puisi

olahrasa

Salah satu materi dasar di latihan teater adalah olahrasa. Ada banyak cara melakukan latihan olahrasa. Misalnya kita duduk tenang, atur nafas, sambil menenangkan pikiran.. Benar-benar belajar fokus dan tenang. Bisa juga dengan melihat ke titik tertentu sambil duduk tegak dan melipat kaki, atau bisa juga dengan berjalan super lambat sepanjang 10 meter, dan lain-lain

sumber gambar: http://goo.gl/TXd4rt



Latihan ini sangat penting bagi para aktor/aktris, karena latihan ini akan sangat membuat kita lebih konsentrasi dan peka. Jadi apa yang kita ekspresikan di panggung berasal dari rasa yang emang kita rasa, bukan tempelan. Tempelan itu maksudnya kayak akting-akting sinetron, misal marah selalu dengan melotot dan teriak. Padahal marah bisa diekspresikan dengan cara apapun tergantung dari kadar marah nya. Ada marah yang hanya perlu diekspresikan melalui helaan nafas, ada yang menahan nafas, diam, menangis, teriak, memukul meja, merajuk, dan lain-lain. Pemilihan gaya marah ini akan lebih baik bila kita terbiasa merasa, kita peka dengan apa yang ada di dalam diri, merasa apa yang dirasa tokoh yang kita perankan. Dengan latar belakang tokoh tersebut, bagaimana bentuk rasa yang mereka rasakan, dan lain sebagainya.

Selain itu, olahrasa juga bisa bikin kita belajar sabar, menikmati proses, dan tenang. Ini akan sangat berguna di atas panggung (dan juga di kehidupan). Misalnya yang latihan berjalan super lambat sepanjang 10 meter. 10 meter kalau kita jalan biasa palingan 10 detik, tapi kalau lagi latihan olahrasa, jalan 10 meter itu bisa 1 jam. Dengan cara ini, kita akan lebih tenang di panggung, dan membantu kita menikmati setiap dialog yang kita ucapkan.

*

Saya kangen latihan teater. Kangen latihan olahrasa. Supaya diri ngga cuek dengan suara-suara dari dalam hati, dengan makna-makna dari mata lawan bicara, dan ini itu lainnya.

puisi favorit

sampai sekarang, puisi ini menjadi salah satu puisi yang paling saya suka.
puisi ini karya M. Aan Mansyur, judulnya Bermain Hujan.
entah kenapa, saya emang suka hujan. bau nya, suasana nya, udara nya, langit nya, dan lain-lain.  Sukaa!
mungkin itu sebabnya saya suka puisi ini.
kalo ngga salah, saya dapet puisi ini dari kompas minggu, di kolom Sastra.


ini puisi nya:
#
Bermain Hujan

Pada mulanya hujan itu hanya ada di dalam mimpiku, di dalam tidurku, di sepasang mataku yang terpejam.

Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada sepasang mataku yang tidak tidur. Aku selalu menemukan bebulu mataku basah bagai embun di rerumputan, di pagi dan sore hari.

Kemudian hujan itu jatuh cinta juga kepada tubuhku. Hujan senang sekali menyiram-memandikan tubuhku. Tubuhku tiba-tiba saja memiliki sebuah kamar mandi dengan sebuah kolam yang selalu penuh dengan hujan.

Kemudian hujan itu jatuh cinta kepada tempat tidurku, kepada kamarku, juga rumahku. Rumahku penuh hujan. Aku melihat lemari, kursi dan meja, pakaian, buku-buku, dan kenanganku berenang-renang di genangan hujan.

Kemudian hujan jatuh cinta kepada halaman rumahku. Hujan menenggelamkan pohon-pohon dan bunga-bunga yang pernah ditanam di taman itu. Aku melihat tangkai dan bangkai bunga mengapung-apung di depan rumahku.

Kemudian hujan itu juga jatuh cinta kepada jalan raya. Aku menyaksikan hujan itu berjalan seperti kendaraan di atasnya. Aku tak tahu akan berjalan menuju ke mana.

Engkau tahu? Aku selalu membayangkan hujan itu singgah di halaman rumahmu, mengetuk-ngetuk pintu rumahmu, mendesak masuk ke kamarmu, naik ke tempat tidurmu, merasuk ke tubuhmu, dan jatuh cinta kepada matamu.

Aku selalu berdoa, di dalam tidurmu, di dalam mimpimu, sepasang matamu yang terpejam melihat aku dan hujan, melihat aku bermain hujan, bermain hujan sendirian. Dan engkau ingin sekali menemani aku bermain hujan.

Makassar, 2008
#
penulisnya, mas Aan Mansyur, orang Makassar.  http://pecandubuku.blogspot.com/ ini blog dia.  Cek deh, bagus-bagus banget karya dia.  Saya suka sebagian besar puisi dia.  Kami bahkan sudah berteman di facebook loh, hehe ^_^ tapi mungkin dia ngga tau saya, maklum pujangga kan banyak fans nya.. ahay!

di antara aku

di antara rintik hujan,
ku temukan raut mu
menari-nari dalam sepi

di antara daun gugur,
ku temukan senyum mu
terduduk rapi berseri

di antara kelopak bunga,
ku temukan rasa mu
mendongak asa isi hati

di antara sebuah aku,
ku temukan diri mu
bersembunyi
meringkuk ringkih.


untuk mu,

semoga berbahagia disana

koma

kita masih berada dalam sebuah koma

kita rangkai segala yang manis
                  menjadi pola pola m a n j a

                  terlalu manja
                  hingga kata kata berlekatan mesra,
                                   t a k  i n g i n  d i l e p a s,
                                                    t a k  i n g i n  d i u r a i

,

kita masih berada dalam sebuah koma
                  k  o   m   a     panjang tak bertepi

,

kita masih merangkai pola

   "agar taman hati kita selalu terbungkus bunga-bunga",
                                                                             begitu katamu

,

kita masih merangkai kata

   "agar kata kata yang tak pernah menjelaskan kita
                                               selalu menjahit taman hati,"
                                                                               begitu katamu

,



***

tata letak dalam puisi ini diinspirasi oleh buku kumpulan puisi Agus Noor, Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan.

kita

?


kita memulainya dengan tanda tanya
merangkainya dengan koma
dan mengakhirinya dengan titik

kita adalah kita yang kita rangkai menjadi kita
kita bahkan adalah kalimat-kalimat mesra
yang kita tulis di dinding kota

,

kita adalah kita
aku dan kamu
mungkin suatu hari nanti kita akan menjadi
kamu dan aku

entah


.

Idul Fitri - seonggok kenangan

di sela-sela bikin proposal KP, saya nyoba-nyoba lagu di laptop nya mas. Eh ada nama yang unik.. PMDK. Wah lagu apaan nih? Langsung saya coba..

TERNYATA

itu lagu kami! Iya kami! Saya baru inget kalo kami pernah bikin musikalisasi puisi! PMDK itu singkatan dari Pinta Mirza Diny Karawitan. Kami bikin musikalisasi puisi dalam rangka persiapan buat apresiasi seni acara mabit. Niat banget yaa? Hehe iya emang.

Musikalisasi puisi itu kami buat pake puisi nya Sutardji Calzoem Bachri yang judulnya Idul Fitri. Ini puisi nya..

IDUL FITRI
Lihat
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa ramdhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nunu Ka'bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya
Maka aku girang-girangkan hatiku
Aku bilang: Tardji rindu yang kau wudhukan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
Namun si bandel Tardji ini sekali merindu
Takkan pernah melupa
Takkan kulupa janjiNya
Bagi yang merindu insya-Allah kan ada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku padaNya
Dan semakin dekat semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai
berlupa
O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini ngebut di jalan lurus Jangan kau depakkan lagi aku ke trotoir tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kau biarkan aku menenggak marak cahayaMu di ujung usia
O usia lalai yang berkepanjangan yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus Tuhan
jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illallah
aku pakai sepatu siratal mustaqiem
akupun lurus menuju
lapangan tempat shlat ied
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat dan kurayakan kelahiran kembali di sana

*
nyeees banget kan puisinyaaa! Puisi ini waktu itu yang bawa si Mirza. Musikalisasi puisi nya kami buat bareng-bareng, trus pinta yang main gitar, saya nyanyi, mirza baca puisi. Diulang-ulang terus tapi suara saya tetep gitu, ga bagus-bagus! Haha emang ga bakat nyanyi.

Akhirnya itu musikalisasi puisi ga jadi dipentasin dan teronggok di laptop mirza. Saya ngga jadi ikut ke acara itu, soalnya harus mentas teater.

Tapi kenangan itu masih rapi dalam ingatan.

hujan bulan juni

Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

*
selamat tinggal bulan Juni. Terima kasih telah menghadirkan hujan sore ini. Terima kasih telah mengajarkan ku banyak hal, terutama tentang pertemanan laki-laki dan perempuan.

*
terima kasih pak Sapardi, telah membuat puisi yg begitu indah ini. Terima kasih pula telah membiarkan nya menjadi musikalisasi puisi yang mengisi senja di bulan Juni.

taman

ada temen saya yang suka pergi ke taman-taman di jakarta. Ga tau ngapain. Mungkin cuma dateng aja lalu duduk duduk, menikmati sisa ruang terbuka hijau di ibukota.
Hmm jadi inget puisi nya chairil anwar yang judulnya Taman.

Taman

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak
berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

bagus ya puisinya..
Puisi ini pernah dibikin musikalisasi puisi nya sama kak dowenk. Jadi makin romantis..
Older Posts

Search This Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *