, juga keluarga dan anak-anak berlarian di taman. Banyak pula turis-turis yang main ke sana.

Aku ke taman ini pagi-pagi sekali, berangkat dari hotel sekitar jam 6. Aku jalan kaki dari hotel soalnya hotel tempat ku menginap relatif dekat dari taman Fort Canning, hanya 20 menit jalan kaki.

Begitu sampai, aku langsung menuju spot foto yang sangat terkenal yang disebut The Fort Canning Tree Tunnel. Di sini, kita bisa berfoto di tangga dengan pemandangan pohon dan langit biru. Dari bawah, kita bisa lihat pohon trembesi yang sudah tumbuh menjulang rindang.


Pohon trembesi sebenarnya berasal dari Amerika Selatan. Namun, pohon trembesi sering digunakan untuk penghijauan di taman-taman kota. Pohon trembesi memang mudah tumbuh, pohonnya bisa mencapai ketinggian 30 meter. Kanopi pohonnya khas melebar, yang cocok memberikan kerindangan di taman atau di pinggir jalan.

Pohon trembesi termasuk pohon kacang-kacangan. Daunnya khas, daun kecil-kecil yang akan membuka di pagi dan siang hari, lalu menutup di malam hari. Kalau daunnya sudah menguning, daun-daun kecilnya akan berguguran. Mungkin karena itulah pohon trembesi juga sering disebut sebagai pohon hujan (kihujan; rain tree).


Pagi itu, taman masih terlihat relatif sepi. Namun ternyata, spot foto yang terkenal ini sudah banyak peminatnya. Sudah ada antrian untuk berfoto di tempat yang cantik. Oleh karena aku perginya sendirian, jadi malas ikut mengantri. Aku hanya foto tempatnya dan jalur masuknya yang juga cantik.

Setelah foto-foto di Fort Canning Tree Tunnel, aku mulai keliling taman.

Menurut ku, taman ini cantik sekali. Kombinasi antara wisata sejarah dan wisata alam. Banyak pohon-pohonan yang sudah rindang, lumut dan paku pun banyak tersebar di seluruh sisi. Di sana ada taman tematik seperti taman rempah dan lain-lain.

Kalau aku, paling suka lihat Hotel Fort Canning. Gedung yang dulunya kantor administrasi tentara Inggris, kini telah menjadi hotel butik yang cukup mewah. Gedungnya gagah dengan warna putih yang kontras dengan dedaunan di sekitarnya. Ciri khas gedung lama di Singapura.



Selain itu, aku suka Fort Gate atau pintu benteng. Pintu benteng ini dikelilingi oleh pohon-pohon yang tinggi. Aku suka sekali lihatnya.



Selain itu, ada juga kuburan lama. Kuburan ini adalah kuburan kristen pertama yang mulai digunakan tahun 1820an.


Buat ku, taman rapi yang rindang dan bersih seperti ini sangat menarik untuk istirahat dari hiruk pikuk perkotaan. Semoga di Jakarta makin banyak taman rindang yang bisa kita nikmati bersama.

Demikian cerita ku hari ini. Sampai jumpa besok!


Diny

Akhirnya Donor Darah Lagi

Akhirnya Donor Darah Lagi

January 11, 2024
Kamu pernah donor darah nggaaa?
Aku hari ini habis donor darah. Trus habis itu aku hampir pingsan wkwkwkwk

Donor darah sebenarnya bukan hal baru buat ku. Aku pertama kali donor darah tahun 2008, waktu itu diajakin guru ku untuk ramai-ramai donor darah di PMI Kramat Jati. Waktu itu, donor darah dijadikan semacam sedekah, lalu kami berdoa bareng supaya lulus ujian masuk universitas.

Aku habis donor darah, masih senyum-senyum aja nih mbak..

Di tahun 2008 itu, aku donor darah 2x. Habis itu aku ngga bisa donor darah lagi karena berat badanku selalu di bawah 45 kg. Hehehe aku dulu kurus banget!

Aku baru gemukan lagi setelah pulang sekolah master di tahun 2019. Ngga lama setelah pulang, aku pun mulai donor darah lagi. Waktu itu berat badan relatif aman dan hidup ku lebih sehat, biasanya aman-aman aja habis donor darah sehat-sehat aja.

Pernah aku donor darah di RS Fatmawati pas bulan puasa. Ibunya temanku perlu operasi dan perlu mencari donor pengganti darah. Aku tentu saja daftar, karena kebetulan bisa. Tetapi waktu itu aku terlalu sombong!! huh. Sudah lah puasa, sore-sorenya ikut kelas roller skate 2,5 jam, makan sedikit, langsung ke RS. Di RS langsung donor darah. Habis donor darah, aku pingsan dan muntah hehehehe ujungnya malah ngerepotin temenku buat anterin pulang naik taksi.

Semenjak kejadian itu, aku agak-agak grogi setiap mau donor darah. Biasanya aku pastikan cukup tidur, banyak minum air putih, dan sarapan dulu. 
Pagi ini pun aku sudah cukup tidur. 

Tapiiiii aku lupa minum air putih banyak, serta cuma sarapan sosis dan es cokelat FamilyMart saja. Hehehe bener deh.. pas donor darah aman aja. Ngga lama kemudian aku berasa hampir pingsan. Aku langsung merapat ke tempat tidur, tiduran, mengatur napas, minta tolong petugasnya minta teh manis, hehehhehehehehe untungnya kali ini ngga sampai pingsan dan muntah. Bisa dibilang aman lah.

Oiya, jadi donor darah itu ada beberapa macam. Donor darah yang umum itu whole blood alias semua bagian darah diambil dan apheresis yaitu hanya trombositnya yang diambil. Aku cuma bisa donor darah whole blood, soalnya apheresis itu beratnya minimal 60 kg kalau ngga salah. Padahal donor apheresis ini bagus banget. Banyak penderita kanker yang membutuhkan tranfusi trombosit dan pendonor apheresis relatif lebih sedikit.

Kalau whole blood darah yang diambil juga sedikit kok, hanya 350 ml. Ibaratnya sekantung darah itu ya isinya ya segelas aja.

Tata caranya.. Sebelum donor darah, kita perlu mengisi pendaftaran. Lalu ada pemeriksaan awal, seperti pemeriksaan golongan darah, Hb, dan berat badan. Kalau ketiga itu aman, kita akan diperiksa oleh dokter untuk cek tensi darah dan ditanya-tanya. 

Untungnya aku hari ini tensinya bagus, soalnya aku sering tensi rendah trus ga bisa donor. 

Habis donor, tangan ditinggiin.
Pas tadi aku lemes hampir pingsan itu, aku disamperin dokter. Terus ditanya-tanya. Ternyata oh ternyata, ada kemungkinan aku ada permasalahan pencernaan. Dokternya bilang, masalah pencernaan itu bukan hanya kalau ada gejala maag atau sakit perut, tapi bisa aja gejala lainnya. 

Nah aku tuh selama pakai jam tangan yang bisa deteksi denyut jantung, aku sadar ternyata kalau pagi-pagi detak jantung aku bisa tinggi banget sekitar 90-120an. Ku pikir ini karena aku cemas (anxious). Kata dokternya, bisa aja ini karena masalah pencernaan apalagi aku ngga pup setiap hari. Bahkan cemas juga bisa menjadi penanda masalah itu.

Akhirnya dokternya menantang aku untuk memperbaiki pola makan. Harus makan sayur secara rutin. Pencernaan itu adalah dapur dari badan kita. Sumber pengolahan energi. Harus dijaga supaya sehat terus.

Aku tuh terharu juga sama perjumpaan ku dengan dokter pagi ini. Karena aku memang jarang makan sayur terus aku banyak alasan banget! Hehehe. Aku bingung kenapa detak jantung aku pagi-pagi bisa tiba-tiba tinggi dan hari ini dokternya kasih aku kemungkinan jawaban yang masuk akal.

Semoga habis ini aku tobat dan mau konsisten makan yang sehat dan teratur. Supaya aku bisa kuat menjalani aktivitas ku yang segambreng yaa..

Kamu jangan lupa jaga kesehatan, jaga pola makan, pola tidur, dan pola olahraga. Kata coach olahragaku, olahraga adalah bagian paling gampang karena hanya satu jam dalam sehari. Yang susah itu jaga makan dan tidur, jadi jangan lupa urusin bagian itu juga!

Oiya, ayooo donor daraaah! Bisa di PMI terdekat atau rumah sakit yang punya unit tranfusi darah. Kalau takut, bisa minta temani teman supaya saling kasih support.


Salam sehat,
Diny

Glamping di Situ Gunung

Glamping di Situ Gunung

January 09, 2024
Halooooo! Hari ke-delapan 30 Hari Bercerita. Aku baru mulai nulis jam 8 malam ehehehee.

Aku hari ini mau cerita perjalanan ke Situ Gunung, Jawa Barat!


Menurut aku, Situ Gunung tuh relatif enak banget deh. Ngga terlalu jauh dari Jakarta. Kalau mau naik angkutan umum masih memungkinkan, karena ada kereta dari Stasiun Paledang, Bogor sampai Stasiun Cisaat. Dari situ bisa naik gocar atau ojek.

Kalau aku waktu itu naik motor dari rumah ku hahahahha nekaaad. Dari rumahku, kami menuju Bogor dulu untuk sarapan. Kami mampir sarapan di Kedai Kita, tempat makan favorit ku di Bogor, soalnya bisa makan bakmie trus makan pizza enak.

Dari Bogor kami menuju Situ Gunung, kayaknya perjalanan 3 jam an deh. Ya Allah punggung aku berasa banget sih pegelnya.. Untungnya aku lagi ngga rewel wkwkwkwk. Di Situ Gunung, kami menginap di Tanakita, tempat glamping yang dekat banget dengan pintu masuk Situ Gunung.

Sampai di Tanakita sekitar jam 2 siang, lalu ngga lama tim Tanakita menyiapkan makan siang mewah. Banyak banget porsinya dan semua enak. Sampai bingung ngabisinnya. 

Makan siang di Tanakita

Tenda di Tanakita bisa untuk 3 orang.

Selepas makan, kami istirahat sebentar di tenda. Lalu pergi ke Danau Situ Gunung. Di tengah Danau Situ Gunung ini ada kafe yang menyiapkan beanbag. Kami duduk di situ sambil lihat pemandangan. Saking cuaca enak dingin, angin sepoy-sepoy, dan kami lelah, kami ngga sengaja terlelap doong di situ ada kali sekitar 1 jam. Kebangun saat ada pengunjung lain yang lewat hahahha lawak banget ya ampun.

Dari danau ini pemandangannya hutan damar, mirip-mirip kayak hutan pinus.. Damar ini pasti ditanam, soalnya pohon damar kan aslinya ada di Sulawesi dan Maluku. Kita juga bisa lihat di sana pohon damar rapi berjejer, seperti pola tanam. Kalau ku baca-baca, pohon damar di sana ditanam sekitar tahun 1940an oleh Perhutani. Pohon damar memang cukup umum ditanam di daerah Jawa Barat. Kalau kamu ke Bandung, kamu juga bisa lihat pohon damar di mana-mana. Mungkin dulu banyak ditanam sama Belanda kali ya?

Pemandangan dari Danau Situ Gunung

Kawasan Situ Gunung itu adalah bagian dari zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Pangrango. Kita masih bisa lihat beberapa primata, tapi yang paling sering adalah lutung jawa.

Habis dari Danau Situ Gunung, kami balik ke Tanakita. Mandi dan makan malam. Makan malamnya enak banget, model prasmanan dan Tanakita pun telah menyiapkan live music serta api unggun. Padahal waktu itu pengunjungnya sepertinya cuma 3-4 grup deh.

Habis makan, kami diajak tim Tanakita untuk eksplorasi malam, mencari kunang-kunang dan jamur glow in the dark. Eksplorasi ini deket aja dari tenda, mungkin jalan kaki hanya sekitar 10 menitan. Aku senang sekali bisa lihat dan pegang kunang-kunang. Aku ngga tau nginap di Tanakita ada bonus eksplorasi malam gini, seru banget hahaha. 

Tidur malam di tenda Tanakita tuh enak banget ya. Sudah ada kasur, seprai, sleeping bag, lampu, dan colokan listrik. Di depan tenda ada teras kecil dan jemuran. Aku tidur pules banget hahaha. Udara juga ngga terlalu dingin, tapi juga ngga panas.

Situasi di Tanakita

Paginya, kami lekas-lekas sarapan lalu pergi ke jembatan Situ Gunung. Loket pembelian tiketnya ada di arah danau. Mereka menawarkan 3 paket, jauh, sedang, dan dekat. kalau ga salah per orang 150,000 sudah termasuk ojek, untuk perjalanan yang menengah. 

Aku rekomendasikan banget ke sana pagi-pagi banget biar ngga terlalu ramai. Kami sampai di jembatan sekitar jam 8 dan masih bagus banget mataharinya. Ngga terlalu ramai juga. Kabarnya jembatan ini termasuk yang terpanjang di Asia Tenggara. Dari jembatan, kita bisa melihat hutan hujan tropis. Kalau ku lihat sih sebagian besar sudah berbentuk hutan kebun ya, campuran antara damar, puspa, dan rasamala.

Hutan hujan tropis

Setelah lewatin jembatan pertama aku sempet ngobrol-ngobrol sama bapak petugas di sana. Dia cerita tentang pohon puspa yang sedang berbunga. Dia juga kasih tau aku jenis-jenis pohon yang ada di sana. Aku selalu senang sekali deh bagian ngobrol-ngobrol kayak gini.

Trekking di Situ Gunung sudah enak bangeet. Jalurnya rapi, ada pos-pos warung atau restauran, bahkan ada suling dan musik sunda juga di jalur setapaknya. Buat jalan-jalan bareng keluarga cocok banget deh.

Suasana trekking di Situ Gunung.

Tempat main di sungai!

Habis dari jembatan, kami menuju Curug Sawer. Aku tentu saja main air, mandi di sungai yang airnya dingin dan jernih. Benar-benar menyegarkan!

Selepas main air, kami kembali ke Tanakita. Kami lewat jalan setapak dan jembatan gantung merah. Jembatan yang ini lebih pendek dibandingkan dengan jembatan pertama tadi.

Jembatan merah yang lebih pendek tapi pemandangannya oke banget

Aku waktu itu balik ke Tanakita sekitar jam 1.30 siang. Kami langsung bebersih, packing, dan makan siang. Namuuun.. Sebelum pulang kami ketemu sama owner Tanakita dan ngobrol-brol-brol.. Dari yang tadinya mau balik jam 2, malahan balik jam 4 wkwkwkwkwk.

Sampai Jakarta sudah malam dan letih, tapi aku tidak rewel dong! Hahahaa pinter!

Baiklah, sekian cerita ku hari ini. Mohon maaf ngga banyak riset tambahannya dan ceritanya ngebut. Mungkin di lain kesempatan aku edit ulang dengan tambahkan info-info baru. Tapi ngga usah janji-janji palsu gini deh Din. Ini aja udah bagus. Wakakakaka (malah ngomong sendiri).


Sampai jumpa besok!
Diny

Blabbering

Blabbering

January 07, 2024

Hello yellow marshmallow,

Today I don't feel like I want to write something for the 30 Hari Bercerita, but here I am showing up writing.

I spent the day at home doing home stuff. And every time I am just staying home and didn't talk to anyone (other than buy some stuff in warung), at the end of the day, I feel so tired. Just like today.. It is Sunday night and I am feeling tired after no social life for a day. 

I was once read a book Quite that pretty much explains about how introverted works. I do think they are really really powerful. They can just stay home doing home stuff and happy. That's a simple thing to feel happy. On the other side, me, need some kind of social interaction, every day. I need talking or being with others like me needing to eat and drink water, I need it to regulate my body and soul. Well.

***

Oh, it is also a new year! The first week of 2024. How exciting! I like January. January always feels slow. We get rain here and there, so the weather is also nice.

I usually have end of the year reflection talks with my folks. Last year I didn't do it with my folks, but I did it my self. Only in my mind. I don't talk about it or write it on a blog post. I wanted to be that way this year, but I don't know I probably will change my mind and proceed to write it down.

2023 was a bit weird. I got many new friends and experiences. I went to cool and far places. I travel quite a lot! I feel steady. A lot of my days are predictable and mostly fun. 

***

You know I did a lot of healing in the past years. Of course, me being me, every year evaluate how far this process has been helping me. I mean it has been really helpful, but can you really really sure?

And the easiest way to test that is by being in a close relationship - especially romantic relationship. And then you know which slice of life still triggers you and which part can turns you to a bitter version of your self. It actually a really good way to make a progress, I can heal continuously in a safe environment. 

I have been a person who put romantic relationship as a biggest value point in my life. That if I don't have it right as I wanted to, I feel like a failure. I talked to my good friend about it and also to my therapist (ofc!). It's ok if I want to put it as a big value to feel fulfilled, but what if I don't have it? Will I decide to be unhappy about life in general or will I take a different approach?

There are two options, it's either I need find the person I can be in a relationship with, or I can change my focus. Diny, does it really really has to be having a romantic relationship? Maybe not, maybe yes. I kind a want it but also it is just so much work, I don't really want it. So, it is confusing. I feel like I think too much about my self and wishing I can be thinking about anything else, probably thinking about saving the world instead. Like doing real stuff, instead of thinking about my complicated love life. 

***

Ah, talking about the session with my shrink, I have been feel like I am all healing shit and then boom! I had a tiny test last year that felt so big and make me confused. I talked to my therapist. 

After the session, she asked me to come there more often. Wow that's new. Not annual visit anymore, but probably on the next three months. So that, she can help me navigate these whole situations. 

Since the first time I met her, she always said I can go whenever I need it. She never asked me to come. Only if I feel like I need it. And for the past two year, I only did annual talk with her (which she approved - annual check is a good plan). 

And then, after the last session last year…… she wanted me to come more often. Am I stepping backwards?? Am I trembling? Did I have been choosing the bad things for my self? ugh.

So apparently the trigger last year wasn't small at all then. I had plenty of related dreams as well. Well, I only had dream if I thought/felt too much about something, so maybe there was something. Ugh.

My therapist said I don't have to be panic, all I had was a new situation. For that, I didn't know what I wanted to do, and that's normal to don't know things. Well, she remind me some methods that was helpful for me. I actually did. And it took a couple months to really really know what I wanted to do with the new situation and what I really wanted. 

I mean, if I can wish about something this year is to be able to trust my own thought. I always need my therapist to confirmed or some how verified my steps. My therapist said I don't have to put her as a way of verification, I can trust me. I mean.. can I?? Sometimes I feel like I keep choosing bad stuff for my self, but probably that is not true. I've been good and doing great. I don't know. So maybe, a little more trust my own decision this year?

***

I'm sorry I am just blabbering today. No travel stories and no plants stories. Can you text me and tell me you've read it?

I'll see you around.


Diny

Wae Rebo yang Syahdu

Wae Rebo yang Syahdu

January 03, 2024
Haaii..

Pagi ini Jakarta hujan rintik-rintik.. Rasanya enak sekali tidur-tiduran di kasur. Namun aku harus ke kantor karena kemarin laptop ku tinggal di kantor hehehe.

Aku hari ini mau lanjutin cerita jalan-jalan ke Wae Rebo. 


Aku ke sana sama dua temanku. Satu, sebagai lulusan antropologi, dia sudah ingin sekali ke sana sejak jaman kuliah. Kabarnya, pergi ke Wae Rebo itu semacam 'pergi haji'nya anak antrop. Apa iya?

Temanku yang satu lagi, semangat pergi ke sana karena mumpung ada temannya. Dia sudah sering pergi melanglang buana di Indonesia. Sekarang, agak susah dapat teman jalan bareng, makanya dia senang aku dan temanku mau ikutan ke Wae Rebo.


Perjalanan dari Labuan Bajo ke desa terdekat Wae Rebo sekitar 4 jam. Kami ke sana dengan sewa mobil dengan supir yang handal. Jalanannya sih sebagian besar sudah bagus, tetapi ada bagian jalan yang sudah ambrol. Hampir sepanjang jalan, ngga ada lampunya, kecuali dari rumah-rumah yang cukup jauh jaraknya.

Sempat ada bagian jalan yang ambrol. Itu jalanan di atas sungai kecil. Sebelah kanannya pantai. Artinya jalanannya itu bebatuan besar, agak basah, dan ada pasir-pasirnya. Liciiin.

Mobil kami sempat selip. Aku jujur degdegan dan baca doa terus. Ban mobil bagian kiri selip. Batu-batu yang disusun oleh Pak Supir di situ pun tidak mampu membantu mobil melintasi jalanan. Kami berusaha beberapa kali, tapi belum juga berhasil.

Hampir 30 menit kemudian, ada senter dari bukit di sisi sungai. Alhamdulillah ada satu warga lokal yang menghampiri kami. Bapak warlok ini kasih tau itu sisi kanan mobil juga perlu dikasih batu. Baru lah Pak Supir mengisi bebatuan di bawah ban dan mobil akhirnya bisa melaju.

Pemandangan dari penginapan. Terlihat Pulau Mules di ujung sana.
Kami akhirnya menuju penginapan. Makan indomie pakai telur (ini penting). Tidur. Besok paginya kami menuju warung terdekat. Naik ojek ke pintu depan Wae Rebo.

Dari pintu depan ke Wae Rebo bisa jalan kaki sekitar 2 jam. Jalanan relatif menanjak dan berbatu. Menurut ku relatif mudah untuk pendaki pemula. Kami pun jalannya santai saja. Kalau lelah ya istirahat.

Di perjalanan aku senang sekali bisa melihat banyak anggrek hutan dan tumbuhan-tumbuhan rindang. Lumut dan tumbuhan paku. Pohon-pohon rindang.

Sambil melihat anggrek hutan.
Di perjalanan kami juga melihat banyak warga lokal ke Wae Rebo. Soalnya lagi mau ada acara tahunan. Orang-orang banyak yang bawa bahan makanan, ayam hidup, dan ada yang bawa babi lucu banget masih kecil.

Sampai di Wae Rebo, masih agak siang, kami jadi orang pertama yang sampai sana di hari itu. Kami menuju rumah kepala desa, setelah selesai baru ke penginapan. Tak lupa, kami jajan kain dan kaos untuk oleh-oleh. Ngobrol sama pemuda-pemuda Wae Rebo di kantor mereka.



Kami baru tau ternyata asal usul Wae Rebo ini tuh dari suku minang yang merantau dan menetap di situ. Temanku yang orang minang langsung semangat banget mendengarkan ceritanya.

Ngga lama, kami iseng jalan-jalan ke air terjun. Air terjun ini agak jauh, jalannya aja satu jam. Air terjunnya juga relatif kecil. Menurut ku capeknya aja sih ke sana tuh. Tapi sudah terlanjur di jalan. Ya sudah dilanjut saja. 



Di perjalanan menuju air terjun, kami melihat kebun warga. Ada vanili. Ada markisa. Ada pula berbagai tanaman yang ditanam dengan konsep hutan kebun (agroforestry).

Setelah selesai main di air terjun, kami kembali ke penginapan. Mandi. Lalu menikmati sore. Menurut ku, kegiatan wajib di Wae Rebo itu memang diam saja sambil bengong melihat desa. Melihat langit. Melihat anjing berlarian riang. Anak-anak keliling desa.

Di malam hari kami menonton warga latihan memainkan musik untuk persiapan hari festival. Benar-benar pengalaman tak terduga.

Latihan musik untuk festival.
Paginya, aku bangun jam 5 untuk melihat matahari pagi. Walau ternyata bangun jam 5 itu ngga cukup pagi, mungkin bagusnya jam 4.30. Aku suka sekali pagi hari di Wae Rebo. Tenang, syahdu, romantis.

Ngga lama kemudian, kami beberes, sarapan, dan foto-foto. Kenang-kenangan dari Wae Rebo.


Aku difotoin kakak fotografer yang kebetulan ketemu waktu di Wae Rebo.

Pulangnya, kami kembali jalan kaki pulang dari Wae Rebo. Minum kelapa hijau di dekat pintu keluar. Sebuah penutupan yang pas.

Sekian cerita dari Wae Rebo. Terima kasih sudah membaca ya. Mohon maaf ceritanya agak buru-buru hahaha. 


Diny

Berenang di Gua Rangko

Berenang di Gua Rangko

January 02, 2024
Halo!

Selamat hari pertama kerja di tahun 2024!

Hari ini aku ke kantor, lalu pulang kantor aku mau gym dulu. Pagi-pagi aku sudah kepikiran kapan aku sempat menulis. Akhirnya aku cicil saja tulisan ini saat aku di kereta perjalanan menuju kantor.


Hari ini tadinya aku mau cerita tentang perjalanan menyenangkan tahun ini ke Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur. Namun ternyata, baru cerita tentang Gua Rangko sebelum ke Wae Rebo aja sudah kepanjangan.. Jadi ini aku cerita tentang Gua Rangko dulu deh.

Ide perjalanan ke Wae Rebo ini dimulai saat kantor ku punya rencana untuk field trip ke Labuan Bajo. Ku pikir, jauh-jauh ke sana, sayang banget kalau hanya sebentar. Akhirnya aku extent perjalanan dan berangkat duluan untuk trip ke Wae Rebo.



Aku juga ngga ada kepikiran mau ke Gua Rangko. Rencananya, dari bandara, kami mau langsung pergi ke Wae Rebo. Kami pesan penerbangan pertama, kalau tidak salah jam 4 pagi. Ternyata pas sudah di bandara, kami baru tau kalau jadwal pesawat kami dipindah ke jadwal yang lebih siang di jam 6 pagi.

Oleh karena perjalanan ke Wae Rebo itu cukup panjang, perpindahan jadwal pesawat ini artinya kami ngga bisa langsung naik ke Wae Rebo hari itu juga. Akhirnya kami menikmati waktu di sekitar Labuan Bajo dahulu dan memutuskan untuk ke Gua Rangko.

Aku yang ngga persiapan apapun, ngga tau tentang gua ini.
Pelabuhan
Ternyata ke Gua Rangko perlu naik perahu dulu. Kami sewa perahu Rp100,000 per orang. Agak mahal, soalnya kami bukan naik dari pelabuhan yang umum. Kalau di pelabuhan umum kabarnya hanya sekitar Rp35,000 deh.

Dari pelabuhan ke gua, kami naik perahu sekitar 15 menit. Air lautnya sangat jernih, dari mulai di pelabuhan, aku sudah bisa melihat ikan-ikan kecil berenang. Di perjalanan kami melihat pemandangan gundukan batu karang yang diselimuti pepohonan pantai.

Ikan-ikan di sekitar pelabuhan.
Aku juga bisa melihat ekosistem padang lamun. Kalau kamu belum kebayang, ekosistem lamun itu semacam nama lain dari ganggang atau alga yang berukuran besar. Beberapa jenis ganggang laut bisa dikonsumsi seperti dedaunan yang biasa dimakan untuk sup miso atau dikeringkan jadi nori untuk makanan Jepang.

Ekosistem ganggang adalah ekosistem yang sangat penting. Ekosistem inilah yang membantu mengurangi gelombang ombak. Lamun juga tempat tinggal banyak ikan dan hewan laut lainnya. Lamun juga sumber makanan banyak hewan laut, bahkan di tempat lain ini makanan favorit dugong. Yaa tapi di Labuan Bajo ngga ada dugong juga sih haha.
lamun
Oke, lanjut. Nah, gua ini ternyata ada kolamnya haha. Aku ganti baju renang, lalu sewa kacamata snorkeling. Soalnya aku belum percaya diri berenang tanpa kacamata.

Saat masuk ke dalam Gua Rangko, aku takjub. Di dalam gua itu ada air yang sangat jernih. Kita pun bisa melihat keindahan formasi batu kapur di atas-atas gua yang disebut stalaktit.

Kabarnya, gua ini terbentuk dari kikisan air hujan selama ratusan tahun. Kalau ku bayangkan, berarti mungkin airnya jatuh dari stalaktit itu ya? Entahlah. Aku coba cari penelitian yang membahas proses pembentukan gua ini tetapi belum ketemu.

Oiya, kolamnya lumayan dalam, mungkin 5-6 meter? Aku degdegan sekali berenang di sana hahaha. Meski aku sudah bisa berenang, aku belum pernah berenang di tempat yang dalam.

Teman ku cukup berani berenang sampai pinggir-pinggir yang gelap. Aku maksimal berenang sampai tengah saja. Kalau bisa yang ngga terlalu jauh dari jangkauan tangan pegang ke stalaktit hahaha.

Jujur, benar-benar degdegan berenang di sini.


Aku difotoin temanku tapi bluuuuuurrr
Kabarnya gua ini akan semakin indah saat matahari mulai masuk di antara mulut gua. Cahaya nya akan berpendar, menerangi air di gua yang sangat jernih itu. Sayangnya, aku tidak di sana sampai sore, saat matahari sore mulai masuk. Lagipula, semakin sore sepertinya semakin ramai?

Selesai berenang di gua, kami main dulu di pantai sebentar. Haduh, pasir pantainya halus sekali. Ombaknya tipis-tipis saja dan airnya tidak dalam. Di tepi pantai ada ayunan yang cantik sekali.



Main sebentar saja tapi rasanya senang deh. Aku makasi banget ke temanku yang tau-tauan tempat ini, jadi aku bisa main di sana.

Anyway, selamat tahun baru. Semoga kamu selalu sehat dan semakin sering berbahagia ya.


Diny

Search This Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *