Ikutan Tantangan Membaca Buku #BeresinTBR

Ikutan Tantangan Membaca Buku #BeresinTBR

November 14, 2020

Halo halo!

Apa kabar? Semoga selalu sehat yaa.

Kemarin, seorang teman bernama Raafi sempat berbagi tentang tantangan #BeresinTBR. Awalnya saya sempat bingung, TBR itu apa? Maklum, belum pernah baca-baca soal 'membaca buku' jadi ngga kenal dengan istilah-istilahnya.

Ternyata, TBR adalah To Be Read. Sebuah daftar buku yang ingin dibaca.

#BeresinTBR sendiri adalah sebuah tantangan membaca buku yang digagas oleh Ikram (@gildedwolvs). Ikram punya tumpukan buku yang belum selesai dia baca. Lalu Ikram menantang dirinya sendiri dan mengajak semuanya untuk ikutan #BeresinTBR. Tantangan #BeresinTBR fokus untuk menghabiskan bacaan yang sudah sejak lama ingin dibaca, tapi belum sempat atau belum selesai dibaca. Kamu bisa membaca penjelasan lebih lanjut soal #BeresinTBR di notion yang dibuat Ikram.

Nah, menyambut tahun baru 2021, saya jadi tertarik untuk ikutan tantangan #BeresinTBR. Saya memilih beberapa buku yang sudah ada di lemari buku tapi belum sempat dibaca terus. Beberapa buku juga sudah ada yang mulai dibaca, tapi belum selesai.

Target #BeresinTBR Diny:

  • Membaca buku fisik yang belum sempat dibaca. Total 4 buku fisik.
  • Membaca buku fisik yang belum selesai dibaca. Total 1 ebook dan 3 buku fisik.
Daftar buku:
  1. Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones. Buku genre self-help karya James Clear.
  2. Nonviolent Communication. Buku genre self-help karya Marshall Rosenberg.
  3. Sewindu di Jogja. Buku genre non-fiction karya Alam S. Anggara.
  4. Do Unto Animals. Buku genre non-fiction, karya Tracey Stewart.
  5. The Story of Life - Evolution. Buku genre non-fiction, karya Katie Scott dan Fiona Munro.
  6. Why We Sleep. Buku genre science, karya Matthew Walker.
  7. The Field-Book of a Jungle-Wallah. Buku genre history, karya Charles Hose.
  8. The Lost Words. Buku genre poetry, karya Robert Macfarlane.
Total ada 8 buku yang ingin saya selesaikan hingga akhir 2020.

Kalau sedang sempat, mungkin saya akan mengulasnya di blog ini atau di goodreads. Mungkin. Belum pasti yaa. Kalau sempat saja. Hahaha.

Semoga saya berhasil menyelesaikan tantangan #BeresinTBR.

Semangat!

Adaptasi atau Mati

Adaptasi atau Mati

November 03, 2020

Saya saat sedang pusing memutuskan membeli tanaman jenis baru atau berkompromi dengan keadaan

Sudah dua bulan terakhir saya tinggal di tempat tinggal yang baru. Tempat tinggal baru saya ini, relatif berbeda dengan tempat tinggal saya sebelumnya. 

Di tempat tinggal sebelumnya, ada bagian garasi yang tertutupi atap. Bagian rumah tersebut, saya jadikan tempat untuk berkebun. Dulu saya pikir, lokasi tersebut cocok sekali untuk tanaman yang habitat aslinya di lantai hutan. Tanaman yang suka kerindangan, tidak terkena air hujan langsung, serta relatif lembab.  Oleh karena itu, saya menanam tanaman-tanaman daun seperti calathea, monstera, dan berbagai tumbuhan lantai hutan lainnya. 

Tanaman saya pun cukup senang dengan kondisi tersebut. Mereka tumbuh dengan subur dan relatif cepat. Seorang penjual tanaman langganan saya bahkan memberikan komplemen karena saya berhasil menanam beberapa jenis tanaman dengan cantik dan tanpa ada bagian kering di tepi daunnya. 

Sayangnya, saya tidak bisa tinggal di sana lagi. Saya harus berpindah ke tempat tinggal baru. Tempat tinggal baru saya ini, relatif berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya. Di sini, tidak ada garasi tertutup, sehingga tidak ada bagian yang selalu rindang. Bagian depan rumah, yang dapat saya jadikan tempat berkebun, ternyata selalu terkena sinar matahari sore. Udaranya pun relatif lebih kering dan panas. Kondisi yang tidak ideal untuk tanaman-tanaman yang saya punya.

Sebelum memutuskan pindah ke sini, jujur saya ngga yakin. Tanaman saya pasti ngga suka dengan kondisi itu. Dan saya pun awalnya kurang suka dengan semua perubahan yang ada ini. Namun saya pikir, yang namanya manusia dan tanaman pasti bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru.

Beberapa pekan pertama di tempat baru, tanaman-tanaman saya 'ngambek' karena tidak suka dengan kondisi yang baru. Daun-daun mereka agak mengering dan tidak ada daun baru yang tumbuh. Saya berusaha berkompromi dengan situasi lalu berupaya membuat kondisi lingkungan yang lebih optimal untuk tanaman tersebut. Saya membeli tanaman baru yang punya daun besar. Tanaman berdaun besar ini bisa memberikan naungan terhadap tanaman saya yang lainnya. Saya juga harus lebih sering menyiram tanaman agar tanaman tersebut selalu lembab.

Bunga mawar yang lebih sering berbunga di tempat baru

Sebenarnya, kondisi lingkungan di tempat tinggal baru ini cocok sekali untuk tanaman bunga. Tanaman bunga relatif lebih memerlukan sinar matahari penuh serta banyak terkena air hujan. Kondisi yang sangat ideal. Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya harus mengganti koleksi tanaman dengan tanaman yang cocok situasinya dengan situasi sekarang? Apakah saya harus mengganti banyak hal dengan sesuatu yang bisa tumbuh lebih optimal dengan kondisi yang baru?

Saya juga jadi menyadari beberapa hal. Ternyata, tanaman-tanaman dan juga saya, butuh waktu untuk bisa beradaptasi di tempat yang baru dengan kondisi yang baru. Ternyata, kalau kita berada di kondisi lingkungan yang optimal, kita bisa bertumbuh lebih cepat dan lebih subur, seperti tanaman daun saya di rumah lama dan tanaman bunga di rumah baru. Mereka punya kebutuhan yang berbeda. Bila memaksa untuk tumbuh di lingkungan yang sama, mungkin salah satunya tidak bisa berkembang dengan optimal.

Situasi ini membuat saya berpikir bahwa bisa jadi selama ini, kita tumbuh di kondisi lingkungan yang tidak terlalu ideal untuk kita sendiri. Oleh karena tumbuh di tempat yang tidak ideal, kita butuh banyak berkompromi, dengan menciptakan kerindangan-kerindangan yang dibutuhkan. Namun ketika kita berada di kondisi yang cukup ideal dan cocok dengan kebutuhan yang kita miliki, mungkin kita bisa tumbuh lebih subur tanpa usaha yang berarti. Tumbuh dengan lebih cepat, lebih rindang, lebih sering berbunga, dan lebih berbahagia.

Sedikit banyak, kita punya kuasa untuk memilih kondisi mana yang kita inginkan dalam hidup kita. Bahkan jika situasi tidak ideal, lalu hidup sudah memilihkan jalan untuk kita, ya tidak ada salahnya untuk terus berusaha beradaptasi.

Manusia makhluk yang mudah beradaptasi. Kita punya kekuatan untuk bisa memilih dan menjalani pilihan dengan sepenuh hati.

Selamat bertumbuh.

A Year of Grief

A Year of Grief

April 13, 2020
Couple days before my birthday, I was wondering.. How it feels like to have a birthday alone at home? I think I've always had some kind of celebration on my birthday. I was never alone. A party, dinner, mid-night birthday surprise, birthday lunch, birthday sex, birthday trip, all sort of birthday celebrations.

This year, the pandemic happened. I have to stayed at home. Alone (still not sure if it is unfortunate or is a bliss).

At first I thought it will be miserable, but then I realised, I was not alone alone. All my loved ones are around. We were just happened to be not in a same place. I still can celebrate it in my own way in regard of any situation. So, on my birthday, I chose to be happy and grateful with the situations.

Apparently, celebrating birthday during quarantine still felt so lovely with all the sweet messages, phone calls, and gifts from my love ones.

Feeling loved and content on my 29th birthday :)

I spent some time to reflect on what I've learned in the past year. A day before my birthday last year, I submitted my thesis. Afterwards, I defended the thesis, got it published. Graduated. I went to Alaska and California to celebrate it. Then, I came back to Jakarta, started working in an NGO. Going back from Flagstaff to Jakarta was difficult. It took sometime to readjust and feel comfortable again with the new routines.

I also worked on plenty of big problems that I have been dealing with for sometime. It was one of the hardest phase in my life, if not the second hardest after the 27th years old. There were times where I didn't want to exist. I didn't want to wake up in the morning and start the day. I wished I never wake up. There were times when I wished I can disappear and never come back.  I wished I can declutter my self. I kept having these voices telling me it wasn't even worth-it to stay alive. Why should I stay alive?

"Try to survive until tomorrow, ok? Tomorrow you can give up, but not today.", I said that many times to myself.

People said: try to workout, eat healthy, drink more water, get a better sleep, reduce alcohol/caffein/sugar consumption, write journal, go seek professional helps, etc, etc, etc. Most people who said those, was never in my shoes. They probably didn't understand how much it hurts, but they were and are always around. No matter how messy I was. I thought, if I couldn't find reasons to stay alive for me, I would try my best to stay alive for them.

With small amount of energy, I managed to showed up in all difficult conversations and decisions. It was hurtful and painful. It wasn't easy ride at all. I still don't know how could I survive?

I started working out like crazy, heard that it will produce dopamine and serotonin. Reduce the pain and anxiety. Not to mention, I can run away from my own thoughts. Well, after couple of months, I can see the result on my body physically, which make me think that things can get better. It just takes time and energy. And I started to enjoy the workout more than just as a distraction. I went climbing and dancing. I met a lot of new friends. I invested my heart, time, and energy for people who loves me. It all makes me happy. It makes me think that life is still worthwhile. 

I seek professional help to assist me processing the emotions and getting through the flood of thoughts. It works. It is helpful because I learned to accept my vulnerable sides and be okay with it. You probably know me as a happy go lucky person. I am, but there were times when I fake those smiles while breaking down inside. It was really weird. With the professional help, I know how to be unhappy and let out feelings. Let them come and go. I am learning to respecting my own feelings and be real.

I moved back to the house of my dream. For couple months, I run away from all the triggers. I started to fill up my schedule in every possible ways. So, I don't have to be at home. For many months I didn't want to be alone because I didn't want to be with my self, deal with all the triggers and thought of painful moments. 

A quarantined selfie.

Then, the COVID19 happened. I have to stay at home. I can't run away. All the triggers shot me so many times. I can't go away. So, I've spent this month to be friend with the triggers. Who are you? What do you want? What can I do for you? It's been kind of fun to be able to get through these.

You know, I probably not the same person as I was a year ago. I changed so much and yet stay the same in a weird combination. Although it wasn't easy, I kind of enjoying the process. I'll take it easy and see how it goes.

Now, I am 29 years old. Next year I will enter a new decade. Sometimes, I wonder, what kind of woman I want to be in the next decade? I will think about it next year. Hahaa.

Anyway, thank you for all the love. You probably don't realised how much it means to me. I hope you believe me when I said I am grateful to have you in my life. You keep me alive. Thank you, thank you, and thank you.


With all the love,

Diny

Belajar Memanjat

Belajar Memanjat

April 11, 2020
Sewaktu manjat di Gunung Parang


Mumpung lagi akhir pekan di tengah-tengah masa karantina, saya mau cerita sedikit tentang hobi baru yang lagi saya gandrungi pas banget beberapa bulan sebelum COVID19 merajalela.

Sejak bulan Januari tahun ini, saya mencoba latihan manjat. Manjat sebenarnya bukan hal baru yang belum pernah saya lakukan. Dulu banget waktu SMA saya pernah latihan manjat, karena waktu itu ikutan grup pecinta alam. Terus, akhir tahun lalu, saya juga sempat manjat via ferrata di Gunung Parang (pernah saya ceritain di Instagram).

Nah, kebetulan ada tempat climbing gym baru yang indoor dan ada pelatihnya. Dekat dan mudah diakses lagi, di daerah Sudirman. Dekat sekali sama tempat saya berolahraga.

Tempat latihan manjat baru ini namanya Indoclimb. Manjat di Indoclimb seru banget! Kita bisa ikutan kelas yang dipandu oleh pelatih-pelatih yang komunikatif dan seru. Mereka akan mengajarkan gimana caranya pegang poin, kaki dan tangan mesti kemana, posisi badan mesti gimana, termasuk mengajarkan cara jatuh.




Walau ngga bisa atau belum pernah sama sekali, nanti akan diajarin sama pelatih-pelatihnya. Saya pun sudah lupa cara manjat, jadi ya mengulang dari awal belajarnya. Senang banget bisa latihan lagi, ketemu teman-teman baru, ketemu teman-teman lama, sambil manjat dan seru-seruan.

Di Indoclimb, saya latihan bouldering, yaitu manjat yang ngga pakai tali. Maksimal ketinggian 3,5 - 4 meter. Walau ngga pakai tali, tapi tetep aman kok karena ada matras di bawahnya. Di Indoclimb, bisa bayar per kedatangan dan bisa sewa alat di sana. Pokoknya bisa tinggal datang aja. Meskipun kadang ramai banget ya, jadi mesti booking slot dulu. Bisa juga ikutan membership kalau mau datang kapan aja dan sebanyak apapun yang kamu mau.

Setelah manjat seminggu sekali selama hampir 2 bulan, saya lumayan agak bisa. Ok, mungkin bukan bisa, tapi lebih nyaman (apaan sih manjat aja pakai nyaman hahaha).

Ada satu hal yang buat saya sangat menarik. Selama manjat ini, saya semakin sadar kalau saya itu takut jatuh. Saya ngga suka jatuh. I don't feel safe and I don't want to fall. Meskipun tentunya saya tau di bawah ada matras, saya sudah tau cara jatuh, dan ada orang-orang di sekitar yang bisa bantuin kalau pun saya cidera. It will be okay, it will be just fine. 

Waktu bisa manjat dan jatuh pada jalur ini.

Tapi.. Ketakutan itu tetap ada di otak saya. Saya tau sih kalau it is totally fine, it is okay to feel afraid. Seperti di kehidupan sehari-hari ya. Kadang kita takut sesuatu, padahal mungkin ketakutan itu bukan hal yang nyata. Mungkin ketakutannya hanya ada di otak kita karena kita ngga terbiasa dengan rasa yang baru. Tetap saja, saya takut. It is what it is.

Sekarang tinggal gimana caranya mengatasi ketakutan yang saya punya. Dalam hal ini, sepertinya rasa ketakutan bisa berkurang kalau saya melakukannya terus menerus. Belajar jatuh terus-terusan. Belajar mengatasi rasa ketakutan dengan cara menghadapinya dengan gagah berani. Mungkin lama-lama saya jadi tau bahwa.. it is okay to fall. I just have to trust my self a little bit more, that I will be okay and I will be safe.

Ya pelan-pelan aja.

Semoga pandemi ini segera berakhir,  saya mau latihan jatuh!


xoxo,

Diny

The important things

The important things

February 19, 2020
Suryakencana, September 2019. Sebuah perjalanan yang penuh dengan refleksi diri.

Hari itu hari minggu, ketika saya mulai menulis cerita ini. Selepas bangun tidur, saya langsung membuka jendela dan membereskan tempat tidur, selimut, bantal, guling, dan sebuah boneka panda kecil yang selalu menemani saya tidur beberapa bulan terakhir. Keluar kamar, saya menuju ruang kerja di sebelah kamar, kemudian saya mengganti pakaian tidur dengan pakaian santai. Lalu saya ke pasar, membeli bahan makanan dan sayuran. Masak untuk seminggu ke depan. Menyapu dan mengepel lantai, mencuci, menjemur, dan menggosok pakaian. Semua hal yang tidak saya lakukan dengan suka cita tiga tahun lalu.

Kadang-kadang saya berpikir, apakah semua perubahan relatif positif yang telah terjadi, hanyalah bentuk pembuktian diri yang entah untuk apa atau untuk siapa? Tapi saya ngga mau lagi mendelegitimasi diri sendiri dengan cara tidak menghargai kemajuan diri atau tidak memberikan kredit yang sewajarnya kepada diri sendiri.

Tentu saja, banyak hal yang berubah. Segala perubahan yang terjadi barang kali bentuk saya merespon hal-hal yang terjadi dalam kehidupan. Meskipun perubahan itu kadang terasa menyeramkan, I know will always have my self. I will be the best version of me for myself so I can serve others for greater goods, because there's no other way to survive or live this world (I guessed?).

Selama setahun terakhir, saya banyak belajar soal diri sendiri, hubungan dengan orang lain, maupun bagaimana menjalani kehidupan. Ada beberapa hal utama yang paling menarik buat saya. Mungkin pembelajaran yang saya ambil bisa juga bermanfaat untuk kamu.

***

Love languages.

Menurut Gary Chapman, ada lima cara komunikasi (bahasa) yang biasa kita gunakan untuk mengekspresikan rasa sayang. Lima bentuk bahasa itu adalah act of service, words of affection, receiving gift, quality of time, dan physical touch.  Kita bisa saja menggunakan beberapa bahasa, namun biasanya ada bahasa yang paling dominan. Kamu bisa baca lebih detail di website ini.

Buat saya, bagian penting dari mengenali bahasa cinta adalah untuk memahami apa yang saya butuhkan dan mengkomunikasikannya dengan pasangan. Lalu, berusaha memahami apa bahasa cinta pasangan saya untuk menyesuaikan perilaku saya dan memenuhi kebutuhan dia. Remember, the only thing we can control is ourselves. We can't expect our partner to read our minds or know our needs without us telling them those things. It is all about communication.

Apakah pasangan yang memiliki bahasa cinta yang sama atau pasangan yang saling mengerti bahasa cinta, akan memiliki hubungan yang lebih bahagia? Ternyata tidak. Kebahagiaan suatu hubungan tidak tergantung dari kesamaan bahasa. You can have the same language but still unhappy with your relationship or the other way around. 

Namun, memahami adanya perbedaan bahasa membuat kita bisa melihat perbedaan secara lebih utuh dan belajar merespon perbedaan hal itu. Perbedaan adalah hal yang sangat normal. Malah kalau bahasanya berbeda, kita bisa merayakan perbedaan itu yang justru bisa membuat hubungan lebih menarik.

Non-violent communication.

Sering kali, ketika saya sedang marah, ingin rasanya menumpahkan semua kemarahan tersebut. Hingga saya tidak sadar kalau kata-kata yang saya sampaikan bisa melukai hati orang lain. Pada buku non-violent communication, saya belajar bahwa kita bisa menyampaikan apa yang kita rasakan atau pikirkan tanpa menyakiti hati orang lain. Non-violent communication is a language of compassion.

Ada empat komponen utama dalam non-violent communication: observations, feelings, needs, dan request. Intinya, berusaha melihat suatu hal tanpa menganalisis atau menghakimi, mengidentifikasi apa yang kita rasakan dan inginkan, lalu mengkomunikasikan hal-hal tersebut. Balik lagi, we can only control ourselves and the most important thing is communication. Misalnya, daripada bilang, "kamu ngga sopan deh", kita bisa mengatakan hal yang lebih spesifik dan fokus ke yang kita rasakan misalnya, "waktu aku lihat kamu masuk, aku ngga dengar kamu bilang halo ke aku". Spesifik dan bisa diukur. Ini bisa membantu pasangan kita memahami apa yang kita rasakan tanpa merasa dituduh atau dihakimi.

Buat saya ini agak susah, apalagi kadang ego yang tinggi membuat saya merasa benar sendiri tanpa melihat semuanya dengan lebih utuh. Ada seorang teman saya yang sudah lumayan fasih menggunakan bahasa ini. Saya belajar banyak dari dia dan berusaha mengaplikasikannya ke dalam hubungan saya sehari-hari dengan orang-orang terdekat. Ternyata komunikasi dengan orang lain akan lebih mudah kalau saya mau belajar komunikasi tanpa mengedepankan ego dan tanpa kekerasan. Ternyata membicarakan hal-hal yang berat bisa dilakukan tanpa saling menyakiti satu sama lain. Sebuah pembelajaran yang sangat menarik selama setahun terakhir ini.

Semburat sore yang cantik terlihat dari kamar kosan di Flagstaff. Pemandangan di sela-sela membaca buku non-violent communication.


Tanggung jawab kebahagiaan.

Kebahagiaan itu tanggung jawab diri kita masing-masing. Hanya kitalah yang bisa membuat diri kita bahagia. Bertanggung jawab dengan kebahagiaan diri sendiri adalah dengan tidak menyalahkan orang lain atas ketidak bahagiaan yang kita miliki. We can't ask other people to make us happy. Other people can only add happiness that's already within us. So, it is not really fair to ask your partner to keep making you happy all the time, because eventually they will make mistakes and they won't be able to fulfil your needs.

Ini jadi perjalanan menarik buat saya, karena saya sempat menjadikan pasangan saya sumber kebahagiaan yang paling utama. Artinya, tanpa saya sadari, I often 'asking' him to fulfils my happiness tank which was not fair for both of us. Saya rasa ini juga ada hubungannya dengan gaya keterikatan saya (attachment styles) dengan pasangan, yang saya bahas di bawah.

Dalam perjalanannya, saya sadar bahwa kebahagiaan itu adalah persoalan saat ini. Kalau saya masih berpikir, "saya akan bahagia kalau.." atau "saya akan bahagia ketika..", saya ngga akan pernah bahagia. Saat 'kalau' dan 'ketika'-nya sudah tercapai, akan ada lagi masalah baru dan begitu aja terus mutar-mutar tanpa pernah bahagia. Ternyata, kebahagiaan adalah persoalan bagaimana kita melihat suatu hal saat ini dan hanya bisa dicapai kalau kita memiliki hubungan yang baik dan sehat dengan diri sendiri.

Well, OK, to be fair, kebahagiaan tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Ada faktor lain seperti kejadian yang terjadi pada kehidupan dan faktor genetik. Namun, dua faktor itu tidak bisa kita kontrol. Balik lagi, yang bisa kita kontrol hanyalah diri kita sendiri, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lakukan. Ini ada artikel menarik tentang kebahagiaan yang saya rasa cukup penting untuk dibaca.

Attachment styles.

Menurut teori, ada empat bentuk keterikatan kita dengan orang lain: secure, anxious, avoidance, dan anxious-avoidance. Bentuk keterikatan ini umumnya dipengaruhi dari bentuk hubungan kita di masa kecil dengan orang tua kita. Ini ada video yang sangat membantu saya mengerti teori ini, walaupun belum bisa menjelaskannya ulang dengan bahasa saya sendiri. Silakan saksikan videonya.

Berdasarkan video itu dan beberapa artikel lain (ini dan ini contohnya) yang menjelaskan bentuk keterikatan, saya sedang bekerja untuk memperbaiki bentuk keterikatan yang saya punya. Tujuan saya adalah menjadi secure adults yang bisa memiliki hubungan yang lebih sehat dengan pasangan maupun dengan orang-orang di sekitar saya.

Memaafkan diri sendiri. 

Apapun yang pernah terjadi dalam hidup, jangan pernah lupa kalau kita hanyalah manusia. Tempatnya berbuat kesalahan. Banyak hal yang saya harap tidak pernah saya lakukan. Apapun itu, what's been done cannot be undone. I can't change the past, no matter how much I want to. I am trying to believe that I did everything I could with all knowledges and skills I had those time. So, I can forgive myself for not knowing the better way, for feeling like a failure even tho I wasn't, and for feeling not enough because I was and am more than just enough. 

The journey of forgiving self was started when I acknowledged and owned my mistakes. Afterwards, I am able to gradually release what's hurts. Hopefully one day I will only keep things I've learned and let go everything else. Ini perjalanan panjang yang saya yakin akan bolak-balik lagi untuk dipelajari sepanjang hidup.

Willingness to make things work. 

Hubungan jangka panjang adalah sebuah maraton. Semua yang saya sebutkan di atas, ngga akan ada gunanya kalau sudah tidak ada kemauan untuk memperbaiki keadaan. Sometimes, people changed and they want different things. That is alright. People choose things they wanna choose. Love is a choice we choose everyday. Will you choose to make things work or no? Atau bisa jadi, memang situasinya sudah terlalu kacau balau untuk bisa dirapikan? Hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya. Tidak ada jawaban yang salah atau benar. Apapun jawabannya, pasti ada konsekuensinya.

Buat saya, sekarang tinggal bagaimana saya menjalani konsekuensi dari pilihan yang saya ambil. I really really hope it all worth it. Or maybe I already feel like it all worth it? Who knows? I will give more time to answer the questions.

***

Adult life is challenging. Nobody has it all. Nobody knows for sure if things they chose is right or wrong. Nobody. But I know one thing: every body wants to be happy. I will try to forgive others, forgive the universe, and most importantly forgive myself. And keep learning and swimming and enjoying life while it last.

Kalau dipikir-pikir, ini semua tuh hal dasar banget deh. Saya baru belajar setahun terakhir ini. Untungnya tidak ada kata terlambat untuk belajar ya. Semoga ke depannya, saya, kamu, dan kita semua bisa jadi orang yang lebih baik lagi.

Panjang juga ini tulisannya. Mohon maaf bahasanya campur-campur dan terima kasih sudah membaca. Semoga harimu menyenangkan!


Salam hangat,
Diny

What I learned from a 5 years of marriage

What I learned from a 5 years of marriage

January 05, 2020


Disclaimer: I wrote it on August, 2019. I wrote it based on my experiences. Definitely, it won't be the same with your experiences and not applied to all marriage.

OK, let's now talk about the happy and the most important parts.

Firstly, the most important thing I learned was.. I was able to love unconditionally. I am happy I can identify it! Apparently, I could love my partner without IF, without reason. I just did. I loved him even when I hated him. I loved him without requirement. He didn't have to do certain thing to be loved by me. I loved him freely without hesitation. I was not only love the idea of him. I loved him as a whole package.

It was a great thing, to be able to love someone unconditionally. You have to be brave, like super duper brave because to love someone without certain condition means you are allowing yourself to be vulnerable.

Maybe, I was able to do that because I know how it feels to be loved as a whole, from my family. I feel complete because I know exactly they will love me and accept me for whoever I am. So, it is easier for me to give the same kind of love to my partner or to other people that I care. I think not everyone has this privilege and able to do this to others. I am grateful I can do it and this is a cool thing for me.

Although, loving unconditionally is tricky. For me, loving unconditionally doesn't mean we don't need to make improvements in our life. Improvement here and there are still needed but even if he didn't or if he was on a really bad situation, I can still love him.

There is no greater feeling than love someone who loves you back. It is the biggest gift and if that person (who loves you) is your life partner, than it is even greater. I felt safe and sound. I am thankful for those moments in my life.

Secondly, little things are very important. Those socks that I left on the living room or wet towel on the chair, whooa! Those could be big big problems. Hahahaha! I was not a really tidy-neaty-cleany person at all. Before I got married, I didn't even know how to wipe the floor. Being married was learning to challenge my self to learned one of the most important thing in this whole world: clean up your mess.

It might sounds easy for some people, but it was hard for me. When I experienced it daily, I knew it can be a bomb ready to explode anytime. Especially, because my partner had different level of tidiness and cleanness. Now, I wasn't the same person as I was 5 years ago. I can clean my 'shit' now hahaha. Five years ago, I never thought I could be this clean, but I learned it in a hard way. Sometimes I thought I should have be faster to learned about it, but whatever. It was what it was, that's all I got. I am what I am now and current version of me is what I have right now, not the me version back then.

Thirdly, maintaining energy is crucial. I was working, he was working. We woke up early on weekday then went to work. When we were home, we both already tired and lack of energy. Those made us more sensitive. Sometimes I thought we present our best self at the office, not at home, which was not a great idea. In addition, me and him is a complete opposite, on everything, literally everything. It was somehow exhausting to keep up with each other, as we have very very different personalities.

With the right amount of energy, I might have more power to not take my partner for granted and not take myself for granted. Yes, I loved him unconditionally, but love is verb, is a daily work. It was a daily choice whether or not I would work on it. If I didn't have energy, it would be harder to see good things from the relationship.

Lastly, conflict is inevitable. Marriage is two different people in one big commitment. Expecting a no-conflict zone is dangerous. No matter how great my relationship was with him, we would always have conflicts. In marriage, the conflict can be about the same lil problem that repeated all the time, because we didn't solve the roots of the problems. Or, it could be a big one, that I never thought it could happen in a real life. I thought drama life is only happened on the television, silly me. Now, I have learned on languages of love, non-violent communication, compassion to others, how to be agree-to-disagree, that may be useful to manage conflicts, but well I don't know. There are a lot of things that I don't know and that is okay.

After 5 years of marriage, our relationship has grown differently than 10 years ago when we started dating. Of course there were plenty of ups and down. Whatever it was. I had a great time. I learned so many things from the marriage. I will cherished all of the great parts. Those are crucial for me and it will always be part of me. I am deeply thankful and grateful for the opportunities to learned and grown from this relationship.

To love is to be brave.

Thanks for reading! Have a great time with your love ones!


Diny

A woman who has it all

A woman who has it all

November 29, 2019


I am obsess of being a perfect lady who has it all.


Who has all her shit get together.

Independent, smart, thoughtful,

Firm, healthy, and fit body,

Content, mentally healthy, mindful,

Warm, loving, forgiving,

Has a good job, good salary, plenty of savings,

Skill-full on cooking, gardening, cleaning up the house,

Highly discipline, has many good friends,

Successful on her career, publish lots of papers,

and etc.

Then I started to hate my self for not being perfect, for keep making mistakes, for not being good enough, for having all of these feelings in mind because I know no one is perfect. I know, all humans have mistakes. My expectation to my self become irrational and non-realistic. I hate being too hard on my self and yet here I am struggling to withdraw from all these feelings.

I guess this is a good moment to refocus my life and my goals. What am I wanna be in the next future? What is my next big thing? What should I do with my life? Or maybe this is the time for take a break from striving for something. Maybe it is time to chill and relax.

I still don't know what to do with my life but I guess that is ok for now?
x

Ikutan Obstacles Course Racing Tryouts

Ikutan Obstacles Course Racing Tryouts

September 10, 2019

Halo semuanya,

Hari Minggu kemarin saya iseng-iseng ikutan acara di tempat saya biasa olahraga, Infinite Fit Camp. Nama acaranya adalah Obstacles Course Racing (OCR) Trail Run alias semacam main halang rintang pakai beban atau tantangan tertentu. Acara ini adalah persiapan atau try outs untuk acara sebenarnya yang akan diselenggarakan di Jogja bulan depan.

Kalau ngga salah, total ada 10 pos dengan tantangan berbeda. Dari mulai pull-up, lari naik tangga, bawa kantung pasir, membalikkan roda truk, loncat papan, dan lainnya. Satu grup terdiri dari 4 orang yang saling berkompetisi mencapai waktu tercepat. Grup saya terdiri dari 2 laki-laki dan 2 perempuan. 

Saya ikut ini beneran iseng aja, tanpa target dan ekspektasi apapun. Di grup saya pun, saya urutan terakhir dengan waktu tempuh sekitar 9 menit.

Memberanikan diri loncat papan hahaha
Kalau yang ini sudah sering dilatih saat latihan di Infinite






Sehari kemudian, eh ternyata saya dikasih tau kalau ternyata saya menang juara 3 dari semua peserta perempuan. Hahaha. Senang! Walau lomba ala ala dan pesertanya ngga terlalu banyak, namun senang aja gitu bisa menang sesuatu. 

Terus hadiahnya bisa dapet free pass acara benerannya di Obstacles Course Racing Trail Run ketiga di Jogja. Saya masih mikir-mikir mau ikutan atau ngga. Kalau kamu mau ikutan, cus deh daftar di website mereka.



Thanks for reading!

Salam olahraga dari Diny yang lagi senang olahraga hehehe

***

PS: makasi buat panitia, foto-fotonya bagus-bagus banget!

Olahraga di Infinite Fit Camp

Olahraga di Infinite Fit Camp

September 07, 2019




Belakangan ini saya lagi senang-senangnya berolahraga di Infinite Fit Camp. Saya tau Infinite pertama kali hampir 2 bulan yang lalu dari twitter. Waktu itu saya ingin sekali olahraga rutin dan benerin stamina tubuh. Saya cari-cari tempat gym yang enak, eh muncul info tentang tempat olahraga ini di timeline twitter. Langsung deh saya hubungi coach-nya, Kak Mario, lewat Instagram mereka.

Ternyata olahraga di Infinite Fit Camp seru banget!

Latihannya efektif dan efisien. Satu sesi, satu jam. Satu kelas biasanya sekitar 5-10 orang. Malah kalau latihan pagi kadang cuma 3 orang. Jadi berasa semi privat sama personal trainer. Pelatihnya sangat perhatian sama posisi atau gerakan badan kita. Kalau gerakannya kurang tepat, pasti dikasih tau gimana cara benerinnya. Kalau belum sanggup mengikuti gerakan, mereka akan kasih alternatif gerakan yang menyesuaikan kemampuan kita. Buat saya ini penting banget, karena setiap orang badannya beda-beda dan punya kebutuhan yang berbeda. Apalagi waktu baru pertama kali ikut tuh, saya belum bisa apa-apa haha

Fokus latihan biasanya kombinasi antara High Intensity Interval Training dan strength training, yaitu fokus untuk memperbaiki gerakan tubuh, mengurangi lemak tubuh, dan menambah massa otot. Kadang dikasih juga latihan functional untuk melatih gerakan sehari-hari. Misalnya jongkok, bawa barang, dan lain-lain. Pertama kali latihan sih berasa banget sakit-sakit di badan. Tapi tenang aja! Banyak kok yang sama-sama baru belajar. Lama-lama bakal biasa, malah jadi enak di badan.

Walau berat, yang penting SENYUM!
Yang kiri fotonya ngga fokus, tapi gerakannya seru.

Lokasi Infinite Fit Camp pun strategis di Lapangan Softball, Gelora Bung Karno. Dari kantor tinggal naik MRT atau Transjakarta. Kalau naik MRT turunnya di halte Senayan atau Istora Mandiri, terus jalan kaki sekitar 5 menitan. Kalau naik Transjakarta, turun di GBK Senayan. Buat yang bawa mobil, bisa parkir di depan lapangan softball itu atau di fX. Gampang diakses dari mana-mana.

Ada kamar mandinya juga kalau mau mandi habis latihan. Walau kamar mandinya ngga sekeren di tempat nge-gym fancy yang ada hairdryer dan sauna-nya sih. Hahaha. Tapi cukup lah buat saya. Karena ada kamar mandi, saya bisa latihan pagi lalu mandi dulu di sana sebelum berangkat ke kantor.

Anak nongkrong Infinite

Sejauh ini saya sudah latihan hampir 2 bulan. Biasanya seminggu sekitar 3-4 kali latihan. Badan sudah berasa banget perbedaannya! Dari mulai tangan yang lebih firm, pantat yang ngga tepos lagi (hahaha plis anak kurus pasti ngerti), perut juga sudah mulai kebentuk. Ditambah lagi, sekarang saya ngga susah tidur. Yay! Target saya sih punya badan yang relatif kebentuk dan berat badan yang stabil atau kalau bisa malah agak naik sedikit biar padat berisi kayak Taylor Swift. So far, jalan menuju kesana sudah kelihatan. Yang paling penting, badan bisa sehat, pikiran segar, dan selalu ceria.


Baiklah demikian cerita kali ini. Ayoooo latihan bareng sambil seru-seruan. Info lebih lanjut, hubungi mereka lewat Instagramnya aja yaa. Hahahaa

Salam olahraga,


Diny

Pulang?

Pulang?

August 18, 2019


Dua bulan terakhir saya kembali tinggal di Jakarta, setelah hampir dua tahun tinggal di Flagtstaff. Sebuah tempat yang selalu saya anggap sebagai rumah. Sejak dua tahun lalu, saya selalu merasa Flagstaff bukanlah rumah. Flagstaff hanya tempat singgah saja. Tempat saya belajar dan saya pasti akan pulang, ke Jakarta. Seperti lagu saja ya..

Ke Jakarta aku kan kembali..

Kata orang, konsep rumah akan berubah setelah kita pergi merantau. Di tempat rantau, kita melihat dan merasakan kondisi yang berbeda dari biasanya. Kultur baru, orang-orang baru, lokasi baru, semua baru. Pelajaran dari hal-hal baru itulah yang membuat kita berubah, termasuk saya. Buat saya, perubahan itu adalah keniscayaan. Diny yang sekarang, bukan Diny seperti dua tahun lalu. Walau banyak juga sih hal-hal dasar yang masih sama. Di sisi lain, rumah juga berubah. Selama saya tidak di rumah, banyak hal yang terjadi, sehingga konsep rumah pun (mau tidak mau) tidak lagi sama.

Kembali pulang ke rumah, bukan hal yang ringan. Barangkali apa yang saya alami juga banyak dialami oleh orang-orang yang habis merantau. Dua tahun lalu, saya butuh 6 bulan untuk adaptasi belajar tentang perbedaan kultur. Sekarang, tentunya harus belajar lagi untuk menghadapi reversed culture shock.

Buat saya, dua bulan terakhir ini cukup berat. Saya harus kembali beradaptasi dengan ritme kehidupan di Jakarta. Flagstaff adalah kota kecil yang indah. Dekat dengan alam, tidak ada polusi udara, dan tidak ada polusi cahaya yang bikin saya bisa lihat milky way hampir setiap hari, jarak antara rumah dan kampus juga sangat dekat. Tempat yang sempurna untuk belajar. Tempo kehidupan di Flagstaff relatif lambat. Berbeda sekali dengan di Jakarta. Sekarang ini tempo hidup saya terasa cepat sekali dan melelahkan. Bangun dini hari, siap-siap, berangkat ke kantor, penuh sesak di kereta, bekerja hingga sore, penuh sesak di kereta (lagi), lalu sampai rumah sudah tinggal tersisa lelahnya saja. Napas pun sulit akibat polusi yang begitu pekat. Dulu sebelum kuliah, saya juga mengalami ini sih, tapi setelah Flagstaff, kok terasa lebih berat ya hehehe. Namanya juga masa penyesuaian ya?

Polusi Jakarta yang sangat pekat
Kehidupan sebagai pelajar tentunya sangat berbeda dengan kehidupan sebagai pekerja. Waktu sekolah, saya bisa santai belajar seharian tentang topik apapun yang saya inginkan. Sekarang setelah bekerja, saya harus belajar sesuai dengan kebutuhan kantor, walau akhirnya sih jadi belajar keahlian baru juga ya. Apalagi pekerjaan baru saya ini berbeda dari pekerjaan saya sebelum kuliah S2. Dulu saya bekerja di universitas, sekarang di LSM. Hal yang dikerjakan juga berbeda. Saya sih senang-senang saja dengan perubahan ini. Senang bisa belajar skill baru, yang pasti akan terpakai di masa depan. Seru deh.

Perbedaan lainnya yang paling terasa adalah soal makanan Indonesia. Tiga bulan terakhir di Flagstaff, saya sering merasa homesick. Homesick­-nya bukan karena kangen keluarga, karena kangen dengan keluarga bisa diobati dengan telepon. Rasa kangen yang menjadi-jadi itu ya karena kangen makanan Indonesia. Beberapa kali saya murung saking kangennya makan makanan Indonesia. Apalagi di Flagstaff tidak ada restoran Indonesia, yang paling mirip ya paling restoran Thailand. Begitu sampai di Jakarta dan kembali makan makanan Indonesia, semua makanan yang saya makan jadi terasa lebih enak dua kali lipat. Saya benar-benar rindu dengan masakan yang penuh cita rasa rempah Indonesia.

Teman-teman saya yang dari Amerika kurang bisa relatesama homesick karena makanan ini. Kebanyakan mereka sudah terbiasa dari kecil makan masakan seadanya di rumah dan relatif bukan makanan khas. Saya baru sadar kalau makanan itu bagian besar dari kultur saya sebagai orang Indonesia. Kalau selama ini saya take it for granted, sekarang saya lebih menikmati dan bersyukur bisa makan masakan Indonesia tanpa harus masak. Hehe

Banyak hal yang berubah di Jakarta. Sekarang sudah ada MRT, transjakarta sudah punya banyak sekali rutenya, banyak jalan protokol ada trotoar lebar, jembatan penyebrangan lebih mumpuni, dan sebagainya. Walau Jakarta masih macet, masih penuh polusi udara. Saya juga baru sadar kalau Jakarta itu bising sekali. Semua orang jalan cepat, banyak orang murung, orang-orang mudah marah atau reaktif terhadap suatu hal. Ke mana pun saya pergi, hampir semua orang selalu memegang dan menyibukkan diri dengan telepon selular mereka, termasuk saya.

Sore hari di Stasiun Sudirman. Orang-orang berwajah murung bersatu padu di dalam kereta api.
Jakarta dengan segala kesibukannya dan sejuta perubahannya, terasa sangat berbeda dibanding dahulu sebelum saya sekolah. Barangkali juga karena saya yang sudah berubah. Dengan semua perubahan ini, sekarang saya masih berusaha kerasan kembali tinggal di tempat yang saya kira adalah rumah. Entah sampai kapan. Bahkan saya masih tidak tau seperti apa definisi rumah untuk saya saat ini.

Saya tidak tau akan seperti apa perjalanan hidup saya beberapa waktu mendatang. Tapi saya yakin, akan banyak hal baru yang saya pelajari di sini. Hingga mungkin suatu saat nanti, saya bisa merantau lagi lalu belajar banyak hal baru lagi di tempat yang lain.

Selamat menikmati Jakarta.

xoxo,
Diny

Search This Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *