Jodoh

Jodoh

October 15, 2023

I used to believe that in this whole universe, there is one special person that is meant for us. Someone who we often called as 'the one'. A person whom I can proclaim as something like, "oh I wonder why it won't work with others, because they were not meant for me". A thought that with that particular person, we can do it all easily, effortlessly.

In Bahasa Indonesia, we probably called it 'jodoh'. Jodoh means something that matches so that it become partner/pair. Suitable. Appropriate. Meant to be.

I thought that the concept of the romantic jodoh like a Disney story where you meet a person and it is just works well and easy. A lady with a prince charming that last forever and ever. They will concur all the problems in their world.

Until a couple of years ago, my idea of jodoh has changed. 

I think jodoh is not only things that are easy. It has something to do with what we do continuously but also it is beyond our control. It is written in the sky, but also has a day-to-day job with a regular review period. 

Is it jodoh if it not last forever? Well, my personal experience was the first thing that helped me learned that jodoh can have an end line. Something can be a jodoh as long as He allowed and gave you a chance to have or experience it. When it ends, the jodoh period also ends.

Everything has an end. And that's what makes things special. We only get things for limited time.

I think this understanding creates a deeper meaning in my life. Things that happened in my life is not gonna be forever. Therefore, I will cherish things and person that I have in my life right now. 

Even when life goes well, there won't be a guaranty the jodoh we love dearly will be with us tomorrow. And now, one of the scariest thing in my life is learning to trust jodoh concept again, even if there is no tomorrow.

Cloudy Days

Cloudy Days

April 17, 2022


Sometimes I am not feeling like my self. I had cloudy days where everything seems off. 

On those days, I was feeling empty, tired, and sad. It was hard to get up from bed. Those days, I cannot genuinely smile as much as I do on better days, which is totally ok but I don't like it.

On better days, it was easier for me to give appreciation and give more love to myself. It was easier to feel calm and peaceful.

But on cloudy days, I do have a monster hijacking my regular personalities. It can last for 2-3 days depending on how fast I can regulate my emotions and feelings. 

In the past, I blamed my partner because I don't like cloudy feelings. I didn't know how to regulate it. And it was easier to just blame it to someone else.

Lately, I figured out that even when he isn't around, I still have those cloudy days. Another reminder that we are the one who are responsible with our own feelings. 

Even when I have no significant problems, it still comes and goes like a wave.

I guessed the root of problem that caused this is because of I tend to have chronic lack of self worth. I've been working on it for a couple of years. Am I getting better at this? I don't know my friend, I don't know. I want to believe that I am, but sometimes it feels harder than usual.

I believe there must be some ways to make it more bearable. One of which is probably I just need to go through all of those cloudy feelings and then let it go. 

Or maybe cloudy days are part of being human. It is totally normal to not feeling sunny all the time. Just like the weather. And based on previous personal references, it will eventually pass and I will be just fine.

Menikmati Pameran di Galeri Nasional

Menikmati Pameran di Galeri Nasional

April 03, 2022


Kemarin saya pergi jalan-jalan ke Galeri Nasional Indonesia. Senang sekali rasanya! Saya suka pergi ke museum atau ke galeri seni.

Galeri Nasional terletak di pusat kota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Timur, tepat di seberang Stasiun Gambir.

Untuk bisa masuk ke Galeri Nasional, kita wajib melakukan pendaftaran online di website mereka. Kita bisa pilih jam masuk sesuai dengan yang kita inginkan dan tergantung dari ketersediaan slot yang masih tersisa. Setelah melakukan pendaftaran, kita akan mendapat barcode tiket masuk melalui email. Barcode inilah yang akan di scan sebelum masuk ke ruang pameran. Tanpa pendaftaran ini, kita ngga ngga akan bisa masuk ke ruang pameran apapun alasannya.

Galeri Nasional punya beberapa ruang pameran. Pameran yang sudah pasti selalu ada namanya Pameran Tetap. Letaknya di sebelah kiri kompleks Galeri Nasional. Kalau kamu belum pernah ke sana, saya sarankan kamu booking 2 sesi. Ini supaya kamu bisa lebih santai dan menikmati semua karya nya. Kalau satu sesi saja rasanya terlalu terburu-buru atau belum selesai baca dan menikmati semua karya yang dipamerkan. 

Di Pameran Tetap, saya paling suka lukisan Kapal Karam di Landa Badai karya Raden Saleh. Di sini juga ada replika lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang disandingkan dengan karya Charles V berjudul Pengunduran Diri. Kalau tidak salah, kedua lukisan tentang Pangeran Diponegoro di Galeri Nasional Indonesia adalah lukisan replika. Lukisan aslinya dipajang di Istana Merdeka (kalau tidak salah ingat). 

Selain lukisan itu, saya juga suka lukisan Dyan Anggraini. Saya merasa lukisan itu sungguh menggambarkan perjuangan seorang ibu dalam berbagai aspek dalam hidupnya.

Selain lukisan, saya juga suka patung karya Dolorosa Sinaga berjudul Solidaritas. Karya Dolorosa Sinaga memang erat sekali dengan pencerminan kekuatan perempuan, sebuah tema yang saya secara personal sangat suka.

Solidaritas

Nah, minggu ini, saya ke pameran berjudul Indonesian Women Artist #3: Infusions Into Contemporary Art yang menampilkan 10 perupa perempuan Indonesia. Seluruh perupa tersebut berusia lebih dari 50 tahun. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 30 Maret sampai 24 April 2022 di Gedung A dan B Galeri Nasional Indonesia.

Buat saya pameran ini sangat menarik, menampilkan berbagai rasa dan warna, juga cerita yang kompleks, dinamis, dan mendalam. Saya paling suka di ruang yang berisi karya-karya ibu Dyan Anggraini. Lagi-lagi saya terkesima dengan seluruh karya Ibu Dyan. Karyanya berjudul Kor Bungkam juga sangat menarik.

Karya Dyan Anggraini lainnya yang paling terngiang bagi saya adalah karya berbentuk kaki-kaki berjajar dan penuh luka menganga yang dijahit dengan peniti. Seperti menggambarkan perjalanan panjang yang menyakitkan. Peniti ini bermakna perjalanan seorang seniman yang tidak mudah penuh tantangan, hambatan yang tiada habisnya.  Semua karya Dyan Anggraini yang ada peniti-penitinya, saya sukaa!


Karya Dyan Anggraini

Oiya, kalau kamu ke sini, jangan lupa kalau pameran Indonesian Women Artist ini ada di Gedung A yang berada di tengah Galeri Nasional dan Gedung B yang ada di sebrang pintu keluar ruang pameran gedung A.

Nah, kalau di gedung B, saya paling suka karya ibu Dolorosa Sinaga (lagi). Soalnya karya Dolorosa Sinaga itu seperti memiliki 'nyawa' tersendiri dan kisah yang mendalam. Apalagi patung berjudul Merenungi Hari Akhir. Coba deh kamu lihat karya-karya Dolorosa Sinaga lainnya di Katalog Seni Kontemporer Indonesia ini.

Karya Dolorosa Sinaga

Di gedung B juga ada ruangan karya Bibiana Lee yang mengusung tema rasisme. Saya suka karena ruangannya hitam merah dan pesannya langsung dapat.

Oiya terakhir, sekarang ini juga ada pameran solo Otty Widasari yang berjudul Partisan. Pameran yang dikurasi oleh Luthfan Nur Rochman ini membedah keberadaan teknologi media terkini yang berinteraksi dengan berbagai media lain dan juga penonton. 

Ruangan pameran terbagi menjadi tiga bagian. Pertama dalam bentuk karya narasi, ini saya suka. Kedua, perpaduan antara percakapan sehari-hari, teknologi, interaksi dengan pengunjung, dan segala kekacauan atau kerapiannya. Ketiga, video-video karya seni yang pernah ditampilkan di berbagai festival di dunia.

Saya cukup suka ruangan tontonan yang ada di dalam. Meskipun kalau sendirian, saya ngga akan berani masuk karena ruangannya agak gelap dan sepi. Saya takut hehehe. Kalau ada teman dan/atau pengunjung lain tetap seru kok.



Menikmati karya Otty Widasari


***

Selesai melihat pameran, saya dan teman main ke ruang Pajang Karya yang sedang menampilkan karya-karya sketsa Iwan Widodo. Di sana, saya ngobrol dengan mas yang jagain, namanya Mas Anjar. Kata Mas Anjar (kalau ngga salah), di situ kita bisa berkarya dengan media yang ada. Akhirnya saya menggambar sebuah karya berjudul Musim Semi di Flagstaff.


Menggambar di Pajang Karya

Sambil menggambar, saya dan teman saya mengobrol ngalor-ngidul sama Mas Anjar. Lalu dia kasih tau ternyata ada yang namanya KamiSketsa dan ada pelatihannya. Tanggal 7 April ini akan ada pelatihan langsung yang diajari oleh Iwan Widodo. Pelatihan ini gratis dan digelar secara rutin. Kamu bisa dapat informasinya di Galeri Nasional Indonesia. Pulang menggambar, saya dan teman dikasih jajanan oreo untuk dimakan di jalan. Terima kasih mas!


Musim Semi di Flagstaff. Pegal juga menggambar kertas besar. 

Pulang dari Galeri Nasional, kami main ke Mangga Besar naik transjakarta. Saya jajan kue di toko kue jadul yang cukup terkenal namanya Suisse Bakery, rekomendasi dari Jen. Saya jajan kue sus, teman saya jajan bolu ketan. Dua-duanya enak sekali!

Suisse Bakery buka setiap hari jam 7 pagi - 8 malam
Alamat Suisse Bakery:
Jl. Hayam Wuruk 114 Blok A No.5-6, RT.10/RW.9, Maphar, Taman Sari, Jakarta Barat, 11180

Malamnya, kami makan pho di Pho Saigon. Saya sudah lama banget ngga makan pho yang enak dan di sini beneran enak banget. Dagingnya banyak dan kuahnya pas. Makan ini bikin hati ku semakin senang. Habis makan pho, baru deh pulang naik kereta api dari stasiun Mangga Besar yang jaraknya hanya 500 meter dari Pho Saigon.

Pho Saigon buka setiap hari jam 10 pagi - 10 malam.
Alamat Pho Saigon: 
Jl. Raya Mangga Besar No.72, RT.6/RW.1, Taman Sari, Jakarta Barat, 11150

Jajan kue sus di Toko Suisse

Pho Saigon

***

Sungguh hari yang menyenangkan!


Semoga hari-hari mu juga menyenangkan yaa.


Diny


Jumping Off a Rocky Ledge in Sedona

Jumping Off a Rocky Ledge in Sedona

March 31, 2022


Hello fellas,

As an attempt to preserve some memories, I would like to write memorable trips I did in the US. 

 

This one is a major throwback to the very first trip I did in Flagstaff. I was just arrived, and it was my third day I in Flagstaff. I barely grasp the idea that I was right in the US, pursuing my dreams to study abroad. 

 

One of the Indonesian fellows, Dany, asked me and my roommate, Thalita, if we would like to join a trip to Sedona with a church youth group she met in International House. International House is kinda like a kos-kos-an (boarding house) for international student. And the church youth group had get-together activities like hiking. I though this probably like tafakur alam in Muslim community back home. 

 

So, I definitely said yes. 

 

She picked me and my roommate about 8 am. She introduced us to CJ from the International House. So, four of us, me, my roommate, CJ, and Dany drove down to Sedona. Little did I know this small town will be my favorite place of all time in the world.


 

It took about an hour drive from Flagstaff to Sedona. The views were amazing! I amazed by the variety of landscapes in this scenic route. Pine forest changed into shrubs, light color rocks changed to red color rocks. It was all beautiful.

 

We arrived and parked in a small parking lot. Then, we met the other group from the church youth group. CJ and Dany introduced us to them. There were around 20 people, mostly undergrads. They were all smiley, friendly, and fun.

 

Well, this was new to me. Hiking in a not-so-tropical-area. Hiking with lots of strangers. It was super exciting!



The hiking trails were not too far from the main road. We walked about 10 minutes. The trail was ended in a small river. We called it curug in West Java. But there, we call it a river. 

 

The weather was nice, not too chilly or hot. The air was super dry. My tropical skin hasn’t adapted to a dry and chilly weather, but it was all good. 

 

The other folks started swimming in the river. They jump from a short cliff on the other side of the river. At first, I was just looking at them, laughing and just observing them.

 

And then, I decided to join them, jumping from the little cliff. It was cool. At that time, I barely can swim. I did not know how to float. The river was a little deep, probably 2 meters deep, so I can't touch the riverbed. 

 

But hey, let’s try it!


I followed them to the cliff, and I jumped! Even though I cannot swim. Hell yeah.

 

The water was very fresh and cold. I was able to swim back to the riverside. And one of the them helped me to get the riverside. Hahaha.

 



From that very first trip, I know this journey will be lots of yes to new things. I knew I will enjoy every bit of it. I knew it will explore my boundaries. Figuring out if I could find the other sides of me that never been explored.

 

So, it was such a nice first trip. A celebration of my accomplishment. A great preamble experience that starts a really fun experience. 



Hope you enjoy the pictures and stories as much as I do.

 

Thank you for reading.

 

Love,

Diny

Hal-hal yang membuat hati senang

Hal-hal yang membuat hati senang

October 05, 2021

Minggu lalu saya makan malam dengan teman lama. Kami ngobrol-ngobrol soal kehidupan. Di antara pembicaraan itu, dia bertanya, what makes you happy these days? Pertanyaan itu masih berputar di kepala saja beberapa hari kemudian. 

Apa ya yang bikin saya senang belakangan ini?

Well, sebenarnya saya relatif gampang senang. Cuma secara spesifik, apa ya.. Akhirnya saya pikir saya tulis saja, biar ngga kepikiran terus. Walau katanya sih jangan terlalu memikirkan kesenangan. Kesenangan kalau ditulis katanya malah bikin kebahagiaan lebih sedikit. Entahlah.

Saya ingin menulis ini, jadi yaudahlah ditulis aja hehehe. Jadi ini dia hal-hal yang biasanya membuat saya riang:

Saya senang saat berhasil olahraga seminggu tiga kali. Inginnya bisa olahraga setiap hari Senin, Rabu, Jumat setiap jam 7-8 pagi. Terkadang ngga berhasil, lalu saya olahraga di sore hari. Kadang ngga berhasil juga tiga kali, ngga papa sih, yang penting ada waktu untuk berolahraga.

Saya senang saat bangun pagi, lalu sempat menyiram tanaman dan membuat sarapan, sebelum mulai bekerja.

Saya senang ketika bisa berenang di akhir pekan. Apalagi kalau kolam renang sepi dan bersih, lalu habis itu bisa jajan yogurt atau susu cokelat.

Saya senang kalau lagi bisa rajin masak dengan menu kombinasi yang selalu berbeda setiap harinya dan setiap makannya. Saya kurang suka makan hal yang sama berulang kali. Cuma hal itu kan membuat saya jadi punya konsekuensi. Konsekuensinya, harus buat strategi atau rencana di akhir pekan, agar bisa masak rutin dengan menu yang selalu berbeda dan tidak menghabiskan banyak waktu. Kalau sedang berhasil, saya senang sekali rasanya, puas. Kalau sedang ngga berhasil, setidaknya saya akan berusaha makan tiga kali sehari, itu syarat minimal yang bisa membuat saya senang.

Saya senang kalau lagi bisa membaca buku yang seru. Saya ngga selalu membaca buku setiap hari atau setiap minggu. Saya baca kalau sedang ingin saja. Kalau bukunya tidak membuat saya tertarik juga saya ngga maksain terus membaca buku tersebut sampai selesai. Jadi, pas baca buku yang menarik dan menyenangkan, saya senang betul!

Saya senang saat bisa latihan pilates. Latihan pilates ini baru saya mulai 1,5 bulan terakhir. Saya menambahkan pilates di rutinitas olahraga mingguan. Ternyata saya suka pilates! Saat latihan, tentu saja badan panas semua dan paha kencang, tetapi setelah latihan badannya jadi enak sekali.

Saya senang bisa tidur 6-7 jam. Saya belum bisa rutin tidur lebih awal, masih di sekitar jam 11-12. Saat saya bisa tidur jam 10, saya semakin senang. Tetapi yang paling penting bisa bangun pagi dengan segar, itu sudah bikin saya senang.

Saya senang kalau ada teman minta janjian telepon untuk cerita-cerita atau curhat. Kadang saya yang curhat. Kadang bertukar cerita-cerita yang membuat hati saya atau dia senang. Senang juga karena saya punya beberapa teman yang bisa begini. Akhirnya, kalau yang satu sibuk, saya bisa kontak yang lain.

Saya senang kalau bisa rutin beresin rumah, empty the sink setiap malam, dan ngepel lantai dua kali seminggu. Saya ngga sanggup ngepel lantai setiap hari. Saya tau sekali kalau ini bukan rutinitas yang alamiah buat saya dan jarang sekali terjadi. Maka itu kalau saya berhasil tuh rasanya senang sekali.

Saya sering menulis bermacam-macam jenis tulisan untuk pekerjaan. Saya senang juga menjalani itu. Walau biasanya saat menulis, saya sering kali merasa gundah atau cemas. Namun, setelah sebuah tulisan berhasil saya selesaikan, saya biasanya merasa senang. Apalagi kalau saya bisa punya kesempatan menulis untuk diri sendiri seperti di blog ini. Rasanya senang sekali dan damai.

Favorit saya adalah langit warna biru dan ada awan putih. Cuaca yang cerah dan tidak terlalu terik. Saya juga suka kalau sore hari agak hujan rintik-rintik. Saya suka hujan, terutama kalau saya sedang ada di rumah sehingga saya bisa menikmati hujan dari dalam rumah saja. Hujan yang rintik-rintik adalah kesukaan saya. Kalau hujan terlalu deras rasanya khawatir banjir dan hujan berpetir membuat saya takut.

Saya suka sekali kalau tanaman saya bisa tumbuh dengan rimbun dan tidak ada daun yang pinggirnya kering. Daun yang pinggirnya kering ini pertanda saya kelupaan siram tanaman. Kalau semuanya sedang rimbun, rasanya saya senang melihatnya. Tanaman adalah bagian besar dalam hidup saya. Saya senang bisa berada di sekitar tanaman.

Saya senang juga kalau bisa ada di alam terbuka. Entah itu ke kebun raya, kebun binatang, area perbukitan, taman, dan lain sebagainya. Saya senang memperhatikan bunga-bunga, corak daun, kupu-kupu, dan capung. Taman di Jakarta agak terlalu seragam isi tanamannya dan kebanyakan adalah tanaman introduksi. Saya kurang senang, tetapi boleh lah buat hiburan mata, hati, dan pikiran.

Saya senang kalau takaran teh, matcha, cokelat, dan kopi yang saya buat bisa pas. Soalnya kadang ngga pas. Entah kebanyakan gula, terlalu pahit, terlanjur dingin, dan lainnya. Saat bisa buat minuman dengan rasa yang saya inginkan, rasanya senang sekali.

Sarapan favorit saya adalah roti bakar. Saya suka sekali roti bakar srikaya pakai butter, lalu minumnya pakai teh hangat campur susu sedikit. Apalagi kalau bisa makan ini dengan tidak tergesa-gesa, karena keburu masuk kantor dan lain-lain.

Salah satu sarapan enak favorit saya. Roti Eneng dan selainya, lalu minum kopi tubruknya Tanamerah.

Kadang ada teman yang suka kirim-kirim makanan atau barang. Saya suka dikejutkan dengan itu semua karena hal itu membuat saya merasa diingat, disayang, dan diterima. Kadang saya melakukan hal yang sama kepada teman-teman, agar mereka ikut merasakan yang saya rasakan.

Saya suka bisa punya kesempatan untuk ngobrol panjang atau kerja bareng bersama teman. Kadang di kafe, di rumah, atau di kantor. Saya percaya, orang mungkin ngga akan ada selamanya dalam hidup kita. Ketika mereka ada dan kesempatannya ada, saya suka sekali menikmati waktu bersama mereka.

Saya senang kalau hubungan dengan keluarga sedang akur dan hangat. Soalnya kadang-kadang berantem karena hal sepele, biasa lah namanya juga keluarga. Walau semakin tua rasanya saya bisa lebih mengerti mereka dan mereka lebih mengerti saya, tetap saja ya pasti ada fase kesal atau kecewa. Saya pikir ini ya seperti kehidupan aja kan pasti ada naik turunnya. Kalau sedang akur, tentu saja saya lebih senang dan damai.

Saya senang juga kalau tanpa sengaja eh bisa ngobrol dengan orang baru dan kebetulan seru obrolannya. Soalnya ini kan jarang-jarang bisa terjadi. Saya senang dan menikmati obrolan-obrolan acak seperti ini. Saya merasa, hal ini membuat saya bisa tau bentuk kehidupan yang berbeda dengan bentuk-bentuk kehidupan yang selama ini saya tau. 

Saya suka mandi malam pakai air hangat. Walau saya jarang sih mandi air hangat. Kalau mandi air hangat saat badan lagi capek-capeknya, duh itu yang paling nikmat. Apalagi kalau habis itu minum cokelat hangat. Rasanya tenang.

Saya suka kalau saya lagi bisa disiplin sama target yang saya buat sendiri. Saya juga suka kalau saya ngga terlalu galak sama diri sendiri, walau sedang ngga bisa sesuai target. Kadang bisa kadang ngga, tapi yang penting ngga galak sama diri sendiri aja itu sudah bikin saya senang.

Saya suka sekali hiking.

***

Namanya hidup keseharian, kadang ada hal yang bikin saya senang, kadang ada juga yang bikin saya masygul. 

Tentu saja ada hal-hal lain yang saya tau saya suka, tetapi saya lagi ngga punya. Misalnya, jatuh cinta. Saya tuh suka sekali ya merayakan kasih sayang tetapi sekarang saya lagi ngga punya objeknya, gimana dong hehehe. Yaudah aja kan, mau gimana lagi. Kan ngga bisa dipaksain. Bukan berarti saya ngga bisa bersenang-senang tanpa ada figur romantis.

Kalau ada dan hubungannya baik, ya tentu saja saya tau kalau itu bisa menambah kesenangan berkali-lipat. Berbagi kesenangan dan kesedihan dengan orang lain adalah kebutuhan sosial manusia. Saya rasa wajar saja sih kalau saya menginginkan hal-hal tersebut. Meskipun kebutuhan ini bisa saja dipenuhi oleh bentuk hubungan non-romantis, seperti pertemanan atau keluarga. Tetapi, rasanya agak beda.

Saya pernah ada naksir orang tapi pada akhirnya si orang itu takut dia ngga cukup baik untuk bikin saya senang di masa depan. Saya agak heran, soalnya, lah saya minum cokelat hangat saja sudah senang. Terus, saya sadar betul, orang lain tentu saja hanya bisa menambah kebahagiaan yang sudah saya miliki. Kalau dari sayanya ngga bisa membuat hati saya senang, ya ngga ada orang lain yang bisa menambahkan ke wadah yang bolong. 

Akhirnya ngga saya lanjutin hubungannya. Soalnya saya ngga mau punya hubungan yang membuat saya harus bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, atau demikian sebaliknya. Di sisi lain, bisa jadi saya aja yang belum ingin kasih hati ke orang lain, sehingga alasan kecil bisa membuat saya ngga mau mengusahakan sebuah hubungan.

Lah apa sih malah curhat. Hahaha. Intinya, saya ngga mau lagi lah bergantung sama orang lain untuk bisa merasa senang. Kesenangan saya adalah tanggung jawab saya. Lagian, banyak hal-hal sepele yang terbukti bisa membuat hati saya senang. Saya mau fokus saja menikmati hal-hal tersebut. 

Selagi ada dan selagi bisa.

Sekian dan terima kasih.


Diny

The Five Stars Folks

The Five Stars Folks

September 11, 2021
Lately, I've been thinking and observing people around me. Some people are shining in their own way that makes me adore them. I saw similarities between those people. They have particular characters that I really like. Characters I would like to have in the next 5-10 years.

I called them the Five Stars Folks. They tend to have at least 2 of characters I mentioned below:

Devoted to their family.
Family relationships are the hardest. We got lots of wounds from our family. I identify family as parents, siblings, and close relatives. They can easily hurt you and you can hurt them. They have direct access to your vulnerabilities. Those are reasons why maintaining a healthy relationship with them is hard.

The Five Stars Folks have certain qualities that make them able to deal with those family dynamics. They know how to show up for their family in a way that will not burn themselves. They know how to make boundaries that keep them from unnecessary conflict. They also know how to mend the broken relationships with their family.

I highly value this quality because I think this one is the hardest. There are a lot of uncontrolled situations within the family. And I think the way people show up or deal with their family issues will reflect how they will show up to important people in their life.

Passionate to their hobbies.
I easily admire people who have hobbies. They are busy with things they enjoy the most. I think it is a very sexy quality. These people usually know how to have fun. They tend to be responsible for their own happiness. They know how to make themselves happy. They put time and energy into their joy. They have a certain energy that makes their eyes lighten up every time they talk about their favourite things. That really is adorable.

They keep learning about many things in life.
The Five Stars Folks enjoy and dedicate their life to learning things. It can be through books, movies, songs, arts, or anything they like. It can also come from people they meet. They are able to learn things from other people. They take time to understand people.

I also like those who are actively learning about themselves. The self concept is not constant. It keeps changing but is also stable in some ways. Being able to learn about these dynamics is complicated but some people can actually do it. I think because of this, they will be able to be honest with themselves.

Those who aren't perfect and strong enough to show their vulnerabilities.

Some Five Stars Folks are not perfect and they know it. They know their flaws and struggles. They are honest to themselves. They are open to trustworthy people about their vulnerabilities. It is highly related to their self-esteem. They are okay for not being perfect. They are human.

Dalai Lama once said ‘The more honest you are, the more open, the less fear you will have because there’s no anxiety about being exposed or revealed to others. So, I think that the more honest you are, the more self-confident you will be . . .’. This quality is hard to achieve. I wanna congratulate people who already have this core value.

They are kind, care, and compassionate.
They are kind to themselves and compassionate to their inner child. They are also kind to others. They work with compassion in many aspects in their life. They are aware of their surroundings. They reach out and are willing to listen. Isn’t it amazing that people can be kind, care, and compassionate? Again, they are adorable.

They are living in this world not only for themselves but also take their time serving others. They have empathy and are willing to share their resources with others.

People who are able to identify and communicate their needs or feelings.
Ok maybe this is the hardest. Some people are really good at it though. They have learned to identify their feelings and needs. They acknowledge it. They respect their self, that they are valid in any form they had in the past and in their current self.

People who know how to set boundaries.
Oh common, this one also is the hardest in our culture. We tend to say yes even though we want to say no. Instead of setting boundaries, people choose to avoid or later be resentment. Some people are easily ghosting others instead of setting boundaries. However, the Five Stars Folks are willing to take a harder step to walk through difficult conversations to set their boundaries. That's really awesome!

***

All of these sounds too perfect but I actually have met a couple of Five Stars Folks.

Well, I am hoping that gradually I can have those qualities as well. It's a long process. However, it has been a nice experience to see real people who have those qualities. It makes me think that those qualities are achievable even though it will take some time to be good at it.

I can't thank you enough for those who have become the Five Stars Folks. Their achievement has become a light to the world. It shines at least to their surroundings and to me. Still, they are usually humble about it and willing to share their process. It’s been fun to connect with them.

Have a good life.


Love,
Diny

Menjaga Diri

Menjaga Diri

June 01, 2021

Suatu hari saya pergi dengan seorang teman jalan-jalan ke beberapa tempat di Jakarta. Kami makan makanan-makanan enak, minum kopi, nonton bioskop, menikmati malam, dan lain sebagainya. Di tengah perjalanan, saya berdiskusi dengan teman tentang penyakit. Diskusi ini membuat saya berpikir lebih lanjut hingga hari-hari setelahnya. Saya jadi ingin membagikannya melalui tulisan di blog.

Penyakit Fisik

Kalau kita perhatikan orang-orang di sekitar, sering kali kita bisa menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan penyakit tertentu. Misalnya, cenderung mudah darah tinggi, punya risiko gula darah tinggi, kadar kolesterol tubuh gampang naik, dan perut relatif sensitif mudah asam lambung. Penyebabnya bisa macam-macam. Ada yang memang ada faktor genetik, orangtua atau di keluarganya banyak yang memiliki penyakit tersebut. Ada yang faktor luar, dari pola makan, lingkungan, dan lain sebagainya.

Orang-orang yang punya kecenderungan-kecenderungan tersebut tentunya harus lebih menjaga diri. Mulai memperhatikan pola makan, olahraga, tingkat stress, harus minum suplemen tertentu, dan lainnya. Mereka juga harus lebih mengenal, faktor apa saja yang bisa membuat penyakit mereka kumat. Misalnya, kalau ada masalah lambung, mungkin sebaiknya mereka tidak banyak minum kopi atau teh yang tinggi kafein.

Sayangnya, banyak hal-hal yang memicu penyakit itu terlihat seperti kenikmatan. Makan makanan laut yang enak sekali, contohnya. Meskipun enak, makanan itu cukup berbahaya untuk orang yang mudah kolesterol. Kolesterol bisa naik dan membuat orang itu sakit kepala. 

Hal-hal yang kelihatannya enak padahal bisa membawa penyakit itulah yang perlu kita perhatikan. Saya rasa kita perlu persiapan diri untuk mencegah dan mengobati. Kalau punya masalah asam lambung, mungkin harus selalu sedia cemilan, seperti pisang atau permen, dan juga selalu sedia obat lambungnya. Lapar sedikit, bisa langsung memasukkan makanan. Kalau sudah terlanjur sakit, ya mesti istirahat, minum obat, dan makan yang benar.

Ada hal-hal yang perlu dicegah, agar kita tidak mudah kambuh. Ada hal-hal yang perlu dilakukan, agar kita lebih bugar. Ada juga hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengobati yang sudah terlanjur sakit. Ketiganya sama penting.

Penyakit Mental

Saya rasa demikian pula dengan kesehatan mental. Ada orang-orang yang punya kecenderungan mengalami masalah kesehatan mental. Bisa dalam bentuk kecemasan, depresi, ketakutan, trauma, dan lain-lain. Bisa karena kondisi lingkungan, fisik, atau pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup. 

Saya rasa, sekarang ini masa pandemi juga menjadi kondisi optimal yang bisa membuat orang merasakan perasaan kesepian, kelelahan, dan cemas berlebihan. Nah, kalau sudah ada kecenderungan seperti ini, mungkin kita perlu berlaku lebih lemah lembut terhadap diri sendiri di masa pandemi. It's been hard for everyone.

G.I. Joe Fallacy

Kalau kita sudah tau kecenderungan penyakit yang kita punya, artinya kita punya bekal untuk menjaga diri. Masalahnya begini, apakah kita benar-benar mau menjaga diri sendiri?

Ya kan sudah tau ya, kalau kebanyakan makan seafood bisa bikin kepala pusing, tapi tetap dimakan atau tidak?

Juga mungkin sudah tau, kalau kebanyakan main sosial media, tentu kecemasan dan depresi bisa meningkat. Tetap dilakukan atau tidak?

Aktivitas-aktivitas itu seperti mengundang penyakit ya? Iya. Kan sebenarnya sudah tau ya? Iya. Ya sudah.

Ternyata ada yang namanya G.I. Joe Fallacy, yang maksudnya 'mengetahui suatu hal akan membuat kita bisa mengatasi hal tersebut' adalah gagasan yang salah. Tau saja tidak cukup. Tau tentang suatu hal, bukan berarti kita langsung bisa mengatasi hal tersebut. We need to do the actual hard work.

Tubuh Sehat dan Bugar

Di kelas online Science of Well-Being, saya belajar tentang hal-hal yang bisa melatih kesehatan mental. Ternyata ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental tetap bugar. Beberapa hal tersebut antara lain:
  • Memilih hal-hal yang bersifat menambah pengalaman, bukan hal-hal materialistik atau fisik
  • Menikmati (savouring) apapun yang sedang kita lakukan 
  • Mengekspresikan rasa syukur
  • Mengatur ulang titik referensi 
  • Menginginkan hal-hal yang baik
Bacaan lebih detail tentang hal ini bisa kamu baca di artikel dalam tautan ini.

Saya rasa kelas online ini adalah salah satu kelas terbaik yang pernah saya ambil. Cukup praktikal, mudah untuk diterapkan ke kegiatan sehari-hari. Walaupun tentu saja semua butuh latihan yang rutin untuk mendapatkan hasil maksimal.

Berada di alam adalah bentuk saya mengobati diri sendiri.

Will you actually do the work?

Sekarang sih ya pertanyaannya balik ke diri sendiri. Apakah kamu benar-benar mau menjaga diri sendiri? Apakah kamu ingin bugar fisik dan mental?

Kalau mau, kamu mungkin sudah tau kamu harus melakukan apa saja. A lot of times, all hard things come through hard work, but you got this. You can do it. Saya berharap, kalau kamu sudah tau punya kecenderungan penyakit tertentu, kamu mau benar-benar menghindari kegiatan-kegiatan yang menyebabkan penyakit tersebut kumat. Baik penyakit fisik, maupun penyakit mental.

Saya pikir, menjaga diri sendiri adalah kado terbaik yang bisa kita berikan ke orang-orang yang juga sayang kepada diri kita.

Saya berharap, kamu dan saya, mau menjaga diri kita masing-masing dengan penuh kasih.


Dengan penuh cinta,
Diny

Christmas Trip to Bell Rock, Sedona

Christmas Trip to Bell Rock, Sedona

May 23, 2021

Sedona landscape from Bell Rock

Back when I was alone in Flagstaff on winter break 2018. Most of my friends went to their relative's place or travel to other states. I stayed in Flag for the whole winter break. One day, one of my professor invited all Indonesian students (there were five of us) to go hiking with him and his wife on Christmas day. The other girls couldn't make it because they were away, so it was just me, my prof, and his wife. I was very happy and delightful that I can go travel with them.

My professor, Dr. Paul Beier, would like to go hiking trip to Sedona. Of course I liked that idea! I really like Sedona. I think it is one of the prettiest town I ever seen. Some people even said it is one of the most beautiful place on earth. I've been there couple times and I am still amazed with its beauty. The landscape is just amazing. 

Sedona is located in Arizona. It is very close to Flagstaff just about an hour drive. In Sedona, you can find red rocks formation, canyons, cute little shops, and pretty houses. The red rocks intensify the beauty of its landscape. Every where you see, you will see beautiful landscape.

Stacked stones with a view
Capitol Rocks (left) and Cathedral Rocks (right)

Bell Rock Trail

Paul picked me up around 8 am. Then, we went to Sedona right away. We took the 89a road, which is also my favourite route. You can see in this video how pretty the panoramic landscape of the 89a road. It is breath taking route. We drove down hill about 1,300 meters and then we can see the view changing from white sand rock formation to red rocks formation. The trees in between rocks make it even more beautiful.

We made a stop at the Oak Creek Vista Point. I love this one. We can see the scenic canyon. I went there for the first time on Thanksgiving holiday in 2017 with Tyler. Since then, I probably have been there for 3-4 times with different groups. I still enjoy the view from this spot.

View from Oak Creek Vista Point
The Midgley Bridge

Steamboat Rock from the Oak Creek Vista Point

After stopping by at the Oak Creek Vista Point, we went to the Bell Rock trails. It is relatively easy hike, only took about an hour to hike the top. There is a little parking spot just right before the trails. It was pretty packed that day but we got a spot near the trails. We walked to the top of the Bell Rock. The view was amazing. 

Paul is a regular hikers in Sedona. He probably has hiked all the trails there. During the trip that day, we were talking about Sedona, family, research, and many more. He told me the name of rocks that we saw from Bell Rock. I also took a selfie with him on the top of Bell Rock. Looks pretty good!

Trails to the Bell Rock



From Bell Rock Trail, we can see the Courthouse Butte.

After the Bell Rock trail, we went to the Baby Bell Rock just next to the Bell Rock. This one was also pretty. We can see different view of Sedona. We spent another hour in the Baby Bell Rock.

After we had fun in Sedona, we went back to Flagstaff. Drove back home, we ate tasty and fresh oranges that Mary-Ann brought. Mary-Ann is Paul's wife. She is very lovely and warm. 

Then, we went to Paul and Mary Ann's house for lunch. Mary-Ann cooked pasta with artichoke. It was my first artichoke! It tasted delicious. We also ate ice cream and had a drink. Three of us played card game, which I was forgot what was the name of the game, but I do remember the laughed we shared between the games. It was really fun and comforting to spend the day with them.

Playing cards with Paul and Mary-Ann

I also love Paul and Mary Ann's house. They put crystal balls in the windows, so when the sun come through the window. It creates sparkling rainbows all over his house. It was super pretty. I love it so much, that I got crystals for my self right after I came home.

I was happy to spend time with Paul and Mary Ann on Christmas Day. I hope I can see them again someday.

Bell Rock (left) from 

Life is a Gift

Life is a Gift

May 07, 2021


It came across my mind again, couple weeks after my birthday, that life is truly a gift.

Through life, we found meaningful connections. Sometimes we meet those who will inspired us for a long time. Sometimes we meet certain people in a brief, but that person leave marks deeply in our heart. Sometimes we meet people in random places, but end up friends for life.

I used to be easily awe-struck with smart people, but now I think I am more enjoy connecting with kind people. There is something inside kind people's heart. Especially those who speak and act kindly, honestly, respectfully to their self, to others, and to people around them.

Life is a process. For example, apparently, our parents, who we look up for, are not perfect. They are also human with all the imperfection. It isn't easy to accept that they are not perfect. We want them to be perfect, we saw them being perfect and it seems like they knew everything in life. By the time we reached certain age, we realised that they are not perfect. And that's totally okay. We can process our feelings and gradually learn to love them unconditionally, as they love us unconditionally.

Life is vibrant. I am privileged to see beautiful places. I saw pretty things, pretty places. In landscape, in forest, in somebody's ocean blue eyes, and many more. 

In my life, I am surrounded by things I like and things that give me joy. That everything is come to place exactly in the right time. I am in a right place and mind. That things are enough and I am enough. 

Life is a gift. A gift in term of time. We can fix what has been broken. We can learned from our mistakes in the past. We are alive that's why we can be a better version of us.

Life is a gift. A gift to love and loved, by people who truly care about us and we care about them. We have time to give appreciation, affection, and compassion to those people. We can share our happiness, sadness, and all things in life that come up along the way. 

Life is a gift. It gives us space to learn anything we want to learn. We can learn foreign language, new subject, learn about life, or anything we want. We are still living that we may have the resources to learn anything anytime.

The picture in the post inspired me to this note. It is made by a new friend, as a special birthday gift. This picture makes me think about a lot of gifts I have received in life. I finally know what makes me happy and what's important in my life. My life is like that big box in the middle of cute plants. It is growing, surviving, thriving, and improving.

I wish my life can also be a gift to other people. Maybe one day..

Hiking ke Air Terjun Cibereum

Hiking ke Air Terjun Cibereum

April 18, 2021

Mari kita cerita-cerita tentang salah satu jalan-jalan singkat yang saya suka. Sekitar 1,5 tahun lalu di bulan Agustus 2019, saya pergi ke Air Terjun Cibereum bersama seorang teman yang datang dari Amerika.

Kami berdua sama-sama kuliah jurusan kehutanan. Bedanya, saya di Northern Arizona, dia di Yale. Saya pertama kali ketemu dia waktu ikut konferensi di New Mexico, Amerika Serikat. Itu kali pertama saya datang ke konferensi di luar negeri. Saya masih kikuk berjejaring ke para peneliti di sana. Waktu itu, sebagai sesama mahasiswa, kami berkenalan. Ada beberapa orang dari Yale dan kami sempat saling menonton presentasi masing-masing. Seingat saya, kami tidak terlalu banyak ngobol saat itu. Tetapi setahun kemudian, saya pergi ke konferensi di Yale dan sempat ketemu lagi dengan dia dan beberapa teman dari Yale di sana.

Waktu dia mau datang ke Indonesia, dia kontak saya dan teman-teman Indonesia lainnya. Langsung saja saya ajak dia jalan-jalan di sekitaran Jakarta, seperti ke museum atau tempat lainnya. Lalu dia bilang ingin lihat hutan hujan tropis dan kalau bisa jalan-jalan outdoor. Langsung lah saya kasih ide untuk pergi ke Air Terjun Cibereum.

Saya dan teman janjian di Stasiun Tebet jam 6 pagi. Dari situ kami pergi bareng ke Stasiun Bogor. Perjalanan dari Stasiun Tebet ke Stasiun Bogor mungkin sekitar 1,5 jam. Dari Stasiun Bogor, kami naik angkot menuju tempat pangkalan mobil omprengan. Sampai di tempat mobil omprengan, kami menunggu 30 menit sampai akhirnya mobil omprengan jalan jam 9an. Mobil omprengan ini sistemnya memang menunggu sampai penumpang penuh dahulu, baru berangkat.

Macet di pintu tol. Untung teman saya ngga banyak mengeluh, jadi perjalanan ini tetap terasa menyenangkan.

Perjalanan dari Bogor ke Cibereum memakan waktu sekitar 2 jam. Kami sempat ngobrol, tidur, liat kanan kiri, lalu tidur lagi, bangun lagi, belum sampai juga. Perjalanan kali itu memang agak ramai dan macet. Tapi saya pikir, sepertinya perjalanan ke puncak selalu ramai dan macet. Jadi sudahlah dinikmati saja.

Air terjun Cibereum berada di jalur pendakian utama di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kawasan ini adalah salah satu kawasan terpenting yang mewakili ekosistem pegunungan Jawa. Lokasinya bersebelahan dengan Kebun Raya Cibodas. Keduanya merupakan kawasan hutan yang paling banyak diteliti di Indonesia, sejak jaman Belanda. Kawasan klasik untuk para biolog belajar, terutama untuk belajar tumbuh-tumbuhan. Banyak peneliti tumbuhan terkemuka melakukan penelitian di sini, seperti Blume, Reinwardt, van Steenis, dan lain sebagainya.

Sebelum kami memulai pendakian, kami lapor diri ke petugas, bayar uang masuk, dan menunjukkan tanda pengenal. Perjalanan kali itu perjalanan santai. Saya dan teman sering berhenti untuk melihat pohon dan hewan-hewan di sekitar. Jalur pendakian pun tergolong mudah untuk didaki oleh siapapun.

Harga tiket masuk wisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di bulan Desember 2019.

Ketika kami mendaki, kami mengobrol banyak hal tentang tanaman dan hutan. Di awal jalur pendakian, jalur ini dikelilingi banyak pohon rasamala. Pohon rasamala adalah pohon yang penting bagi ekosistem hutan ini. Pohon rasamala tumbuh sangat tinggi, menempati lapisan yang paling tinggi di hutan ini, atau istilahnya umbrella species. Sebagai spesies payung, pohon rasamala memberikan naungan bagi pohon-pohon lainnya di lapisan bawah hutan dan juga bagi tumbuhan-tumbuhan yang menempel di batangnya.  Di jalur pendakian ini, pohon induk rasamala sudah dipetakan, agar peneliti lebih mudah mengamati pohon tersebut. Pohon yang menyediakan keteduhan bagi pohon-pohon lainnya. Indahnya :)

Kami sempat berhenti berkali-kali. Kami cukup takjub menikmati keindahan hutan hujan tropis ini. Ini adalah salah satu mimpi teman saya, untuk bisa berjalan-jalan dan melihat hutan hujan tropis langsung. Saya tentunya ikut senang menemani perjalanan teman saya ini untuk menikmati salah satu hutan terbaik di Pegunungan Jawa.

Talaga Biru dan vegetasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Kami juga sempat berhenti untuk melihat owa jawa (javan gibbon) yang main di pohon sekitar jalur pendakian. Owa jawa adalah hewan primata endemik atau cuma bisa dilihat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kami sangat beruntung bisa ketemu dan melihat langsung owa jawa siang itu. Owa pertama yang kami lihat ada 1 owa dewasa yang sedang menggendong anaknya. Ngga lama kemudian, ada satu owa dewasa lagi yang main di sekitar. Owa itu ikut memperhatikan kami sambil makan daun-daun muda di pohon. Ah, such a blissful afternoon. Kami berhenti sekitar 10 menit, lalu melanjutkan perjalanan.

Kami berhenti lagi karena kami melihat sekawanan kelompok owa jawa yang berloncat-loncatan di pepohonan. Mungkin ada sekitar 10-15 owa di kelompok itu. Mereka berloncatan, makan, mencari kutu satu sama lain, dan main bersama. Wah, saya senang sekali dapat melihat pemandangan ini. Kami mengambil banyak foto dan video. Kamera saya tidak bisa ambil foto jarak jauh, jadi gambar owa hanya selintasan saja. Tidak masalah, toh kami sangat menikmati momen itu.

Setelah selesai melihat owa, kami melanjutkan perjalanan. Kami berhenti sejenak di Telaga Biru. Di sana ada penjual makanan, tempat istirahat, dan tempat berkemah. Saya dan teman foto-foto sebentar, cuci muka dengan air sungai yang sejuk itu, lalu melanjutkan perjalanan.

Bunga Terompet adalah salah satu pohon invasif yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Sayangnya jalur pendakian sudah banyak yang rusak.

Kami sampai di Air Terjun Cibereum sekitar jam 12an. Di sana ada 3 air terjun. Sebelum main air, kami memutuskan untuk makan siang dahulu. Di saat-saat seperti itu, tentu saja kami makan pop mie dan minum kopi. Enak!

Makan siang pakai Pop Mie. Nyamnyam.

Teman saya bawa baju ganti dan memang sudah niat mau mandi di air terjun. Saya cuma ingin main air di pinggirannya saja. Seru sekali main di air terjun! Waktu itu, Air Terjun Cibereum juga ngga terlalu ramai jadi kita bisa santai-santai dengan nyaman.
 
Main air di Air Terjun Cibereum

Kami main air sekitar 1,5 jam lalu memutuskan untuk kembali pulang. Sampai di gerbang luar sekitar jam 3. Kami kembali lapor diri, istirahat sebentar, ke kamar mandi, baru turun ke tempat angkot.

Perjalanan pulang relatif panjang karena macet terus-terusan, ngga tau karena apa. I think Puncak just being the Puncak dengan segala kemacetannya. Kami sampai Jakarta sekitar jam 6 lalu langsung menuju Stasiun Tebet. Sampai di Jakarta, kami makan masakan padang di Rumah Makan Merdeka. Kami makan macam-macam jenis makanan, tapi dia paling suka rendang dan perkedel. Ini kali pertama teman saya makan masakan padang dan dia suka sekali! Yay! 

Selesai makan, kami saling pamit. Seru sekali main bersama teman di tempat-tempat outdoor. Sampai berjumpa lagi kawan!

Diny

Search This Blog

Contact Form

Name

Email *

Message *