Berenang di Gua Rangko

Berenang di Gua Rangko

January 02, 2024
Halo!

Selamat hari pertama kerja di tahun 2024!

Hari ini aku ke kantor, lalu pulang kantor aku mau gym dulu. Pagi-pagi aku sudah kepikiran kapan aku sempat menulis. Akhirnya aku cicil saja tulisan ini saat aku di kereta perjalanan menuju kantor.


Hari ini tadinya aku mau cerita tentang perjalanan menyenangkan tahun ini ke Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur. Namun ternyata, baru cerita tentang Gua Rangko sebelum ke Wae Rebo aja sudah kepanjangan.. Jadi ini aku cerita tentang Gua Rangko dulu deh.

Ide perjalanan ke Wae Rebo ini dimulai saat kantor ku punya rencana untuk field trip ke Labuan Bajo. Ku pikir, jauh-jauh ke sana, sayang banget kalau hanya sebentar. Akhirnya aku extent perjalanan dan berangkat duluan untuk trip ke Wae Rebo.



Aku juga ngga ada kepikiran mau ke Gua Rangko. Rencananya, dari bandara, kami mau langsung pergi ke Wae Rebo. Kami pesan penerbangan pertama, kalau tidak salah jam 4 pagi. Ternyata pas sudah di bandara, kami baru tau kalau jadwal pesawat kami dipindah ke jadwal yang lebih siang di jam 6 pagi.

Oleh karena perjalanan ke Wae Rebo itu cukup panjang, perpindahan jadwal pesawat ini artinya kami ngga bisa langsung naik ke Wae Rebo hari itu juga. Akhirnya kami menikmati waktu di sekitar Labuan Bajo dahulu dan memutuskan untuk ke Gua Rangko.

Aku yang ngga persiapan apapun, ngga tau tentang gua ini.
Pelabuhan
Ternyata ke Gua Rangko perlu naik perahu dulu. Kami sewa perahu Rp100,000 per orang. Agak mahal, soalnya kami bukan naik dari pelabuhan yang umum. Kalau di pelabuhan umum kabarnya hanya sekitar Rp35,000 deh.

Dari pelabuhan ke gua, kami naik perahu sekitar 15 menit. Air lautnya sangat jernih, dari mulai di pelabuhan, aku sudah bisa melihat ikan-ikan kecil berenang. Di perjalanan kami melihat pemandangan gundukan batu karang yang diselimuti pepohonan pantai.

Ikan-ikan di sekitar pelabuhan.
Aku juga bisa melihat ekosistem padang lamun. Kalau kamu belum kebayang, ekosistem lamun itu semacam nama lain dari ganggang atau alga yang berukuran besar. Beberapa jenis ganggang laut bisa dikonsumsi seperti dedaunan yang biasa dimakan untuk sup miso atau dikeringkan jadi nori untuk makanan Jepang.

Ekosistem ganggang adalah ekosistem yang sangat penting. Ekosistem inilah yang membantu mengurangi gelombang ombak. Lamun juga tempat tinggal banyak ikan dan hewan laut lainnya. Lamun juga sumber makanan banyak hewan laut, bahkan di tempat lain ini makanan favorit dugong. Yaa tapi di Labuan Bajo ngga ada dugong juga sih haha.
lamun
Oke, lanjut. Nah, gua ini ternyata ada kolamnya haha. Aku ganti baju renang, lalu sewa kacamata snorkeling. Soalnya aku belum percaya diri berenang tanpa kacamata.

Saat masuk ke dalam Gua Rangko, aku takjub. Di dalam gua itu ada air yang sangat jernih. Kita pun bisa melihat keindahan formasi batu kapur di atas-atas gua yang disebut stalaktit.

Kabarnya, gua ini terbentuk dari kikisan air hujan selama ratusan tahun. Kalau ku bayangkan, berarti mungkin airnya jatuh dari stalaktit itu ya? Entahlah. Aku coba cari penelitian yang membahas proses pembentukan gua ini tetapi belum ketemu.

Oiya, kolamnya lumayan dalam, mungkin 5-6 meter? Aku degdegan sekali berenang di sana hahaha. Meski aku sudah bisa berenang, aku belum pernah berenang di tempat yang dalam.

Teman ku cukup berani berenang sampai pinggir-pinggir yang gelap. Aku maksimal berenang sampai tengah saja. Kalau bisa yang ngga terlalu jauh dari jangkauan tangan pegang ke stalaktit hahaha.

Jujur, benar-benar degdegan berenang di sini.


Aku difotoin temanku tapi bluuuuuurrr
Kabarnya gua ini akan semakin indah saat matahari mulai masuk di antara mulut gua. Cahaya nya akan berpendar, menerangi air di gua yang sangat jernih itu. Sayangnya, aku tidak di sana sampai sore, saat matahari sore mulai masuk. Lagipula, semakin sore sepertinya semakin ramai?

Selesai berenang di gua, kami main dulu di pantai sebentar. Haduh, pasir pantainya halus sekali. Ombaknya tipis-tipis saja dan airnya tidak dalam. Di tepi pantai ada ayunan yang cantik sekali.



Main sebentar saja tapi rasanya senang deh. Aku makasi banget ke temanku yang tau-tauan tempat ini, jadi aku bisa main di sana.

Anyway, selamat tahun baru. Semoga kamu selalu sehat dan semakin sering berbahagia ya.


Diny

Menikmati Senja di Ramang-Ramang

Menikmati Senja di Ramang-Ramang

January 01, 2024

Halo-halo!


Aku lagi mau ikutan 30 Hari Bercerita nih. Aku akan coba bercerita 30 hari ke depan tentang topik yang ku mau. Kemungkinan sih cerita jalan-jalan yang sudah lama banget ngga didokumentasikan lewat kata. Soalnya, aku lagi mau mengurangi waktu main Instagram dan Twitter. Terus aku ingin lebih banyak mulai menulis lagi.


Cerita pertama yang ingin aku ceritain adalah perjalanan ke Rammang-Rammang, Sulawesi Selatan.

Perjalanan ini adalah bagian dari perjalanan pertama aku bersama teman-teman pelatihan kepemimpinan, yang namanya BEKAL Pemimpin. Perjalanan kami pertama adalah ke Makassar. Menarik sekali buat aku, karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki kota Makassar. Sebelum acara BEKAL dimulai, aku ingin sekali pergi wisata di dekat situ.


Satu dua minggu sebelum aku berangkat ke Makassar, aku sempat googling dan menemukan objek wisata menarik di dekat Makassar yaitu Rammang-Rammang dan Taman Nasional Bantimurung. Sayangnya, aku tuh belum bisa nyetir mobil maupun motor dan aku ngga cukup berani pergi ke sana sendiri. Aku pun belum kenal teman-teman BEKAL Pemimpin, sehingga belum tau bisa mengajak siapa ke sana.


Sampai aku di bandara Makassar, aku memutuskan untuk pergi ke Rammang-Rammang saja, entahlah dengan siapa. Aku sampai di bandara sekitar jam 10 siang, lalu aku kenalan dengan beberapa teman-teman peserta BEKAL Pemimpin. Dari perkenalan itulah, aku ajak random teman baru ku. Ku tanya apakah dia bisa naik motor dan mau main ke Rammang-Rammang. Rencananya, aku mau sewa motor, lalu motoran ke sana. Betapa beruntungnya aku, orang pertama yang ku ajak langsung mengiyakan ide jalan-jalan ke Rammang-Rammang. Yes!


Dari bandara sebenarnya hanya setengah perjalanan menuju Rammang-Rammang, sepertinya hanya 30 menit deh. Tetapi, kami perlu ke hotel dulu untuk check in kamar, makan siang, dan taruh barang-barang. Akhirnya dari bandara, kami naik bus bersama teman-teman peserta BEKAL yang lain menuju ke hotel, lalu makan siang, dan taruh barang. Di perjalanan pun aku langsung cari kontak penyewaan motor dan minta motornya diantar ke hotel.



Ngga lama setelah itu, aku dan teman ku langsung pergi ke Rammang-Rammang. Dari hotel, kira-kira jam 4 dan perjalanan ke Ramang-Ramang sekitar 1 jam. Di perjalanan, ternyata kami satu jalur sama banyak truk, pengemudi yang baru pulang kerja, jadi agak kena macet sedikit. Sempat hujan deras sekali. Untungnya aku bawa jas hujan yang bisa ku pinjamkan ke temanku dan aku pakai jaket yang water-resistant. 


Pemandangan di kanan-kiri jalan terus berganti. Dari mulai jalan-jalan besar, kota tua, lansekap perbukitan, kebun, hutan sekunder, sungai, dan segala rupa.


Sampai di Ramang-Ramang, sudah agak sore sekitar jam 5. Kami sewa perahu kecil untuk menuju desa Ramang-Ramang. 


Oiya, Rammang-Rammang adalah bentangan kawasan karst yang sangat luas. Ribuan tahun lalu, kawasan ini telah menjadi tempat tinggal manusia purba yang ditandai dengan berbagai lukisan gua, artefak batu, mata panah, sisa makanan, dan gerabah masa lampau. Saat ini, selain menjadi tempat tinggal masyarakat, kawasan ini juga menjadi laboratorium alam bagi para peneliti.




Pertama, aku belum pernah melakukan perjalanan dengan perahu untuk melihat pemandangan bukit karst.


Kedua, aku suka sekali melalui liak liuk sungai yang di pinggirnya banyak tetumbuhan. Kawasan ini memang dulunya adalah kombinasi hidrologis daratan dan permukaan laut, yang dipengarugi pasang surut air laut. Di kanan kirinya kita dapat melihat tumbuhan Rhizophora sp. dan Nypa fructicans.


Berada di antara tetumbuhan Nypa fructicans


Ketiga, teman perjalanan ku ternyata sedang ulang tahun! Yaampun, sekalian merayakan ulang tahun dia deh.


Perjalanan menuju desa Rammang-Rammang sepertinya hanya sekitar 20-30 menit. Aku menikmati sekali melihat pemandangan pegunangan karst yang sangat unik. Sampai di sana, sudah di ujung petang, kami lekas menikmati warna-warni senja yang sangat indah.



Berada di sana, aku melihat semburat langit biru keunguan yang bercampur dengan warna jingga terang. 


Tidak lama kemudian, kelelawar-kelelawar keluar dari sarangnya yang ada di antara lubang-lubang batu karst. Bayangkan, langit yang sedang bagus-bagusnya dilewati oleh sekawanan kelelawar yang sangat banyak. Aku takjub sekali dibuatnya. Benar-benar perjalanan yang indah.


Senja di Rammang-Rammang

Garis-garis kelelawar yang mulai keluar dari sarangnya

Sayang sekali karena kami baru sampai sana ketika hari mulai berakhir, kami tidak terlalu lama berada di sana. Setelah kami menyaksikan senja dan temanku selesai sholat maghrib, kami bergegas kembali ke pelabuhan kecil tempat kami menyewa perahu. 


Di perjalanan, kami kembali melihat hutan nypa dan pegnungan karst yang sangat unik itu. Langit yang tadinya berwarna keunguan pun sedikit demi sedikit berubah menjadi jingga dan merah. Benar-benar sore yang tak pernah ku bayangkan.


Sampai di pelabuhan hari sudah gelap, untung saja Bapak pengemudi perahu sudah hapal benar dengan titik-titik batu yang menojol. Karena perahu itu tidak ada lampunya. Buat ku sih kondisi sangat gelap dan aku tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas. Kami sampai di pelabuhan sekitar jam 7 lalu langsung beranjak balik ke penginapan.


Perjalanan menuju pelabuhan


Sepanjang perjalanan kami ngobrol mensyukuri perjalanan dadakan ini karena bisa berkesempatan melihat sejumput keindahan dunia. Kami sampai di hotel sekitar jam 8 lalu langsung makan makanan yang sudah disediakan oleh panitia. Kami bertemu dengan teman-teman BEKAL Pemimpin yang lain, berkenalan, berbincang, lalu istirahat.


Buat ku, perjalanan ini menjadi pembuka perjalanan yang sangat menarik. Perjalanan BEKAL Pemimpin yang membuatku banyak punya teman baru dan tempat aku berproses menjadi pribadi yang lebih baik.


Oiya, aku menemukan tulisan KOMPAS yang lebih lengkap menjelaskan tentang karst di Rammang-rammang, silakan baca tulisannya di KOMPAS.


Terima kasih sudah mampir di blog ku. Selamat menikmati tahun 2024!



Diny

Jodoh

Jodoh

October 15, 2023

I used to believe that in this whole universe, there is one special person that is meant for us. Someone who we often called as 'the one'. A person whom I can proclaim as something like, "oh I wonder why it won't work with others, because they were not meant for me". A thought that with that particular person, we can do it all easily, effortlessly.

In Bahasa Indonesia, we probably called it 'jodoh'. Jodoh means something that matches so that it become partner/pair. Suitable. Appropriate. Meant to be.

I thought that the concept of the romantic jodoh like a Disney story where you meet a person and it is just works well and easy. A lady with a prince charming that last forever and ever. They will concur all the problems in their world.

Until a couple of years ago, my idea of jodoh has changed. 

I think jodoh is not only things that are easy. It has something to do with what we do continuously but also it is beyond our control. It is written in the sky, but also has a day-to-day job with a regular review period. 

Is it jodoh if it not last forever? Well, my personal experience was the first thing that helped me learned that jodoh can have an end line. Something can be a jodoh as long as He allowed and gave you a chance to have or experience it. When it ends, the jodoh period also ends.

Everything has an end. And that's what makes things special. We only get things for limited time.

I think this understanding creates a deeper meaning in my life. Things that happened in my life is not gonna be forever. Therefore, I will cherish things and person that I have in my life right now. 

Even when life goes well, there won't be a guaranty the jodoh we love dearly will be with us tomorrow. And now, one of the scariest thing in my life is learning to trust jodoh concept again, even if there is no tomorrow.

Cloudy Days

Cloudy Days

April 17, 2022


Sometimes I am not feeling like my self. I had cloudy days where everything seems off. 

On those days, I was feeling empty, tired, and sad. It was hard to get up from bed. Those days, I cannot genuinely smile as much as I do on better days, which is totally ok but I don't like it.

On better days, it was easier for me to give appreciation and give more love to myself. It was easier to feel calm and peaceful.

But on cloudy days, I do have a monster hijacking my regular personalities. It can last for 2-3 days depending on how fast I can regulate my emotions and feelings. 

In the past, I blamed my partner because I don't like cloudy feelings. I didn't know how to regulate it. And it was easier to just blame it to someone else.

Lately, I figured out that even when he isn't around, I still have those cloudy days. Another reminder that we are the one who are responsible with our own feelings. 

Even when I have no significant problems, it still comes and goes like a wave.

I guessed the root of problem that caused this is because of I tend to have chronic lack of self worth. I've been working on it for a couple of years. Am I getting better at this? I don't know my friend, I don't know. I want to believe that I am, but sometimes it feels harder than usual.

I believe there must be some ways to make it more bearable. One of which is probably I just need to go through all of those cloudy feelings and then let it go. 

Or maybe cloudy days are part of being human. It is totally normal to not feeling sunny all the time. Just like the weather. And based on previous personal references, it will eventually pass and I will be just fine.

Menikmati Pameran di Galeri Nasional

Menikmati Pameran di Galeri Nasional

April 03, 2022


Kemarin saya pergi jalan-jalan ke Galeri Nasional Indonesia. Senang sekali rasanya! Saya suka pergi ke museum atau ke galeri seni.

Galeri Nasional terletak di pusat kota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Timur, tepat di seberang Stasiun Gambir.

Untuk bisa masuk ke Galeri Nasional, kita wajib melakukan pendaftaran online di website mereka. Kita bisa pilih jam masuk sesuai dengan yang kita inginkan dan tergantung dari ketersediaan slot yang masih tersisa. Setelah melakukan pendaftaran, kita akan mendapat barcode tiket masuk melalui email. Barcode inilah yang akan di scan sebelum masuk ke ruang pameran. Tanpa pendaftaran ini, kita ngga ngga akan bisa masuk ke ruang pameran apapun alasannya.

Galeri Nasional punya beberapa ruang pameran. Pameran yang sudah pasti selalu ada namanya Pameran Tetap. Letaknya di sebelah kiri kompleks Galeri Nasional. Kalau kamu belum pernah ke sana, saya sarankan kamu booking 2 sesi. Ini supaya kamu bisa lebih santai dan menikmati semua karya nya. Kalau satu sesi saja rasanya terlalu terburu-buru atau belum selesai baca dan menikmati semua karya yang dipamerkan. 

Di Pameran Tetap, saya paling suka lukisan Kapal Karam di Landa Badai karya Raden Saleh. Di sini juga ada replika lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang disandingkan dengan karya Charles V berjudul Pengunduran Diri. Kalau tidak salah, kedua lukisan tentang Pangeran Diponegoro di Galeri Nasional Indonesia adalah lukisan replika. Lukisan aslinya dipajang di Istana Merdeka (kalau tidak salah ingat). 

Selain lukisan itu, saya juga suka lukisan Dyan Anggraini. Saya merasa lukisan itu sungguh menggambarkan perjuangan seorang ibu dalam berbagai aspek dalam hidupnya.

Selain lukisan, saya juga suka patung karya Dolorosa Sinaga berjudul Solidaritas. Karya Dolorosa Sinaga memang erat sekali dengan pencerminan kekuatan perempuan, sebuah tema yang saya secara personal sangat suka.

Solidaritas

Nah, minggu ini, saya ke pameran berjudul Indonesian Women Artist #3: Infusions Into Contemporary Art yang menampilkan 10 perupa perempuan Indonesia. Seluruh perupa tersebut berusia lebih dari 50 tahun. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 30 Maret sampai 24 April 2022 di Gedung A dan B Galeri Nasional Indonesia.

Buat saya pameran ini sangat menarik, menampilkan berbagai rasa dan warna, juga cerita yang kompleks, dinamis, dan mendalam. Saya paling suka di ruang yang berisi karya-karya ibu Dyan Anggraini. Lagi-lagi saya terkesima dengan seluruh karya Ibu Dyan. Karyanya berjudul Kor Bungkam juga sangat menarik.

Karya Dyan Anggraini lainnya yang paling terngiang bagi saya adalah karya berbentuk kaki-kaki berjajar dan penuh luka menganga yang dijahit dengan peniti. Seperti menggambarkan perjalanan panjang yang menyakitkan. Peniti ini bermakna perjalanan seorang seniman yang tidak mudah penuh tantangan, hambatan yang tiada habisnya.  Semua karya Dyan Anggraini yang ada peniti-penitinya, saya sukaa!


Karya Dyan Anggraini

Oiya, kalau kamu ke sini, jangan lupa kalau pameran Indonesian Women Artist ini ada di Gedung A yang berada di tengah Galeri Nasional dan Gedung B yang ada di sebrang pintu keluar ruang pameran gedung A.

Nah, kalau di gedung B, saya paling suka karya ibu Dolorosa Sinaga (lagi). Soalnya karya Dolorosa Sinaga itu seperti memiliki 'nyawa' tersendiri dan kisah yang mendalam. Apalagi patung berjudul Merenungi Hari Akhir. Coba deh kamu lihat karya-karya Dolorosa Sinaga lainnya di Katalog Seni Kontemporer Indonesia ini.

Karya Dolorosa Sinaga

Di gedung B juga ada ruangan karya Bibiana Lee yang mengusung tema rasisme. Saya suka karena ruangannya hitam merah dan pesannya langsung dapat.

Oiya terakhir, sekarang ini juga ada pameran solo Otty Widasari yang berjudul Partisan. Pameran yang dikurasi oleh Luthfan Nur Rochman ini membedah keberadaan teknologi media terkini yang berinteraksi dengan berbagai media lain dan juga penonton. 

Ruangan pameran terbagi menjadi tiga bagian. Pertama dalam bentuk karya narasi, ini saya suka. Kedua, perpaduan antara percakapan sehari-hari, teknologi, interaksi dengan pengunjung, dan segala kekacauan atau kerapiannya. Ketiga, video-video karya seni yang pernah ditampilkan di berbagai festival di dunia.

Saya cukup suka ruangan tontonan yang ada di dalam. Meskipun kalau sendirian, saya ngga akan berani masuk karena ruangannya agak gelap dan sepi. Saya takut hehehe. Kalau ada teman dan/atau pengunjung lain tetap seru kok.



Menikmati karya Otty Widasari


***

Selesai melihat pameran, saya dan teman main ke ruang Pajang Karya yang sedang menampilkan karya-karya sketsa Iwan Widodo. Di sana, saya ngobrol dengan mas yang jagain, namanya Mas Anjar. Kata Mas Anjar (kalau ngga salah), di situ kita bisa berkarya dengan media yang ada. Akhirnya saya menggambar sebuah karya berjudul Musim Semi di Flagstaff.


Menggambar di Pajang Karya

Sambil menggambar, saya dan teman saya mengobrol ngalor-ngidul sama Mas Anjar. Lalu dia kasih tau ternyata ada yang namanya KamiSketsa dan ada pelatihannya. Tanggal 7 April ini akan ada pelatihan langsung yang diajari oleh Iwan Widodo. Pelatihan ini gratis dan digelar secara rutin. Kamu bisa dapat informasinya di Galeri Nasional Indonesia. Pulang menggambar, saya dan teman dikasih jajanan oreo untuk dimakan di jalan. Terima kasih mas!


Musim Semi di Flagstaff. Pegal juga menggambar kertas besar. 

Pulang dari Galeri Nasional, kami main ke Mangga Besar naik transjakarta. Saya jajan kue di toko kue jadul yang cukup terkenal namanya Suisse Bakery, rekomendasi dari Jen. Saya jajan kue sus, teman saya jajan bolu ketan. Dua-duanya enak sekali!

Suisse Bakery buka setiap hari jam 7 pagi - 8 malam
Alamat Suisse Bakery:
Jl. Hayam Wuruk 114 Blok A No.5-6, RT.10/RW.9, Maphar, Taman Sari, Jakarta Barat, 11180

Malamnya, kami makan pho di Pho Saigon. Saya sudah lama banget ngga makan pho yang enak dan di sini beneran enak banget. Dagingnya banyak dan kuahnya pas. Makan ini bikin hati ku semakin senang. Habis makan pho, baru deh pulang naik kereta api dari stasiun Mangga Besar yang jaraknya hanya 500 meter dari Pho Saigon.

Pho Saigon buka setiap hari jam 10 pagi - 10 malam.
Alamat Pho Saigon: 
Jl. Raya Mangga Besar No.72, RT.6/RW.1, Taman Sari, Jakarta Barat, 11150

Jajan kue sus di Toko Suisse

Pho Saigon

***

Sungguh hari yang menyenangkan!


Semoga hari-hari mu juga menyenangkan yaa.


Diny


Jumping Off a Rocky Ledge in Sedona

Jumping Off a Rocky Ledge in Sedona

March 31, 2022


Hello fellas,

As an attempt to preserve some memories, I would like to write memorable trips I did in the US. 

 

This one is a major throwback to the very first trip I did in Flagstaff. I was just arrived, and it was my third day I in Flagstaff. I barely grasp the idea that I was right in the US, pursuing my dreams to study abroad. 

 

One of the Indonesian fellows, Dany, asked me and my roommate, Thalita, if we would like to join a trip to Sedona with a church youth group she met in International House. International House is kinda like a kos-kos-an (boarding house) for international student. And the church youth group had get-together activities like hiking. I though this probably like tafakur alam in Muslim community back home. 

 

So, I definitely said yes. 

 

She picked me and my roommate about 8 am. She introduced us to CJ from the International House. So, four of us, me, my roommate, CJ, and Dany drove down to Sedona. Little did I know this small town will be my favorite place of all time in the world.


 

It took about an hour drive from Flagstaff to Sedona. The views were amazing! I amazed by the variety of landscapes in this scenic route. Pine forest changed into shrubs, light color rocks changed to red color rocks. It was all beautiful.

 

We arrived and parked in a small parking lot. Then, we met the other group from the church youth group. CJ and Dany introduced us to them. There were around 20 people, mostly undergrads. They were all smiley, friendly, and fun.

 

Well, this was new to me. Hiking in a not-so-tropical-area. Hiking with lots of strangers. It was super exciting!



The hiking trails were not too far from the main road. We walked about 10 minutes. The trail was ended in a small river. We called it curug in West Java. But there, we call it a river. 

 

The weather was nice, not too chilly or hot. The air was super dry. My tropical skin hasn’t adapted to a dry and chilly weather, but it was all good. 

 

The other folks started swimming in the river. They jump from a short cliff on the other side of the river. At first, I was just looking at them, laughing and just observing them.

 

And then, I decided to join them, jumping from the little cliff. It was cool. At that time, I barely can swim. I did not know how to float. The river was a little deep, probably 2 meters deep, so I can't touch the riverbed. 

 

But hey, let’s try it!


I followed them to the cliff, and I jumped! Even though I cannot swim. Hell yeah.

 

The water was very fresh and cold. I was able to swim back to the riverside. And one of the them helped me to get the riverside. Hahaha.

 



From that very first trip, I know this journey will be lots of yes to new things. I knew I will enjoy every bit of it. I knew it will explore my boundaries. Figuring out if I could find the other sides of me that never been explored.

 

So, it was such a nice first trip. A celebration of my accomplishment. A great preamble experience that starts a really fun experience. 



Hope you enjoy the pictures and stories as much as I do.

 

Thank you for reading.

 

Love,

Diny

Hal-hal yang membuat hati senang

Hal-hal yang membuat hati senang

October 05, 2021

Minggu lalu saya makan malam dengan teman lama. Kami ngobrol-ngobrol soal kehidupan. Di antara pembicaraan itu, dia bertanya, what makes you happy these days? Pertanyaan itu masih berputar di kepala saja beberapa hari kemudian. 

Apa ya yang bikin saya senang belakangan ini?

Well, sebenarnya saya relatif gampang senang. Cuma secara spesifik, apa ya.. Akhirnya saya pikir saya tulis saja, biar ngga kepikiran terus. Walau katanya sih jangan terlalu memikirkan kesenangan. Kesenangan kalau ditulis katanya malah bikin kebahagiaan lebih sedikit. Entahlah.

Saya ingin menulis ini, jadi yaudahlah ditulis aja hehehe. Jadi ini dia hal-hal yang biasanya membuat saya riang:

Saya senang saat berhasil olahraga seminggu tiga kali. Inginnya bisa olahraga setiap hari Senin, Rabu, Jumat setiap jam 7-8 pagi. Terkadang ngga berhasil, lalu saya olahraga di sore hari. Kadang ngga berhasil juga tiga kali, ngga papa sih, yang penting ada waktu untuk berolahraga.

Saya senang saat bangun pagi, lalu sempat menyiram tanaman dan membuat sarapan, sebelum mulai bekerja.

Saya senang ketika bisa berenang di akhir pekan. Apalagi kalau kolam renang sepi dan bersih, lalu habis itu bisa jajan yogurt atau susu cokelat.

Saya senang kalau lagi bisa rajin masak dengan menu kombinasi yang selalu berbeda setiap harinya dan setiap makannya. Saya kurang suka makan hal yang sama berulang kali. Cuma hal itu kan membuat saya jadi punya konsekuensi. Konsekuensinya, harus buat strategi atau rencana di akhir pekan, agar bisa masak rutin dengan menu yang selalu berbeda dan tidak menghabiskan banyak waktu. Kalau sedang berhasil, saya senang sekali rasanya, puas. Kalau sedang ngga berhasil, setidaknya saya akan berusaha makan tiga kali sehari, itu syarat minimal yang bisa membuat saya senang.

Saya senang kalau lagi bisa membaca buku yang seru. Saya ngga selalu membaca buku setiap hari atau setiap minggu. Saya baca kalau sedang ingin saja. Kalau bukunya tidak membuat saya tertarik juga saya ngga maksain terus membaca buku tersebut sampai selesai. Jadi, pas baca buku yang menarik dan menyenangkan, saya senang betul!

Saya senang saat bisa latihan pilates. Latihan pilates ini baru saya mulai 1,5 bulan terakhir. Saya menambahkan pilates di rutinitas olahraga mingguan. Ternyata saya suka pilates! Saat latihan, tentu saja badan panas semua dan paha kencang, tetapi setelah latihan badannya jadi enak sekali.

Saya senang bisa tidur 6-7 jam. Saya belum bisa rutin tidur lebih awal, masih di sekitar jam 11-12. Saat saya bisa tidur jam 10, saya semakin senang. Tetapi yang paling penting bisa bangun pagi dengan segar, itu sudah bikin saya senang.

Saya senang kalau ada teman minta janjian telepon untuk cerita-cerita atau curhat. Kadang saya yang curhat. Kadang bertukar cerita-cerita yang membuat hati saya atau dia senang. Senang juga karena saya punya beberapa teman yang bisa begini. Akhirnya, kalau yang satu sibuk, saya bisa kontak yang lain.

Saya senang kalau bisa rutin beresin rumah, empty the sink setiap malam, dan ngepel lantai dua kali seminggu. Saya ngga sanggup ngepel lantai setiap hari. Saya tau sekali kalau ini bukan rutinitas yang alamiah buat saya dan jarang sekali terjadi. Maka itu kalau saya berhasil tuh rasanya senang sekali.

Saya sering menulis bermacam-macam jenis tulisan untuk pekerjaan. Saya senang juga menjalani itu. Walau biasanya saat menulis, saya sering kali merasa gundah atau cemas. Namun, setelah sebuah tulisan berhasil saya selesaikan, saya biasanya merasa senang. Apalagi kalau saya bisa punya kesempatan menulis untuk diri sendiri seperti di blog ini. Rasanya senang sekali dan damai.

Favorit saya adalah langit warna biru dan ada awan putih. Cuaca yang cerah dan tidak terlalu terik. Saya juga suka kalau sore hari agak hujan rintik-rintik. Saya suka hujan, terutama kalau saya sedang ada di rumah sehingga saya bisa menikmati hujan dari dalam rumah saja. Hujan yang rintik-rintik adalah kesukaan saya. Kalau hujan terlalu deras rasanya khawatir banjir dan hujan berpetir membuat saya takut.

Saya suka sekali kalau tanaman saya bisa tumbuh dengan rimbun dan tidak ada daun yang pinggirnya kering. Daun yang pinggirnya kering ini pertanda saya kelupaan siram tanaman. Kalau semuanya sedang rimbun, rasanya saya senang melihatnya. Tanaman adalah bagian besar dalam hidup saya. Saya senang bisa berada di sekitar tanaman.

Saya senang juga kalau bisa ada di alam terbuka. Entah itu ke kebun raya, kebun binatang, area perbukitan, taman, dan lain sebagainya. Saya senang memperhatikan bunga-bunga, corak daun, kupu-kupu, dan capung. Taman di Jakarta agak terlalu seragam isi tanamannya dan kebanyakan adalah tanaman introduksi. Saya kurang senang, tetapi boleh lah buat hiburan mata, hati, dan pikiran.

Saya senang kalau takaran teh, matcha, cokelat, dan kopi yang saya buat bisa pas. Soalnya kadang ngga pas. Entah kebanyakan gula, terlalu pahit, terlanjur dingin, dan lainnya. Saat bisa buat minuman dengan rasa yang saya inginkan, rasanya senang sekali.

Sarapan favorit saya adalah roti bakar. Saya suka sekali roti bakar srikaya pakai butter, lalu minumnya pakai teh hangat campur susu sedikit. Apalagi kalau bisa makan ini dengan tidak tergesa-gesa, karena keburu masuk kantor dan lain-lain.

Salah satu sarapan enak favorit saya. Roti Eneng dan selainya, lalu minum kopi tubruknya Tanamerah.

Kadang ada teman yang suka kirim-kirim makanan atau barang. Saya suka dikejutkan dengan itu semua karena hal itu membuat saya merasa diingat, disayang, dan diterima. Kadang saya melakukan hal yang sama kepada teman-teman, agar mereka ikut merasakan yang saya rasakan.

Saya suka bisa punya kesempatan untuk ngobrol panjang atau kerja bareng bersama teman. Kadang di kafe, di rumah, atau di kantor. Saya percaya, orang mungkin ngga akan ada selamanya dalam hidup kita. Ketika mereka ada dan kesempatannya ada, saya suka sekali menikmati waktu bersama mereka.

Saya senang kalau hubungan dengan keluarga sedang akur dan hangat. Soalnya kadang-kadang berantem karena hal sepele, biasa lah namanya juga keluarga. Walau semakin tua rasanya saya bisa lebih mengerti mereka dan mereka lebih mengerti saya, tetap saja ya pasti ada fase kesal atau kecewa. Saya pikir ini ya seperti kehidupan aja kan pasti ada naik turunnya. Kalau sedang akur, tentu saja saya lebih senang dan damai.

Saya senang juga kalau tanpa sengaja eh bisa ngobrol dengan orang baru dan kebetulan seru obrolannya. Soalnya ini kan jarang-jarang bisa terjadi. Saya senang dan menikmati obrolan-obrolan acak seperti ini. Saya merasa, hal ini membuat saya bisa tau bentuk kehidupan yang berbeda dengan bentuk-bentuk kehidupan yang selama ini saya tau. 

Saya suka mandi malam pakai air hangat. Walau saya jarang sih mandi air hangat. Kalau mandi air hangat saat badan lagi capek-capeknya, duh itu yang paling nikmat. Apalagi kalau habis itu minum cokelat hangat. Rasanya tenang.

Saya suka kalau saya lagi bisa disiplin sama target yang saya buat sendiri. Saya juga suka kalau saya ngga terlalu galak sama diri sendiri, walau sedang ngga bisa sesuai target. Kadang bisa kadang ngga, tapi yang penting ngga galak sama diri sendiri aja itu sudah bikin saya senang.

Saya suka sekali hiking.

***

Namanya hidup keseharian, kadang ada hal yang bikin saya senang, kadang ada juga yang bikin saya masygul. 

Tentu saja ada hal-hal lain yang saya tau saya suka, tetapi saya lagi ngga punya. Misalnya, jatuh cinta. Saya tuh suka sekali ya merayakan kasih sayang tetapi sekarang saya lagi ngga punya objeknya, gimana dong hehehe. Yaudah aja kan, mau gimana lagi. Kan ngga bisa dipaksain. Bukan berarti saya ngga bisa bersenang-senang tanpa ada figur romantis.

Kalau ada dan hubungannya baik, ya tentu saja saya tau kalau itu bisa menambah kesenangan berkali-lipat. Berbagi kesenangan dan kesedihan dengan orang lain adalah kebutuhan sosial manusia. Saya rasa wajar saja sih kalau saya menginginkan hal-hal tersebut. Meskipun kebutuhan ini bisa saja dipenuhi oleh bentuk hubungan non-romantis, seperti pertemanan atau keluarga. Tetapi, rasanya agak beda.

Saya pernah ada naksir orang tapi pada akhirnya si orang itu takut dia ngga cukup baik untuk bikin saya senang di masa depan. Saya agak heran, soalnya, lah saya minum cokelat hangat saja sudah senang. Terus, saya sadar betul, orang lain tentu saja hanya bisa menambah kebahagiaan yang sudah saya miliki. Kalau dari sayanya ngga bisa membuat hati saya senang, ya ngga ada orang lain yang bisa menambahkan ke wadah yang bolong. 

Akhirnya ngga saya lanjutin hubungannya. Soalnya saya ngga mau punya hubungan yang membuat saya harus bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, atau demikian sebaliknya. Di sisi lain, bisa jadi saya aja yang belum ingin kasih hati ke orang lain, sehingga alasan kecil bisa membuat saya ngga mau mengusahakan sebuah hubungan.

Lah apa sih malah curhat. Hahaha. Intinya, saya ngga mau lagi lah bergantung sama orang lain untuk bisa merasa senang. Kesenangan saya adalah tanggung jawab saya. Lagian, banyak hal-hal sepele yang terbukti bisa membuat hati saya senang. Saya mau fokus saja menikmati hal-hal tersebut. 

Selagi ada dan selagi bisa.

Sekian dan terima kasih.


Diny

Search This Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *