Ikutan Tantangan Membaca Buku #BeresinTBR

Ikutan Tantangan Membaca Buku #BeresinTBR

November 14, 2020

Halo halo!

Apa kabar? Semoga selalu sehat yaa.

Kemarin, seorang teman bernama Raafi sempat berbagi tentang tantangan #BeresinTBR. Awalnya saya sempat bingung, TBR itu apa? Maklum, belum pernah baca-baca soal 'membaca buku' jadi ngga kenal dengan istilah-istilahnya.

Ternyata, TBR adalah To Be Read. Sebuah daftar buku yang ingin dibaca.

#BeresinTBR sendiri adalah sebuah tantangan membaca buku yang digagas oleh Ikram (@gildedwolvs). Ikram punya tumpukan buku yang belum selesai dia baca. Lalu Ikram menantang dirinya sendiri dan mengajak semuanya untuk ikutan #BeresinTBR. Tantangan #BeresinTBR fokus untuk menghabiskan bacaan yang sudah sejak lama ingin dibaca, tapi belum sempat atau belum selesai dibaca. Kamu bisa membaca penjelasan lebih lanjut soal #BeresinTBR di notion yang dibuat Ikram.

Nah, menyambut tahun baru 2021, saya jadi tertarik untuk ikutan tantangan #BeresinTBR. Saya memilih beberapa buku yang sudah ada di lemari buku tapi belum sempat dibaca terus. Beberapa buku juga sudah ada yang mulai dibaca, tapi belum selesai.

Target #BeresinTBR Diny:

  • Membaca buku fisik yang belum sempat dibaca. Total 4 buku fisik.
  • Membaca buku fisik yang belum selesai dibaca. Total 1 ebook dan 3 buku fisik.
Daftar buku:
  1. Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones. Buku genre self-help karya James Clear.
  2. Nonviolent Communication. Buku genre self-help karya Marshall Rosenberg.
  3. Sewindu di Jogja. Buku genre non-fiction karya Alam S. Anggara.
  4. Do Unto Animals. Buku genre non-fiction, karya Tracey Stewart.
  5. The Story of Life - Evolution. Buku genre non-fiction, karya Katie Scott dan Fiona Munro.
  6. Why We Sleep. Buku genre science, karya Matthew Walker.
  7. The Field-Book of a Jungle-Wallah. Buku genre history, karya Charles Hose.
  8. The Lost Words. Buku genre poetry, karya Robert Macfarlane.
Total ada 8 buku yang ingin saya selesaikan hingga akhir 2020.

Kalau sedang sempat, mungkin saya akan mengulasnya di blog ini atau di goodreads. Mungkin. Belum pasti yaa. Kalau sempat saja. Hahaha.

Semoga saya berhasil menyelesaikan tantangan #BeresinTBR.

Semangat!

Adaptasi atau Mati

Adaptasi atau Mati

November 03, 2020

Saya saat sedang pusing memutuskan membeli tanaman jenis baru atau berkompromi dengan keadaan

Sudah dua bulan terakhir saya tinggal di tempat tinggal yang baru. Tempat tinggal baru saya ini, relatif berbeda dengan tempat tinggal saya sebelumnya. 

Di tempat tinggal sebelumnya, ada bagian garasi yang tertutupi atap. Bagian rumah tersebut, saya jadikan tempat untuk berkebun. Dulu saya pikir, lokasi tersebut cocok sekali untuk tanaman yang habitat aslinya di lantai hutan. Tanaman yang suka kerindangan, tidak terkena air hujan langsung, serta relatif lembab.  Oleh karena itu, saya menanam tanaman-tanaman daun seperti calathea, monstera, dan berbagai tumbuhan lantai hutan lainnya. 

Tanaman saya pun cukup senang dengan kondisi tersebut. Mereka tumbuh dengan subur dan relatif cepat. Seorang penjual tanaman langganan saya bahkan memberikan komplemen karena saya berhasil menanam beberapa jenis tanaman dengan cantik dan tanpa ada bagian kering di tepi daunnya. 

Sayangnya, saya tidak bisa tinggal di sana lagi. Saya harus berpindah ke tempat tinggal baru. Tempat tinggal baru saya ini, relatif berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya. Di sini, tidak ada garasi tertutup, sehingga tidak ada bagian yang selalu rindang. Bagian depan rumah, yang dapat saya jadikan tempat berkebun, ternyata selalu terkena sinar matahari sore. Udaranya pun relatif lebih kering dan panas. Kondisi yang tidak ideal untuk tanaman-tanaman yang saya punya.

Sebelum memutuskan pindah ke sini, jujur saya ngga yakin. Tanaman saya pasti ngga suka dengan kondisi itu. Dan saya pun awalnya kurang suka dengan semua perubahan yang ada ini. Namun saya pikir, yang namanya manusia dan tanaman pasti bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru.

Beberapa pekan pertama di tempat baru, tanaman-tanaman saya 'ngambek' karena tidak suka dengan kondisi yang baru. Daun-daun mereka agak mengering dan tidak ada daun baru yang tumbuh. Saya berusaha berkompromi dengan situasi lalu berupaya membuat kondisi lingkungan yang lebih optimal untuk tanaman tersebut. Saya membeli tanaman baru yang punya daun besar. Tanaman berdaun besar ini bisa memberikan naungan terhadap tanaman saya yang lainnya. Saya juga harus lebih sering menyiram tanaman agar tanaman tersebut selalu lembab.

Bunga mawar yang lebih sering berbunga di tempat baru

Sebenarnya, kondisi lingkungan di tempat tinggal baru ini cocok sekali untuk tanaman bunga. Tanaman bunga relatif lebih memerlukan sinar matahari penuh serta banyak terkena air hujan. Kondisi yang sangat ideal. Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya harus mengganti koleksi tanaman dengan tanaman yang cocok situasinya dengan situasi sekarang? Apakah saya harus mengganti banyak hal dengan sesuatu yang bisa tumbuh lebih optimal dengan kondisi yang baru?

Saya juga jadi menyadari beberapa hal. Ternyata, tanaman-tanaman dan juga saya, butuh waktu untuk bisa beradaptasi di tempat yang baru dengan kondisi yang baru. Ternyata, kalau kita berada di kondisi lingkungan yang optimal, kita bisa bertumbuh lebih cepat dan lebih subur, seperti tanaman daun saya di rumah lama dan tanaman bunga di rumah baru. Mereka punya kebutuhan yang berbeda. Bila memaksa untuk tumbuh di lingkungan yang sama, mungkin salah satunya tidak bisa berkembang dengan optimal.

Situasi ini membuat saya berpikir bahwa bisa jadi selama ini, kita tumbuh di kondisi lingkungan yang tidak terlalu ideal untuk kita sendiri. Oleh karena tumbuh di tempat yang tidak ideal, kita butuh banyak berkompromi, dengan menciptakan kerindangan-kerindangan yang dibutuhkan. Namun ketika kita berada di kondisi yang cukup ideal dan cocok dengan kebutuhan yang kita miliki, mungkin kita bisa tumbuh lebih subur tanpa usaha yang berarti. Tumbuh dengan lebih cepat, lebih rindang, lebih sering berbunga, dan lebih berbahagia.

Sedikit banyak, kita punya kuasa untuk memilih kondisi mana yang kita inginkan dalam hidup kita. Bahkan jika situasi tidak ideal, lalu hidup sudah memilihkan jalan untuk kita, ya tidak ada salahnya untuk terus berusaha beradaptasi.

Manusia makhluk yang mudah beradaptasi. Kita punya kekuatan untuk bisa memilih dan menjalani pilihan dengan sepenuh hati.

Selamat bertumbuh.

Search This Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *