Hiking ke Air Terjun Cibereum

Hiking ke Air Terjun Cibereum

April 18, 2021

Mari kita cerita-cerita tentang salah satu jalan-jalan singkat yang saya suka. Sekitar 1,5 tahun lalu di bulan Agustus 2019, saya pergi ke Air Terjun Cibereum bersama seorang teman yang datang dari Amerika.

Kami berdua sama-sama kuliah jurusan kehutanan. Bedanya, saya di Northern Arizona, dia di Yale. Saya pertama kali ketemu dia waktu ikut konferensi di New Mexico, Amerika Serikat. Itu kali pertama saya datang ke konferensi di luar negeri. Saya masih kikuk berjejaring ke para peneliti di sana. Waktu itu, sebagai sesama mahasiswa, kami berkenalan. Ada beberapa orang dari Yale dan kami sempat saling menonton presentasi masing-masing. Seingat saya, kami tidak terlalu banyak ngobol saat itu. Tetapi setahun kemudian, saya pergi ke konferensi di Yale dan sempat ketemu lagi dengan dia dan beberapa teman dari Yale di sana.

Waktu dia mau datang ke Indonesia, dia kontak saya dan teman-teman Indonesia lainnya. Langsung saja saya ajak dia jalan-jalan di sekitaran Jakarta, seperti ke museum atau tempat lainnya. Lalu dia bilang ingin lihat hutan hujan tropis dan kalau bisa jalan-jalan outdoor. Langsung lah saya kasih ide untuk pergi ke Air Terjun Cibereum.

Saya dan teman janjian di Stasiun Tebet jam 6 pagi. Dari situ kami pergi bareng ke Stasiun Bogor. Perjalanan dari Stasiun Tebet ke Stasiun Bogor mungkin sekitar 1,5 jam. Dari Stasiun Bogor, kami naik angkot menuju tempat pangkalan mobil omprengan. Sampai di tempat mobil omprengan, kami menunggu 30 menit sampai akhirnya mobil omprengan jalan jam 9an. Mobil omprengan ini sistemnya memang menunggu sampai penumpang penuh dahulu, baru berangkat.

Macet di pintu tol. Untung teman saya ngga banyak mengeluh, jadi perjalanan ini tetap terasa menyenangkan.

Perjalanan dari Bogor ke Cibereum memakan waktu sekitar 2 jam. Kami sempat ngobrol, tidur, liat kanan kiri, lalu tidur lagi, bangun lagi, belum sampai juga. Perjalanan kali itu memang agak ramai dan macet. Tapi saya pikir, sepertinya perjalanan ke puncak selalu ramai dan macet. Jadi sudahlah dinikmati saja.

Air terjun Cibereum berada di jalur pendakian utama di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kawasan ini adalah salah satu kawasan terpenting yang mewakili ekosistem pegunungan Jawa. Lokasinya bersebelahan dengan Kebun Raya Cibodas. Keduanya merupakan kawasan hutan yang paling banyak diteliti di Indonesia, sejak jaman Belanda. Kawasan klasik untuk para biolog belajar, terutama untuk belajar tumbuh-tumbuhan. Banyak peneliti tumbuhan terkemuka melakukan penelitian di sini, seperti Blume, Reinwardt, van Steenis, dan lain sebagainya.

Sebelum kami memulai pendakian, kami lapor diri ke petugas, bayar uang masuk, dan menunjukkan tanda pengenal. Perjalanan kali itu perjalanan santai. Saya dan teman sering berhenti untuk melihat pohon dan hewan-hewan di sekitar. Jalur pendakian pun tergolong mudah untuk didaki oleh siapapun.

Harga tiket masuk wisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di bulan Desember 2019.

Ketika kami mendaki, kami mengobrol banyak hal tentang tanaman dan hutan. Di awal jalur pendakian, jalur ini dikelilingi banyak pohon rasamala. Pohon rasamala adalah pohon yang penting bagi ekosistem hutan ini. Pohon rasamala tumbuh sangat tinggi, menempati lapisan yang paling tinggi di hutan ini, atau istilahnya umbrella species. Sebagai spesies payung, pohon rasamala memberikan naungan bagi pohon-pohon lainnya di lapisan bawah hutan dan juga bagi tumbuhan-tumbuhan yang menempel di batangnya.  Di jalur pendakian ini, pohon induk rasamala sudah dipetakan, agar peneliti lebih mudah mengamati pohon tersebut. Pohon yang menyediakan keteduhan bagi pohon-pohon lainnya. Indahnya :)

Kami sempat berhenti berkali-kali. Kami cukup takjub menikmati keindahan hutan hujan tropis ini. Ini adalah salah satu mimpi teman saya, untuk bisa berjalan-jalan dan melihat hutan hujan tropis langsung. Saya tentunya ikut senang menemani perjalanan teman saya ini untuk menikmati salah satu hutan terbaik di Pegunungan Jawa.

Talaga Biru dan vegetasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Kami juga sempat berhenti untuk melihat owa jawa (javan gibbon) yang main di pohon sekitar jalur pendakian. Owa jawa adalah hewan primata endemik atau cuma bisa dilihat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kami sangat beruntung bisa ketemu dan melihat langsung owa jawa siang itu. Owa pertama yang kami lihat ada 1 owa dewasa yang sedang menggendong anaknya. Ngga lama kemudian, ada satu owa dewasa lagi yang main di sekitar. Owa itu ikut memperhatikan kami sambil makan daun-daun muda di pohon. Ah, such a blissful afternoon. Kami berhenti sekitar 10 menit, lalu melanjutkan perjalanan.

Kami berhenti lagi karena kami melihat sekawanan kelompok owa jawa yang berloncat-loncatan di pepohonan. Mungkin ada sekitar 10-15 owa di kelompok itu. Mereka berloncatan, makan, mencari kutu satu sama lain, dan main bersama. Wah, saya senang sekali dapat melihat pemandangan ini. Kami mengambil banyak foto dan video. Kamera saya tidak bisa ambil foto jarak jauh, jadi gambar owa hanya selintasan saja. Tidak masalah, toh kami sangat menikmati momen itu.

Setelah selesai melihat owa, kami melanjutkan perjalanan. Kami berhenti sejenak di Telaga Biru. Di sana ada penjual makanan, tempat istirahat, dan tempat berkemah. Saya dan teman foto-foto sebentar, cuci muka dengan air sungai yang sejuk itu, lalu melanjutkan perjalanan.

Bunga Terompet adalah salah satu pohon invasif yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Sayangnya jalur pendakian sudah banyak yang rusak.

Kami sampai di Air Terjun Cibereum sekitar jam 12an. Di sana ada 3 air terjun. Sebelum main air, kami memutuskan untuk makan siang dahulu. Di saat-saat seperti itu, tentu saja kami makan pop mie dan minum kopi. Enak!

Makan siang pakai Pop Mie. Nyamnyam.

Teman saya bawa baju ganti dan memang sudah niat mau mandi di air terjun. Saya cuma ingin main air di pinggirannya saja. Seru sekali main di air terjun! Waktu itu, Air Terjun Cibereum juga ngga terlalu ramai jadi kita bisa santai-santai dengan nyaman.
 
Main air di Air Terjun Cibereum

Kami main air sekitar 1,5 jam lalu memutuskan untuk kembali pulang. Sampai di gerbang luar sekitar jam 3. Kami kembali lapor diri, istirahat sebentar, ke kamar mandi, baru turun ke tempat angkot.

Perjalanan pulang relatif panjang karena macet terus-terusan, ngga tau karena apa. I think Puncak just being the Puncak dengan segala kemacetannya. Kami sampai Jakarta sekitar jam 6 lalu langsung menuju Stasiun Tebet. Sampai di Jakarta, kami makan masakan padang di Rumah Makan Merdeka. Kami makan macam-macam jenis makanan, tapi dia paling suka rendang dan perkedel. Ini kali pertama teman saya makan masakan padang dan dia suka sekali! Yay! 

Selesai makan, kami saling pamit. Seru sekali main bersama teman di tempat-tempat outdoor. Sampai berjumpa lagi kawan!

Diny

Hiking santai di Prescott

Hiking santai di Prescott

April 09, 2021

Halo halo, 

Berawal dari ngobrol-ngobrol bareng Niken, teman saya yang juga seorang Blogger, saya jadi ingin belajar menulis cerita perjalanan deh. Kali ini saya mau cerita waktu saya jalan-jalan sekitar bulan Maret 2019. Waktu itu saya lagi liburan musim semi (spring break) yang cuma satu minggu dan saya habiskan semuanya untuk jalan-jalan bareng teman-teman.

Saat liburan musim semi waktu itu, saya dan seorang teman sekampus memutuskan untuk jalan-jalan hiking dan camping bareng. Teman saya ini orang Amerika dan sudah lebih lama tinggal di Flagstaff dibanding saya. Dia mengusulkan untuk pergi hiking dan camping ke Prescott. Jujur kalau diajakin camping begini, saya jarang googling sendiri. Langsung aja ayo berangkat! hahaha

Pagi itu sangat spesial. Saya bangun pagi, sarapan roti bakar, lalu duduk-duduk santai di meja makan. Ngga lama kemudian, ada sekawanan rusa yang mampir ke belakang rumah. Kira-kira ada sekitar 8-10 rusa. Rusa-rusa itu minum dan makan di belakang rumah sekitar 30 menit-an. Pemandangan yang cantik sekali.

Kelihatan ngga rusanya? Di belakang pagar. Foto ini saya ambil dari depan pintu belakang rumah.

Teman saya jemput sekitar jam 9, lalu kami siap-siap dan berangkat dari rumah saya sekitar jam 10. Perjalanan dari Flagstaff ke Prescott sekitar 1 jam. Teman saya ini bawa mobil, jadi lebih gampang untuk menuju ke sana. Sepanjang perjalanan kami ngobrol banyak. Kami mendengarkan albumnya Red Hot Chili Peppers dan nyanyi-nyanyi bareng.

Perjalanan dari Flagstaff ke Prescott sangat menyenangkan. Pemandangan di kanan kiri jalan yang tadinya dipenuhi oleh pinus, perlahan berganti menjadi pohon cemara (Juniper sp.) dan oak (Quercus sp.). Flagstaff berada di ketinggian sekitar 2.100 mdpl, sedangkan Prescott agak turun di ketinggian 1.600 mdpl. Perbedaan ketinggian ini lah yang membuat vegetasi di sekitar juga berubah.

Prescott pertama kali 'ditemukan' sekitar tahun 1864. Waktu itu Prescott adalah ibukota provinsi Arizona, sampai akhirnya 1889 ibukota Prescott dipindahkan ke Phoenix. Kalau dilihat dari pusat kota (downtown), Prescott terlihat seperti kota tua klasik Amerika yang biasa dilihat di film-film.

Sayang banget saya ngga banyak foto di downtown, tapi kira-kira begini bentuk kotanya.

Sampai di Prescott, sekitar jam 11, kami makan siang di taman di kawasan Yapavai County Courthouse atau gedung pengadilan daerah. Kami makan sandwich, yang kami siapkan dari Flagstaff, di bangku yang ada di taman itu. Taman di tengah kota Prescott nyaman sekali. Banyak orang tua, kakek nenek yang sedang jalan-jalan sama keluarga sambil jalan-jalan bersama anjingnya. Rumputnya juga empuk buat didudukin. 

Gedung Pengadilan

Habis makan siang, kami keliling downtown yang relatif kecil itu. Kami masuk ke toko-toko lucu. Ada satu bangunan yang terdiri dari beberapa toko dan semuanya sangat menarik. Di dalamnya ada toko bumbu yang punya segala macam bumbu dari segala penjuru dunia, namanya Spice Traveller. Toko ini jual bumbu campuran, berbagai acar, saus, dan selai yang dibuat homemade. Teman saya akhirnya beli satu bumbu cajun.

Di dalam gedung itu juga ada juga toko yang jual berbagai jenis minyak zaitun dan cuka, namanya Olive U Naturally. Saya baru tau kalau minyak zaitun bisa punya berbagai rasa dan sungguh enak dimakan pakai roti tawar. Roti tawar, dicocol ke minyak zaitun berbagai rasa. Ya begitu kira-kira. Ini pengalaman baru yang sangat unik buat saya. Si teman saya juga akhirnya jajan satu botol kecil minyak zaitun untuk salad.

Masih di toko yang sama, ada yang jual pernak-pernik suvenir, toko cokelat fudge, toko kopi dan gelato, juga ada toko seni di lantai atas. Gelato dan kopinya enak. Toko seninya juga seru dan bagus-bagus.

Selesai dari gedung itu, kami sempat keliling lalu akhirnya mampir ke toko buku. Saya beli mug souvenir untuk dosen pembimbing saya dan beli buku diary. Buku diary ini buku favorit saya karena cover dan kertasnya bagus sekali. Saya juga beli tattoo tempelan yang lucu. Hahaha.

Tato-tatoan yang saya dan teman serumah saya pakai.

Baru setelah selesai eksplorasi downtown, kami pergi ke jalur hiking.

Nama jalur hikingnya adalah Constellation Trail. Teman saya bilang, dia suka tempat hiking ini karena lanskapnya mirip dengan lanskap Joshua Tree National Park. Waktu itu saya belum pernah ke sana dan ngga kebayang bentuknya sepertinya apa. Sebelum berangkat pun saya ngga cari tau dulu. Jadi benar-benar ngga kebayang.

Kami mulai hiking sekitar jam 4. Ternyata tempat hiking ini unik, seperti out of space. Tempatnya banyak batu-batu besar. Jalur hiking-nya sudah ditandai, kita tinggal mengikuti jalur yang sudah ada saja.  

Jalur masuk Constellation Trail yang saya foto dari tempat parkir.



Bebatuan di Constellation Trails

Saya suka dengan jalur hiking ini, karena pemandangan batu nan lucu ini baru pertama kali saya lihat. Di sana ada beberapa tempat wall climbing juga kelihatannya sulit. Kami hiking sekitar satu dua jam. Lalu memutuskan untuk cari tempat camping di sekitar tempat hiking itu. Saya sih ngga tau ya di sana sebenarnya boleh camping atau ngga, karena kelihatannya ngga ada orang lain yang camping di situ. Cuma, saya mengikuti saran warlok (warga lokal - teman saya itu) aja hahaha yaudah ngga ambil pusing.

Oiya! Setelah hiking beberapa lama, saya baru sadar ternyata Constellation Trail adalah memorial sebuah kecelakaan pesawat. Dulu sekitar tahun 1959 ada sebuah pesawat terbang yang jatuh tepat di lokasi ini. Semua penumpang meninggal. Lalu, keluarga para korban membuat tempat hiking dan tempat memorial di kawasan ini. Ada pecahan-pecahan pesawat yang sengaja ditaruh di situ sebagai tempat untuk mengingat kejadian.

Jujur, sebagai warga Indonesia yang terbiasa mendengar cerita seram. Saya yakin banget kalau tempat ini pasti banyak hantunya kalau di Indonesia. Jelas-jelas ini tempat bekas kecelakaan, ya kan? Sudah pasti banyak hantunya. Tapi saya kan ngga tau ya konsep cerita hantu di Amerika gimana dan teman saya pun tenang-tenang aja. Gimana dong? Jadi saya sok berani aja. Haahhhh.

Habis hiking sampai sekitar jam 5an, kami balik ke mobil untuk ambil tenda, sleeping bags, dan gitar. Kami cari tempat buat camping di antara bebatuan yang relatif agak ke dalam dan ngga terlalu dekat dengan jalur hiking. Tempat camping-nya enak karena datar, tanahnya kayak batu-batu yang halus banget. Rasanya kayak tidur di atas karpet.

Setelah selesai buat tenda, kami naik ke atas batu besar untuk menikmati senja. Ini salah satu senja terbaik yang pernah saya lihat. Warnanya jingga dan merah muda. Rasanya.. Saya bisa istirahat dari pikiran saya yang sedang kelabu dan pusing tujuh keliling. Waktu itu juga minggu pertama saya memutuskan untuk ngga pakai jilbab lagi. 

Sambil menikmati senja, saya berpikir tentang betapa besar priviledge-nya hidup saya sehingga saya bisa mengambil keputusan itu. Bahwa saya sekarang bisa mengambil keputusan besar untuk diri sendiri. I was on my own but was never alone. Bahwa sesulit apapun hidup, ternyata kita masih bisa menemukan momen-momen sederhana yang indah dan menenangkan. Momen itu mengingatkan saya bahwa hidup bukan hitam putih, bukan biner, tetapi penuh warna yang kadang ngga pernah bisa diduga.

Senja dari Prescott

Setelah malam datang, saya kebanyakan di dalam tenda aja. Tentunya, sudah was wes wos mikirin di sini hantunya kayak gimana. Teman saya, yang bule itu, malah nyanyi-nyanyi kencang pakai gitar. Saya cuma bisa mikirin, ini para hantu kalau keberisikan gimana ya? Haaaahh monangis.

Saya sempatin keluar tenda untuk foto bintang, yang tentunya gagal karena saya ngga tau cara foto bintang. Saya juga foto tenda kami, yang tentunya juga blur kemana-kemana. Yaudah lah ya yang penting ada fotonya.

Tenda

Langitnya bagus sekali banyak bintangnya, sayang saya belum bisa foto bintang

Malam itu, walau saya kepikiran hantu terus, untungnya saya bisa tidur dengan pulas sampai pagi. Fiuh. Cuaca juga ngga terlalu dingin. Sleeping bag yang kami pakai relatif cukup tebal untuk membuat tidur kami nyaman.

Paginya, kami loncat-loncatan di batu. Well, bukan saya yang loncat-loncat, karena saya penakut. Teman saya loncat-loncatan di antara batu. Saya nonton saja. Setelah sarapan dan beres-beres, kami melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.

Kami pergi ke tempat hiking berikutnya yaitu Granite Garden Parks. Tempat ini ngga jauh dari tempat hiking pertama. Granite Garden Parks kayaknya relatif kecil, tapi jalur hiking nya dibuat mutar-mutar biar pengunjung bisa keliling lokasi. Jalurnya juga menarik banget, ditandai dengan spot-spot di batuan. Rasanya seperti di Blues Clues yang cari jejak. Hahaha. 

Granite Garden Park
Jalur hiking

Di tempat hiking ke dua, ada beberapa jalur manjat wall climbing, tempat duduk, dan bangunan bekas tambang yang sudah tidak terpakai. Hari itu panas banget sih. Untung kami bawa banyak banget air minum, jadi ngga kehausan. Oiya, saya juga ngga mandi itu dua hari, saking Prescott udaranya kering, saya ngga merasa keringetan.

Bangunan bekas tambang.

Habis dari tempat hiking kedua, kami main ke Watson Lake yang juga dekat. Watson Lake indah sekali!

Watson Lake, Prescott

Baru deh kami pulang. Seru juga perjalanan hiking dan camping singkat di Prescott. Cuma satu jam dari Flagstaff, gratis, dan nyaman pula. Senangnya!

A new decade

A new decade

April 06, 2021
Oh, hello new decade!

Hello readers,

It is my birthday today. This time is a bit different than other year. I am 30 years old now. I am entering a new decade.

I've been thinking, what kind of a person I want to become in the next 10 years. I think it is important to have it in mind, so I don't waste my life without any plan. I am not sure this plan will stick for the next 10 years, at least I am trying. I am not even sure I will still live for a long long time. The possibility of dying and living is always the same. 

Life is very uncertain and full of possibilities. Things can change in a very short time, but also can not change for a long long time. These uncertainties, makes me want to live my current life fully, but also makes me want to have a general plan for the future. I remember one saying that the only certain in life is uncertainties. 

So, here it is..

I want to be able to fully forgive my self.

I made a couple of terrible decisions. I made unfavourable decisions usually when I was mad or angry but couldn't express my anger in a healthy way. Sometimes it still bites when I remember those decisions. I hate that I made some decisions based on my wounds.

I can see why I made those decisions and I can understand the reasons behind all decisions. It most likely was the best I can do at that time. 

If I live for longer time, I want to fully forgive my self. Forgiving all the imperfections and decisions I made in the past. This journey of forgiving my self have started around last year. I believe what I can do now is to remember and make sure I will not making the same mistakes in the future. I don't want to make any decisions when I am mad. I want to run my life based on love, not based on trauma or pain. 

I want to savour joy

I am an easy go lucky person. I can be happy for small things. I am happy seeing blue skies or random flowers in a park. I can be happy with my garden, my tiny library, and my blue house. Paradoxically, sometimes I feel bad for being happy. Sometimes I feel like I don't deserve to be happy. It's weird.

I know joy will not come all the time. Like any other feelings, joy is temporary. That is why I want to savour all the temporary joy that I have in the present time. I want to practice picturing memory, so I can remember it when I am in the dark place. 

Savouring each moment I am happy around plants and flowers.

I want to take my writing time more intentionally and consistently.

Writing has been very important for my healing and growing. I want to take more time to this special practice. I write in many places. In my diary, blogs, social media, phone, and random papers. I really like that part of me. I want to continue practicing writing and have a better writing habits.

I think it will be cool to try learning other kind of writings. Writing for media, opinions, travel blogs, or popular science articles. I want to explore that and see what will happen.

I want to be more open, honest, and brave

I read a great book called Daring Greatly by BrenĂ© Brown. I really like the whole premises in that book. Being vulnerable is very important. I cannot be honest to my self if I am not brave enough to be vulnerable. I think, it makes me more Diny. 

I showed up in difficult times in my past life. I want to do that as well in the future. Showing up has been helpful for my present time.

I also think, by being open and honest, I respect my self better. People can see me as a person, a human, that is not always perfect. Really, perfection is boring. 

"Perfectionism is exhausting because hustling is exhausting. It’s a never-ending performance." - BrenĂ© Brown
I learned it mainly from my dear friend. He is really good at it and I really like that part him. It inspires me to be more honest at least with my self. I want that in me. 

I want to keep connecting with people

I like this part of me. I enjoy being connected to people. I like sharing my life with people I met along the way and people who cares about me. I think people has pretty cool stories and by connecting with each other, we can create a better world.

Human is never supposed to be alone. When we lived in a cave back then, we are not supposed to be alone. We are part of community. Back then, alone means dying, still the same with right now.

I believe, connecting with people makes my life more enjoyable.

I want to be healthy physically, mentally, emotionally, and financially

Obviously, anyone can do anything in this world if they can be healthy physically, mentally, emotionally, and financially. It all requires hard work and self discipline. I want that. 

I want to have a better self awareness and mindfulness. I want to have a comfortable life where I have enough savings for emergency fund and pension fund. I want to have a place of my own. It doesn't have to be big. I want a small blue house. I want to be able to travel the world. I don't know how, but I will find a way.

I want to have a better ability to identify, embrace, and address emotions and needs. I want to have that as my super powers.

It is hard to build a healthy habits.

I want to nurture my relationships with my close circles

I really value my personal relationship with my close circles. I hope I can nurture it intentionally. I want to show up in their difficult times. I want to love them better. I want to listen to their stories. I want them to know that I love and care about them. I care abut their stories, their struggles and happy times, and all.

I know I can only show up to an extent of my limitations. I know I won't be able to always be there. Sometimes, I probably hate what they do. Other times, I may not able to be around them or I may not know what to do that it makes them hate me. There will be those moments. But if they still want me to be part of their life, I want to be there for them. That's the only thing I can do to respect their love for me.

I want to respect my boundaries and other people's boundaries

People need boundaries. I need boundaries. I may not always know right away my boundaries, but I will learn it as I go. If I already know my boundaries, I hope I can respect my self enough to hold on those boundaries.

I want to respect other people who says no to me. Sometimes, it is hard because we want what we want. But I want to try to respect it more intentionally.

I want to learn to deep listening

I like talking. I like talking about my self. I often find it hard to listen because I tend to speak more. So, I want to learn to listen more. I want to learn to listen with an open mind and heart. I don't have to speak all the time or tell everyone about my self. I don't have to always explain about my self, not everyone need to hear my random stories. It is really hard for me to listen. I hope I can gradually master this skill.

***

I think that is all I can think of right now. It may change gradually or maybe not. It is just an overall goals.


Have a fulfilling life a head, Diny! and happy birthday!


with love,

Diny

Things I learned about my self during COVID pandemic

Things I learned about my self during COVID pandemic

April 06, 2021
A pretty sunset from my home.

It has been more than a year in pandemic. I would say I learned a lot about my self during these long tiring hard times. I believe a lot of people feel the same thing. We are pushed into a weird time of our lives that give us time to sit with ourself.

I listed down some things I learned about my self on the first three months of pandemic and I wrote another list a year after pandemic. I thought I will share my a-year-after-pandemic list, so, here it is..

  1. I love life! <3 
  2. I am capable of rebuilding my life even during pandemic.
  3. Building a healthy sleeping pattern is super hard.
  4. I enjoy learning and relearning.
  5. Gardening still makes me happy, so does exercising.
  6. When I am physically and mentally healthy, I feel like I can do anything.
  7. Everyone is more stressful and lonelier during pandemic. I am not alone.
  8. I truly value social connection. I want to build a deeper and meaningful relationship with my inner circles.
  9. Joy can be find in little things in life.
  10. Even though it is hard, I am capable of slowly forgive my self and others who have hurt me in the past. It can take a long time to process it but it is doable. 
  11. When I got COVID early this year, I thought about death quite often. I think I've been enjoying my life, and people that I love knows that I love them. I think it is okay if I die, but I really want to live.
  12. I dislike online grocery shopping.
  13. I wonder if I have take time to properly grief that the world before pandemic may not come back. It is and will be a new world out there.
  14. Sometimes I feel lonely. I feel lonely more often during pandemic, but who doesn't?? 
  15. Pandemic is hard for everyone but we are all sailing with different boats.
  16. I am very grateful for my family's and friends' health.
  17. I am attached to my phone. I might be addicted to my phone in a non-healthy way. Phone and social media have become the main distractions of my regular life during pandemic.
  18. I am tired of these whole pandemic protocols. I still follow the rules, but it doesn't mean I like it.
  19. I like testing my boundaries.
  20. When I am comfortable of being vulnerable, I tend to be more open, honest, and respect my self and others. I want to put more intention on those things.

    That is all for now.

    Wish you all have a healthy and happy life.


    hugs,
    Diny

    Search This Blog

    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *