journal

Refleksi Tahunan

Haloo!

Aku habis ulang tahun belum bikin tulisan tahunan. Akhirnya hari ini aku sempat menulis lagi di sini. Aku mau menuliskan beberapa hal penting yang ku pelajari setahun terakhir. 

So here it is..


Relasi dengan orang tua
Setahun terakhir sepertinya aku belajar lebih banyak memahami apa yang dipikirkan dan dialami oleh orang tua ku sehari-hari. Aku melihat, sepertinya memang di setiap fase kehidupan itu kita bisa terus bertumbuh. Setiap fase kehidupan kita belajar hal baru atau hal lama yang perlu kita hadapi.

Ku lihat, dari kedua orang tua ku yang sudah memasuki usia lansia. Banyak hal dan situasi baru yang perlu mereka hadapi. Anak-anak sudah pada besar, sudah punya kehidupan masing-masing. Sebagai suami dan istri, mereka semakin sering bersama dan peran mereka juga terus berkembang.

Sekarang ini, Ibu jauh lebih sibuk berorganisasi dibandingkan Bapak. Ku lihat, Ibu yang sekarang punya banyak aktivitas baru, teman baru, kesenangan dan kepusingan baru. Bapak yang dulunya lebih sibuk, sekarang lebih banyak di rumah. Sepertinya komunitas bapak-bapak memang lebih jarang daripada komunitas ibu-ibu. Tentu ini menghadirkan dinamika yang berbeda di antara mereka.

Aku jadi semakin menyadari, hubungan suami istri itu dinamikanya bisa terus berubah sesuai dengan fase kehidupan. Yang tertinggal apakah suami dan istri masih mau saling memahami dan belajar satu sama lain atau tidak.

Aku juga melihat, menjadi lansia artinya stamina tubuh juga berubah. Makanan yang dimakan dan aktivitas harian menjadi sangat penting untuk menentukan kesehatan tubuh. Selain itu, kesehatan mental juga tidak kalah penting. Kalau ada pikiran-pikiran meresahkan, dampaknya bisa langsung dirasakan bapak dan ibu.

Aku belakangan ingin bisa memberikan waktu berkualitas lebih banyak untuk hadir untuk bapak dan ibuku. Aku juga belajar ini dari Arkhe. Beberapa kali waktu dulu dia main ke rumah, dia sanggup mendengarkan cerita-cerita Bapak sampai 3-4 jam. Bahkan aku ikut mendengar cerita-cerita yang sebelumnya belum pernah ku dengar. Aku jadi terinspirasi. Sepertinya kalau aku lebih sabar dalam mendengarkan, mungkin akan memberi hadiah berharga untuk bapak dan ibu.

Ku rasa, bisa mengobrol dengan anak-anaknya, adalah salah satu sumber kebahagiaan orang tua. Semoga semakin aku beranjak dewasa, aku bisa hadir lebih penuh untuk orang tua dan keluargaku.



Bentuk hubungan yang dinamis
Sebuah hubungan itu, dengan siapapun, memang dinamis. Teman yang dekat sekarang, belum tentu bisa akrab lagi tahun depan. Bisa saja terjadi friksi yang membuat ngga bisa lagi berteman dengan keakraban yang sama. Situasi bisa berubah, bentuk hubungan bisa berubah.

Aku senang sekali sih setahun terakhir aku banyak punya teman-teman baru dan masih cukup dekat dengan teman-teman lama. Aku ingin menikmati dan savouring hubungan-hubungan manis ini. Belum tentu hubungan ini akan selamanya. Namun, selagi ada, kan ku nikmati saja segala perasaan menyenangkan ini.

Kadang aku berharap, teman-temanku bikin blog. Aku bisa tau mereka lagi mikirin apa dan bagaimana kabarnya. Soalnya kadang ketemuan atau teleponan pun masih belum cukup. Tapi ku pikir-pikir lagi, ya vulnerability is a gift sih. Tidak semua orang mau membagikan kabar mereka kepada orang lain.

Aku belajar untuk melepaskan kemelekatan atas hubungan. Kalau hubungan memang tidak ditakdirkan untuk selamanya, ya aku bisa berduka, lalu kehidupan bisa terus berjalan. Di sisi lain, aku bisa merawat hubungan-hubungan yang bisa dan mampu ku rawat.

Hubungan sosial ini sangat penting untuk well beings dan juga sepertinya menjadi salah satu core value aku. Semoga semakin banyak umurku, aku semakin pandai merawat dan menikmati menjalani hubungan-hubungan yang bentuknya beragam.

Selebihnya, aku mau mengingatkan diri untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Semoga ke depan banyak hal-hal menyenangkan dan membahagiakan di hidupku. Aamiin.

(kaku banget nulis tulisan ini, saking sudah lama ngga nulis blog hahaha)

Sampai ketemu di tulisan lain ya!

Diny

Proses Menjadi Orang Dewasa

Haloo, gimana kabar hari mu? Semoga hari mu menyenangkan..

Aku tadi habis konsultasi ke psikiater ku. Terus habis sesi, aku merasa legaaaa..

Aku pertama kali ketemu dokterku ini hampir 5 tahun lalu. Sewaktu merasa butuh bantuan untuk kesehatan mental, aku lekas buat beberapa janji dengan psikiater dan psikolog. Waktu itu, aku baru tau kalau ternyata dapat jadwal sesi dari psikolog/psikiater tuh lumayan ngantri panjang. Setidaknya 2 minggu, tapi banyak juga yang 1 bulan atau bahkan ngga menerima pasien baru (saking penuhnya). 

Awalnya, aku coba ke psikolog, tetapi aku merasa kurang cocok sama psikolognya. Memang psikolog/psikiater itu perlu cocok-cocokan sama kitanya. Nah, psikolog pertama ku usianya jauh lebih tua. Aku sulit merasa nyaman dengan beliau. Akhirnya aku coba ke psikiater dan alhamdulillah cocok. 

Saat aku cocok sama psikiater ku ini, aku lumayan senang cocoknya sama psikiater, dengan harapan siapa tau aku bakal dikasih obat hehehehhehe. Ya gimana ya, aku dulu merasa hidupku pelik sekali. Ku pikir, kalau ada bantuan obat, mungkin aku jalaninnya dengan jauh lebih mudah. Ngga taunya kata dokter, aku belum perlu bantuan obat. Aku juga sempat kira aku tuh pasti banget depresi, ternyata kata dokternya aku ngga tergolong depresi. Ini yang bikin aku jadi yakin, kita memang ngga bisa diagnosa sendiri. Semacam sakit fisik aja, kita perlu bantuan dokter untuk kasih tau perkiraan diagnosisnya.

Pada masa-masa awal terapi, dokterku bilang, aku kesulitan mengelola kedukaan. Kemudian, dokter membantuku mengenali dan memproses perasaan-perasaan yang aku rasakan. Rasanya prosesnya lambat sekali. Aku juga kesulitan merasa sedih (???). Oleh karena itu, di awal, fokusku adalah belajar membiarkan diriku merasa sedih. Baru pelan-pelan belajar mengenali bentuk perasaan lainnya.

Aku pernah beberapa kali sharing tentang apa saja yang ku pelajari dari sesi-sesi bersama dokterku. Kalau mau baca, bisa klik label journal di blog ku ini. 

Dulu, kayaknya aku jarang banget bisa nangis di depan keluarga atau di depan teman. Ya kalau curhat palingan sambil senyam senyum aja. Nah, ruang aman ku ya sama dokterku ini. Meski hidup seperti baik-baik aja, begitu duduk di ruang dokter, kok ya bisa mata langsung berkaca-kaca. Heran banget heran. Sampai sekarang, sesi ku bersama dokter juga tetap menjadi ruang aman untuk menjadi diriku sendiri dengan pikiranku sendiri.

Frekuensi pertemuan ku dengan dokter mulai berubah. Dulu aku rutin sebulan sekali ketemu dokter. Dokterku ngga nyuruh dateng lagi sih. Dia cuma bilang, aku bisa dateng kapan pun aku merasa butuh. Sehubungan dengan bayar dokter lumayan mahal yahhhhh, aku sanggupnya cuma sebulan sekali. hehehe

Ketika aku sudah bisa menggunakan metode-metode yang membantuku mengelola perasaan dan pikiranku, aku mulai mengurangi frekuensi ketemu dokter. Jadi tiga bulan sekali, enam bulan sekali, lalu 2 tahun lalu mulai setahun sekali aja untuk 'check up'.

Namuuunnnn.. Sungguh ku tak sangka-sangka, pertengahan tahun lalu aku terpicu oleh suatu kondisi baru. Ku ngga sangka, ternyata aku cukup terdampak oleh kejadian itu. Langsunglah aku konsultasi dengan dokterku. Dan, selesai konsultasi, dokter minta aku datang 3 bulan lagi hehehhehehe. Inilah pertama kali dokterku nyuruh aku datang dengan spesifik kasih jeda waktu, 3 bulan.

Akhirnya hari itu tiba. Aku ketemu dokter lagi, setelah hampir 5 bulan dari pertemuan terakhir. Sempat aku tunda, karena saat 3 bulan jadwal ketemu dokter, aku masih belum selesai berpikir dan menentukan pilihan.

Hari ini aku ketemu dokterku dan aku lega sekali sehabis sesi hari ini selesai. Aku bisa melihat diriku mengalami kemajuan signifikan dibandingkan dengan kondisiku beberapa tahun lalu. Aku sekarang cenderung lebih tenang menghadapi fenomena-fenomena kehidupan. Aku sudah membangun sistem pendukung dari beberapa lini. Juga aku lebih mudah meminta dan menerima pertolongan dari teman-teman atau keluarga.

Permasalahanku sekarang adalah.. aku sering kali ngga percaya dengan pendapatku sendiri. Aku sering merasa perlu kata-kata validasi dari orang. Ya, validasi itu kadang diperlukan, tapi aku sudah bisa berpikir mandiri. 

Sungguh, terngiang di kepala ku kata-kata dari dokter:

"emang ngga cukup kalau itu datangnya dari dirimu sendiri, bukan dari orang lain?"

"emang siapa yang menentukan benar atau salah? orang lain?"

duaar!

Ya masih PR, ngga papa. Pelan-pelan aku belajar.

Aku hari ini juga belajar, kadang kondisi gundah gulana itu memang diperlukan. Itu respon tubuh yang memberikan kita waktu untuk mempertanyakan apa yang benar-benar kita inginkan.

Jadi, tenang Din, merasa gundah itu bukan berarti aku ngulang dari 0 jaman dahulu kala lagi kok. Itu respon tubuh yang wajar. Kita bisa melihat sesuatu dengan perspektif berbeda yang lebih luas dan komprehensif. Kita juga bisa tetap baik kepada diri sendiri, ngga dikit-dikit mengadili diri sendiri. 

Aku ingin mengatakan kepada diriku sendiri.. Selamat menjadi orang dewasa. Sebagai orang dewasa, kita tau ngga semua yang kita inginkan akan menjadi realita dan itu ngga papa banget. Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk diri kita.

Selamat mengelola diri dengan lebih bijak. Selamat memberikan pertolongan yang kita butuhkan. Semoga masa kini dan masa depan, Tuhan memberikan aku dan kamu ketenangan serta kebijakan dalam menghadapi dunia yang fana ini.


Peluk erat,

Diny

Rambut Panjang Ku

Aku belakangan ini senang deh soalnya rambutku sudah panjang dan kali ini rambutku ngga mudah patah.

Dulu-dulu tuh rambut ku panjang sedikit jadi sering patah atau rontok. Rumahku jadi isinya rambut semua. Rambut patah di mana-mana.

Aku cobain rambut panjang pas masa pandemi. Ternyata aku suka rambut panjang gini.
Aku kan pernah rutin pakai kerudung. Waktu pakai kerudung itu aku kesulitan sekali jaga rambut. Sering rambutku masih lembab, terus sudah aku tutup. Rambutku juga hampir selalu dikuncir kencang. Aku pun jarang perawatan rambut. Akibatnya, rambutku cenderung sedikit dan mudah patah.

Sekarang, rambutku sudah lebih sehat. Memang prosesnya agak panjang juga sih.. Ada beberapa hal yang belakangan ini baru ku ketahui soal merawat rambut.

Kalau pas kerudungan kan rambut kayak gimana pun, tinggal tutup kerudung aja, beres. Ngga perlu ditata rapi banget. Palingan dikuncir atau pakai bandana.

Saat aku baru lepas kerudung, rambutku kelihatan banget tipis dan sedikitnya. Aku pun masih adaptasi mengurus rambut. Aku makin sadar kalau, ternyata punya rambut tuh harus rutin disisir biar rapi. Haha ngga heran rambutku dulu sering banget awut-awutan. Yaa orang aku sering malas menyisir rambut.

Waktu pandemi, aku sempat manjangin rambut. Rambutnya panjang sih panjang, tapi banyak rambut patahnya dimana-mana. Aku mesti lebih rajin sapu lantai jadinya. Riweuh. Meski, di masa-masa ini, aku makin suka punya rambut agak panjang.

Rambut pendek dan berponi gini mungkin lebih mencerminkan karakterku yang aktif dan ceria.
Sejak rambut agak panjang ini, aku dapat kesadaran baru. Rambut panjang itu potong rambutnya ngga bisa asal. Perlu potong rambut yang rapi dan cocok dengan bentuk muka, serta membuat kita nyaman. Well, bisa aja sih kalau mau modelnya gitu aja dan potong sendiri. Tapi ternyata, buat aku, kalau potongan rambut ku bagus, aku merasa muka ku jadi lebih cantik.

Aku awalnya agak kesulitan cari penata rambut yang cocok. Sampai akhirnya aku random ke salon, random potong rambut, eeh ternyata bagus cocok di aku. Semenjak itu sampai sekarang, aku selalu potong di sana dan dengan penata rambut yang sama.

Aku suka ngobrol sama penata rambutku ini. Kata dia, kalau mau cepat tumbuh panjang, rambutnya perlu 'rajin' di trim. Asupan makanan bergizi juga penting supaya rambutnya sehat. Seru juga sih punya langganan penata rambut gini.

Oiya, awal tahun 2023 lalu, aku ngobrol dengan temanku yang orang Bali. Rambut dia hitam, panjang, tebal, terlihat mudah diatur. Ternyata dia rutin pakai minyak rambut sejak kecil. Sepertinya ini cukup umum untuk para perempuan Bali ya. Dia biasanya pakai minyak rambut buatan ibunya sendiri. Aku akhirnya minta tolong dia supaya bisa beli sebotol pas Ibunya lagi bikinin minyak rambut.

Mulailah tahun lalu aku lumayan rutin pakai minyak rambut. Kadang seminggu sekali, kadang seminggu dua kali. Minyak rambut ala Bali ini isinya minyak kemiri, minyak kelapa, dan berbagai rempah lain (aku ngga tau). Mungkin ini yang dinamakan minyak cemceman.. Wanginya memang kuat dan khas. Kalau habis pakai minyak rambut, aku harus keramas fokus di akar rambut sampai dua kali (double cleansing), supaya bersih dan tidak berketombe.

Selain minyak Bali ini, aku beli minyak kemiri kemasan di toko. Ternyata enak wanginya. Aku ngga tau seampuh apa minyak ini. Ku tetap usaha saja.

Kata penata rambutku, minyak rambut tradisional biasanya ampuh untuk jangka panjang. Artinya, kalau aku mulai rutin dari sekarang, mungkin baru kelihatan saat aku umur 40an, rambutku masih hitam, minim uban, dan lebat. Tapi ya itu.. mesti rajin dan rutin.

Kadang kalau malas pakai minyak rambut, aku pakai masker rambut (hair mask) Makarizo. Aku suka wanginya yang wangi kiwi. Dulu tuh aku suka hair mask di salon, pakai Makarizo wangi cokelat. Sayangnya, yang wangi cokelat itu tidak ada di swalayan.

Oiya, aku sekarang ngga keramas setiap hari. Aku keramas dua hari sekali. Awalnya, rambut ku lepek sekali kalau ngga keramas setiap hari. Sekarang, sepertinya rambutku sudah beradaptasi dengan frekuensi keramasku. Malah hari kedua kadang lebih bagus jatuhnya. Meski kadang aku catok sedikit agar rambutku terlihat lebih rapi.

Selain itu, aku mengurangi pemakaian kuncir rambut. Aku lebih suka pakai jepit rambut saja. Katanya sih, kunciran kadang terlalu kencang dan membuat kulit kepala ketarik terus. Selain itu, keseringan dikuncir kencang bisa membuat rambut mudah patah. Aku coba nurut saja, siapa tau rambutku jadi lurus rapi meski ngga ku catok.

Sekarang ini, aku cukup senang dengan kemajuan rambutku. Rambutku panjang, helaian rambutnya banyak, dan tidak mudah patah. Aku ngga tau pasti, upaya mana yang memberi dampak paling besar. Ku rasa mesti kombinasi semua deh.

Selanjutnya, mungkin aku akan coba pakai minyak rambut yang spray untuk mengurangi frizzy hair. Tapi untuk sementara, aku mau menikmati perawatan rutin yang ku pakai sekarang saja dulu deh. 

Semoga rambut ku dan rambutmu semakin sehat. Helaiannya kuat, mudah diatur sesuka kita, dan membuat hati kita senang.


Salam kibas rambut hahaha,

Diny

Disassociation

I went to a mall with my friends today. I saw a household goods store and suddenly had a realization. 

I used to like these things. I used to like grocery shopping, looking for household goods, choosing what's good for my home. And then, somehow I stopped liking those things after a huge heart break a couple years ago. I've been associating household activities with things that shattered my life.

My friend told me, some people like to remain living in the past because we are used to it. We are used to the sorrow and anger, so we remain here. Some other people even deliberately choosing decisions that contribute to their own unhappiness.

And then, here come rising my questions: am I staying in the past? Why am I so angry about some part of my life? Nobody preventing me for being a loving individual self who likes taking care of a household.

I realized I've been so angry about things in the past that don't suit me anymore in the present. 

If it's only being with me, is it not a good enough reason to take care of the house? Is it not a good enough reason to trust my own judgement? What am I angry for?

I remember the first time I stopped praying. It was when I felt so angry with god. I assumed, He took something that I thought was my biggest sources of happiness. I used to pray for very reason that it became an automatic thing I couldn't disassociate it with. So, I stopped religiously praying. 

Now, I feel like, it is so stupid. I actually and definitely able to make a new association easily. These associations are only on my head. I don't have to stuck with it. I can make a new association with my realities.

How on earth I thought I couldn't disassociate buying household goods and praying to God with things in the past? It sounds so silly. I am a person of my own. I can do it.

idk man. Maybe I've been doing great with all these associations. Maybe it's normal to associate things with other things or with our experiences. Maybe it is all are only data points. What are we going to do with it?

Akhirnya Donor Darah Lagi

Kamu pernah donor darah nggaaa?
Aku hari ini habis donor darah. Trus habis itu aku hampir pingsan wkwkwkwk

Donor darah sebenarnya bukan hal baru buat ku. Aku pertama kali donor darah tahun 2008, waktu itu diajakin guru ku untuk ramai-ramai donor darah di PMI Kramat Jati. Waktu itu, donor darah dijadikan semacam sedekah, lalu kami berdoa bareng supaya lulus ujian masuk universitas.

Aku habis donor darah, masih senyum-senyum aja nih mbak..

Di tahun 2008 itu, aku donor darah 2x. Habis itu aku ngga bisa donor darah lagi karena berat badanku selalu di bawah 45 kg. Hehehe aku dulu kurus banget!

Aku baru gemukan lagi setelah pulang sekolah master di tahun 2019. Ngga lama setelah pulang, aku pun mulai donor darah lagi. Waktu itu berat badan relatif aman dan hidup ku lebih sehat, biasanya aman-aman aja habis donor darah sehat-sehat aja.

Pernah aku donor darah di RS Fatmawati pas bulan puasa. Ibunya temanku perlu operasi dan perlu mencari donor pengganti darah. Aku tentu saja daftar, karena kebetulan bisa. Tetapi waktu itu aku terlalu sombong!! huh. Sudah lah puasa, sore-sorenya ikut kelas roller skate 2,5 jam, makan sedikit, langsung ke RS. Di RS langsung donor darah. Habis donor darah, aku pingsan dan muntah hehehehe ujungnya malah ngerepotin temenku buat anterin pulang naik taksi.

Semenjak kejadian itu, aku agak-agak grogi setiap mau donor darah. Biasanya aku pastikan cukup tidur, banyak minum air putih, dan sarapan dulu. 
Pagi ini pun aku sudah cukup tidur. 

Tapiiiii aku lupa minum air putih banyak, serta cuma sarapan sosis dan es cokelat FamilyMart saja. Hehehe bener deh.. pas donor darah aman aja. Ngga lama kemudian aku berasa hampir pingsan. Aku langsung merapat ke tempat tidur, tiduran, mengatur napas, minta tolong petugasnya minta teh manis, hehehhehehehehe untungnya kali ini ngga sampai pingsan dan muntah. Bisa dibilang aman lah.

Oiya, jadi donor darah itu ada beberapa macam. Donor darah yang umum itu whole blood alias semua bagian darah diambil dan apheresis yaitu hanya trombositnya yang diambil. Aku cuma bisa donor darah whole blood, soalnya apheresis itu beratnya minimal 60 kg kalau ngga salah. Padahal donor apheresis ini bagus banget. Banyak penderita kanker yang membutuhkan tranfusi trombosit dan pendonor apheresis relatif lebih sedikit.

Kalau whole blood darah yang diambil juga sedikit kok, hanya 350 ml. Ibaratnya sekantung darah itu ya isinya ya segelas aja.

Tata caranya.. Sebelum donor darah, kita perlu mengisi pendaftaran. Lalu ada pemeriksaan awal, seperti pemeriksaan golongan darah, Hb, dan berat badan. Kalau ketiga itu aman, kita akan diperiksa oleh dokter untuk cek tensi darah dan ditanya-tanya. 

Untungnya aku hari ini tensinya bagus, soalnya aku sering tensi rendah trus ga bisa donor. 

Habis donor, tangan ditinggiin.
Pas tadi aku lemes hampir pingsan itu, aku disamperin dokter. Terus ditanya-tanya. Ternyata oh ternyata, ada kemungkinan aku ada permasalahan pencernaan. Dokternya bilang, masalah pencernaan itu bukan hanya kalau ada gejala maag atau sakit perut, tapi bisa aja gejala lainnya. 

Nah aku tuh selama pakai jam tangan yang bisa deteksi denyut jantung, aku sadar ternyata kalau pagi-pagi detak jantung aku bisa tinggi banget sekitar 90-120an. Ku pikir ini karena aku cemas (anxious). Kata dokternya, bisa aja ini karena masalah pencernaan apalagi aku ngga pup setiap hari. Bahkan cemas juga bisa menjadi penanda masalah itu.

Akhirnya dokternya menantang aku untuk memperbaiki pola makan. Harus makan sayur secara rutin. Pencernaan itu adalah dapur dari badan kita. Sumber pengolahan energi. Harus dijaga supaya sehat terus.

Aku tuh terharu juga sama perjumpaan ku dengan dokter pagi ini. Karena aku memang jarang makan sayur terus aku banyak alasan banget! Hehehe. Aku bingung kenapa detak jantung aku pagi-pagi bisa tiba-tiba tinggi dan hari ini dokternya kasih aku kemungkinan jawaban yang masuk akal.

Semoga habis ini aku tobat dan mau konsisten makan yang sehat dan teratur. Supaya aku bisa kuat menjalani aktivitas ku yang segambreng yaa..

Kamu jangan lupa jaga kesehatan, jaga pola makan, pola tidur, dan pola olahraga. Kata coach olahragaku, olahraga adalah bagian paling gampang karena hanya satu jam dalam sehari. Yang susah itu jaga makan dan tidur, jadi jangan lupa urusin bagian itu juga!

Oiya, ayooo donor daraaah! Bisa di PMI terdekat atau rumah sakit yang punya unit tranfusi darah. Kalau takut, bisa minta temani teman supaya saling kasih support.


Salam sehat,
Diny

Blabbering

Hello yellow marshmallow,

Today I don't feel like I want to write something for the 30 Hari Bercerita, but here I am showing up writing.

I spent the day at home doing home stuff. And every time I am just staying home and didn't talk to anyone (other than buy some stuff in warung), at the end of the day, I feel so tired. Just like today.. It is Sunday night and I am feeling tired after no social life for a day. 

I was once read a book Quite that pretty much explains about how introverted works. I do think they are really really powerful. They can just stay home doing home stuff and happy. That's a simple thing to feel happy. On the other side, me, need some kind of social interaction, every day. I need talking or being with others like me needing to eat and drink water, I need it to regulate my body and soul. Well.

***

Oh, it is also a new year! The first week of 2024. How exciting! I like January. January always feels slow. We get rain here and there, so the weather is also nice.

I usually have end of the year reflection talks with my folks. Last year I didn't do it with my folks, but I did it my self. Only in my mind. I don't talk about it or write it on a blog post. I wanted to be that way this year, but I don't know I probably will change my mind and proceed to write it down.

2023 was a bit weird. I got many new friends and experiences. I went to cool and far places. I travel quite a lot! I feel steady. A lot of my days are predictable and mostly fun. 

***

You know I did a lot of healing in the past years. Of course, me being me, every year evaluate how far this process has been helping me. I mean it has been really helpful, but can you really really sure?

And the easiest way to test that is by being in a close relationship - especially romantic relationship. And then you know which slice of life still triggers you and which part can turns you to a bitter version of your self. It actually a really good way to make a progress, I can heal continuously in a safe environment. 

I have been a person who put romantic relationship as a biggest value point in my life. That if I don't have it right as I wanted to, I feel like a failure. I talked to my good friend about it and also to my therapist (ofc!). It's ok if I want to put it as a big value to feel fulfilled, but what if I don't have it? Will I decide to be unhappy about life in general or will I take a different approach?

There are two options, it's either I need find the person I can be in a relationship with, or I can change my focus. Diny, does it really really has to be having a romantic relationship? Maybe not, maybe yes. I kind a want it but also it is just so much work, I don't really want it. So, it is confusing. I feel like I think too much about my self and wishing I can be thinking about anything else, probably thinking about saving the world instead. Like doing real stuff, instead of thinking about my complicated love life. 

***

Ah, talking about the session with my shrink, I have been feel like I am all healing shit and then boom! I had a tiny test last year that felt so big and make me confused. I talked to my therapist. 

After the session, she asked me to come there more often. Wow that's new. Not annual visit anymore, but probably on the next three months. So that, she can help me navigate these whole situations. 

Since the first time I met her, she always said I can go whenever I need it. She never asked me to come. Only if I feel like I need it. And for the past two year, I only did annual talk with her (which she approved - annual check is a good plan). 

And then, after the last session last year…… she wanted me to come more often. Am I stepping backwards?? Am I trembling? Did I have been choosing the bad things for my self? ugh.

So apparently the trigger last year wasn't small at all then. I had plenty of related dreams as well. Well, I only had dream if I thought/felt too much about something, so maybe there was something. Ugh.

My therapist said I don't have to be panic, all I had was a new situation. For that, I didn't know what I wanted to do, and that's normal to don't know things. Well, she remind me some methods that was helpful for me. I actually did. And it took a couple months to really really know what I wanted to do with the new situation and what I really wanted. 

I mean, if I can wish about something this year is to be able to trust my own thought. I always need my therapist to confirmed or some how verified my steps. My therapist said I don't have to put her as a way of verification, I can trust me. I mean.. can I?? Sometimes I feel like I keep choosing bad stuff for my self, but probably that is not true. I've been good and doing great. I don't know. So maybe, a little more trust my own decision this year?

***

I'm sorry I am just blabbering today. No travel stories and no plants stories. Can you text me and tell me you've read it?

I'll see you around.


Diny

Jodoh

I used to believe that in this whole universe, there is one special person that is meant for us. Someone who we often called as 'the one'. A person whom I can proclaim as something like, "oh I wonder why it won't work with others, because they were not meant for me". A thought that with that particular person, we can do it all easily, effortlessly.

In Bahasa Indonesia, we probably called it 'jodoh'. Jodoh means something that matches so that it become partner/pair. Suitable. Appropriate. Meant to be.

I thought that the concept of the romantic jodoh like a Disney story where you meet a person and it is just works well and easy. A lady with a prince charming that last forever and ever. They will concur all the problems in their world.

Until a couple of years ago, my idea of jodoh has changed. 

I think jodoh is not only things that are easy. It has something to do with what we do continuously but also it is beyond our control. It is written in the sky, but also has a day-to-day job with a regular review period. 

Is it jodoh if it not last forever? Well, my personal experience was the first thing that helped me learned that jodoh can have an end line. Something can be a jodoh as long as He allowed and gave you a chance to have or experience it. When it ends, the jodoh period also ends.

Everything has an end. And that's what makes things special. We only get things for limited time.

I think this understanding creates a deeper meaning in my life. Things that happened in my life is not gonna be forever. Therefore, I will cherish things and person that I have in my life right now. 

Even when life goes well, there won't be a guaranty the jodoh we love dearly will be with us tomorrow. And now, one of the scariest thing in my life is learning to trust jodoh concept again, even if there is no tomorrow.

Cloudy Days


Sometimes I am not feeling like my self. I had cloudy days where everything seems off. 

On those days, I was feeling empty, tired, and sad. It was hard to get up from bed. Those days, I cannot genuinely smile as much as I do on better days, which is totally ok but I don't like it.

On better days, it was easier for me to give appreciation and give more love to myself. It was easier to feel calm and peaceful.

But on cloudy days, I do have a monster hijacking my regular personalities. It can last for 2-3 days depending on how fast I can regulate my emotions and feelings. 

In the past, I blamed my partner because I don't like cloudy feelings. I didn't know how to regulate it. And it was easier to just blame it to someone else.

Lately, I figured out that even when he isn't around, I still have those cloudy days. Another reminder that we are the one who are responsible with our own feelings. 

Even when I have no significant problems, it still comes and goes like a wave.

I guessed the root of problem that caused this is because of I tend to have chronic lack of self worth. I've been working on it for a couple of years. Am I getting better at this? I don't know my friend, I don't know. I want to believe that I am, but sometimes it feels harder than usual.

I believe there must be some ways to make it more bearable. One of which is probably I just need to go through all of those cloudy feelings and then let it go. 

Or maybe cloudy days are part of being human. It is totally normal to not feeling sunny all the time. Just like the weather. And based on previous personal references, it will eventually pass and I will be just fine.

Hal-hal yang membuat hati senang

Minggu lalu saya makan malam dengan teman lama. Kami ngobrol-ngobrol soal kehidupan. Di antara pembicaraan itu, dia bertanya, what makes you happy these days? Pertanyaan itu masih berputar di kepala saja beberapa hari kemudian. 

Apa ya yang bikin saya senang belakangan ini?

Well, sebenarnya saya relatif gampang senang. Cuma secara spesifik, apa ya.. Akhirnya saya pikir saya tulis saja, biar ngga kepikiran terus. Walau katanya sih jangan terlalu memikirkan kesenangan. Kesenangan kalau ditulis katanya malah bikin kebahagiaan lebih sedikit. Entahlah.

Saya ingin menulis ini, jadi yaudahlah ditulis aja hehehe. Jadi ini dia hal-hal yang biasanya membuat saya riang:

Saya senang saat berhasil olahraga seminggu tiga kali. Inginnya bisa olahraga setiap hari Senin, Rabu, Jumat setiap jam 7-8 pagi. Terkadang ngga berhasil, lalu saya olahraga di sore hari. Kadang ngga berhasil juga tiga kali, ngga papa sih, yang penting ada waktu untuk berolahraga.

Saya senang saat bangun pagi, lalu sempat menyiram tanaman dan membuat sarapan, sebelum mulai bekerja.

Saya senang ketika bisa berenang di akhir pekan. Apalagi kalau kolam renang sepi dan bersih, lalu habis itu bisa jajan yogurt atau susu cokelat.

Saya senang kalau lagi bisa rajin masak dengan menu kombinasi yang selalu berbeda setiap harinya dan setiap makannya. Saya kurang suka makan hal yang sama berulang kali. Cuma hal itu kan membuat saya jadi punya konsekuensi. Konsekuensinya, harus buat strategi atau rencana di akhir pekan, agar bisa masak rutin dengan menu yang selalu berbeda dan tidak menghabiskan banyak waktu. Kalau sedang berhasil, saya senang sekali rasanya, puas. Kalau sedang ngga berhasil, setidaknya saya akan berusaha makan tiga kali sehari, itu syarat minimal yang bisa membuat saya senang.

Saya senang kalau lagi bisa membaca buku yang seru. Saya ngga selalu membaca buku setiap hari atau setiap minggu. Saya baca kalau sedang ingin saja. Kalau bukunya tidak membuat saya tertarik juga saya ngga maksain terus membaca buku tersebut sampai selesai. Jadi, pas baca buku yang menarik dan menyenangkan, saya senang betul!

Saya senang saat bisa latihan pilates. Latihan pilates ini baru saya mulai 1,5 bulan terakhir. Saya menambahkan pilates di rutinitas olahraga mingguan. Ternyata saya suka pilates! Saat latihan, tentu saja badan panas semua dan paha kencang, tetapi setelah latihan badannya jadi enak sekali.

Saya senang bisa tidur 6-7 jam. Saya belum bisa rutin tidur lebih awal, masih di sekitar jam 11-12. Saat saya bisa tidur jam 10, saya semakin senang. Tetapi yang paling penting bisa bangun pagi dengan segar, itu sudah bikin saya senang.

Saya senang kalau ada teman minta janjian telepon untuk cerita-cerita atau curhat. Kadang saya yang curhat. Kadang bertukar cerita-cerita yang membuat hati saya atau dia senang. Senang juga karena saya punya beberapa teman yang bisa begini. Akhirnya, kalau yang satu sibuk, saya bisa kontak yang lain.

Saya senang kalau bisa rutin beresin rumah, empty the sink setiap malam, dan ngepel lantai dua kali seminggu. Saya ngga sanggup ngepel lantai setiap hari. Saya tau sekali kalau ini bukan rutinitas yang alamiah buat saya dan jarang sekali terjadi. Maka itu kalau saya berhasil tuh rasanya senang sekali.

Saya sering menulis bermacam-macam jenis tulisan untuk pekerjaan. Saya senang juga menjalani itu. Walau biasanya saat menulis, saya sering kali merasa gundah atau cemas. Namun, setelah sebuah tulisan berhasil saya selesaikan, saya biasanya merasa senang. Apalagi kalau saya bisa punya kesempatan menulis untuk diri sendiri seperti di blog ini. Rasanya senang sekali dan damai.

Favorit saya adalah langit warna biru dan ada awan putih. Cuaca yang cerah dan tidak terlalu terik. Saya juga suka kalau sore hari agak hujan rintik-rintik. Saya suka hujan, terutama kalau saya sedang ada di rumah sehingga saya bisa menikmati hujan dari dalam rumah saja. Hujan yang rintik-rintik adalah kesukaan saya. Kalau hujan terlalu deras rasanya khawatir banjir dan hujan berpetir membuat saya takut.

Saya suka sekali kalau tanaman saya bisa tumbuh dengan rimbun dan tidak ada daun yang pinggirnya kering. Daun yang pinggirnya kering ini pertanda saya kelupaan siram tanaman. Kalau semuanya sedang rimbun, rasanya saya senang melihatnya. Tanaman adalah bagian besar dalam hidup saya. Saya senang bisa berada di sekitar tanaman.

Saya senang juga kalau bisa ada di alam terbuka. Entah itu ke kebun raya, kebun binatang, area perbukitan, taman, dan lain sebagainya. Saya senang memperhatikan bunga-bunga, corak daun, kupu-kupu, dan capung. Taman di Jakarta agak terlalu seragam isi tanamannya dan kebanyakan adalah tanaman introduksi. Saya kurang senang, tetapi boleh lah buat hiburan mata, hati, dan pikiran.

Saya senang kalau takaran teh, matcha, cokelat, dan kopi yang saya buat bisa pas. Soalnya kadang ngga pas. Entah kebanyakan gula, terlalu pahit, terlanjur dingin, dan lainnya. Saat bisa buat minuman dengan rasa yang saya inginkan, rasanya senang sekali.

Sarapan favorit saya adalah roti bakar. Saya suka sekali roti bakar srikaya pakai butter, lalu minumnya pakai teh hangat campur susu sedikit. Apalagi kalau bisa makan ini dengan tidak tergesa-gesa, karena keburu masuk kantor dan lain-lain.

Salah satu sarapan enak favorit saya. Roti Eneng dan selainya, lalu minum kopi tubruknya Tanamerah.

Kadang ada teman yang suka kirim-kirim makanan atau barang. Saya suka dikejutkan dengan itu semua karena hal itu membuat saya merasa diingat, disayang, dan diterima. Kadang saya melakukan hal yang sama kepada teman-teman, agar mereka ikut merasakan yang saya rasakan.

Saya suka bisa punya kesempatan untuk ngobrol panjang atau kerja bareng bersama teman. Kadang di kafe, di rumah, atau di kantor. Saya percaya, orang mungkin ngga akan ada selamanya dalam hidup kita. Ketika mereka ada dan kesempatannya ada, saya suka sekali menikmati waktu bersama mereka.

Saya senang kalau hubungan dengan keluarga sedang akur dan hangat. Soalnya kadang-kadang berantem karena hal sepele, biasa lah namanya juga keluarga. Walau semakin tua rasanya saya bisa lebih mengerti mereka dan mereka lebih mengerti saya, tetap saja ya pasti ada fase kesal atau kecewa. Saya pikir ini ya seperti kehidupan aja kan pasti ada naik turunnya. Kalau sedang akur, tentu saja saya lebih senang dan damai.

Saya senang juga kalau tanpa sengaja eh bisa ngobrol dengan orang baru dan kebetulan seru obrolannya. Soalnya ini kan jarang-jarang bisa terjadi. Saya senang dan menikmati obrolan-obrolan acak seperti ini. Saya merasa, hal ini membuat saya bisa tau bentuk kehidupan yang berbeda dengan bentuk-bentuk kehidupan yang selama ini saya tau. 

Saya suka mandi malam pakai air hangat. Walau saya jarang sih mandi air hangat. Kalau mandi air hangat saat badan lagi capek-capeknya, duh itu yang paling nikmat. Apalagi kalau habis itu minum cokelat hangat. Rasanya tenang.

Saya suka kalau saya lagi bisa disiplin sama target yang saya buat sendiri. Saya juga suka kalau saya ngga terlalu galak sama diri sendiri, walau sedang ngga bisa sesuai target. Kadang bisa kadang ngga, tapi yang penting ngga galak sama diri sendiri aja itu sudah bikin saya senang.

Saya suka sekali hiking.

***

Namanya hidup keseharian, kadang ada hal yang bikin saya senang, kadang ada juga yang bikin saya masygul. 

Tentu saja ada hal-hal lain yang saya tau saya suka, tetapi saya lagi ngga punya. Misalnya, jatuh cinta. Saya tuh suka sekali ya merayakan kasih sayang tetapi sekarang saya lagi ngga punya objeknya, gimana dong hehehe. Yaudah aja kan, mau gimana lagi. Kan ngga bisa dipaksain. Bukan berarti saya ngga bisa bersenang-senang tanpa ada figur romantis.

Kalau ada dan hubungannya baik, ya tentu saja saya tau kalau itu bisa menambah kesenangan berkali-lipat. Berbagi kesenangan dan kesedihan dengan orang lain adalah kebutuhan sosial manusia. Saya rasa wajar saja sih kalau saya menginginkan hal-hal tersebut. Meskipun kebutuhan ini bisa saja dipenuhi oleh bentuk hubungan non-romantis, seperti pertemanan atau keluarga. Tetapi, rasanya agak beda.

Saya pernah ada naksir orang tapi pada akhirnya si orang itu takut dia ngga cukup baik untuk bikin saya senang di masa depan. Saya agak heran, soalnya, lah saya minum cokelat hangat saja sudah senang. Terus, saya sadar betul, orang lain tentu saja hanya bisa menambah kebahagiaan yang sudah saya miliki. Kalau dari sayanya ngga bisa membuat hati saya senang, ya ngga ada orang lain yang bisa menambahkan ke wadah yang bolong. 

Akhirnya ngga saya lanjutin hubungannya. Soalnya saya ngga mau punya hubungan yang membuat saya harus bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, atau demikian sebaliknya. Di sisi lain, bisa jadi saya aja yang belum ingin kasih hati ke orang lain, sehingga alasan kecil bisa membuat saya ngga mau mengusahakan sebuah hubungan.

Lah apa sih malah curhat. Hahaha. Intinya, saya ngga mau lagi lah bergantung sama orang lain untuk bisa merasa senang. Kesenangan saya adalah tanggung jawab saya. Lagian, banyak hal-hal sepele yang terbukti bisa membuat hati saya senang. Saya mau fokus saja menikmati hal-hal tersebut. 

Selagi ada dan selagi bisa.

Sekian dan terima kasih.


Diny

The Five Stars Folks

Lately, I've been thinking and observing people around me. Some people are shining in their own way that makes me adore them. I saw similarities between those people. They have particular characters that I really like. Characters I would like to have in the next 5-10 years.

I called them the Five Stars Folks. They tend to have at least 2 of characters I mentioned below:

Devoted to their family.
Family relationships are the hardest. We got lots of wounds from our family. I identify family as parents, siblings, and close relatives. They can easily hurt you and you can hurt them. They have direct access to your vulnerabilities. Those are reasons why maintaining a healthy relationship with them is hard.

The Five Stars Folks have certain qualities that make them able to deal with those family dynamics. They know how to show up for their family in a way that will not burn themselves. They know how to make boundaries that keep them from unnecessary conflict. They also know how to mend the broken relationships with their family.

I highly value this quality because I think this one is the hardest. There are a lot of uncontrolled situations within the family. And I think the way people show up or deal with their family issues will reflect how they will show up to important people in their life.

Passionate to their hobbies.
I easily admire people who have hobbies. They are busy with things they enjoy the most. I think it is a very sexy quality. These people usually know how to have fun. They tend to be responsible for their own happiness. They know how to make themselves happy. They put time and energy into their joy. They have a certain energy that makes their eyes lighten up every time they talk about their favourite things. That really is adorable.

They keep learning about many things in life.
The Five Stars Folks enjoy and dedicate their life to learning things. It can be through books, movies, songs, arts, or anything they like. It can also come from people they meet. They are able to learn things from other people. They take time to understand people.

I also like those who are actively learning about themselves. The self concept is not constant. It keeps changing but is also stable in some ways. Being able to learn about these dynamics is complicated but some people can actually do it. I think because of this, they will be able to be honest with themselves.

Those who aren't perfect and strong enough to show their vulnerabilities.

Some Five Stars Folks are not perfect and they know it. They know their flaws and struggles. They are honest to themselves. They are open to trustworthy people about their vulnerabilities. It is highly related to their self-esteem. They are okay for not being perfect. They are human.

Dalai Lama once said ‘The more honest you are, the more open, the less fear you will have because there’s no anxiety about being exposed or revealed to others. So, I think that the more honest you are, the more self-confident you will be . . .’. This quality is hard to achieve. I wanna congratulate people who already have this core value.

They are kind, care, and compassionate.
They are kind to themselves and compassionate to their inner child. They are also kind to others. They work with compassion in many aspects in their life. They are aware of their surroundings. They reach out and are willing to listen. Isn’t it amazing that people can be kind, care, and compassionate? Again, they are adorable.

They are living in this world not only for themselves but also take their time serving others. They have empathy and are willing to share their resources with others.

People who are able to identify and communicate their needs or feelings.
Ok maybe this is the hardest. Some people are really good at it though. They have learned to identify their feelings and needs. They acknowledge it. They respect their self, that they are valid in any form they had in the past and in their current self.

People who know how to set boundaries.
Oh common, this one also is the hardest in our culture. We tend to say yes even though we want to say no. Instead of setting boundaries, people choose to avoid or later be resentment. Some people are easily ghosting others instead of setting boundaries. However, the Five Stars Folks are willing to take a harder step to walk through difficult conversations to set their boundaries. That's really awesome!

***

All of these sounds too perfect but I actually have met a couple of Five Stars Folks.

Well, I am hoping that gradually I can have those qualities as well. It's a long process. However, it has been a nice experience to see real people who have those qualities. It makes me think that those qualities are achievable even though it will take some time to be good at it.

I can't thank you enough for those who have become the Five Stars Folks. Their achievement has become a light to the world. It shines at least to their surroundings and to me. Still, they are usually humble about it and willing to share their process. It’s been fun to connect with them.

Have a good life.


Love,
Diny

Menjaga Diri


Suatu hari saya pergi dengan seorang teman jalan-jalan ke beberapa tempat di Jakarta. Kami makan makanan-makanan enak, minum kopi, nonton bioskop, menikmati malam, dan lain sebagainya. Di tengah perjalanan, saya berdiskusi dengan teman tentang penyakit. Diskusi ini membuat saya berpikir lebih lanjut hingga hari-hari setelahnya. Saya jadi ingin membagikannya melalui tulisan di blog.

Penyakit Fisik

Kalau kita perhatikan orang-orang di sekitar, sering kali kita bisa menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan penyakit tertentu. Misalnya, cenderung mudah darah tinggi, punya risiko gula darah tinggi, kadar kolesterol tubuh gampang naik, dan perut relatif sensitif mudah asam lambung. Penyebabnya bisa macam-macam. Ada yang memang ada faktor genetik, orangtua atau di keluarganya banyak yang memiliki penyakit tersebut. Ada yang faktor luar, dari pola makan, lingkungan, dan lain sebagainya.

Orang-orang yang punya kecenderungan-kecenderungan tersebut tentunya harus lebih menjaga diri. Mulai memperhatikan pola makan, olahraga, tingkat stress, harus minum suplemen tertentu, dan lainnya. Mereka juga harus lebih mengenal, faktor apa saja yang bisa membuat penyakit mereka kumat. Misalnya, kalau ada masalah lambung, mungkin sebaiknya mereka tidak banyak minum kopi atau teh yang tinggi kafein.

Sayangnya, banyak hal-hal yang memicu penyakit itu terlihat seperti kenikmatan. Makan makanan laut yang enak sekali, contohnya. Meskipun enak, makanan itu cukup berbahaya untuk orang yang mudah kolesterol. Kolesterol bisa naik dan membuat orang itu sakit kepala. 

Hal-hal yang kelihatannya enak padahal bisa membawa penyakit itulah yang perlu kita perhatikan. Saya rasa kita perlu persiapan diri untuk mencegah dan mengobati. Kalau punya masalah asam lambung, mungkin harus selalu sedia cemilan, seperti pisang atau permen, dan juga selalu sedia obat lambungnya. Lapar sedikit, bisa langsung memasukkan makanan. Kalau sudah terlanjur sakit, ya mesti istirahat, minum obat, dan makan yang benar.

Ada hal-hal yang perlu dicegah, agar kita tidak mudah kambuh. Ada hal-hal yang perlu dilakukan, agar kita lebih bugar. Ada juga hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengobati yang sudah terlanjur sakit. Ketiganya sama penting.

Penyakit Mental

Saya rasa demikian pula dengan kesehatan mental. Ada orang-orang yang punya kecenderungan mengalami masalah kesehatan mental. Bisa dalam bentuk kecemasan, depresi, ketakutan, trauma, dan lain-lain. Bisa karena kondisi lingkungan, fisik, atau pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup. 

Saya rasa, sekarang ini masa pandemi juga menjadi kondisi optimal yang bisa membuat orang merasakan perasaan kesepian, kelelahan, dan cemas berlebihan. Nah, kalau sudah ada kecenderungan seperti ini, mungkin kita perlu berlaku lebih lemah lembut terhadap diri sendiri di masa pandemi. It's been hard for everyone.

G.I. Joe Fallacy

Kalau kita sudah tau kecenderungan penyakit yang kita punya, artinya kita punya bekal untuk menjaga diri. Masalahnya begini, apakah kita benar-benar mau menjaga diri sendiri?

Ya kan sudah tau ya, kalau kebanyakan makan seafood bisa bikin kepala pusing, tapi tetap dimakan atau tidak?

Juga mungkin sudah tau, kalau kebanyakan main sosial media, tentu kecemasan dan depresi bisa meningkat. Tetap dilakukan atau tidak?

Aktivitas-aktivitas itu seperti mengundang penyakit ya? Iya. Kan sebenarnya sudah tau ya? Iya. Ya sudah.

Ternyata ada yang namanya G.I. Joe Fallacy, yang maksudnya 'mengetahui suatu hal akan membuat kita bisa mengatasi hal tersebut' adalah gagasan yang salah. Tau saja tidak cukup. Tau tentang suatu hal, bukan berarti kita langsung bisa mengatasi hal tersebut. We need to do the actual hard work.

Tubuh Sehat dan Bugar

Di kelas online Science of Well-Being, saya belajar tentang hal-hal yang bisa melatih kesehatan mental. Ternyata ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental tetap bugar. Beberapa hal tersebut antara lain:
  • Memilih hal-hal yang bersifat menambah pengalaman, bukan hal-hal materialistik atau fisik
  • Menikmati (savouring) apapun yang sedang kita lakukan 
  • Mengekspresikan rasa syukur
  • Mengatur ulang titik referensi 
  • Menginginkan hal-hal yang baik
Bacaan lebih detail tentang hal ini bisa kamu baca di artikel dalam tautan ini.

Saya rasa kelas online ini adalah salah satu kelas terbaik yang pernah saya ambil. Cukup praktikal, mudah untuk diterapkan ke kegiatan sehari-hari. Walaupun tentu saja semua butuh latihan yang rutin untuk mendapatkan hasil maksimal.

Berada di alam adalah bentuk saya mengobati diri sendiri.

Will you actually do the work?

Sekarang sih ya pertanyaannya balik ke diri sendiri. Apakah kamu benar-benar mau menjaga diri sendiri? Apakah kamu ingin bugar fisik dan mental?

Kalau mau, kamu mungkin sudah tau kamu harus melakukan apa saja. A lot of times, all hard things come through hard work, but you got this. You can do it. Saya berharap, kalau kamu sudah tau punya kecenderungan penyakit tertentu, kamu mau benar-benar menghindari kegiatan-kegiatan yang menyebabkan penyakit tersebut kumat. Baik penyakit fisik, maupun penyakit mental.

Saya pikir, menjaga diri sendiri adalah kado terbaik yang bisa kita berikan ke orang-orang yang juga sayang kepada diri kita.

Saya berharap, kamu dan saya, mau menjaga diri kita masing-masing dengan penuh kasih.


Dengan penuh cinta,
Diny

Life is a Gift



It came across my mind again, couple weeks after my birthday, that life is truly a gift.

Through life, we found meaningful connections. Sometimes we meet those who will inspired us for a long time. Sometimes we meet certain people in a brief, but that person leave marks deeply in our heart. Sometimes we meet people in random places, but end up friends for life.

I used to be easily awe-struck with smart people, but now I think I am more enjoy connecting with kind people. There is something inside kind people's heart. Especially those who speak and act kindly, honestly, respectfully to their self, to others, and to people around them.

Life is a process. For example, apparently, our parents, who we look up for, are not perfect. They are also human with all the imperfection. It isn't easy to accept that they are not perfect. We want them to be perfect, we saw them being perfect and it seems like they knew everything in life. By the time we reached certain age, we realised that they are not perfect. And that's totally okay. We can process our feelings and gradually learn to love them unconditionally, as they love us unconditionally.

Life is vibrant. I am privileged to see beautiful places. I saw pretty things, pretty places. In landscape, in forest, in somebody's ocean blue eyes, and many more. 

In my life, I am surrounded by things I like and things that give me joy. That everything is come to place exactly in the right time. I am in a right place and mind. That things are enough and I am enough. 

Life is a gift. A gift in term of time. We can fix what has been broken. We can learned from our mistakes in the past. We are alive that's why we can be a better version of us.

Life is a gift. A gift to love and loved, by people who truly care about us and we care about them. We have time to give appreciation, affection, and compassion to those people. We can share our happiness, sadness, and all things in life that come up along the way. 

Life is a gift. It gives us space to learn anything we want to learn. We can learn foreign language, new subject, learn about life, or anything we want. We are still living that we may have the resources to learn anything anytime.

The picture in the post inspired me to this note. It is made by a new friend, as a special birthday gift. This picture makes me think about a lot of gifts I have received in life. I finally know what makes me happy and what's important in my life. My life is like that big box in the middle of cute plants. It is growing, surviving, thriving, and improving.

I wish my life can also be a gift to other people. Maybe one day..

A new decade

Oh, hello new decade!

Hello readers,

It is my birthday today. This time is a bit different than other year. I am 30 years old now. I am entering a new decade.

I've been thinking, what kind of a person I want to become in the next 10 years. I think it is important to have it in mind, so I don't waste my life without any plan. I am not sure this plan will stick for the next 10 years, at least I am trying. I am not even sure I will still live for a long long time. The possibility of dying and living is always the same. 

Life is very uncertain and full of possibilities. Things can change in a very short time, but also can not change for a long long time. These uncertainties, makes me want to live my current life fully, but also makes me want to have a general plan for the future. I remember one saying that the only certain in life is uncertainties. 

So, here it is..

I want to be able to fully forgive my self.

I made a couple of terrible decisions. I made unfavourable decisions usually when I was mad or angry but couldn't express my anger in a healthy way. Sometimes it still bites when I remember those decisions. I hate that I made some decisions based on my wounds.

I can see why I made those decisions and I can understand the reasons behind all decisions. It most likely was the best I can do at that time. 

If I live for longer time, I want to fully forgive my self. Forgiving all the imperfections and decisions I made in the past. This journey of forgiving my self have started around last year. I believe what I can do now is to remember and make sure I will not making the same mistakes in the future. I don't want to make any decisions when I am mad. I want to run my life based on love, not based on trauma or pain. 

I want to savour joy

I am an easy go lucky person. I can be happy for small things. I am happy seeing blue skies or random flowers in a park. I can be happy with my garden, my tiny library, and my blue house. Paradoxically, sometimes I feel bad for being happy. Sometimes I feel like I don't deserve to be happy. It's weird.

I know joy will not come all the time. Like any other feelings, joy is temporary. That is why I want to savour all the temporary joy that I have in the present time. I want to practice picturing memory, so I can remember it when I am in the dark place. 

Savouring each moment I am happy around plants and flowers.

I want to take my writing time more intentionally and consistently.

Writing has been very important for my healing and growing. I want to take more time to this special practice. I write in many places. In my diary, blogs, social media, phone, and random papers. I really like that part of me. I want to continue practicing writing and have a better writing habits.

I think it will be cool to try learning other kind of writings. Writing for media, opinions, travel blogs, or popular science articles. I want to explore that and see what will happen.

I want to be more open, honest, and brave

I read a great book called Daring Greatly by Brené Brown. I really like the whole premises in that book. Being vulnerable is very important. I cannot be honest to my self if I am not brave enough to be vulnerable. I think, it makes me more Diny. 

I showed up in difficult times in my past life. I want to do that as well in the future. Showing up has been helpful for my present time.

I also think, by being open and honest, I respect my self better. People can see me as a person, a human, that is not always perfect. Really, perfection is boring. 

"Perfectionism is exhausting because hustling is exhausting. It’s a never-ending performance." - Brené Brown
I learned it mainly from my dear friend. He is really good at it and I really like that part him. It inspires me to be more honest at least with my self. I want that in me. 

I want to keep connecting with people

I like this part of me. I enjoy being connected to people. I like sharing my life with people I met along the way and people who cares about me. I think people has pretty cool stories and by connecting with each other, we can create a better world.

Human is never supposed to be alone. When we lived in a cave back then, we are not supposed to be alone. We are part of community. Back then, alone means dying, still the same with right now.

I believe, connecting with people makes my life more enjoyable.

I want to be healthy physically, mentally, emotionally, and financially

Obviously, anyone can do anything in this world if they can be healthy physically, mentally, emotionally, and financially. It all requires hard work and self discipline. I want that. 

I want to have a better self awareness and mindfulness. I want to have a comfortable life where I have enough savings for emergency fund and pension fund. I want to have a place of my own. It doesn't have to be big. I want a small blue house. I want to be able to travel the world. I don't know how, but I will find a way.

I want to have a better ability to identify, embrace, and address emotions and needs. I want to have that as my super powers.

It is hard to build a healthy habits.

I want to nurture my relationships with my close circles

I really value my personal relationship with my close circles. I hope I can nurture it intentionally. I want to show up in their difficult times. I want to love them better. I want to listen to their stories. I want them to know that I love and care about them. I care abut their stories, their struggles and happy times, and all.

I know I can only show up to an extent of my limitations. I know I won't be able to always be there. Sometimes, I probably hate what they do. Other times, I may not able to be around them or I may not know what to do that it makes them hate me. There will be those moments. But if they still want me to be part of their life, I want to be there for them. That's the only thing I can do to respect their love for me.

I want to respect my boundaries and other people's boundaries

People need boundaries. I need boundaries. I may not always know right away my boundaries, but I will learn it as I go. If I already know my boundaries, I hope I can respect my self enough to hold on those boundaries.

I want to respect other people who says no to me. Sometimes, it is hard because we want what we want. But I want to try to respect it more intentionally.

I want to learn to deep listening

I like talking. I like talking about my self. I often find it hard to listen because I tend to speak more. So, I want to learn to listen more. I want to learn to listen with an open mind and heart. I don't have to speak all the time or tell everyone about my self. I don't have to always explain about my self, not everyone need to hear my random stories. It is really hard for me to listen. I hope I can gradually master this skill.

***

I think that is all I can think of right now. It may change gradually or maybe not. It is just an overall goals.


Have a fulfilling life a head, Diny! and happy birthday!


with love,

Diny

Things I learned about my self during COVID pandemic

A pretty sunset from my home.

It has been more than a year in pandemic. I would say I learned a lot about my self during these long tiring hard times. I believe a lot of people feel the same thing. We are pushed into a weird time of our lives that give us time to sit with ourself.

I listed down some things I learned about my self on the first three months of pandemic and I wrote another list a year after pandemic. I thought I will share my a-year-after-pandemic list, so, here it is..

  1. I love life! <3 
  2. I am capable of rebuilding my life even during pandemic.
  3. Building a healthy sleeping pattern is super hard.
  4. I enjoy learning and relearning.
  5. Gardening still makes me happy, so does exercising.
  6. When I am physically and mentally healthy, I feel like I can do anything.
  7. Everyone is more stressful and lonelier during pandemic. I am not alone.
  8. I truly value social connection. I want to build a deeper and meaningful relationship with my inner circles.
  9. Joy can be find in little things in life.
  10. Even though it is hard, I am capable of slowly forgive my self and others who have hurt me in the past. It can take a long time to process it but it is doable. 
  11. When I got COVID early this year, I thought about death quite often. I think I've been enjoying my life, and people that I love knows that I love them. I think it is okay if I die, but I really want to live.
  12. I dislike online grocery shopping.
  13. I wonder if I have take time to properly grief that the world before pandemic may not come back. It is and will be a new world out there.
  14. Sometimes I feel lonely. I feel lonely more often during pandemic, but who doesn't?? 
  15. Pandemic is hard for everyone but we are all sailing with different boats.
  16. I am very grateful for my family's and friends' health.
  17. I am attached to my phone. I might be addicted to my phone in a non-healthy way. Phone and social media have become the main distractions of my regular life during pandemic.
  18. I am tired of these whole pandemic protocols. I still follow the rules, but it doesn't mean I like it.
  19. I like testing my boundaries.
  20. When I am comfortable of being vulnerable, I tend to be more open, honest, and respect my self and others. I want to put more intention on those things.

    That is all for now.

    Wish you all have a healthy and happy life.


    hugs,
    Diny

    A Working Project


    I saw this picture last week and felt triggered. It is so true that I make my self as a never ending project. For the last year, I have been focusing on healing and improving my self. I wanna be a better person and all those stuff. 

    Whenever I feel triggered, I spent some time to reflect why I feel triggered? Where is that come from? And think on how to heal it? 

    But then, it feels like it is never ends. There are always personal condition that I need to work on. There are scars that I need to heal. I am so sick of healing, can I just healed, soon? Is that even a thing?

    Or maybe it is called healing because it is a continuous activity. There is no healed, there is only healing. Because it is always a process? Is there any finish line? The finish line probably is when we dead, yea? So, as long as we live, we can live?

    If I always wanna improve things, is that means I am not accepting my self? Is that means I don't feel enough?

    I talked to a friend about it, she also had similar condition. She told me that healing and improving will take a lot of energy. Where do you get those energies from? Don't you feel tired at all?

    But, maybe life is a never ending project? Maybe we will work on it as long as we live?

    And it is okay to take a break sometimes. I mean, it is good if you wanna keep improving, but also it is okay to take a break? I mean, for real, right? It is a never ending project but we can take a break whenever we want or when we feel tired. And then start again whenever we want, right?

    Maybe, it is also okay to wanna make improvement all the time? Maybe that is just me being me? And that should be fine?

    If I am just me, will it be enough?

    Maybe because we are human, then it means we are not a project? We are not a never ending project, because we are not a project in the first place. Then, it is okay to just be, without levelling up?

    Am I a project or a human?

    I am most likely more to a human than a project. So it means, it is fine to just be the current version of me without have an urge to be a better human? Maybe that is okay?

    Who is the one who has the right to answer those questions? Probably just me, right? Because it is my life..(?)

    So, if I say..
    It is okay to just be
    It is okay to not improving
    It is okay to be just me
    just a Diny.

    That is probably more than enough, right?

    Oh dear, I need to sleep.

    Belajar Tentang Belajar

    Pertengahan tahun ini belajar berenang dan akhirnya bisa berenang sekitar bulan Oktober.

    Wow, sudah akhir tahun saja nih. Waktunya membuat ulasan kehidupan setahun terakhir. Tahun 2020, memang luar biasa ya. Ada pandemi yang memengaruhi kehidupan di seluruh dunia. Untuk pertama kalinya dalam kehidupan kita, semua orang sedunia memiliki masalah bersama. Barangkali masa-masa ini akan jadi hal paling menarik dari sejarah kehidupan yang pernah dijalani. Bisa jadi fase ini akan menjadi cerita 'perang' yang akan diceritakan ke anak cucu berkali-kali nantinya, kalau kita bisa selamat dan melalui pandemi.

    Kalau bisa dilihat setahun terakhir, hal utama yang saya pelajari sepertinya adalah soal belajar. Bahwa kita bisa mempelajari apapun yang kita inginkan kalau kita mau dan bisa memberikan energi untuk mempelajari hal tersebut. Bahwa ada proses-proses yang harus dilalui supaya bisa menjadi bisa. Kalau kata dokter saya, ini namanya belajar metakognisi. Tentunya, saya masih jauh dari paham maknanya metakognisi itu apa ya haaha.

    Tetapi untuk mempelajari suatu hal baru, perlu ada semacam syarat yang harus dipenuhi. Kalau sedang dalam kondisi mental yang stabil dan relatif sehat, belajar apapun akan lebih mudah dijalani prosesnya. Kalau sedang berada dalam kondisi finansial yang stabil, pikiran juga bisa digunakan untuk pengembangan diri. Harus ada modal dasar yang kalau bisa terpenuhi, proses belajar akan bisa lebih berenergi atau mungkin lebih mudah. Dan yang paling penting adalah apakah ada kemauan dan keikhlasan untuk menjalani proses belajar atau tidak.

    Setahun terakhir saya mencoba banyak hal baru yang hampir semuanya memiliki pelatih tersendiri. Saya sempat latihan rutin climbing, menari, dan olahraga di gym, serta latihan mengelola emosi dan perasaan di terapi. Pelatih akan sangat membantu dalam mempelajari suatu hal baru. Mereka bisa memberi tau teknik-teknik yang tepat, memberi tahu ketika kita masih salah, dan juga memberikan ekstra energi agar kita bisa belajar lebih cepat. Walau sebenarnya bisa saja sih belajar sendiri, terutama kalau kita sudah memiliki kedisiplinan tinggi terhadap diri sendiri. Namun, biasanya proses belajar sendiri akan lebih panjang dibandingkan kalau memiliki pelatih.

    Ketika belajar hal baru, ada fase dimana saya merasa sangat tidak bisa dan ternyata saya kurang nyaman dengan perasaan tidak bisa tersebut. Maunya sekali belajar, langsung bisa gitu lho. Tapi kan ngga mungkin ya, hahaha. 

    Nah akhirnya saya mencoba untuk belajar melewati asumsi 'saya tidak bisa' ini. Belajar tidak memberikan penilaian terhadap diri sendiri, karena tidak bisa sesuatu hal. Belajar mempercayai proses diri sendiri, yang tentunya akan berbeda dengan proses orang lain. Belajar melihat pola pembelajaran dan pada akhirnya belajar tentang belajar.

    Belajar menari tradisional. Begitu sudah mulai hapal gerakannya, eh pandemi mulai. Sedih sekali.


    Dalam prosesnya, kita bisa memilih apakah akan belajar sampai 'bisa' atau mau sampai 'jago'. Saya rasa sih kita ngga perlu jago dalam semua hal. Ada banyak hal yang belajar sampai 'bisa' sudah memuaskan hati dan itu cukup. Apalagi kalau keahlian tersebut tidak terlalu relevan dengan kehidupan sehari-hari ataupun tidak terlalu kita sukai. Misalnya, ketika tahun ini saya belajar pakai make up. Saya berhenti sampai kata 'bisa' saja, karena ternyata saya kurang menikmati proses memakai make up. Sehari-hari saya tidak terlalu sering menggunakan atau merasa perlu menggunakannya. Jadi ya sudah. 

    Ada teknik-teknik tertentu yang bisa digunakan untuk mempelajari kebiasaan baru. Dalam buku the Atomic Habit, misalnya, cukup membantu memberikan cara praktikal untuk belajar membiasakan hal baru. Latihan juga sangat penting untuk mempelajari hal baru. Misalnya, kalau mau bisa menulis, ya harus mau latihan rutin menulis. Semuanya perlu latihan. Kalau mau bisa hidup rapi, ya harus belajar langsung rapi-rapi begitu melihat situasi yang berantakan.

    Banyak hal bisa dipelajari, kalau mau. Kalau tidak mau pun, tidak masalah. Bisa jadi kemauan belajar itu baru muncul tahun depan atau bulan depan. Ngga ada yang pernah tau sejauh mana seseorang akan belajar suatu hal. Makanya itu, saya ingin sekali lebih bebas dari pikiran menilai suatu hal, diri sendiri, atau orang lain. Kita ngga pernah tau ya apa yang akan terjadi di masa depan. 

    Belajar menjahit. Ternyata senang sekali bisa menjahit!

    Jadi tahun ini saya belajar apa saja ya.. climbing, menari tradisional, olahraga sendiri di rumah, mengelola dan menjaga kesehatan mental, bekerja dari rumah, mengelola dan merapikan bahan makanan, makan sayur dan buah secara rutin, meditasi, menjahit, berenang, dan banyak hal tentang diri sendiri. Saya juga lumayan memberikan perhatian ke hubungan-hubungan yang saya miliki, baik personal maupun profesional. Saya bangga sekali bisa melewati tahun ini dengan lebih tenang dan mau meluangkan waktu untuk fokus ke diri sendiri. Tahun yang berat, namun buat saya, relatif jauh lebih mudah dibandingkan tahun lalu.

    Di akhir tahun ini, saya berdoa sekali supaya saya bisa selalu menjadi pribadi yang senang belajar. Mau melihat suatu hal dari berbagai sisi. Mau menjalani proses yang berat agar bisa menjadi sesuatu untuk masa kini atau masa depan. Semoga tahun depan bisa lebih baik, tapi kalau tidak lebih baik, semoga saya bisa belajar dari segala prosesnya.


    xoxo,

    Diny

    Buah Tangan dari Sesi Terapi

    Menyambung cerita sebelumnya tentang perjalanan kesehatan kejiwaan yang saya lalui, kali ini saya akan berbagi tentang beberapa alat atau cara yang cukup berguna buat saya. 

    Saya pernah berbagi soal ini, misalnya di post yang berjudul Things that Keeps Me Sane. Kalau dilihat-lihat dengan kacamata sekarang, beberapa hal dalam daftar tersebut cenderung saya gunakan untuk melarikan diri dari kenyataan. Waktu itu saya membuat daftarnya sendiri, tanpa bimbingan dokter jadi yaa.. gitu deh. 

    Saya ngga tau apakah cara-cara ini bisa berguna atau ngga buat orang lain. Saya diajarkan teknik ini oleh dokter secara bertahap dan sesuai dengan kemajuan saya pada saat sesi terapi. Saya juga bukan dokter, konsuler, atau terapis. Cara yang saya tuliskan di bawah ini adalah cara-cara yang berguna buat saya, berdasarkan intepretasi saya dari sesi terapi dan dari berbagai sumber lainnya seperti buku, podcast, diskusi, dan lain-lain. Bisa saja saya salah mengintrepretasikan cara ini, jadi keep in mind that it may not scientifically proven. 

    Saya yakin sekali kalau yang kayak gini-gini itu memang ngga bisa belajar dalam waktu singkat. Harus terus-menerus dilatih. Mungkin ngga akan pernah masuk ke kata 'jago'. Penting untuk menjadi proses belajar seumur hidup. Apapun masalahnya, kita bisa menggunakan cara ini sebagai tools untuk menghadapinya, or maybe not but we can at least give it a try.

    Cara-cara ini juga sudah saya gunakan setahun terakhir. Namun, baru di bulan November, sesi terakhir dengan dokter, akhirnya saya mengerti apa maksud dokternya. Sesi itu bisa jadi adalah "aha! moment" saya. Yaitu saat dimana semua yang selama ini dipelajari di sesi terapi bersatu dan terkoneksi menjadi pengetahuan komprehensif. Entah kenapa saya jadi langsung merasa berdaya, kayak "OH MAKSUDNYA GINI TOH" (mesti di capslock).

    Me trying to figure out adult life.

    Poin-poin ini dibuat bukan berdasarkan urutan tertentu. Semua bisa dilakukan perlahan-lahan atau berbarengan.

    1. Menulis sebagai alat meditasi

    Saya sudah menggunakan cara menulis untuk menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupan saya, barang kali sejak SMP. Biasanya saya menggunakan teknik menulis sebagai tempat sampah. Dulu, saya terbiasa menulis apa yang terjadi dalam kehidupan A-Z dan penilaian saya terhadap situasi tersebut. Menulis bisa membantu saya memindahkan apa yang ada di pikiran, sehingga kepala saya terasa lebih ringan.

    Namun, kalau mau naik tingkat, kalau mau mendaur ulang 'sampah-sampah' itu menjadi sesuatu yang bermakna, menulis bisa dijadikan terapi. Caranya adalah dengan melakukan assessment terhadap emosi yang saya punya. Misalnya dengan memakai kata 'saya merasa..', 'saya percaya..', 'saya yakin..' dan lainnya yang berawal dengan kata 'saya'. How do I feel about things that happened in my life?

    Teknik ini bisa melatih diri kita untuk fokus sama diri sendiri sehingga tidak menyalahkan, tidak memberi penilaian buruk/baik, dan tidak fokus pada hal-hal yang di luar kontrol, seperti orang lain atau keadaan. Teknik ini juga dipelajari di buku Nonviolent Communication yang jadi panduan saya untuk belajar teknik-teknik tersebut. Dengan metode ini, kita bisa belajar menjadi subjek dalam kehidupan yang kita jalani. Bukan hanya sebagai penonton atau korban.

    Menulis adalah salah satu cara saya mengenal diri sendiri.


    2. Mengubah familiarity/kebiasaan

    Pengalaman yang kita miliki telah mengajarkan kita berulang kali dan terus-menerus. Dampaknya adalah kita sudah membangun refleks tertentu ketika menghadapi pengalaman tertentu. Something that is familiar to us. Sayangnya, dalam perjalanan kehidupan, berbagai hal bisa berubah. Respon yang kita miliki terhadap situasi yang sama, juga mesti ikut berubah. Atau bisa jadi, respon yang kita miliki selama ini bukan respon yang relatif sehat dan kita mau mengubahnya.

    Gimana caranya supaya bisa membiasakan diri dengan kebiasaan yang baru?

    • Sadar. Sadar dengan apa yang terjadi.
    • Komitmen. Apakah kita rela dengan perubahan yang mau dibuat? Kalau belum rela, ya sudah ngga papa, nanti lanjut ke tahap berikutnya kalau sudah siap. Kalau sudah rela..
    • Kenali. Kenali situasi, perasaan, kenyataan, dan pilihan-pilihan yang muncul. 
    • Buat keputusan. Dari berbagai opsi respon yang bisa kita ambil, pilih salah satu. 
    • Memposisikan diri. Lihat apakah kita bisa memposisikan diri menuju versi baru sebagai respon dari suatu kondisi yang familiar.
    Teman saya bilang, ini mirip dengan Practice the Pause. Kalau menurut saya, kita bisa melakukan ini kalau sudah terbiasa dengan belajar self-awareness. Pause tanpa self awareness juga ngga akan jadi apa-apa.

    3. Latihan

    Latihan, latihan, latihan. Karena ini adalah sesuatu yang ngga familiar. Kita ngga terbiasa dengan kondisi tersebut. Kita mungkin belum tau reaksi seperti apa yang pas dan relatif sehat. Oleh karena itu, penting untuk bisa sadar dengan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan pilihan yang akan kita ambil. Penting untuk bisa sadar dan hadir untuk diri kita sendiri.

    4. Menggunakan realisasi

    Sering kali saya punya pertanyaan-pertanyaan yang saya ngga tau jawabannya apa. Misalnya, kok A melakukan B ya?. Dalam mengatasi hal tersebut, biasanya, saya sering mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Mencoba membuat semuanya menjadi rasional. Oh, mungkin si A melakukan B karena dia merasa C. Inilah yang namanya realisasi.

    Realisasi berarti berusaha membuat semuanya rasional, riil, dan punya jawaban. Realisasi ini bisa kelihatan seperti bentuk mengatasi masalah yang sehat, padahal belum tentu. Memang realisasi ini sudah naik tingkat dari level menyalahkan/blaming. Tapi, kalau mau naik tingkat lagi.. We can take a look at this in more detail.

    Kita belum tentu akan punya jawaban yang benar. Belum tentu kita akan mendapatkan closure yang kita harapkan. Kalaupun kita tanyakan ke orang yang bersangkutan (kasus si A), belum tentu A juga tau alasannya, atau kalaupun dia tau, belum tentu dia mau menjelaskan ke kita. Kalau pun A mau menjelaskan ke kita, belum tentu kita mengerti. Semuanya serba tidak pasti. Bagi orang yang suka mempertanyakan sesuatu dan suka mencari jawaban, seperti saya, ini hal yang berat. I tend to want to know the answer.

    Ketika terjebak dalam realisasi, kita sebagai manusia sering juga terjebak dalam confirmation bias. Confirmation bias artinya mengintrepretasikan sesuatu berdasarkan hal yang kita yakini, yang tentu saja belum tentu benar. Sering kali kita memilih salah satu jawaban yang kita yakini kebenarannya walau dengan informasi yang tidak penuh. Padahal jawaban tersebut hanya mentok di kata 'mungkin', hanyalah sebuah kemungkinan. Bisa benar bisa juga tidak. Makanya kita mesti lebih hati-hati dalam hal ini.

    Untungnya, kita bisa menggunakan realisasi ke tingkat yang lebih sehat. Kita bisa menggunakan realisasi untuk membuat berbagai opsi jawaban. Contohnya, bisa saja A melakukan B karena C, D, E, atau F. Lalu, kita bisa membiarkannya begitu saja. Kita tidak perlu memilih apakah yang benar adalah C, D, E, atau F. Kita bisa meyakini bahwa ada berbagai opsi jawaban dan it is okay to not have an answer.

    Ingat, ngga ada orang yang bisa kita kontrol selain diri kita sendiri.

    Life is a series of open ended questions.


    5. Mengobservasi tanpa memberikan penilaian

    Mengobservasi yang bebas interpretasi, tanpa nilai, tanpa kata "seharusnya". Jujur, ini saya masih ngga terlalu mengerti gimana caranya. Walau pembahasan ini ada juga di buku Nonviolent Communication, tapi saya masih belum paham benar gimana cara praktikal di kehidupan nyata. 

    Intinya sih kita bisa melatih diri kita untuk melihat sesuatu tanpa interprestasi menggunakan nilai yang kita miliki. Kita punya latar belakang yang berbeda, luka masa lalu yang berbeda, mungkin budaya, agama, atau apapun yang buat kita penting, belum tentu itu penting buat orang lain. We don’t have to judge them for being different than us. Easier said than done. Yup!

    Melihat perbedaan nilai ini kayaknya mesti dibarengi dengan (balik lagi) self awareness dan mungkin juga boundaries. Yang orang lain lakukan, tidak berarti akan mendefinisikan diri kita. Saya dan orang lain adalah dua individu yang berbeda. It is okay to agree to disagree. Apalagi kalau terkait nilai penting yang kita anut ya. 

    Tapi ini susah banget dilakukan ke orang-orang terdekat kita. Barangkali kita secara tidak sadar sudah menanamkan harapan atau asumsi tertentu ke orang terdekat, sehingga ketika mereka ternyata memiliki nilai dasar yang berbeda dengan kita atau memberi respon yang tidak diharapkan, tentunya kita bisa merasa kecewa. Ketika kekecewaan ini tidak diolah lebih lanjut dan ditambah dengan penilaian-penilaian yang kita berikan ke orang tersebut maka kekecewaan ini bisa berubah menjadi sakit hati atau resentment. 

    6. Mengelola preoccupied mind 

    Preoccupied mind mungkin bisa dijelaskan sebagai pikiran yang terisi dengan suatu hal atau seseorang yang dianggap penting. Preoccupied mind saya selalu tentang sesuatu yang saya anggap sebagai segalanya. Ketika saya kehilangan hal yang saya anggap sebagai 'segalanya', lalu siapakah saya di luar dari itu semua?

    Oleh karena preoccupied mind ini, saya jadi semacam terobsesi, barangkali. Terobsesi dengan pikiran-pikiran ini. Pikiran tentang masa lalu. Padahal, pikiran ini mungkin tidak memberikan dampak besar lagi terhadap kehidupan yang saya punya sekarang. 

    Untuk keluar dari preoccupied mind, kita bisa menghitung berapa persen hal yang kita pikirkan akan berdampak pada kehidupan masa kini. Lagi-lagi harus balik ke self-awareness. Kadang kita perlu lihat bagaimana cara kita menghabiskan energi yang kita miliki? Apakah energi tersebut kita habiskan untuk sesuatu yang punya dampak terhadap kehidupan saat ini dan masa depan?

    Nah, setelah evaluasi hal tersebut, kita bisa memindahkan penggunaan energi, untuk hal-hal yang masih relevan dengan kehidupan kita sekarang.

    Saya rasa, meditasi juga akan membantu untuk keluar dari preoccupied mind. Meditasi bisa melatih diri kita untuk hadir dalam situasi saat ini. Untungnya sekarang sudah banyak ya latihan meditasi secara online, jadi bisa latihan di rumah saja.

    __

    Saya rasa 6 poin itu adalah poin-poin besar yang bisa saya rangkum dari sesi terakhir terapi yang saya jalani. Ada satu poin lain yang akan saya ceritakan dalam cerita berikutnya. Juga ada beberapa poin yang terlalu personal untuk dibagikan. Kelihatannya seperti banyak teori ya. Banyak istilah. Entah kenapa, ketika sesuatu itu punya nama, rasanya saya jadi punya kuasa akan hal tersebut.

    Misalnya setelah saya tau tentang realisasi dan sadar bahwa saya sering menggunakannya, saya jadi semacam punya kendali atas diri. Seperti bisa bicara dengan diri sendiri, "Hey, kamu lagi realisasi nih. Ayo coba bikin realisasi ini keluar sebagai bentuk yang lebih sehat".

    Melalui terapi, saya juga jadi lebih sadar tentang kejadian di masa lalu yang memengaruhi cara saya bereaksi atas suatu hal atau cara saya mengambil keputusan. Saya ingin sekali bisa menjadi orang yang bereaksi terhadap suatu hal atas dasar cinta, bukan atas dasar luka.

    Ini meskipun sudah tau sedikit tentang ini semua dan sudah menjalani terapi, saya yakin masih banyak yang saya belum paham. Poin-poin di atas aja saya belum handal menggunakannya. Bahkan bisa dibilang proses ini baru saja dimulai. 

    Kalau ada kesempatan seperti punya waktu, uang, dan energi untuk bisa terapi, saya sangat merekomendasikan terapi sebagai salah satu investasi yang bisa kita berikan ke diri sendiri dan juga ke orang-orang terdekat kita. Kalau kesempatan itu belum ada, ngga papa, kita ngga pernah sendirian kok. Pasti ada jalan untuk belajar ini dan pasti ada orang yang sungguh peduli dengan diri kita. We have to find them and be that person for people we love.

    Lagi-lagi, mohon maaf tulisannya campur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pikiran saya masih belum bisa full Bahasa Indonesia atau full Bahasa Inggris. Hehe. Semoga bermanfaat.


    Salam sayang,

    Diny

    Older Posts

    Search This Blog

    Contact Form

    Name

    Email *

    Message *