Tips Belajar IELTS

Tips Belajar IELTS

June 10, 2017
Designed by : Photoroyalty / Freepik
Buat kamu yang mau melanjutkan studi ke luar negeri, hal utama yang wajib segera dimiliki adalah sertifikat kemampuan Bahasa Inggris. Syarat ini biasanya yang paling pertama dilihat oleh universitas atau pemberi beasiswa. Makanya mesti dipersiapkan dengan maksimal.

Ada dua ujian yang umum digunakan: IELTS dan TOEFL iBT. Saya sebenernya kurang tau perbedaan signifikan antara IELTS dan TOEFL. Yang saya tau, kalau IELTS dibuat oleh Inggris, sedangkan TOEFL dibuat oleh Amerika. Biasanya universitas-universitas di Amerika lebih suka menggunakan TOEFL, meskipun sekarang juga sudah banyak universitas di Amerika yang bisa pakai IELTS.

Saya sendiri waktu itu pilih IELTS karena ikut-ikutan teman-teman belajar saya. Hehehe. 

Kalau kamu mau belajar IELTS juga, saya ada beberapa tips yang mungkin bisa dicoba.

Cari tau tentang IELTS
Kita bisa tanya teman yang sudah pernah ujian atau bisa juga cari di youtube tentang apa sih sebenarnya IELTS itu. Apa saja yang diujikan. Berapa lama waktu ujiannya. Bentuk soal seperti apa. Biar kebayang kira-kira apa aja yang mesti kita pelajarin.

Buku panduan
Di internet banyak banget buku latihan soal IELTS. Saya sendiri pakai buku latihan Cambridge. Saya punya sampai sembilan buku. Jangan lupa cari yang ada latihan listening nya.

Daftar Ujian
Supaya semangat belajarnya, daftar dulu aja ujiannya! Kalau belajar doang tanpa daftar, rasanya bikin kita nunda-nunda belajar terus. Kalau sudah daftar biasanya lebih semangat dan ada rasa 'sayang uangnya' kalau hasil ujiannya jelek. Minimal 2-3 bulan ke depan, jadi ada waktu belajar yang cukup dan ada deadline yang pasti. Bisa daftar di British Council, IALF, atau IDP. Kalau saya tes di British Council, karena mereka biasanya menyelenggarakan ujian di hotel jadi meja yang dipakai meja panjang. Lega buat nulis-nulis.

Les
Kalau kebetulan ada uang lebih, bisa ikutan les. Buat saya, les ngga perlu yang mahal banget. Les yang relatif murah dan gurunya lumyan enak juga ada kok, seperti di LBI UI. Dulu 2015 harganya 1,3 juta (sekarang sudah naik jadi 1,6 juta) udah dapet buku panduan, di tempat les lain harganya bisa berkali-kali lipat. Di tempat les ini, umumnya kita hanya belajar strategi menjawab soal, latihan soal, dan sebagainya. Tapi les ngga akan banyak pengaruhnya kalau kita ngga belajar sendiri. Kalau dana terbatas, maksimalkan belajar sendiri aja.

Online course
Buat yang ngga bisa les, kita bisa maksimalkan ilmu dari internet yang gratis. Saya dapat tips ini dari Mita, dia sangat merekomendasikan ikut online course dari Edx. Kata Mita, "Interaktif banget dan tipsnya detil. Jenis latiannya juga banyak. Enaknya selain gratis sih laju kelasnya self paced, jadinya terserah mau belajarnya kapan aja.". Cuuuss langsung enroll sekaraang!

Jadwal Belajar
Belajar yang efektif itu biasanya yang sering latihan soal. Saya sendiri gini jadwalnya:
Pekan pertama - ketiga:
     Senin - listening
     Selasa - reading
     Rabu - speaking
     Kamis - writing
     Sabtu Minggu - try out
Pekan keempat:
     Try out

Jadwal ini cukup efektif buat saya. Minimal banget, dua jam di weekday dan dua kali TO di hari Sabtu dan Minggu. Kalau jam belajar ini bener-bener efektif, insya Allah skor akan meningkat.

Jangan lupa, ketika belajar mesti latihan juga alokasi waktu. Pakai jam tangan. Pastikan waktu yang tersedia sudah sesuai dengan waku ujian.

Catat perkembangan nilai kamu, dari yang pertama kali banget nilainya mungkin ngga terlalu bagus. Sampai menjelang hari H. Perkembangan nilai ini bikin kamu lebih ngeh sama peningkatan kemampuan kamu.

Latihan spesifik setiap section:
Di luar waktu belajar wajib, kita bisa tambahkan belajar di waktu senggang. Misalnya sambil perjalanan menuju kantor atau nunggu makan siang datang. Yaa sesempetnya aja..

Listening 
  • Selain latihan soal-soal IELTS, bisa juga ditambahkan dengan dengar podcast. Download aja podcast nya, lalu kita dengarkan saat kita dalam perjalanan. Di kereta, busway, mobil, atau kapanpun sesempatnya kita. Ngga usah banyak-banyak juga ngga papa, yang penting rutin. Setiap hari dengerin orang cas cis cus pakai bahasa inggris. Lumayan banget loh bikin kuping kita terbiasa dengar orang ngomong pakai bahasa inggris. Saya biasanya denger di Serial dan This American Life.
  • Soal-soal IELTS itu ada pola nya. Jadi semakin banyak kamu latihan dengan menggunakan soal-soal IELTS, pasti lama-lama kita jadi tau kapan jawaban akan disebutkan oleh speakers.
  • Jangan meremehkan listening. Walaupun kesannya lebih gampang dibandingkan dengan yang lain. Listening ini ladang nilai. Kalau bisa, usahakan banget bisa dapet sebagus-bagusnya. Tenang aja, dengan banyaknya frekuensi latihan, insya Allah bakal bisa dapat nilai lebih bagus.
Reading
  • Kadang kita merasa baca soal dulu, akan membuat lebih cepat menjawab. Ternyata ngga juga. Kalau baca soal duluan, kita malah jadi fokus ke mencari jawaban, bukan ke mengerti isi artikel. Ujung-ujungnya bolak balik baca artikelnya tapi ngga ngerti-ngerti. Usahakan baca artikel dulu, baru jawab soal.
  • Saat pertama kali baca artikel, coba usahakan langsung cari inti paragrafnya dan tandai. Dengan meningkatnya frekuensi dan kualitas belajar, kamu akan butuh waktu lebih singkat untuk mencari inti paragraf ini. 
  • Inti paragraf yang sudah ditandai ini akan memudahkan kita mencari jawaban. Kita bisa kebayang kira-kira dimana posisi informasi tersebut di dalam artikel. Tapi saya sendiri ngga mencoret-coret buku latihan saya, saya buat catatan nya di kertas coret-coretan. Soalnya saya ingin pakai buku latihan itu berkali-kali. Kalau sudah kotor dengan coretan, ngga bisa dipakai lagi.
Writing
Oke, ini yang menurut saya paling susah. Bahkan nilai saya pun masih jelek di bagian ini.
  • Kita mesti sering baca contoh jawaban yang dapet nilai 8-9. Perhatikan cara membuat paragraf. Gimana cara menghubungkan paragraf yang satu dan lainnya. Cari contoh jawaban ini tinggal googling aja kok
  • Dari contoh jawaban itu, kita bisa buat daftar kata yang bisa dipakai. Kata-kata penghubung (misalnya however, therefore, moreover, dll). Coba hapalkan kata-kata itu dan pakai di kalimat yang kita tulis. Coba lihat di sini, di sini  beberapa contoh kata.
  • Dalam writing, sangat penting untuk menggunakan beberapa padanan kata dan tidak mengulangi kata yang sama berulang-ulang. Ini namanya parafrase. Ada banyak kata yang cukup umum di soal-soal IELTS, misalnya consumption, expense, increase, decrease, dan lain sebagainya. Kalau bingung, cari sinonim kata di Thesaurus.
  • Cari temen yang bisa bantu periksain. Kadang kalau udah hopeless, kita tuh suka ngga tau gimana cara meningkatkan kualitas tulisan. Jangan takut buat minta tolong ke orang yang udah lebih jago. Tanya dan minta tolong untuk cek hasil latihan kamu. Tanya kira-kira bagian mana dari tulisan kamu yang bisa ditingkatkan.
Speaking
  • Print atau unduh daftar pertanyaan umum. Latihan nanya sendiri dan jawab sendiri. Dulu saya latihan speaking setiap dibonceng suami naik motor, pasti ngoceh-ngoceh sendiri sepanjang jalan.
  • Cari temen orang luar negeri. Kebetulan waktu itu supervisor saya orang Amerika, jadi mau ngga mau mesti ngomong sama dia. Ini sangat membantu untuk bikin kita PD ngomong. Entah kenapa kalau ngomongnya sama bule, saya lebih PD dibandingkan dengan ngomong ke orang Indonesia. Grammar belakangan aja. Yang penting dia ngerti apa yang kita ucapkan dan kita berani untuk mencoba ngomong. 
  • Nonton video contoh orang ujian speaking. Di Youtube ada banyak video contoh peserta yang dapat nilai bagus (band 7-9). Tonton dan perhatikan bagaimana mereka menjawab pertanyaan yang diajukan assessor.
  • Perhatikan cara kita menjawab. Kesalahan utama saya waktu ujian adalah terbiasa jawab kayak ngobrol biasa. Padahal saat ujian, jawaban kita benar-benar dilihat pemilihan kata, struktur kalimat, dan cara menjawab, bukan seperti ngobrol biasa. 
Inti dari segala inti nya..
Latihan, latihan, dan latihan
Ngga ada cara lain yang akan membuat kita bisa selain latihan. Coba. Usaha dulu. Usaha terus. Insya Allah akan ada perbaikan nilai asal cara belajar kita bener.

***

Semangat ya!! Saya pertama kali belajar IETLS, nilai semua section itu antara 4 - 5 doang loh. Ancur banget kan. Hehehe. Cuma seiring dengan meningkatnya frekuensi latihan dan belajar, lama-lama naik juga nilainya. Terakhir overall score 7. 

Kamu pasti bisa jauh lebih baik dari ku!!

Baca juga: Cita-cita yang tertunda

Cita-cita yang tertunda

Cita-cita yang tertunda

June 05, 2017
Design by : Creativeart / Freepik
Sejak memutuskan untuk menikah di usia muda, saya berjanji pada diri sendiri untuk tetap menjaga cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya tau, pernikahan mungkin saja menjadi faktor yang menyebabkan saya ngga bisa berkomitmen atas cita-cita itu. Apalagi saya kepengen banget kuliah di luar negeri, yang tentunya lebih banyak pertimbangannya. Bisa saja setelah menikah, saya malah nyaman jadi ibu rumah tangga, ngga berkarir di bidang yang saat ini sedang dijalani, punya kewajiban yang ngga bisa ditinggal, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Setelah menikah, benar aja, saya jadi ogah-ogahan persiapan kuliah di luar negeri. Nikah itu enak coy, bisa deket terus sama orang yang kita sayang. Pacaran. Belajar banyak hal baru. Sedangkan, kalau kuliah di luar negeri terus mesti LDR gimanaa. Padahal lagi seneng-seneng nya jadi pengantin baru! Itu pikiran saya di awal pernikahan.

Baca juga: Saya Pasca Menikah

Untungnya, suami saya ternyata sangat mendukung cita-cita ini. Malah dia yang lebih semangat. Dia ngga pernah bosen untuk nagih janji. Kapan kamu mau kuliah? Kapan daftar beasiswa? Kapan tes IELTS? Kapan ini? Kapan itu? Saya juga sempet nawar, kuliah di Indonesia ajalah.. di UI atau UGM juga bagus kok. Tetoot. Ga boleh. Janji tetaplah janji. Saya sampe heran sebenernya yang mau kuliah itu saya apa dia sih kok dia yang rempsss. Hahahaa.

Di tahun pertama pernikahan, saya masih agak malas-malasan persiapan kuliah, karena bener-bener lagi seneng jadi pengantin baru. Baru di tahun kedua saya gerilya. Saya mulai belajar, ikutan tes, dan daftar beasiswa. Sayangnya, mungkin karena kurang berusaha maksimal, saya gagal dalam semua beasiswa yang saya coba. Sedih juga rasanya. Apalagi hampir semua temen yang sama-sama berjuang, berhasil dapat beasiswanya dan berangkat kuliah tahun lalu. Banyak banget temen yang hanya perlu sekali tes atau daftar beasiswa, eeh langsung dapet. Bikin ngerasa paling bodoh sendiri gitu kaan.

Baca juga : Our Dream Come True

Kharissa (kanan) dan Gerry (kiri), dua orang pertama yang ngajakin saya belajar bareng IELTS.
Ternyata, Tuhan berkehendak lain, pada tahun kedua kami diberi kesempatan untuk punya rumah sendiri. Alhamdulillah! Mungkin itu kenapa saya ngga dapet beasiswa, supaya bisa ngerasain senengnya tinggal di rumah sendiri, berkebun, hias-hias rumah, dan tinggal di tempat yang nyaman. Yeay!

Baru akhirnya awal tahun 2017 saya berjuang maksimal untuk daftar beasiswa lagi. Kebetulan pas banget di kantor, proyek yang dipegang sejak dua tahun terakhir sudah selesai jadi bisa fokus ke persiapan sekolah. Saya daftar di dua lembaga beasiswa, yang pertama Stuned. Stuned udah jadi inceran banget! Saya udah dua kali daftar ke Wageningen University, Belanda dan dua-duanya keterima. Tapi ngga dapet-dapet beasiswanya. Tahun lalu coba pakai beasiswa LPDP, gagal. Tahun ini penasaran banget coba pakai Stuned, kali aja dapet kan yaa.. Eh sayangnya gagal juga. Sedih. Hahaha.

Beasiswa kedua, namanya CIFOR/USAID Fellowship. Beasiswa CIFOR/USAID Fellowship ini menurut saya cukup keren dan kesempatannya besar, karena khusus untuk S2 di bidang kehutanan. Beasiswa ini juga hanya bekerjasama dengan empat universitas US yang relatif bagus di bidang kehutanan, yaitu University of  Yale, University of Florida, Northern Arizona University (NAU), dan Missouri University (MU). Tahun lalu saya sudah pernah coba daftar, tapi ngga diterima, hiks. Akhirnya tahun ini saya maksimalkan sesi interview, sampai-sampai bikin buku portofolio wkwkwk. Yang penting usaha mah maksimal kaan, daripada gagal lagi terus nyesel kenapa ngga maksimal.

Alhamdulillah saya keterima di NAU dan MU tetapi akhirnya memutuskan untuk pilih NAU. Insya Allah (kalau visa lolos) saya akan berangkat bulan Agustus 2017. Yeaay!

Selama ini saya selalu underestimate diri sendiri. Keseringan bandingin diri sendiri dengan orang lain, akhirnya ngga percaya diri. Untungnya mas suami selalu semangatin dan mendorong terus supaya saya bisa lebih berani. Waktu saya sempet drama nangis-nangis bilang saya ngga sepintar itu, jadi jangan berharap ketinggian (iya, saya emang anaknya lebay). Dia bilang, yang penting kamu usaha dulu maksimal, coba dulu, mulai saat ini ngga boleh bilang ngga bisa sebelum nyoba. Cita-cita harus diperjuangkan.

I am so lucky to have him!

Dari proses mencari beasiswa ini saya jadi belajar untuk mengenali kemampuan diri sendiri dan seperti kata Mirza, ngga boleh nyerah sebelum mencoba. Mungkin di luar sana ada orang yang luar biasa pinter, cerdas, dan beruntung banget, sekali daftar beasiswa langsung dapet. Atau mungkin aja orang-orang keliatannya selow, padahal sebenernya belajar melulu. Orang beda-beda banget. Dan saya sadar, otak saya pas pas an, jadi kerja mesti dua kali lipat lebih keras dan lebih rajin.

Terus, kalau memang keinginan belum terwujud, sabar aja.. Selow.. Mungkin emang belum waktunya dan lagi mau dikasih sesuatu yang lain yang lebih baik. Insya Allah apapun itu, akan ada jalannya, walau berliku-liku dan tanjakan terus. Insya Allah, kalau Allah mengizinkan, akan sampai di tujuan.

Jadi, semangat terus!!!!!!!

Search This Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *